• TERKINI
  • UAD BERDAMPAK
  • PRESTASI
  • FEATURE
  • OPINI
  • MEDIA
  • KIRIM BERITA
  • Menu
News Portal of Universitas Ahmad Dahlan

Burnout di Balik Jas Putih: Siapa yang Peduli?

28/07/2025/in Feature /by Ard

Mahasiswa Magister Kesehatan Masyarakat Universitas Ahmad Dahlan (UAD) (Foto. Sajdah)

Pandemi COVID-19 membuka mata dunia tentang betapa rentannya tenaga kesehatan (nakes) terhadap infeksi nosokomial yang ada di rumah sakit. Mereka selalu ada di garis depan, namun sering kali justru diabaikan. Setelah pandemi berlalu, nakes masih mengalami tekanan yang datang dari berbagai arah. Risiko tinggi tertular penyakit dan beban kerja yang berat membuat banyak nakes mengalami burnout. Bahkan, tidak sedikit yang memilih berhenti bekerja demi keselamatan diri mereka sendiri.

Kesehatan Mental Bukan Sekadar Tambahan, tetapi Hak

Burnout adalah kondisi kelelahan fisik, emosional, dan mental yang muncul karena stres berkepanjangan. Bagi nakes, menjaga kesehatan mental sangat penting karena mereka harus terus melayani pasien setiap hari dengan kondisi yang tidak pasti.

WHO mencatat lebih dari sepertiga tenaga kesehatan mengalami burnout. Jim Campbell dari WHO menyatakan bahwa pascapandemi COVID-19, penting untuk menyelesaikan krisis kelelahan yang sudah lama terjadi di dunia kesehatan dengan menciptakan lingkungan kerja yang lebih sehat dan mendukung.

Di Indonesia, Kementerian Kesehatan mencatat tingginya angka stres kerja, terutama di rumah sakit rujukan COVID-19. Gejalanya beragam, mulai dari kecemasan, mudah tersinggung, sulit tidur, hingga keinginan untuk mengundurkan diri (resign). Perlu adanya program di fasilitas kesehatan yang mampu menangani ini dengan pendekatan berbasis bukti dan sistem pendukung yang kuat.

Beberapa Sudah Melangkah

Kementerian Kesehatan RI telah mengambil sejumlah langkah untuk mendukung kesehatan mental nakes, seperti menyediakan layanan konseling, pedoman layanan kesehatan jiwa, edukasi tentang well-being, serta penempatan psikolog di fasilitas layanan kesehatan.

RSUP Dr. Sardjito, misalnya, sudah menerapkan berbagai program seperti mindfulness, relaksasi, kelompok dukungan sebaya (peer support group), piket bergilir, dan sistem cuti. Semua ini bertujuan untuk menjaga keseimbangan kerja dan kesehatan mental para nakes.

Seorang nakes di RSUP Sardjito menyampaikan bahwa setiap enam bulan dilakukan screening kesehatan mental. Hasilnya akan ditindaklanjuti oleh tim SDM melalui rotasi kerja, cuti, atau bahkan pensiun dini. Laporan dari rekan kerja atau pribadi juga diproses oleh komite etik dan K3. Program ini terbukti mampu meningkatkan kinerja dan menurunkan tingkat absensi.

Jalan Masih Panjang

Sayangnya, tidak semua rumah sakit bisa atau mau melakukan hal serupa. Stigma bahwa nakes yang mengeluh dianggap lemah masih sangat kuat. Ditambah lagi, anggaran terbatas dan belum dijadikannya isu kesehatan mental sebagai prioritas manajemen membuat upaya ini kurang berkelanjutan.

Manajemen rumah sakit perlu menyadari pentingnya membangun ketahanan mental tenaga kesehatannya agar pelayanan tetap optimal dan kualitas hidup nakes terjaga.

Waktunya Bergerak: Mental Sehat, Hak Nakes!

Sudah saatnya pemerintah dan pengelola rumah sakit menjadikan well-being sebagai bagian penting dari manajemen SDM. Kesehatan mental tenaga kesehatan bukan bonus, tetapi kebutuhan dasar. Pemerintah perlu memperluas akses layanan kesehatan mental (mental health) untuk nakes, sementara rumah sakit harus membangun sistem pendukung internal yang nyata. Masyarakat juga perlu didorong untuk lebih menghargai peran nakes, tak hanya saat krisis.

Yang tak kalah penting, tenaga kesehatan sendiri harus berani mencari bantuan ketika mengalami tekanan atau burnout. Karena saat mereka sehat, pasien pun akan lebih terlindungi.

Kini, waktunya kita mengubah cara pandang bahwa kebijakan manajemen rumah sakit tidak hanya soal tunjangan dan jam kerja, tetapi juga bagaimana menjaga hati dan pikiran mereka yang bekerja demi menyelamatkan nyawa. Kesehatan mental bukan sekadar tambahan, melainkan hak yang harus dijamin. (Sajdah)

uad.ac.id

Tags: Berita, Berita UAD, Dosen, Dosen UAD, Mahasiswa, Mahasiswa UAD, Muhammadiyah, News UAD, UAD, UAD Jogja, UAD Yogyakarta, Universitas Ahmad Dahlan, WeAreUAD
https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Mahasiswa-Magister-Kesehatan-Masyarakat-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-Foto.-Sajdah.jpg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2025-07-28 10:15:202025-07-28 10:15:20Burnout di Balik Jas Putih: Siapa yang Peduli?
You might also like
Mengenalkan UAD di Sumatra Barat Melalui Program Mudik Sekolah
P2K UAD Tahun 2023 Diikuti 4.740 Mahasisiwa Baru
Semarak Pharmanation 2024 Berlangsung Meriah dan Sukses
SMP Darul Hikam Internasional School Kunjungi Prodi Pendidikan Matematika UAD
BEM FK UAD Gelar Donor Darah dalam Rangka Hari Dokter Nasional
Dinamika Implementasi Pembelajaran Mendalam di Indonesia

TERKINI

  • Prodi Magister Informatika UAD Gelar Pelatihan Penggunaan Teknologi Digital yang Aman dan Bijak16/10/2026
  • Mahasiswa UAD Edukasi Siswa tentang Kesiapsiagaan Bencana dan Keselamatan Lalu Lintas16/10/2026
  • KKN UAD Kembangkan Kampung Hijau di Timuran, Yogyakarta16/10/2026
  • Forsikip UAD Gelar Pelatihan Pengembangan Diri Lintas Kampus bagi Awardee KIP-Kuliah15/10/2026
  • Menjajaki Riset, Inovasi, dan Teknologi dari Academic Visit di Tiongkok15/10/2026

PRESTASI

  • Tim Voli Putri UAD Raih Juara III Liga Voli Mahasiswa 202615/10/2026
  • Mahasiswa UAD Raih Juara II Math Essay Competition Nasional15/10/2026
  • Mahasiswa UAD Raih Juara I Writing Contest FOMUNY 202612/10/2026
  • Mahasiswa UAD Raih Juara III pada Kejurnas IX Senior-Junior Hapkido Indonesia 202630/09/2026
  • Tim Al Qorni UAD Raih Dua Gelar Juara di Ajang KMLI 202630/09/2026

TENTANG | KRU | KONTAK | REKAPITULASI

Scroll to top