• TERKINI
  • UAD BERDAMPAK
  • PRESTASI
  • FEATURE
  • OPINI
  • MEDIA
  • KIRIM BERITA
  • Menu
News Portal of Universitas Ahmad Dahlan

Awet Muda lewat Berbagi Ilmu dan Kedisiplinan

05/04/2019/in Feature /by NewsUAD

Hizbul Wathan (HW) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) mempunyai tujuan melatih kemandirian dan tolong-menolong sejak dini. Kali ini, HW UAD berkunjung ke SD Muhammadiyah Karangturi yang terletak di Bantul. Setiap Kamis, Anissa Fatmalia, Ayunda (sebutan untuk pelatih HW perempuan), dan Rakanda (sebutan untuk pelatih HW laki-laki) dari pasukan HW UAD, melatih soft skill para siswa dengan permainan kreatif. Sistem belajarnya tidak hanya teori di kelas, tetapi juga permainan kreatif dan berkunjung ke alam sekitar.

Awalnya, pihak guru dari sekolah mencari pengajar eksternal melalui dewan alumni. Pihak sekolah meminta tiga pengajar. Setiap kelas, ada satu pengajar. Tapi, karena siswa banyak, jadi idealnya ada dua pengajar dalam satu kelas. Pengajar dari HW UAD ada Anissa Fatmalia, Saadatul, Riska Usna Nurfiah, Indah Tri Astuti, dan Rasyid. Siswa yang ikut latihan terdiri atas kelas 3, 4, dan 5. Kisaran umur mereka adalah 9βˆ’12 tahun. Kelas 5 sudah dikenalkan ke tingkat Sekolah Menengah Pertama atau tingkat Pandu Pengenal. Tingkatan HW ada Pandu Athfal, Pengenal, Penghela, dan Penuntun.

β€œKalau materi saja di kelas mungkin saja kurang, jadi bisa dikembangkan melalui HW. Sebab, mengembangkan akademik bisa dilakukan melalui permainan saat latihan, dan dikaitkan dengan disiplin ilmu yang kami punya. Saat latihan, kami mengajarkan cara berbaris yang lurus sesuai dengan regu para siswa,” ujar Anissa Fatmalia atau biasa disapa Lia, mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru PAUD angkatan 2015.

Lia sebagai penanggung jawab menambahkan, saat latihan mereka mencoba memupuk kedisiplinan diri dan menjaga lingkungan. Hal ini dilakukan supaya siswa terlatih mencintai lingkungan sejak dini. Karena dari HW sendiri mempunyai karakter mencintai lingkungan.

Pada taraf SD, siswa harus membersihkan lingkungan dan menolong. Jadi, siswa dilatih melakukan hal yang bisa mengubah tanah air supaya menjadi lingkungan yang lebih baik. Jika ditanamkan dari sekarang, tujuannya supaya menjadi kebiasaan dan dibawa sampai ke tingkat pandu selanjutnya.

β€œMenurut saya yang menyenangkan dari HW adalah mendapat ilmu, bisa melihat alam luar, dan melatih kemandirian. Hukuman yang paling mengerikan adalah push-up satu porsi dari 10 sampai 20 kali. Kalau telat biasanya dihukum. Namun, sering kali hanya disuruh memungut sampah sesuai angka tanggal hari latihan,” kata Bela Laubna Salsabila, siswa kelas 5 SD Muhammadiyah Karangturi.

Hukuman dijatuhkan kepada siswa yang telat latihan dan perlengkapan tidak lengkap. Siswa ditanya dan dikumpulkan menjadi satu. Mereka harus bertanggung jawab atas kesalahannya. Keputusan hukuman sering kali dari kesepakatan.

Rakanda dan Ayunda dari HW UAD memberi hukuman membersihkan lingkungan atau meminta maaf kepada teman-teman. Hukuman yang sudah diterapkan yaitu operasi semut, mengambil sampah yang berserakan dan membuangnya ke tempat sampah. Hukuman dilakukan supaya anak-anak bisa belajar dari kesalahan, kemandirian, dan mencintai lingkungan.

β€œManfaat bagi HW UAD yaitu menambah jaringan dan belajar dari pengalaman melatih dua acara di sekolah ini, sampai mendapat juara dari kepanduannya,” ungkap Lia.

β€œBagi saya, mengikuti HW ialah mencoba menjadi pandu sejati, memahami karakter anak, banyak belajar, saling memahami, mendapatkan pengalaman, dan mendapat bekal untuk menjadi calon guru. Saya harap anak didik saya bisa menjadi pandu, mengamalkan Undang-Undang Dasar, dan Janji Pandu Athfal. Saya suka dengan anak-anak karena menggemaskan. Kalau melihat anak-anak insya Allah awet muda,” kata Riska Usna Nurfiah mahasiswa Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) semester 6 saat ditemui di SD Muhammadiyah Karangturi usai mengajar. (Dew)

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Awet-Muda-lewat-Berbagi-Ilmu-dan-Kedisiplinan.jpg 1280 1706 NewsUAD https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png NewsUAD2019-04-05 07:28:552019-05-07 05:30:45Awet Muda lewat Berbagi Ilmu dan Kedisiplinan

Maul: Selaraskan Matematika dan Teater

03/04/2019/in Feature, Prestasi /by NewsUAD

Maulan Aziz Syafii, mahasiswa kelahiran Nganjuk, 29 Mei 1997, memilih kuliah di Universitas Ahmad Dahlan (UAD) jurusan Matematika. Maul, sapaan akrabnya, ingin membuktikan kepada orang-orang bahwa matematika itu tidak sulit bahkan menyenangkan. Matematika adalah seni, karena setiap hari kita tidak bisa lepas dari matematika.

Selain kuliah, Maul juga berkegiatan di Teater Jaringan Anak Bahasa (JAB). Di teater tersebut, Maul mempelajari beragam ilmu, salah satunya teknik baca puisi. Bidang ini pula yang telah membawanya mengikuti lomba baca puisi di tingkat internal kampus UAD maupun tingkat Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Anak pertama dari pasangan Warsodik dan Arniati ini telah meraih juara 2 baca puisi Pekan Seni Mahasiswa Daerah (Peksimida) XIV DIY 2018. Prestasi terbaru yang ia raih yaitu juara 1 cabang baca puisi putra Pekan Seni Mahasiswa Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PSM PTM), seleksi internal UAD 2019. Maul akan mewakili UAD di PSM PTM 2019 di Purwokerto.

β€œDalam setiap lomba yang saya ikuti, saya mendapat teman-teman baru yang berbeda, keluarga baru, dan ilmu-ilmu baru. Peserta lomba lainnya sangat bagus dan keren. Secara tidak langsung, saya menjadikan mereka guru,” ucapnya.

Ilmu yang Maul dapat selama berteater dihubungkan dengan perkuliahanya di Program Studi Matematika. Dari teater, ia mengerti cara menyampaikan gagasan dengan jelas, juga menghadapi karakter orang-orang yang begitu beragam. Ilmu tersebut ia terapkan sebagai metode menyampaikan tentang matematika dengan asyik, apalagi matematika adalah ilmu eksak. Dengan penyampaian yang menarik, Maul berharap tidak ada lagi orang yang beranggapan bahwa matematika itu sulit dan menakutkan. (JM)

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Maul-Selaraskan-Matematika-dan-Teater.jpg 853 1280 NewsUAD https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png NewsUAD2019-04-03 09:05:252019-05-06 18:06:12Maul: Selaraskan Matematika dan Teater

Guru Istimewa Era Generasi 4.0

29/03/2019/in Feature /by NewsUAD

Semua bidang kehidupan di Era Revolusi Industri 4.0 diprediksi akan mengalami fenomena disrupsi. Fenomena tersebut yakni digantinya sistem lama dengan sistem baru yang berbasis teknologi. Termasuk salah satunya pada bidang pendidikan. Fungsi guru di sekolah jika sebatas hanya memberikan ilmu kepada siswa, maka peran tersebut dapat digantikan oleh teknologi. Oleh karena itu, guru diimbau lebih mudah untuk menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman.

β€œKalau menilik naiknya perekonomian Indonesia. Maka kita harus menghasilkan lulusan-lulusan yang hebat. Kalau lulusannya hebat, gurunya harus istimewa. Tidak cukup guru hebat saja, guru hebat pasti anaknya kurang hebat. Guru istimewa saja anaknya belum tentu hebat. Jadi kita harus menghasilkan guru-guru istimewa kalau akreditasi unggulan fakultas sudah sama dengan universitas,” tutur pembicara Dr. Ir. Paristiyanti Nurwardani, M.P., selaku Direktur Pembelajaran Direktorat Jendral Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kementerian Riset dan Teknologi dan Pendidikan Tinggi pada kuliah umum Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Kamis (21-03-2019).

Paristiyanti menambahkan, ekonomi Indonesia tahun 2030 diprediksi menempati urutan nomor tujuh dan tahun 2050 menjadi nomor empat. Untuk mencapai hal tersebut minimal guru harus mempunyai keterampilan 4C (Communication, Collaboration, Critical Thinking and Problem Solving, dan Creativity and Innovation). Hal tersebut sama seperti tujuan utama yang ingin dituju pada kurikulum 2013 dan merupakan pekerjaan capaian paling sulit yang harus dimiliki guru di masa yang akan datang.

Selain itu, sebagai implementasi 4C, guru harus membaca tidak hanya buku , tetapi teknologi dan masalah sosial di negara ini. β€œSaya berani memprediksi bahwa sepuluh tahun yang akan datang kegiatan seperti ini suatu saat akan digeser oleh teknologi baru. Kemudian sebagai bentuk Critical Thinking and Problem Solving guru harus memiliki mental yang kuat, guru menjadi solusi setiap permasalahan yang ada,” imbuhnya.

Acara yang berlangsung di amphitarium kampus utama UAD tersebut mengusung tema β€œRevitalisasi Pendidikan Calon Guru pada Era Generasi 4.0”. (nda)

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Feature_Guru-Istimewa-Era-Generasi4.0_2332019_nda_UAD.jpg 768 1024 NewsUAD https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png NewsUAD2019-03-29 14:51:342019-04-05 00:52:06Guru Istimewa Era Generasi 4.0

Pentingnya Komunikasi Efektif dengan Lintas Generasi

20/02/2019/in Feature /by NewsUAD

Β 

Menjalin komunikasi dengan lintas generasi tidak mudah bagi guru. Perbedaan menjadikan komunikasi mereka sering tidak nyambung sehingga menyebabkan perselisihan. Dosen Fakultas Psikologi Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Dr. Hadi Suyono, S.Psi., M.Si. menjelaskan, banyak guru kurang mempunyai kesadaran atas diri sendiri di tengah pandangan orang lain. Misalnya, apa yang membuat saya bahagia? Apa yang saya takutkan? Bagaimana orang lain memandang saya? Apakah mereka menghargai saya? Bagaimana penampilan saya menurut mereka?

β€œBanyak guru yang masih menggunakan pola lama untuk diterapkan kepada murid generasi milenial. Hal itu membuat murid tidak bisa menerima dengan baik karena kurang sesuai dengan dunia mereka. Guru harus sadar, kalau dulu ketika masih seusia siswanya masih main kelereng, petak umpet, dan permainan tradisional lainnya, maka permainan itu tidak bisa semerta-merta dipaksakan kepada murid yang mainnya sudah menggunakan HP android,” terang Hadi dalam acara pelatihan di SMA Waru, Pamekasan, Madura, dengan tema β€œKomunikasi Efektif Generasi Milenial”, Selasa (12-8-2019).

Menurut Hadi, dosen asal Bantul tersebut, guru yang masih menggunakan cara lama dalam berkomunikasi akan cenderung tidak diterima oleh siswa. Jika komunikasi tidak berjalan dengan baik, maka riskan terjadi bentrokan dengan murid. Selama ini, komunikasi memang dianggap paling efektif karena mempunyai keterbukaan, perhatian, dan kesamaan. Dengan komunikasi juga bisa melihat kepribadian lawan bicara secara langsung.

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/UAD-2.jpg 745 1303 NewsUAD https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png NewsUAD2019-02-20 10:54:342019-03-01 10:55:45Pentingnya Komunikasi Efektif dengan Lintas Generasi

Tak Sebatas Eksplorasi, tetapi Meneliti: Sebuah Tawaran Ainun terhadap Pembelajaran dan Kebijakan Pemerintah

31/01/2019/in Feature /by NewsUAD

Secara umum, masyarakat ketika berkunjung ke objek wisata, khususnya di gua-gua, mereka cenderung ingin menikmati keindahan pemandangan. Aktivitas ini dianggap hanya sebagai menyegarkan pikiran (refreshing). Namun, bagi Ainun Irvanto, berkunjung ke objek seperti gua-gua bisa mendatangkan sebuah inspirasi. Pada tahun 2013 bersama teman-teman Mahasiswa Ahmad Dahlan Pencinta Alam (Madapala), ia mengeksplorasi dan memetakan gua-gua yang ada di Gunungkidul. Waktu itu ia berpikir bahwa seorang pencinta alam seharusnya tidak hanya berhenti pada eksplorasi. Dari sinilah ia tertarik untuk mendata hewan-hewan apa saja yang ada di dalam gua untuk mengetahui jumlah spesies dan adaptasinya.

Mahasiswa Pendidikan Biologi ini memberi judul penelitiannya β€œAnalisis Potensi Sumber Belajar Biologi SMA Kelas X Materi Invertebrata Berdasarkan Hasil Penelitian Jenis-Jenis Arthropoda di Gua Senen Kawasan Karst Gunung Sewu”. Ia meneliti hewan arthropoda yang berada di dalam Gua Senen yang terletak di Dukuh Duwet, Desa Purwosari, Kecamatan Tepus, Gunungkidul. Menurutnya, gua tersebut akan dijadikan objek wisata secara resmi oleh pemerintah, karena akses menuju gua sudah diperbaiki. Beberapa catatan menunjukkan bahwa gua tersebut pada tahun 2014 sudah dikunjungi oleh masyarakat, tetapi menurutnya masih tergolong dalam objek wisata minat khusus.

Menurut dosen pembimbing, penelitian Ainun masih jarang dilakukan, apalagi di gua yang jenisnya vertikal seperti Gua Senen. Beruntungnya, Ainun adalah mahasiswa yang tergabung di Madapala dan otomatis mempunyai peralatan serta pengalaman. Alasan inilah yang juga mendukung untuk bisa meneliti. Sebagai mahasiswa yang berada di jurusan keguruan, ia ingin siswa-siswa mengetahui hewan apa saja dan bagaimana menyikapi melalui penelitiannya. Ia ingin menawarkan sumber belajar yang bisa dimanfaatkan untuk para siswa. Menurutnya, penelitian tersebut masih perlu dilanjutkan karena masih pada tahap menentukan hewan-hewan dalam gua sebagai sumber belajar. Masih ada tahap dari sumber belajar untuk layak dijadikan sebagai bahan ajar di sekolah, misal Lembar Kerja Siswa (LKS) dan modul.

Waktu yang diperlukan selama pengambilan sampel kurang lebih tiga sampai empat hari. Namun, ada beberapa tahap yang harus dilalui. Pertama, tahap perizinan. Kedua, adalah tahap penentuan hewan apa saja yang ada di dalam gua. Ketiga, adalah survei terhadap arah penelitian sesuai dengan hewan yang ditemukan. Akhirnya, ia membatasi hewan jenis arthropoda. Keempat, adalah perizinan kedua terkait penyerahan surat-surat dan sebagainya. Dalam proses mengambil sampel, ia menggunakan tiga metode yakni koleksi langsung, jelajah, dan perangkap (fill for trap). Secara keseluruhan dari persiapan sampai pada bentuk laporan dibutuhkan kurang lebih dua bulan.

Kendala utama selama penelitian adalah cuaca, karena penelitian tersebut dilakukan saat memasuki musim penghujan. Hal ini sudah dipertimbangkan oleh Ainun. Hewan di musim kemarau sedikit yang keluar sementara di musim penghujan lebih banyak. Selain cuaca, kendalanya adalah alat yang terbatas. Idealnya setiap orang memakai satu alat, ia ditemani tiga kawan, sementara alat yang tersedia hanya dua. Tiga orang berada di dalam dan satu orang di atas bertugas menjaga keamanan tali. Sementara untuk urusan perizinan justru dipermudah. Namun, ia harus mengurus izin ke laboratorium Universitas Gadjah Mada yang dianggap memiliki referensi lebih lengkap.

Dari hasil penelitiannya, ada beberapa fakta dan hal unik yang ditemukan. Pertama, spesies yang ditemukan, yaitu jangkrik, kalacemiti, dan laba-laba berbeda secara morfologi dengan hewan yang berada di luar. Misalnya, jangkrik di dalam gua memiliki antena yang panjang, sekitar 30 cm digunakan untuk sensor bergerak dalam keadaan gelap. Kedua, ada hewan yang pigmennya putih karena tidak terkena sinar matahari. Hewan yang ada di dalam gua mempunyai bentuk adaptasi tersendiri. Jadi, misal ada pengaruh dari luar masuk akan mempengaruhi adaptasi. Contohnya adalah waktu pengambilan sampel menurut paparannya pada hari pertama dan kedua masih cukup banyak aktivitas hewan, sementara hari-hari berikutnya mulai berkurang sebab sudah semakin sering dimasuki orang. Menurutnya, semakin banyak orang yang masuk ke gua maka aktivitas hewan akan berkurang, bahkan bisa mengganggu. Apalagi gua tersebut akan sering dikunjungi oleh wisatawan yang cenderung hanya ingin menikmati pemandangan tanpa cukup peduli dengan ekosistem di dalamnya. Sebagai seorang peneliti, ia kurang sepakat dengan kebijakan pembukaan Gua Senen sebagai objek wisata. Menurut kesimpulan penelitiannya, hewan-hewan yang berada di gua sangat responsif dan rentan terhadap pengaruh dari luar, seperti cuaca dan manusia. Semakin banyak orang masuk, maka akan semakin panas, hewan-hewan akan terganggu. Sebagai seorang peneliti ia hanya bisa menampilkan data-data yang sewajarnya dipertimbangkan oleh penentu kebijakan. Harapannya pembukaan objek wisata gua tidak asal-asalan, sebab harus ada manajemen wisata. Tujuannya adalah untuk meminimalisir kerusakan, karena wisata merupakan perkembangan yang tak terelakan.

Mahasiswa asal Lamongan ini pada dasarnya menawarkan penelitiannya sebagai sumber belajar baik siswa maupun guru, dan sebagai bahan pertimbangan kebijakan pemerintah di bidang wisata gua. Ia juga berharap bisa melanjutkan penelitiannya lebih jauh dan berpesan kepada para calon peneliti berikutnya bahwa masih banyak peluang melanjutkan. Misalnya meneliti hewan yang bukan tergolong jenis arthropoda, seperti kelelawar dan sebagainya. Selain itu, ia juga menyarankan penelitian di wisata ekstrem. Harapannya semakin banyak yang meneliti akan menghasilkan variasi data, sehingga semakin banyak pertimbangan apabila pemerintah hendak membuka objek wisata. (Ari)

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Penelitian-mahasiswa-UAD-Ainun.jpg 682 1024 NewsUAD https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png NewsUAD2019-01-31 14:28:442019-02-02 14:29:05Tak Sebatas Eksplorasi, tetapi Meneliti: Sebuah Tawaran Ainun terhadap Pembelajaran dan Kebijakan Pemerintah

PSMPB: Membangunan Kesadaran Sebelum dan Sesudah Bencana

30/01/2019/in Feature /by NewsUAD

Β 

Pusat Studi Mitigasi dan Penanggulangan Bencana (PSMPB) merupakan salah satu pusat studi yang berada di bawah naungan Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Ahmad Dahlan (UAD), yang konsen terhadap upaya-upaya mitigasi dan penanggulangan bencana. Ini sebagai wujud konkret kepedulian terhadap kondisi Ibu Pertiwi yang rawan bencana. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat dalam periode 2005βˆ’2015 telah terjadi 11.648 kejadian bencana hidrometeorologi seperti banjir, gelombang ekstrem, kebakaran lahan dan hutan, kekeringan, serta cuaca ekstrem di Indonesia. Sementara 3.810 kejadian lain adalah bencana geologi seperti gempa bumi, tsunami, letusan gunung api, dan tanah longsor. Peristiwa bencana geologi paling mutakhir adalah gempa bumi Lombok, disusul gempa bumi, tsunami, dan likuifaksi yang melanda Sulawesi Tengah 2018.

Bencana tidak hanya peristiwa alam hidrometeorologi dan geologi, tetapi juga ada berupa bencana sosial seperti wabah penyakit, kerusuhan, perkelahian antarpemuda dan pelajar, serta peperangan. Rawannya bencana alam maupun bencana sosial bangsa ini, menjadi pendorong berbagai perguruan tinggi, termasuk UAD, yang memiliki kewajiban memberikan kontribusi untuk melakukan berbagai usaha meminimalisir dampak bencana alam, bahkan mencegah adanya bencana sosial.

Berkaitan dengan hal tersebut, UAD melalui PSMPB akan aktif mengkaji berbagai fenomena bencana serta pembangunan kesadaran sebelum dan sesudah bencana alam maupun bencana sosial terjadi.

Seperti yang dikatakan Kepala PSMPB UAD Dholina Inang Pambudi, S.Pd., M.Pd., mitigasi sendiri memiliki makna mengurangi risiko bencana. Sehingga dalam praktiknya, PSMPB selalu berupaya menyelenggarakan berbagai kegiatan yang dapat mendukung pengurangan risiko bencana. Setelah terjadinya gempa bumi 27 Mei 2006, paradigma penanggulangan bencana di Indonesia telah bergeser dari upaya respons (setelah bencana) ke upaya pencegahan (sebelum bencana), sejalan dengan yang tertera pada UU No. 24 Tahun 2007 tentang penanggulangan bencana.

β€œSesuai amanat Undang-Undang, PSMPB hadir sebagai representasi UAD yang diharapkan selalu aktif mengkaji dan memberikan sumbangsih pemikiran kepada pemerintah dan masyarakat dalam hal kebencanaan. Sarasehan atau talk show, seminar, dan terutama pelatihan yang mampu meningkatkan kapasitas masyarakat terkait mitigasi dan kesiap-siagaan bencana, penelitian, serta pengabdian, ke depannya rutin akan dilaksanakan untuk mendukung kegiatan pengurangan risiko bencana,” kata Dholina.

Lebih lanjut, ia menyebutkan wujud nyata dukungan PSMPB terhadap upaya pengurangan risiko bencana yakni dengan peningkatan kapasitas calon relawan mahasiswa UAD pada 1 Desember 2018 lalu. Selain itu, PSMPB UAD juga terlibat sebagai pemateri dalam dukungan psikososial bagi guru-guru di wilayah terdampak bencana Sulawesi Tengah dengan membawakan materi manajemen penanggulangan bencana, ikut serta dalam Sekolah Madrasah Aman Bencana (SMAB) kerja sama Kemdikbud dan Muhammadiyah Disaster Management Centre (MDMC) pada 4βˆ’7 Desember 2018, serta terlibat dalam penyelenggaraan seminar kebencanaan, pameran foto kebencanaan, diskusi foto kebencanaan kerja sama Medecins Sans Frontieres (MSF) dan MDMC 17βˆ’22 Desember 2018.

β€œKiprah PSMPB yang lain adalah bekerja sama dengan PGSD UAD, yakni membuat materi pembelajaran dengan wacana dasar mitigasi bencana. Selain itu, bekerja sama dengan Peace Generation dalam diskusi ilmiah pengembangan kurikulum kebencanaan di jenjang Sekolah Dasar,” papar Kepala PSMPB UAD tersebut.

Pentingnya Mitigasi Bencana

Mitigasi bencana sebagai rangkaian langkah untuk mengurangi risiko bencana baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana, merupakan kegiatan yang penting dan harus konsisten digalakan. Pasalnya, apabila penyelenggaraan mitigasi bencana buruk maka akan berpotensi besar menambah daftar panjang kerugian akibat bencana, seperti jumlah korban jiwa dan luka-luka serta kerugian ekonomi akibat adanya kerusakan fasilitas publik maupun rumah pribadi. Seperti yang dilaporkan Bapennas, total kerugian dan kerusakan tsunami Aceh dan Nias (2004) 41,4 triliun rupiah, kerugian gempa Yogyakarta (2006) bernilai 29,1 triliun rupiah, kerugian dan kerusakan dari gempa Sumatera Barat tercatat 1,1 triliun rupiah, bahkan gempa Padang (2009) dengan total kerugian 21,6 triliun rupiah membuat kerusakan pada 80% sektor infrastruktur termasuk perumahan dan 11% sektor produktif.Β Kemudian, total kerugian akibat tsunami Mentawai (2010) mencapai 0,35 triliun rupiah. Untuk kegiatan rekonstruksi Aceh dan Nias (2004) misalnya, pemerintah mengeluarkan anggaran lebih dari 37,0 triliun rupiah, dan untuk mengatasi dampak gempa di Yogyakarta, anggarannya mencapai sekitar 1,6 triliun rupiah.

Berkaca dengan banyaknya jumlah kerugian akibat bencana dan tidak berimbangnya anggaran yang digelontorkan untuk pemulihannya, serta letak geografis Indonesia sebagai negara kepulauan yang dilintasi cincin api, mitigasi bencana perlu digalakan oleh elemen yang berkapasitas di bidangnya seperti yang telah dilakukan UAD dengan PSMPB. Diharapkan dengan masifnya mitigasi bencana, dapat memaksimalkan adanya usaha menekan berbagai kerugian akibat ketidaksiapan masyarakat menghadapi bencana. Sebab, mitigasi bencana memungkinkan adanya pemetaan wilayah-wilayah yang rawan bencana menggunakan konstruksi khusus dalam mendirikan fasilitas umum maupun perumahan pribadi, atau bahkan menghindari adanya pembangunan pada zona β€œmerah” bencana.

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/PSMPB-Membangunan-Kesadaran-Sebelum-dan-Sesudah-Bencana.jpg 720 720 NewsUAD https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png NewsUAD2019-01-30 16:16:202019-02-04 16:16:40PSMPB: Membangunan Kesadaran Sebelum dan Sesudah Bencana

Integrasi Pendidikan Anti Korupsi dalam Pembelajaran

28/01/2019/in Feature /by NewsUAD

Presiden Joko Widodo menginstruksikan kepada seluruh aparatur negara, termasuk Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) serta Kementerian Agama (Kemenag) dan kementerian terkait lainnya untuk mengintegrasikan pendidikan anti korupsi dalam pembelajaran. Instruksi tersebut tertuang dalam Instruksi Presiden Nomor 2 Tahun 2014 Tentang Aksi Pencegahan dan Pemberantasan Korupsi. Kemendikbud tahun 2012 juga telah mengeluarkan surat edaran untuk mengimplementasikan pendidikan anti korupsi. Bahkan, Direktur Jenderal Pendidikan Islam telah mengeluarkan Surat Keputusan Nomor 1696 Tahun 2013 Tentang Panduan Penyelenggaraan Pendidikan Anti Korupsi di Madrasah.

Namun sampai sekarang, pendidikan anti korupsi masih berjalan pincang dan dikotomik bahkan terkesan parsial dan marginal meskipun negeri ini dalam keadaan darurat korupsi. Pendidikan anti korupsi selama ini hanya β€œditempelkan” atau dititipkanβ€”jauh dari kata β€œdiintegrasikan”—pada mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) serta paling banter Agama dan Budi Pekerti.

Ironisnya, kedua mata pelajaran ini dipandang lebih mudah daripada Matematika, IPA, Sains, dan rumpun mata pelajaran eksak lainnya. Namun, ketika terjadi kasus korupsi berupa markup anggaran, misalnya, yang disalahkan bukan mata pelajaran Ekonomi, tetapi PPKn dan Agama. Ketika terjadi pergaulan bebas dan pornografi di kalangan pelajar, yang disalahkan bukan mata pelajaran Teknologi dan Informasi, tetapi Agama dan Budi Pekerti.

Pendidikan anti korupsi tidak boleh berjalan parsial dan marginal seperti yang berjalan selama ini, melainkan harus integral ke dalam semua mata pelajaran, termasuk Fisika, Kimia, Biologi, Matematika, dan lain sebagainya. Sebab, para koruptor menggunakan kecanggihan ilmu-ilmu eksak tersebut setiap kali melakukan aksi kejahatan terpelajar menjarah kekayaan negeri ini. Oleh karena itu, mata pelajaran-mata pelajaran tersebut tidak boleh bebas nilai, melainkan justru harus memuat minimal sembilan nilai pendidikan anti korupsi yang telah ditetapkan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), yakni jujur, disiplin, tanggung jawab, kerja keras, berani, mandiri, sederhana, adil, dan peduli.

Patologi Kognisi

Korupsi merupakan patologi kognisi, yakni β€œakal-akalan”, mencari-cari alasan dan pembelaan sehingga tampak beralasan, logis, dan bisa dibenarkan. Patologi kognisi juga dapat diartikan sebagai ketajaman intelektual di satu sisi namun ketumpulan moral di sisi yang lain. Dalam neurosains, intelektualitas dan moralitas atau kognisi dan afeksi diregulasi dalam otak secara integral, tidak terpisah secara parsial seperti pemahaman konvensional selama ini. Koruptor terpelajar yang terkena patologi kognisi jiwanya terbelah, pikirannya sakit, dan perilakunya menyimpang.

Menurut Taufiq Pasiak, otak koruptor sekadar normal tetapi tidak sehat. Otak koruptor mirip seperti otak binatang β€œberakal bulus”. Fenomena akal-akalan, markup anggaran, cari-cari alasan dan lain sebagainya merupakan bentuk penyakit berpikir atau patologi kognisi. Orang yang mengalami patologi kognisi cenderung melakukan hal yang bertentangan dengan pengetahuannya. Tahu yang benar namun melakukan yang salah, tahu yang salah namun tak mau berbenah.

Patologi kognisi dalam pembelajaran harus disembuhkan. Salah satu caranya adalah menangkal patologi kognisi tersebut dengan mengintegrasikan nilai-nilai anti korupsi ke dalam pembelajaran dengan pendekatan yang saintifik. Nasihat, petuah, etika, bahkan dogma agama yang terpisah dengan pembelajaran tidak akan mampu menangkal virus-virus patologi kognisi, karena patologi kognisi bersifat rasional empiris sedangkan nasihat, petuah, etika, dan dogma agama bersifat dokrinal pedagogis. Oleh karena itu, patologi kognisi harus dibasmi melalui integrasi pendidikan anti korupsi dalam pembelajaran yang rasional empiris, bukan doktrinal pedagogis seperti yang berjalan selama ini.

Dikotomi Pendidikan Anti Korupsi

Pendidikan anti korupsi selama ini masih menjadi wacana dikotomik, belum terlaksana secara integratif dalam pembelajaran. (KPK) pada tahun 2012 telah menyusun modul berseri pendidikan anti korupsi mulai dari Taman Kanak-kanak (TK/RA, SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA/SMK, hingga Perguruan Tinggi. Namun materi-materi dalam modul berseri tersebut terpisah satu sama lain, terlebih lagi dengan kurikulum yang berlaku. Akibatnya, modul-modul tersebut sebatas materi pengayaan atau tambahan wawasan kognitif tentang korupsi kepada peserta didik. Sebagai upaya menyiapkan generasi anti korupsi di masa depan, tentu langkah KPK ini baik adanya. Tetapi dalam konteks darurat pendidikan anti korupsi, upaya KPK itu masih perlu dilanjutkan dan dikembangkan lebih jauh.

Gerakan melawan korupsi lainnya yang juga bersifat dikotomik adalah pendidikan karakter dan revolusi mental. Pendidikan karakter dan revolusi mental hanya menjadi soft skills titipan yang tak pernah sampai pada sasaran (red: peserta didik) secara terintegrasi dalam pembelajaran di semua mata pelajaran, terlebih lagi Matematika, Fisika, Biologi, dan Kimia. Maraknya buku-buku pendidikan karakter dan revolusi mental juga masih dikotomi, tak mampu berintegrasi dengan semua materi pembelajaran dalam kurikulum yang berlaku. Padahal, sekali lagi, para koruptor itu menggunakan kecanggihan ilmu-ilmu eksak tersebut untuk melakukan kejahatan intelektual, menjarah kekayaan negara.

Sesuai Impres No. 2 Tahun 2014 Tentang Aksi Pencegahan dan Pemberantasan Korupsi dan SK Dirjen Pendidikan Islam No. 1969 Tentang Panduan Penyelenggaraan Pendidikan Anti Korupsi di Madrasah, maka perlu disusun model integrasi pendidikan anti korupsi dalam pembelajaran di semua mata pelajaran secara berjenjang atau berseri. Sebagai awalan, Dirjen Pendidikan Islam Kemenag akan mengintegrasikan pendidikan anti korupsi ke dalam tiga mata pelajaran, yakni PPKn, Bahasa Indonesia, dan Pendidikan Agama Islam.

Sedangkan Kemendikbud baru mengeluarkan surat edaran Nomor 1016/E/T/2012 Tentang Implementasi Pendidikan Anti Korupsi di Perguruan Tinggi. Berdasarkan kesenjangan antara idealitas yuridis dan realitas empiris tersebut, integrasi pendidikan anti korupsi dalam pembelajaran di semua mata pelajaran secara berseri mulai dari TK/RA, SD/MI, SMP/MTs, dan SMA/MA/SMK sudah sangat mendesak dilakukan.

Model Integrasi

Integrasi pendidikan anti korupsi ke dalam pembelajaran pada semua mata pelajaran tidaklah mudah, terutama Matematika, Fisika, Kimia, dan Biologi. Sedangkan integrasi pendidikan anti korupsi ke dalam pembelajaran IPS yang mencakup Sosiologi, Ekonomi, Sejarah, dan Geografi, meskipun dipandang lebih mudah namun tetap memerlukan pemikiran serius agar sembilan nilai anti korupsi dapat terintegrasi selaras dengan denyut nadi materi pembelajaran IPS dalam kurikulum yang berlaku. Adapun tiga mata pelajaran yang dicalonkan Dirjen pendidikan Islam sebagai pilot proyek integrasi pendidikan anti korupsi dalam pembelajaran, yakni PPKn, Bahasa Indonesia, dan Pendidikan Agama, hingga saat ini juga belum terealisasi.

Dengan pola integrasi pendidikan anti korupsi dalam pembelajaran di semua mata pelajaran secara berjenjang/berseri, akan tumbuh kesadaran kritis dalam diri peserta didik sehingga berimplikasi kepada kesehatan berpikir yang berujung pada taubat sosial, intelektual, dan moral secara total. Pendidikan anti korupsi, tidak cukup sebatas doktrinal pedagogis seperti yang dilakukan oleh gerakan pendidikan karakter dan revolusi mental, melainkan harus rasional empiris dengan pendekatan saintifik. Meskipun hal ini akan menemui tantangan berat berupa perubahan paradigma pembelajaran secara mendasar, harus segera dimulai untuk direalisasikan karena pendidikan kita sudah darurat korupsi. Kemendikbud dan Kemenag (Dirjen Pendis) sebagai garda depan yang membidangi integrasi ini harus merangkul banyak pihak agar terjadi akselerasi realisasi program.

Dr. Suyadi, M.Pd.I. Dosen Magister Pendidikan Agama Islam (S2-PAI) Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta. Instruktur Pendidikan Anti Korupsi, dan Penulis buku Seri Pendidikan Anti Korupsi untuk PAUD, SD/MI, SMP/MTs, dan SMA/MA/SMK (Pendekatan Tematik, Saintifik dan Integratif).

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/D-Suyadi.jpg 1211 1080 NewsUAD https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png NewsUAD2019-01-28 14:17:592019-01-29 20:18:24Integrasi Pendidikan Anti Korupsi dalam Pembelajaran

Tahun ke Tahun FH Selalu Meningkat

09/01/2019/in Feature /by NewsUAD

Berdirinya Fakultas Hukum (FH) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) pada tanggal 1 Agustus 1997, membuat fakultas ini pada 2019 berumur 21 tahun. Meskipun FH tergolong fakultas yang masih muda, pencapaiannya dari dulu semakin meningkat derastis dan maju.

Menurut laporan Rahmat Muhajir Nugroho, S.H., M.H., selaku Dekan FH, mahasiswa FH UAD sudah banyak berkontribusi bagi kemajuan bangsa dan negara, khususnya bagi tegaknya konstitusi hukum dan keadilan. Kerennya lagi, FH sudah menjadi bagian dari fakultas hukum di Indonesia.

Hal tersebut juga dipacu dengan pelaksanaan Tri Darma Perguruan Tinggi, seraya menyelenggarakan acara yang terkait ilmu hukum, teknologi, serta dinamika masyarakat lokal maupun nasional yang dilandasi nilai-nilai keislaman dan semangat pembaharuan.

FH mempunyai komitmen, sarjana mereka harus memiliki moral dan intelektual integritas yang terjabarkan dalam tujuan, salah satunya melahirkan sarjana hukum yang berahlak mulia, berintegritas, profesional dalam bidang hukum, serta menguasai teori dan praktik hukum itu sendiri.

Alhasil, langkah-langkah itu mampu mewujudkan visa-misi FH. Dibuktikan dengan kepercayaan masyarakat yang telah mengirim putra-putrinya untuk menempuh pendidikan di FH ini. Jadi, setiap tahun mahasiswa semakin meningkat.

β€œDalam lima tahun terakhir, grafik penerimaan mahasiswa mengalami peningkatan yang sangat signifikan. Sehingga pada tahun ini fakultas hukum UAD menerima mahasiswa baru sebanyak 416 mahasiswa, yang pada tahun lalu hanya menerima 300-an mahasiswa,” jelas Muhajir di XT Square, Yogyakarta, Jumat (4-1-2019).

Tentunya, penerimaan mahasiswa tidak sembarangan, ada selesksi yang ketat sehingga mahasiswa FH tidak hanya memiliki kuantitias tetapi juga kualitas. Pada tahun kemarin, tercatat sekitar 26,6% calon mahasiswa baru yang tidak diterima. Mulai tahun depan, periode tahun 2019, penilaian terhadap mahasiswa akan ditingkatkan.

Muhajir menjelaskan, peningkatan tersebut tidak lepas dari promosi unversitas yang membuat citra FH baik secara langsung maupun dari media.

β€œMeskipun universitas berupaya melakukan promosi, kami juga berupaya untuk menyusun strategi untuk menarik mahasiswa baru melalui media publikasi kegiatan ilmian dan memberikan wahana minat bakat bagi mahasiswa.”

Selain itu demi meningkatkan akademik, FH juga banyak bekerja sama dengan perguruan tinggi nasional sampai internasional. Pada tahun 2018, tercatat FH sudah berkerja sama dengan Universitas Muhammadiyah Ponorogo, Otoritas Kabupaten Klaten Jawa Tengah, Asosiasi Pimpinan Perguruan Tinggi Hukum Indonesia, DPN Perhimpunan Advokat Nasional Wonosari, Kantor Staf Kepresidenan, Pradi Kota Yogyakarta, Kementerian Hukum, dan HAM.

Setiap tahunnya, mahasiswa FH UAD juga rajin melaksanakan studi lapangan dengan mengirimkan ke lembaga-lembaga negara seperti Mahkamah Agung, Mahkamah Konstitusi, KPK, OJK, DI, Kementerian Hukum dan HAM, serta masih banyak lagi yang lainnya. (ASE)

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Tahun-ke-Tahun-FH-Selalu-Meningkat-2.jpg 768 1024 NewsUAD https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png NewsUAD2019-01-09 09:12:032019-01-09 09:12:12Tahun ke Tahun FH Selalu Meningkat

Pengajian, Amien Rais: Refleksi Masa Lalu untuk Menyonsong Masa Depan

03/01/2019/in Event, Feature /by NewsUAD

Prof. Dr. H Amien Rais, M.A., dalam pengajian yang diselenggarakan Universitas Ahmad Dahlan (UAD) mengungkapkan, setiap hari orang selalu merayakan ulang hari, ulang minggu, maupun ulang tahun. Menjelang satu Muharam, orang harus merefleksikan hidupnya di masa lalu untuk masa depan, meskipun dalam dalil tidak ada.

β€œKita harus melakukan refleksi di masa lalu untuk menyongsong masa depan yang lebih baik,” ajaknya.

Menurut sejarah, ia meneruskan, apa yang orang lakukan hari ini merupakan efek yang telah dilakukannya di masa lalu, dan yang sekarang kita perjuangkan juga tidak lepas dari masa lalu. Lebih jelasnya, antara masa lalu dan masa depan tidak bisa dipisahkan. Sebab orang mengalir dalam sejarah kehidupan nyata, bukan mitos.

Orang beriman diharapkan memiliki masa sekarang yang lebih bagus dari masa lalu, dan masa depan yang lebih bagus dari masa sekarang ini.

β€œBagi orang mukmin, kalau masa sekarang ini lebih bagus dari masa lalunya maka ia termasuk orang yang beruntung. Tetapi kalau nasibnya sama dari tahun kemarin, maka dia termasuk orang yang rugi.”

Amien Rais juga menyinggung tentang negara, ketika pemimpin tidak memperdulikan agama dari politik, maka ia termasuk pemimpin penganut paham komunis dan ateis. Sebab ia tidak percaya dengan agama, hanya mempercayai jalannya akal saja.

β€œSaya yakin kalau sebuah negara yang percaya pada hari akhir, percaya pada wahyu agama yang dipeluk, maka ia akan jadi bangsa yang tangguh. Namun, kalau sebuah manusia di suatu bangsa yang tidak percaya iman dan hal yang gaib, maka ia akan kehilangan imannya sebagai makhluk yang paling tinggi,” jelasnya di kampus 4 UAD Jln. Lingkar Selatan, Tamanan, Banguntapan, Bantul, Senin (31-12-2018). (ASE)

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Pengajian-Amien-Rais-Refleksi-Masa-Lalu-untuk-Menyonsong-Masa-Depan.jpg 682 1024 NewsUAD https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png NewsUAD2019-01-03 14:20:452019-01-03 14:20:52Pengajian, Amien Rais: Refleksi Masa Lalu untuk Menyonsong Masa Depan

Mengenang Penyair Perempuan yang Hilang di Permukaan Sastra

31/12/2018/in Feature /by NewsUAD

Dulu, banyak penyair yang muncul dari kalangan perempuan. Hal tersebut mungkin dipicu karena orang berpandangan perempuan sebagai makhluk yang lemah sehingga mereka ingin menyangkal itu. Ada juga yang beranggapan, saat itu perempuan mau turut andil merespons konflik di lingkungan sekitar dengan bersastra.

Namun sayang, banyak juga penyair perempuan yang hilang, tanpa memberi kabar, apalagi mengucapkan salam. Ibarat kata seperti calon pacar yang sudah menjadi mantan. Biasanya kejadian itu melanda ketika perempuan itu menikah. Ada juga yang beranggapan kalau perempuan masih terikat tanggung jawab, belum sepenuhnya bebas untuk menjamah kesusastraan. Kejadian itu juga diceritakan oleh penyair perempuan Indonesia yang masih aktif menulis yaitu Ulfatin CH.

β€œDulu, minim sekali perempuan yang ikut di acara kesenian dan kepenyairan, tidak seperti perempuan sekarang ini yang lebih bebas,” katanya saat mengisi di acara Forum Apresiasi Sastra (FAS) yang terselenggara berkat kerja sama dengan Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Ahmad Dahlan (UAD).

Ia menjelaskan, beban tanggung jawab yang dipukul perempuan sangatlah berat. Perempuan dilarang bergaul dengan lelaki, tidak bisa keluar malam, sehingga tidak tahu kejadian di luar karena terlalu sering terkurung di rumah.

β€œPadahal kalau di dunia sastra, pergaulannya kebanyakan dengan lelaki. Bagi saya, perempuan boleh bergaul dengan siapa saja, tidak terkecuali dengan lelaki. Namun, bergaul dalam konteks apa dulu? Kalau untuk belajar, boleh.”

Ia melanjutkan, kebebasan perempuan didapat ketika mereka merantau sembari melanjutkan pendidikan. Dari situlah mulai muncul banyak penyair perempuan. Tetapi, ya karena alasan menikah dan lain sebagainya, mereka kembali β€œmenghilang”. Ini tentu sangat disayangkan.

β€œKhusus perempuan sekarang yang mau menulis, bersiaplah menjadi penulis yang baik, jujur, dan tahan uji. Ibaratnya kalau sudah masuk dalam barisan, jangan sampai keluar dari barisan lagi, sebab kamu sudah masuk dalam tim. Suatu saat setelah menjadi anggota barisan, kamu akan menjadi pemandu di dalam barisan itu,” pesannya di kampus 4 UAD Jln. Lingkar Selatan, Tamanan, Banguntapan, Bantul, Rabu (26-12-2018).

β€œJika perempuan menulis dengan perasaan yang jujur, pasti ketika menulis hasil tulisannya itu sangat indah. Jangan lupa, jadilah penulis yang tidak meninggalkan kewajibannya sebagai seorang perempuan seperti NH Dini,” imbuhnya. (ASE)

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/FAS-Edisi-ke-83-Penyair-Perempuan-Indonesia-3.jpg 1000 1500 NewsUAD https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png NewsUAD2018-12-31 09:59:572018-12-31 10:00:40Mengenang Penyair Perempuan yang Hilang di Permukaan Sastra
Page 64 of 73«‹6263646566›»

TERKINI

  • PWM DIY Gelar Wisuda Perdana Peserta Sekolah Ideologi Muhammadiyah di UAD02/03/2026
  • KKN UAD Gelar Edukasi Stunting pada Remaja di Bantar Kulon02/03/2026
  • Pengajian Ramadan PWM DIY Perkuat Sinergi Pelestarian Lingkungan01/03/2026
  • Garda Depan Melawan Dengue: Mahasiswa UAD Perkuat Peran Jumantik di Bokoharjo27/02/2026
  • Dukung Sektor Pertanian, KKN UAD Ikuti Penanaman Kentang Serentak di Batur Lor27/02/2026

PRESTASI

  • Mahasiswa PBI UAD Raih Silver Medal dalam Lomba Esai Nasional26/02/2026
  • Mahasiswa PBio UAD, Zul Hamdi Batubara Raih Andalan Awards Tiga Tahun Berturut-turut19/02/2026
  • Tim AL-Qorni UAD Raih Juara I Prototype Vehicle Design pada Shell Eco-marathon Middle East & Asia 202628/01/2026
  • Mahasiswa UAD Raih Juara I Best Use of Data pada ADIYC Tahun 202523/01/2026
  • Mahasiswa UAD Raih Juara Harapan I Presenter Terbaik pada ADIYC 202522/01/2026

FEATURE

  • Wujudkan Kampus Ekologis, Komitmen Nyata UAD Menjaga Alam02/03/2026
  • Budaya Ekologis dan Resiliensi di Dunia Pendidikan01/03/2026
  • Restorasi Lingkungan sebagai Pilar Perkhidmatan Masa Depan01/03/2026
  • Optimalisasi Karya Kampus untuk Masyarakat26/02/2026
  • Istikamah dalam Ibadah, Kunci Meraih Ampunan di Bulan Ramadan26/02/2026

TENTANG | KRU | KONTAK | REKAPITULASI

Scroll to top