• TERKINI
  • UAD BERDAMPAK
  • PRESTASI
  • FEATURE
  • OPINI
  • MEDIA
  • KIRIM BERITA
  • Menu
News Portal of Universitas Ahmad Dahlan

Cara Menggapai Pertolongan Allah

12/12/2025/in Feature /by Ard

Ust. Drs. Masykur Azhari, M.A., Pemateri Kajian Ahad Pagi Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD) (Foto. IC UAD)

Kajian Ahad Pagi Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD) pada Ahad, 7 Desember 2025, menghadirkan Ustaz Drs. Masykur Azhari, M.A. dari Majelis Tabligh Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Sleman dengan tema “Menggapai Pertolongan Allah”. Dalam ceramahnya, beliau mengajak jemaah untuk memahami tabiat manusia serta cara meraih pertolongan Allah melalui kesabaran, syukur, dan keikhlasan.

Mengawali kajian, Ustaz Masykur mengutip Surah Al-Ma‘arij ayat 19–21 yang menjelaskan bahwa manusia diciptakan dalam keadaan mudah berkeluh kesah. “Sesungguhnya manusia itu diciptakan oleh Allah dalam keadaan keluh kesah. Jika diberi ujian kesulitan, curhat itu boleh asal memenuhi beberapa ketentuan,” ujarnya.

Ia kemudian menegaskan dua batasan penting dalam menyampaikan keluh kesah. “Pertama, jangan curhat ke HP atau lewat status dan grup WhatsApp. Kedua, jangan curhat kepada setiap orang karena tidak semua orang cocok dengan kita,” jelasnya. Menurut kajian psikologi, hanya sekitar 20 persen orang yang benar-benar mampu menunjukkan empati ketika mendengarkan curahan hati. “Bisa jadi orang yang kita curhati tidak bisa menjaga rahasia kita,” tambahnya.

Ustaz Masykur menyampaikan bahwa ujian sering kali merupakan cara Allah menyapa hamba-Nya. “Kalau kita punya masalah, itu tandanya Allah sedang rindu kepada kita. Allah ingin menyapa kita, dan sapaan Allah itu ada dua, yaitu dengan kenikmatan atau dengan ujian,” terangnya.

Jika diberi nikmat, seorang mukmin diperintahkan untuk bersyukur; namun jika diberi sesuatu yang tidak menyenangkan, ia harus bersabar. Ustaz Masykur mengutip sabda Nabi Muhammad saw. bahwa tidak ada ujian yang menimpa seorang hamba kecuali menjadi sebab gugurnya dosa-dosa hingga ia berjalan di muka bumi tanpa dosa. “Allah menguji kita sampai dosa kita habis. Allah akan mencabut ujian itu ketika kita berjalan tanpa membawa dosa sedikit pun,” tuturnya.

Menurutnya, bukti iman seorang muslim adalah sabar saat diuji, syukur ketika diberi nikmat, serta ikhlas menerima takdir Allah, termasuk urusan jodoh. Ia mengaitkan hal tersebut dengan Surah At-Taubah ayat 25 yang mengingatkan manusia agar tidak terpedaya dengan banyaknya harta dan kemampuan.

Ia menegaskan bahwa harta paling berharga di dunia ini bukan sekadar emas dan perak. Mengutip Fiqh as-Sunnah dalam bab nikah, ia menyebut tiga “celengan” yang melebihi keduanya. “Jika kalian memiliki tiga hal ini, maka kalian orang yang kaya akhirat. Tiga hal tersebut ialah lisan yang pandai berzikir, hati yang pandai bersyukur, serta seorang istri yang mukminah dan membantu agama suami. Allah menolong agama seorang laki-laki separuhnya melalui istri yang mukminah,” ungkapnya.

Ustaz Masykur juga mengutip nasihat Ibnu Mas‘ud tentang tiga amalan penting untuk memperkuat spiritualitas: memperbanyak membaca Al-Qur’an, menghadiri majelis taklim, serta menyendiri untuk berzikir meninggalkan hiruk pikuk dunia (khalwah). Menjawab pertanyaan tentang bagaimana menghadapi persoalan agar ditolong oleh Allah, beliau menegaskan, “Kuncinya mintalah pertolongan Allah dengan sabar dan salat.”

Ia menekankan bahwa kesabaran perlu dilatih sejak dari rumah, dimulai dengan memperbanyak zikir dan doa. “Doa itu senjatanya orang mukmin. Maka hati-hati jika menzalimi orang lain,” pesannya.

Kajian ditutup dengan ajakan untuk memperkuat kesadaran spiritual dan memelihara hubungan dengan Allah agar setiap ujian hidup menjadi jalan meraih ampunan dan pertolongan-Nya. (Lus)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Ust.-Drs.-Masykur-Azhari-M.A.-Pemateri-Kajian-Ahad-Pagi-Masjid-Islamic-Center-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-Foto.-IC-UAD-scaled.jpg 1440 2560 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2025-12-12 11:34:322025-12-12 11:34:32Cara Menggapai Pertolongan Allah

Menguak Pengingkaran Bani Israil atas Nikmat Allah dan Konsekuensinya

08/12/2025/in Feature /by Ard

Ngaji Tafsir At-Tanwir Seri 13, Menguak Pengingkaran Bani Israil atas Nikmat Allah dan Konsekuensinya (Foto. Mawar)

Lembaga Pengembangan dan Studi Islam (LPSI) Universitas Ahmad Dahlan kembali menyelenggarakan Ngaji Tafsir At-Tanwir Seri 13 pada Jumat, 28 November 2025. Pada edisi ini, H. Aly Aulia, Lc., M.Hum., dari Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, membahas Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 54-57 dengan tema “Pengingkaran Bani Israil akan Nikmat Allah dan Akibatnya.”

Ustaz Aly Aulia menguraikan bahwa rangkaian ayat ini menghadirkan gambaran historis mengenai berbagai bentuk pengingkaran Bani Israil terhadap nikmat Allah. Ia menegaskan bahwa ayat-ayat tersebut tidak hanya berfungsi sebagai catatan sejarah, tetapi juga sebagai peringatan dan refleksi moral bagi umat Islam hari ini. “Ayat-ayat ini menunjukkan bagaimana Allah menegur Bani Israil karena menyelewengkan amanah dan melupakan nikmat yang telah dikaruniakan kepada mereka,” tuturnya.

Lebih jauh, beliau menjelaskan bahwa salah satu pesan utama dalam ayat-ayat tersebut adalah tentang urgensi bertaubat setelah melakukan kesalahan. Sebagaimana dikisahkan dalam ayat 54, ketika Bani Israil menyembah anak sapi, Musa memerintahkan kaumnya untuk bertobat dengan penuh kesungguhan. Ustaz Aly menyatakan, “Tobat yang diterima Allah selalu mensyaratkan kesadaran, keikhlasan, dan kemauan untuk berubah. Inilah nilai mendasar yang perlu kita renungkan,” jelasnya.

Pembahasan kemudian berlanjut pada ayat 55-56 yang menggambarkan bagaimana sebagian Bani Israil meminta melihat Allah secara langsung, sebuah tuntutan yang menunjukkan kurangnya keimanan mereka terhadap hal-hal gaib. Permintaan tersebut berujung pada azab berupa sambaran petir. “Peristiwa ini menjadi tanda bahwa sikap keras kepala dalam beriman justru akan menghilangkan esensi spiritualitas itu sendiri,” jelasnya. Namun, Allah kemudian membangkitkan mereka kembali agar menjadi kaum yang bersyukur.

Pada ayat 57, Ustaz Aly menekankan bagaimana Allah tetap mencurahkan nikmat-Nya meskipun Bani Israil berulang kali ingkar. Mereka diberi naungan awan dan manna serta salwa sebagai makanan. Namun, mereka tetap melanggar perintah Allah. “Inilah bentuk pengingkaran nikmat: ketika seseorang terus menerima karunia, tetapi tidak menggunakannya untuk ketaatan. Ayat ini memberikan pelajaran bahwa nikmat yang disia-siakan justru akan mendatangkan murka,” tegasnya.

Melalui kajian ini, Ustaz Aly Aulia mengajak jamaah untuk menjadikan kisah Bani Israil sebagai cermin moral. Ia menutup dengan pesan, “Kisah-kisah ini tidak untuk ditertawakan atau diremehkan, tetapi untuk direnungkan. Agar kita memahami bahwa syukur, taat, dan kesadaran diri adalah fondasi penting dalam beragama,” tutupnya. (Mawar)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Ngaji-Tafsir-At-Tanwir-Seri-13-Menguak-Pengingkaran-Bani-Israil-atas-Nikmat-Allah-dan-Konsekuensinya-Foto.-Mawar.png 632 1144 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2025-12-08 10:26:342025-12-08 10:26:34Menguak Pengingkaran Bani Israil atas Nikmat Allah dan Konsekuensinya

Kisah Mahasiswa UAD Lulus S2 dengan 30 Publikasi Ilmiah

19/11/2025/in Feature /by Ard

Yogi Sopian Haris Wisudawan S2 Berprestasi Universitas Ahmad Dahlan (UAD) (Dok. Yogi)

Perjalanan hidup tak selalu mulus. Bagi Yogi Sopian Haris, pemuda asal Janapria, Lombok Tengah ini, setiap ujian justru menjadi batu loncatan menuju keberhasilan. Anak pertama dari tiga bersaudara ini membuktikan bahwa keterbatasan bukanlah alasan untuk berhenti bermimpi. Dalam waktu hanya 1 tahun 5 bulan, ia berhasil menyelesaikan studi Magister Pendidikan Agama Islam (MPAI) di Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta dengan IPK 3,97 dan menorehkan 30 publikasi ilmiah.

Sejak kecil, nilai-nilai kerja keras dan kemandirian telah tertanam kuat dalam diri Yogi. Sang ibu mengajarkan keteguhan dan semangat pantang menyerah, sementara sang ayah menanamkan ketenangan, kesabaran, serta keikhlasan dalam menghadapi setiap ujian hidup. Kombinasi itulah yang membentuk karakter kuat yang ia bawa hingga hari ini.

Namun, perjalanan akademiknya tidak selalu mudah. Saat duduk di semester tiga perkuliahan S1, ia harus menghadapi kenyataan, ayahnya meninggal dunia. Kepergian itu meninggalkan luka mendalam, tetapi satu pesan terakhir sang ayah terus terngiang di telinganya “Saya ingin menyaksikanmu wisuda.” Kalimat sederhana itu menjadi sumber energi besar yang membuatnya kembali bangkit.

Cobaan kembali datang dua tahun kemudian, menjelang kelulusannya. Ibunya terserang stroke, tiga bulan penuh ia habiskan untuk menemani sang ibu menjalani pengobatan dan terapi. Namun berkat keteguhan hati dan doa, ibu tercinta akhirnya mampu hadir di hari wisudanya, momen penuh haru yang tidak akan pernah ia lupakan.

Setelah menyelesaikan S1, dorongan untuk terus belajar semakin kuat. Ia merasa terpanggil untuk memperdalam ilmu tentang Pendidikan Agama Islam dan peran strategisnya dalam perubahan sosial. Dengan tekad bulat, ia memutuskan melanjutkan studi S2 di UAD, membawa semangat baru untuk berkontribusi lebih luas di dunia akademik.

Perjalanan Menulis 30 Publikasi

Dalam menempuh studi pascasarjana, ia menerapkan strategi yang terukur, fokus, disiplin waktu, dan konsistensi. Ia menyusun target realistis namun menantang, membagi waktu antara membaca, menulis, berdiskusi, dan meneliti. “Prinsip saya sederhana, jangan panik, tenangkan diri, pikirkan alternatif, lalu bertindak dengan penuh tanggung jawab,” ujarnya.

Motivasinya bersumber dari keluarga, terutama keinginan untuk membahagiakan ibu dan mengenang perjuangan almarhum ayah. “Saya percaya keberhasilan bukan hasil keberuntungan, tetapi buah dari doa, konsistensi, kerja keras yang berulang-ulang,” tambahnya.

Perjalanan menulisnya dimulai dari bimbingan intens para dosen UAD. Dari proses itulah ia memahami bahwa menulis bukan sekadar menyusun kata, tetapi menyampaikan gagasan dengan struktur dan logika ilmiah. Pada semester pertama ia berhasil menerbitkan artikel di jurnal terakreditasi Sinta 2.

Artikel pertama itu membuka banyak peluang kolaborasi lintas kampus. Sejak saat itu, ia menetapkan target pribadi setiap dua bulan harus menghasilkan minimal satu artikel ilmiah. Hasilnya, 30 publikasi ilmiah berhasil ia torehkan selama kuliah di UAD, banyak di antaranya hasil kerja kolaboratif dengan dosen dan peneliti dari berbagai universitas.

Bagi dirinya, menulis bukan sekadar kewajiban akademik, melainkan wujud kontribusi nyata terhadap ilmu pengetahuan. “Setiap tulisan yang lahir dari ketulusan akan menemukan pembacanya sendiri,” tuturnya.

Kesuksesan akademiknya tak lepas dari dukungan luar biasa dari kampus UAD dan para dosen pembimbing, di antaranya Dr. Djamaluddin Perawironegoro, M.Pd. dan Dr. Betty Mauli Rosa Bustam, M.A. Mereka bukan hanya pembimbing tesis, tetapi juga mentor kehidupan yang menanamkan nilai disiplin, kejujuran ilmiah, dan etika akademik.

Salah satu momen paling berkesan terjadi saat musibah kebakaran pada 26 Juli 2025 lalu. Di tengah kehilangan besar itu, pihak kampus, dosen, dan rekan-rekan mahasiswa memberikan dukungan moral maupun material yang begitu tulus. “Saya merasa UAD bukan sekadar kampus, tetapi keluarga besar yang saling menguatkan di tengah ujian hidup,” kenangnya.

Selain itu, ia juga aktif di Lingkar Literasi Mahasiswa (LLM), komunitas yang mendorong semangat menulis dan riset. Di sana ia menemukan lingkungan yang inspiratif tempat berbagi ide, mereview karya, dan menumbuhkan solidaritas akademik.

Setelah menuntaskan S2 dengan predikat gemilang, ia bertekad melanjutkan perjuangan. “Saya ingin melanjutkan studi doktoral, tetapi saat ini saya ingin bekerja dulu untuk membantu keluarga dan menabung agar bisa mandiri,” ungkapnya. Ia juga berencana terus menulis, meneliti, dan mengabdi pada masyarakat.Bagi dirinya, pendidikan bukan sekadar jalan untuk mengangkat derajat pribadi, tetapi juga sarana untuk mengangkat orang lain.(Lin)

uad.ac.id

 

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Yogi-Sopian-Haris-Wisudawan-S2-Berprestasi-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-Dok.-Yogi.jpg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2025-11-19 10:17:312025-11-19 10:17:31Kisah Mahasiswa UAD Lulus S2 dengan 30 Publikasi Ilmiah

Menulis sebagai Pelarian Positif, Muhammad Farid Wisudawan FK UAD dengan 19 Publikasi Ilmiah

14/11/2025/in Feature /by Ard

Muhammad Farid Wisudawan FK Universitas Ahmad Dahlan (UAD) dengan 19 Publikasi Ilmiah (Dok. Farid)

Di tengah kesibukan sebagai mahasiswa Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Muhammad Farid tetap produktif dalam menulis publikasi ilmiah. Saat ini, Farid telah menyandang gelar sarjana sebagai wisudawan yang memiliki berbagai prestasi dari FK UAD. Selama menempuh studi di Program Studi S-1 Kedokteran, Farid berhasil menerbitkan 19 publikasi ilmiah di berbagai jurnal nasional maupun internasional bereputasi.

Publikasi tersebut terdiri atas 1 jurnal non-Sinta, 2 Scopus Q2, 1 Scopus Q3, 3 Scopus Q4, 5 Sinta 2, 5 Sinta 3, 1 Sinta 4, dan 1 Sinta 5. Selain itu, terdapat beberapa artikel dalam proses copy editing, yaitu 1 jurnal Sinta 2, 2 jurnal Sinta 3, dan 5 jurnal Scopus Q4. Tidak hanya aktif menulis, Farid juga beberapa kali menjuarai Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI) tingkat nasional, serta dipercaya menjadi reviewer di berbagai jurnal terindeks nasional dan internasional, di antaranya Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia (Sinta 5), Egyptian Human Genetic (Scopus Q4), Makara Journal of Science (Scopus Q2), dan Folia Medica (Scopus Q4).

Farid menceritakan, motivasinya menulis dan memublikasikan jurnal ilmiah berawal dari keinginan untuk menjadikan penelitian sebagai bentuk pelarian positif dari padatnya kegiatan akademik. “Saya ingin membuktikan kepada diri sendiri dan orang-orang yang dahulu meremehkan saya bahwa saya mampu berkembang menjadi versi terbaik dari diri saya,” ungkap mahasiswa asal Sleman ini.

Semangatnya juga tumbuh dari keinginan untuk mengamalkan Tri Dharma Perguruan Tinggi, yaitu pendidikan dan pengajaran melalui peran aktif di kelas dan menjadi asisten praktikum, penelitian melalui publikasi ilmiah, serta pengabdian kepada masyarakat lewat kegiatan PengmasCamp selama 2021–2023.

Perjalanan riset Farid dimulai pada awal 2023, saat ia sempat kehilangan arah akibat berbagai kendala di lingkungan fakultas. Namun, pertemuannya dengan teman-teman dari Fakultas Farmasi yang tengah mempersiapkan proposal Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) menjadi titik balik penting. Dari tiga proposal yang diajukan, dua di antaranya berhasil lolos pada skema PKM-RE (Riset Eksakta) dan PKM-AI (Artikel Ilmiah). Dari pengalaman itu, ia menyadari pentingnya membaca, menulis, dan melakukan penelitian secara mendalam.

Akhir 2023, ia menulis artikel ilmiah pertamanya berjudul “Liposome sebagai Penghantar Obat pada Kasus Resistensi Antibiotik” bersama dr. Leonny Dwirizkita, S.Ked., M.Biomed., yang kemudian diterbitkan di jurnal Scopus Q2 dan menjadi titik awal dari perjalanan panjang publikasinya.

Strategi dan Tantangan Publikasi

Dalam mempersiapkan publikasi, langkah pertama yang dilakukan Farid adalah mengidentifikasi permasalahan nyata dan menemukan solusi ilmiah yang relevan. Sebagai contoh, dalam penelitian skripsinya, ia memilih topik kanker paru karena tingginya angka kejadian dan terbatasnya efektivitas terapi yang ada. Dari hasil eksplorasi literatur, ia menemukan bahwa tanaman rambutan memiliki potensi sebagai bahan antikanker alami.

Dari penelitian tersebut, ia berhasil menghasilkan tiga artikel ilmiah: satu telah terbit di Makara Journal of Science (Scopus Q2) dan dua lainnya masih dalam proses copy editing di jurnal Scopus Q4. Dalam penulisan artikel, Farid selalu memastikan referensi berasal dari sumber tepercaya terindeks Scopus agar data yang disajikan kuat dan valid. Menurutnya, menulis adalah seni yang unik bagi setiap peneliti. Ia menekankan pada pemaparan masalah yang jelas, solusi berbasis bukti, dan urgensi penelitian agar menarik perhatian reviewer serta editor.

Tantangan terbesar yang dihadapi Farid adalah rasa lelah dan lamanya proses publikasi, dari tahap draft, submission, review, revisi, hingga akhirnya diterima. “Saya selalu berusaha mengubah kelelahan menjadi energi positif dengan mulai menulis draft baru setiap kali satu artikel masuk ke proses review. Dengan begitu, roda produktivitas terus berputar,” ujarnya.

Farid juga menegaskan peran penting dosen pembimbing dalam perjalanannya. Ia berterima kasih kepada dr. Leonny Dwirizkita, S.Ked., M.Biomed., yang pertama kali mengajaknya menulis artikel ilmiah. Ia juga menyampaikan apresiasi kepada dosen Fakultas Farmasi UAD serta Kak Ryan Syahputra, mahasiswa S-2 Farmasi UAD, yang menjadi mentor sekaligus inspirator.

Setelah lulus, Farid berharap hasil penelitiannya dapat memberi manfaat nyata bagi masyarakat dan dunia kesehatan serta menjadi amal jariyah bagi dirinya dan para pembimbingnya. Ia berencana untuk terus menulis dan meneliti selama masa kepaniteraan klinik.

“Saya ingin memastikan semangat riset ini tidak berhenti di tingkat sarjana, tetapi terus berlanjut dan memberikan kontribusi ilmiah yang lebih luas. Semoga semakin banyak mahasiswa kedokteran yang terinspirasi untuk menulis dan memublikasikan karya ilmiah, terutama di FK UAD, sehingga budaya riset di kalangan mahasiswa kedokteran Indonesia semakin kuat dan berdaya saing global,” tutupnya. (Lin)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Muhammad-Farid-Wisudawan-FK-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-dengan-19-Publikasi-Ilmiah-Dok.-Farid.jpg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2025-11-14 11:18:412025-11-14 11:18:41Menulis sebagai Pelarian Positif, Muhammad Farid Wisudawan FK UAD dengan 19 Publikasi Ilmiah

Hakikat Takwa dalam Kehidupan

28/10/2025/in Feature /by Ard

Ust. Muhammad Aziz, S.T., M.Cs., Ph.D., Khatib Jum’at Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD) (Foto. IC UAD)

Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD) melakukan siaran langsung khotbah Jumat, 24 Oktober 2025, dengan khatib Ust. Muhammad Aziz, S.T., M.Cs., Ph.D., yang merupakan Dosen S-1 Informatika Fakultas Teknik Informatika (FTI) UAD. Dalam khotbahnya, ia mengajak untuk memahami makna takwa kepada Allah Swt. dan mengimplementasikannya dalam kehidupan.

Mengutip Surah Ali Imran ayat 102 yang artinya, “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa dan janganlah kamu mati kecuali dalam kondisi Islam.” Kemudian beliau juga mengutip sabda Rasulullah saw. yang artinya, “Bertakwalah kamu kepada Allah di mana pun saja kamu berada.” Dengan adanya kedua perintah itu, Ustaz Aziz menyatakan bahwa sebagai umat Islam sudah sepatutnya menjadi orang yang bertakwa di manapun dan kapanpun berada.

Secara singkat, takwa merupakan terpeliharanya diri dari siksa Allah Swt. dengan tetap melaksanakan perintah Allah Swt. dan menjauhi larangan-Nya. Dalam khotbah ini, Ustaz Aziz mencontohkan Ali bin Abi Thalib sebagai suri teladan dalam bertakwa. “Ada empat ciri orang bertakwa menurut Ali bin Abi Thalib. Yang pertama yaitu Al-Khauf min al-Jalil, yang berarti merasa takut kepada Allah. Rasa takut di sini berarti takut melakukan perbuatan yang salah atau dosa. Jika seseorang sudah telanjur melakukan kesalahan, sebaiknya segera meminta ampunan kepada Allah Swt. atas segala dosa yang telah dilakukan,” jelasnya.

Kemudian, Ustaz Aziz menjelaskan ciri yang kedua, yaitu Al-‘Amal bi al-Tanzil, artinya beramal dengan apa yang diwahyukan oleh Allah Swt. Dalam Islam sudah ada peraturan serta regulasinya, yaitu Al-Qur’an dan as-Sunnah. Muhammadiyah secara konsisten berpegang teguh pada Al-Qur’an dan as-Sunnah untuk menegakkan amar makruf nahi munkar dan memberantas tahayul, bid’ah, dan khurafat dalam kemurnian Islam. Dengan demikian, jangan pernah menambah atau mengurangi regulasi yang sudah ada dalam Al-Qur’an maupun as-Sunnah. Jadi, beramal dengan apa yang diwahyukan oleh Allah Swt., misalnya melaksanakan puasa, salat, dan ibadah lainnya yang diwahyukan oleh Allah Swt. Jika tidak ada wahyu atau perintah dari Allah Swt. yang jelas, maka tidak usah dikerjakan.

Lalu, Ustaz Aziz menjelaskan ciri takwa yang ketiga, yaitu Al-Qana’ah bi al-qalil, yang berarti merasa cukup dan rida dengan pemberian Allah Swt. meskipun sedikit. Banyak orang yang diberikan harta yang banyak tetapi tidak puas mencari harta dengan cara yang haram, seperti korupsi dan lain sebagainya. Dalam khotbahnya, Ustaz Aziz mencontohkan Tsa’labah, seorang yang sangat takwa ketika dalam keadaan miskin, yang kemudian melenceng setelah meminta didoakan oleh Rasulullah saw. untuk menjadi kaya. Karena kekayaannya, Tsa’labah tidak sempat lagi beribadah.

“Jadi, Allah Swt. lebih tahu mana yang lebih baik bagi umatnya. Apakah cukup pantas untuk diberikan harta yang banyak kemudian menjadi dermawan atau hanya diberikan harta yang sedikit agar tetap menjadi manusia yang bertakwa,” tambahnya.

Kemudian, Ustaz Aziz memaparkan ciri yang terakhir, yaitu Al-Isti’dad li Yaum al-Rahil, yang bermakna senantiasa mempersiapkan bekal untuk menghadapi kematian dan kembali menghadap Allah Swt. Kematian adalah sesuatu yang pasti. Hanya soal kapan dan jadwalnya tentu saja berbeda-beda. Untuk mengekspresikan ketakwaan itu, maka harus menerapkan sikap ihsan.

Ihsan adalah berbuat baik atau menjadi orang yang baik. Ihsan merupakan bentuk sikap yakin semua perbuatan yang dilakukan dilihat Allah Swt. Contoh dari perbuatan ihsan yaitu berbicara baik, seperti tidak suka gosip atau menyebarkan berita hoaks, kemudian tidak menyakiti tetangga, selalu memuliakan tamu, kemudian tidak mengungkit kembali perbuatan baik yang telah dilakukan.

Dengan demikian, dalam khotbah ini Ustaz Aziz mengajak untuk mengimplementasikan keempat ciri takwa dari Ali bin Abi Thalib dengan cara melakukan perbuatan yang ihsan dalam kehidupan. (Nah)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Ust.-Muhammad-Aziz-S.T.-M.Cs_.-Ph.D.-Khatib-Jumat-Masjid-Islamic-Center-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-Foto.-IC-UAD.jpg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2025-10-28 11:28:452025-10-28 11:28:45Hakikat Takwa dalam Kehidupan

Tali Allah adalah Tali Persatuan

28/10/2025/in Feature /by Ard

Ustaz Yusuf Hanafiah, S.Pd.I., M.Pd. Pemateri Kajian Ahad Pagi Universitas Ahmad Dahlan (UAD) (Foto. Islamic Center UAD)

Kajian Ahad Pagi di Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD) kembali dilaksanakan pada Minggu, 26 Oktober 2025. Kegiatan ini menghadirkan pemateri dari Majelis Tablig Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) DIY, Ustaz Yusuf Hanafiah, S.Pd.I., M.Pd. Dengan mengangkat tema “Tali Allah = Tali Persatuan,” beliau mengingatkan pentingnya umat Islam untuk berpegang teguh pada ajaran Allah agar terhindar dari perpecahan.

Dengan mengutip firman Allah dalam Surah Ali Imran ayat 103, Ustaz Yusuf menjelaskan bahwa kita diperintah untuk berpegang teguh pada talinya Allah (agama Allah) karena tali Allah adalah sebuah kewajiban mutlak bagi umat Muslim. Ayat tersebut juga mengandung peringatan agar umat tidak saling berpecah belah.

Menurutnya, untuk menjadi kuat, kompak, dan bersatu, umat Islam harus memegang satu tali yang sama, yaitu agama Allah. Mengutip tafsir Ma’alimut Tanzil yang ditulis oleh Imam Al-Baghawi, beliau menyebutkan bahwa tali Allah mencakup tiga hal utama, yaitu Al-Qur’an, al-iman (keimanan), dan al-Islam (agama Islam).

Beliau menyoroti contoh nyata di tengah masyarakat, mulai dari isu Palestina hingga sisa-sisa persaingan Pemilu 2024 yang menunjukkan bahwa umat Islam belum sepenuhnya bersatu. Beliau juga menyebutkan contoh lemahnya persatuan yang sudah pernah dialami oleh bangsa Indonesia pada masa penjajahan. Menurutnya, penjajahan 350 tahun di Indonesia terjadi bukan karena penjajah yang masuk lebih kuat, melainkan karena bangsa kita tidak bersatu dan tercerai-berai.

Melanjutkan ceramahnya, beliau memaparkan empat penyebab utama terjadinya perpecahan. Pertama, sikap fanatisme golongan/kelompok. Kedua, ketidaktahuan terhadap ajaran Islam yang benar. Ketiga, munculnya fitnah, iri, dan dengki karena mudah percaya informasi tanpa memastikan kebenarannya (hoaks).

Dalam menghindari penyebab perpecahan ketiga, Ustaz Yusuf mengajak kita supaya menahan diri dan memperbanyak rasa bersyukur. Selain itu, Ustaz Yusuf juga menyebutkan sumber perpecahan lain adalah perebutan kepentingan dunia. “Kepentingan dunia tidak akan pernah ada habisnya, maka cara mengontrol diri kita dengan banyak bersyukur. Jangan fokus pada tujuan dunia karena kita masih punya tujuan utama, yaitu akhirat,” jelasnya.

Untuk mewujudkan persatuan, Ustaz Yusuf mengajak jemaah untuk saling menghormati perbedaan. Beliau juga mengingatkan agar jemaah menjadikan agama Islam bukan sekadar status, melainkan pedoman hidup yang diamalkan.

Menutup ceramahnya, beliau menegaskan pentingnya memperdalam ilmu agama agar kita bisa bersatu menghindari perpecahan. “Yang namanya perpecahan, tidak akan pernah membawa keberkahan apa pun, tetapi sebaliknya, persatuan itu akan mendatangkan rahmat dan kasih sayang Allah,” jelasnya. (tra)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Ustaz-Yusuf-Hanafiah-S.Pd_.I.-M.Pd_.-Pemateri-Kajian-Ahad-Pagi-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-Foto.-Islamic-Center-UAD.jpg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2025-10-28 10:39:312025-10-28 10:39:31Tali Allah adalah Tali Persatuan

Meraih Amalan Ahli Surga

22/10/2025/in Feature /by Ard

Ustaz Rofiul Wahyudi, S.E.I., M.E.I., Al-Hafiz Pemateri Kajian Ahad Pagi Universitas Ahmad Dahlan (UAD) (Foto. IC UAD)

Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD) kembali menggelar Kajian Rutin Ahad Pagi pada Ahad, 19 Oktober 2025, bertepatan dengan 26 Rabiulakhir 1447 H. Pada kajian ini, hadir Ustaz Rofiul Wahyudi, S.E.I., M.E.I., Al-Hafiz, yang merupakan anggota Majelis Tablig Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) DIY sekaligus dosen Perbankan Syariah UAD. Beliau hadir sebagai pemateri dengan membawakan tema “Meraih Amalan Ahli Surga”.

Dalam tausiahnya, Ustaz Rofiul menyampaikan bahwa manusia memiliki kecenderungan meniru dan ingin memiliki apa yang orang lain miliki. Oleh karena itu, ia mengajak kita untuk meniru atau mencontoh teladan yang baik, yaitu Rasulullah saw.

Ustaz Rofiul menyampaikan perintah dari Rasulullah saw., “Beribadahlah sekuat dan semampu kita.” Dalam hal ini, ia mencontohkan dengan menyampaikan kisah Khaula dan Aisyah yang selalu mengerjakan ibadah salat malam sampai melupakan waktu istirahat. “Ibadahlah sekuat dan semampumu, sedikit tetapi istiqamah. Sebagai contoh, ibu-ibu dan bapak-bapak selesai pengajian ini menjadi rajin ibadah malam sampai tidak tidur, tetapi hanya satu malam saja. Maka, sebaiknya kita beribadah sesuai kemampuan kita,” ujarnya.

Lalu, apa saja amalan ahli surga? Menurut Ustaz Rofiul, setiap kita yang beriman dan beramal saleh berhak memperoleh tiga hal, yaitu: masuk surga, dimasukkan ke surga, dan menjadi penduduk surga.

“Pertama, masuk surga bisa kita peroleh dengan beriman dan mengucapkan syahadat. Kedua, dimasukkan ke surga bisa kita peroleh dengan beriman dan beramal saleh. Ketiga, menjadi penduduk surga artinya surga akan diwariskan kepada orang yang beriman, bertakwa, dan beramal saleh,” jelasnya.

Di sisi lain, Ustaz Rofiul juga menjelaskan bahwa luasnya surga untuk satu orang itu sama dengan sepuluh kali luas langit dan bumi. “Dalam sebuah riwayat, diceritakan orang yang terakhir masuk surga akan mendapatkan jatah surga yang luasnya sama dengan sepuluh kali luas langit dan bumi,” jelasnya.

Dengan demikian, dalam kajian ini pemateri mengajak kita melakukan amalan-amalan ahli surga dengan beriman, bertakwa, dan beramal saleh semampu dan sekuat kita masing-masing. (san)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Ustaz-Rofiul-Wahyudi-S.E.I.-M.E.I.-Al-Hafiz-Pemateri-Kajian-Ahad-Pagi-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-Foto.-IC-UAD.jpg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2025-10-22 10:59:322025-10-22 10:59:32Meraih Amalan Ahli Surga

Perjalanan Salsabilla Raih Gelar Sarjana dalam 3,3 Tahun

20/10/2025/in Feature /by Ard

Salsabilla Nuranisa Wahyudi mahasiswa Program Studi Psikologi Universitas Ahmad Dahlan (UAD) (Foto. Salsabilla)

Salsabilla Nuranisa Wahyudi mahasiswa Program Studi Psikologi Universitas Ahmad Dahlan (UAD) angkatan 2022 ini berhasil menuntaskan studinya dalam waktu 3,3 tahun. Di balik pencapaiannya, tentu tersimpan perjuangan dan perjalanan terhadap pengembangan diri di bidang akademik maupun nonakademik.

Sejak semester pertama, Salsabilla aktif mengikuti berbagai kegiatan eksternal kampus, mulai dari kepanitiaan, lomba, hingga organisasi dan komunitas tingkat regional hingga nasional. Ia juga rutin mengikuti kuliah umum di beberapa universitas ternama seperti Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Indonesia (UI), Universitas Padjadjaran (Unpad), dan Universitas Airlangga (Unair). Tak hanya itu, ia juga memperluas wawasan dengan mengikuti seminar dan konferensi daring dari sejumlah universitas di Eropa.

Memasuki semester tiga dan empat, Salsabilla mulai mencoba berkecimpung ke dunia penelitian. Ia menerima tawaran menjadi asisten dosen dari universitas lain dan turut bergabung dalam tim penelitian dosen UAD. Pada masa itu pula, ia aktif mengikuti kegiatan pengabdian masyarakat sebagai relawan, serta menjadi student employment di unit riset dan pengabdian masyarakat UAD.

Salsabilla juga aktif di organisasi nasional, yakni Ikatan Lembaga Mahasiswa Psikologi Indonesia (ILMPI) sebagai anggota Badan Pengembangan dan Pengkajian Keilmuan. Ia bahkan bergabung dalam komunitas yang berfokus pada analisis ekonomi dan politik. Selain keterlibatan di berbagai kegiatan inilah muncul ide untuk mengikuti Program Kreativitas Mahasiswa (PKM).

Ide yang ia ajukan berangkat dari pengamatan sosial dan pengalaman organisasi. Hasilnya sangat memuaskan, proposal PKM miliknya berhasil lolos pendanaan dan menghasilkan tiga Hak Kekayaan Intelektual (HKI) serta publikasi jurnal terakreditasi Sinta 3.

“Proses PKM benar-benar menguji dedikasi. Kami bekerja dari pagi hingga malam, bahkan bisa dibilang 24 jam penuh untuk riset dan pelaporan. Rasanya seperti berjuang tanpa henti, tapi semua terbayar saat akhirnya berhasil lolos pendanaan dan mendapat rekognisi,” tuturnya.

Rekognisi PKM diperoleh pada semester lima, setelah melalui proses panjang mulai dari pelaporan, presentasi, hingga penerbitan jurnal. Berkat dukungan berbagai pihak, hasil penelitian tersebut diakui sebagai pengganti skripsi. Ia bahkan sudah mencicil penulisan bab satu hingga tiga pada semester enam dan menuntaskan bab empat dan lima dalam waktu singkat saat semester tujuh.

Setelah itu, Salsabilla kembali menerima tawaran kerja di bidang riset berskala besar. Ia juga aktif dalam social project dan kolaborasi dengan berbagai institusi besar. Perjuangannya mengantarkannya menjadi Mahasiswa Berprestasi Tingkat Fakultas dan Finalis Mahasiswa Berprestasi Universitas.

“Perjalanan ini tidak mudah. Ada banyak kegagalan dan masa-masa sulit. Tapi dengan dukungan keluarga, teman, dan dosen, saya bisa bangkit. Allah juga selalu kirim orang-orang baik di sekitar saya, dan itu yang membuat saya terus semangat,” ungkapnya.

Selain itu, Salsabilla bertekad mengembangkan minatnya di bidang psikologi forensik, bidang yang dari awal sudah menjadi fokusnya. Ia menilai peran psikolog forensik semakin dibutuhkan untuk membantu menegakkan keadilan dan menjernihkan kasus-kasus hukum di Indonesia. (Lus)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Salsabilla-Nuranisa-Wahyudi-mahasiswa-Program-Studi-Psikologi-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-Foto.-Salsabilla.jpg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2025-10-20 12:12:362025-10-20 12:12:36Perjalanan Salsabilla Raih Gelar Sarjana dalam 3,3 Tahun

Unlock Your Next Level

15/10/2025/in Feature /by Ard

Talkshow ”Unlock Your Next Level” di Universitas Ahmad Dahlan (UAD) (Foto. Humas dan Protokol UAD)

Masih dalam rangkaian acara Kick Off PMB, pada Senin, 13 Oktober 2025, bertempat di Amphitarium Kampus IV UAD, Universitas Ahmad Dahlan (UAD) mengadakan Talk Show. Acara yang mengangkat tema ”Unlock Your Next Level” ini menghadirkan dua narasumber inspiratif, yakni Dr. Muhammad Najih Farihanto, S.I.Kom., M.A., dosen Fakultas Sastra, Budaya, dan Komunikasi (FSBK) UAD, serta Abdurrafi Afif, S.E., seorang content creator muda yang aktif di platform TikTok.

Dalam sesi pemaparannya, Dr. Muhammad Najih Farihanto menyoroti perubahan besar di dunia kerja yang menuntut generasi muda untuk terus meningkatkan kemampuan diri. Ia memaparkan sepuluh jenis pekerjaan yang paling banyak dicari pada tahun 2024, di antaranya pengembang perangkat lunak, ahli keamanan siber, AI engineer, analis data, hingga analis manajemen bisnis.

“Dunia kerja makin kompetitif. Tidak cukup hanya pintar, tetapi dibutuhkan kemampuan berpikir kritis, berkomunikasi dengan baik, dan menguasai teknologi,” ungkap Najih. Ia juga menegaskan bahwa pendidikan tinggi tidak lagi hanya menjadi tempat belajar, melainkan wadah untuk menemukan jati diri. “Sekolah bukan sekadar sekolah lagi, tetapi tempat kamu mengenal siapa dirimu, membangun jaringan, dan menyiapkan masa depan,” tambahnya.

Talkshow ini juga menghadirkan data menarik. Berdasarkan laporan Detik.com yang merujuk pada data Badan Pusat Statistik (BPS), rata-rata gaji lulusan pendidikan tinggi (D-4, S-1, S-2, S-3) pada Februari 2024 mencapai Rp4.685.241,00 per bulan dan meningkat menjadi Rp4.960.000,00 per Agustus 2024. Sementara itu, rata-rata upah lulusan SMA berada di angka Rp3.092.781,00 per bulan.

Data ini menjadi bukti nyata bahwa pendidikan memiliki dampak signifikan terhadap kesejahteraan. “Ini salah satu alasan mengapa kita harus level up,” ujar Najih.

Sebagai penutup, kedua narasumber sepakat bahwa setiap orang memiliki potensi besar untuk mencapai next level dalam kehidupannya. “The next level of your life will demand a different you,” kata Najih, menutup sesi talkshow dengan kalimat reflektif. (Lid)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Talkshow-Unlock-Your-Next-Level-di-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-Foto.-Humas-dan-Protokol-UAD.jpg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2025-10-15 10:31:192025-10-15 10:31:19Unlock Your Next Level

Mahkamah Konstitusi sebagai Pelaku Kekuasaan Kehakiman dalam Melindungi Hak Asasi Manusia

08/09/2025/in Feature /by Ard

Kuliah Umum Fakultas Hukum Universitas Ahmad Dahlan (UAD) (Foto. Salsya)

Dr. Suhartoyo, S.H., M.H., selaku Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Republik Indonesia (RI), hadir sebagai pemateri yang memaparkan mengenai MK sebagai pelaku kekuasaan kehakiman dalam melindungi Hak Asasi Manusia (HAM). Acara ini merupakan Kuliah Umum yang diselenggarakan oleh Fakultas Hukum (FH) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) pada Sabtu, 30 Agustus 2025, di Ruang Amphiteater Kampus IV UAD.

Pasal 24 ayat (1) dan ayat (2) Undang-Undang Dasar (UUD) Negara Republik Indonesia (NRI) Tahun 1945 menjelaskan bahwa kekuasaan kehakiman merupakan kekuasaan yang merdeka untuk menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan. Kekuasaan kehakiman salah satunya dilakukan oleh Mahkamah Konstitusi.

Dr. Suhartoyo mengatakan, “MK merupakan pelaku kekuasaan kehakiman sehingga harus berfungsi sebagai The Guardian of Constitution (pelindung konstitusi), The Final Interpreter of the Constitution (penafsir akhir konstitusi), The Guardian of Democracy (pelindung demokrasi), The Protector of Human Rights (pelindung hak asasi manusia), dan The Protector of Citizen’s Constitutional Rights (pelindung hak konstitusional warga negara).”

Sebagai lembaga negara yang menyelenggarakan peradilan, MK diberi wewenang oleh UUD 1945 untuk menguji Undang-Undang (UU) terhadap konstitusi, yang mencakup perlindungan HAM melalui regulasi negara. MK juga dapat membatalkan undang-undang jika dirasa bertentangan dengan hak-hak dasar warga negara.

“MK berwenang untuk menguji UU terhadap konstitusi atau hak konstitusional. Artinya, sesuai dengan pasal 51 ayat (1) UU MK, hak konstitusional merupakan hak-hak yang diatur dalam UUD 1945 dan hak yang diatur dalam UUD tersebut tentu tidak terlepas daripada melindungi hak asasi setiap manusia. Sehingga, putusan MK dalam perkara pengujian UU akan terkabul manakala mampu melindungi hak konstitusional warga negara,” tambah Dr. Suhartoyo.

Oleh sebab itu, MK sebagai pelaku kekuasaan kehakiman harus dapat memberi putusan yang mengabulkan secara final terhadap pengujian UU yang memberikan perlindungan HAM dan berani menolak perkara pengujian UU apabila terdapat potensi melemahkan hak konstitusional warga negara. (Salsya)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Kuliah-Umum-Fakultas-Hukum-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-Foto.-Salsya.jpg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2025-09-08 10:44:472025-09-08 10:44:47Mahkamah Konstitusi sebagai Pelaku Kekuasaan Kehakiman dalam Melindungi Hak Asasi Manusia
Page 3 of 73‹12345›»

TERKINI

  • Perbedaan Awal Ramadan dan Urgensi Kalender Hijriah Global Tunggal06/03/2026
  • KKN UAD Sosialisasikan Pola Asuh Anak Gen Z di Masjid Nurul Huda06/03/2026
  • Mahasiswa KKN UAD Optimalkan Edukasi Pencegahan PTM di Wonocatur06/03/2026
  • Kupas Tuntas Fikih Lingkungan, Pengajian Ramadan PWM DIY Tekankan Pentingnya Kesalehan Ekologis06/03/2026
  • Mahasiswa KKN UAD Dorong Visibilitas Usaha Lokal06/03/2026

PRESTASI

  • Mahasiswa PBI UAD Raih Silver Medal dalam Lomba Esai Nasional26/02/2026
  • Mahasiswa PBio UAD, Zul Hamdi Batubara Raih Andalan Awards Tiga Tahun Berturut-turut19/02/2026
  • Tim AL-Qorni UAD Raih Juara I Prototype Vehicle Design pada Shell Eco-marathon Middle East & Asia 202628/01/2026
  • Mahasiswa UAD Raih Juara I Best Use of Data pada ADIYC Tahun 202523/01/2026
  • Mahasiswa UAD Raih Juara Harapan I Presenter Terbaik pada ADIYC 202522/01/2026

FEATURE

  • Wujudkan Kampus Ekologis, Komitmen Nyata UAD Menjaga Alam02/03/2026
  • Budaya Ekologis dan Resiliensi di Dunia Pendidikan01/03/2026
  • Restorasi Lingkungan sebagai Pilar Perkhidmatan Masa Depan01/03/2026
  • Optimalisasi Karya Kampus untuk Masyarakat26/02/2026
  • Istikamah dalam Ibadah, Kunci Meraih Ampunan di Bulan Ramadan26/02/2026

TENTANG | KRU | KONTAK | REKAPITULASI

Scroll to top