Bapeyo UAD Raih Lima Besar Business Plan Competition AGRIFEST 2020

45

Universitas Ahmad Dahlan (UAD) menjunjung tinggi prestasi sebagai tradisi. Meski dalam keadaan pandemi Coronavirus Disease (Covid-19), UAD tetap mendorong mahasiswa untuk tetap berkarya. Tim Banana Peel Yoghurt (Bapeyo) yang terdiri atas Evinanda Ayu mahasiswi Program studi (Prodi) Teknologi Pangan, Ahmad Rofiki mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi, dan Nanda Hani Cahyani Prodi Teknik Informatika, berhasil meraih juara harapan dua setelah mempresentasikan hasil produknya melalui YouTube pada ajang AGRI FESTIVAL (AGRIFEST) MISEKTA 2020 Universitas Hasanuddin Makassar (Unhas) pada Sabtu, 18 April 2020.

Evinanda selaku ketua tim menuturkan, awalnya lomba akan dilakukan secara langsung di Unhas, namun karena Covid-19 sedang mewabah, menjadikan lomba dialihkan melalui daring. Pada tahap awal, peserta mengumpulkan proposal berupa rancangan produk. Tim Bapeyo ternyata dinyatakan lolos ke tahap selanjutnya bersama 10 tim dari universitas lainnya.

Tim Bapeyo saat presentasi melalui channel youtube

Ide yang mereka angkat ialah memanfaatkan limbah kulit pisang yang dicampurkan dengan yoghurt. Tim ini dibimbing oleh Mufid Salim, S.I.Kom., M.B.A. selaku dosen Prodi Ilmu Komunikasi. Tema perlombaan “The Greatest of Millenials: Innovative, Competitive, Solutive”, memang sangat sesuai dengan ide tersebut.

Minuman sehat bapeyo berawal dari kegelisahan adanya limbah rumah tangga yang kerap dibuang begitu saja. Salah satunya kulit pisang yang ternyata kaya oksidan dan sayang jika tidak dimanfaatkan. “Poin penting yang menjadikan produk bapeyo unggul ialah dari rasanya yang lezat, kualitas gizi, serta harganya terjangkau. Selain itu, kulit pisang juga kaya oksidan yang baik untuk kesehatan,” tutur Evinanda dalam presentasinya di YouTube.

Bahan baku yoghurt yang sangat digemari oleh semua kalangan, tentunya sangat bermanfaat bagi orang yang sedang diet dan baik untuk dikonsumsi sehari-hari. Hal itu menjadikan bapeyo menjadi produk yang disukai.

“Karena kondisi pandemi yang tidak memungkinkan untuk bertemu, mengakibatkan proses diskusi dan pembuatan bapeyo terhambat. Terlebih alat dan bahan untuk membuat produk tertinggal di Yogyakarta, sedangkan kami semua sudah di kampung, menjadi kendala terbesar dalam perlombaan. Untungnya, semua itu bisa kami atasi,” ungkap Evinanda saat dihubungi via WhatsApp. (Chk)