• TERKINI
  • UAD BERDAMPAK
  • PRESTASI
  • FEATURE
  • OPINI
  • MEDIA
  • KIRIM BERITA
  • Menu
News Portal of Universitas Ahmad Dahlan

Perdamaian Banyak Diinginkan tapi Konflik Semakin Menjadi

27/07/2019/in Feature /by NewsUAD

 

Kenapa perdamaian banyak diinginkan tapi perang lebih banyak terjadi, adalah wacana yang memantik acara Dialog Perdamaian dari Sumenep untuk Nusantara, yang berlangsung di Kantor PCNU Sumenep, Madura.

Menurut Ahmad Halimi salah satu pemateri, konflik terjadi karena pada dasarnya manusia punya watak pelit, tamak, ingin mengambil, malas, egois dan

 

sebagainya. Sifat ini lah yang mengusik perdamaian.

“Unsur lain yang memacu konflik adalah semangat bersaing. Adanya kompetisi menghadirkan persaingan kalah-menang. Mental bersaing selain menjadikan kita lebih kritis juga memacu konflik. Selain itu hoaks juga memberikan kontribusi besar dalam konflik sehingga melahirkan paham yang salah. Selanjutnya, beredar salah paham dan adu domba,” terang Halimi saat men

 

yampaikan materi tentang perdamaian, Kamis (18-7-2019).

 

Ia menambahkan, hal yang paling baik untuk menyelesaikan itu hanya ketemu. Dengan ketemu semua akan saling paham.

Dr. Hadi Suyono, S. Psi., M. Si. dosen Psikologi Universitas Ahmad Dahlan (UAD) menambahkan, alasan muncul konflik karena kita saling tidak menyapa dan melihat orang lain dari sudut yang salah. Padahal kalau saling menyapa, tidak akan ada konflik.

“Dengan saling sapa, bertemu, duduk bersama maka akan terjalin kebersamaan. Dengan kebersamaan itulah kita akan lebih damai menjalani hidup,” tuturnya kemudian pada audiensi yang mempertanyakan solusi agar perdamaian terjaga.

“Indonesia banyak budaya, adat, dan ragam bahasa, yang membuat masyarakat Indonesia sangat berpotensi konflik jika tidak ada pertemuan. Makanya sangat penting duduk bersama, ngopi bersama atau gotong royong yang menjadi ciri khas kita selama ini. Dengan begitu, ujaran kebencian menciptakan rasa curiga tidak akan ada lagi,” tuturnya kemudian.

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Perdamaian-Banyak-Diinginkan-tapi-Konflik-Semakin-Menjadi.jpg 1137 1619 NewsUAD https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png NewsUAD2019-07-27 09:47:202019-07-27 09:47:20Perdamaian Banyak Diinginkan tapi Konflik Semakin Menjadi

Perguruan Tinggi Pilar Peradaban dan Kebudayaan

26/07/2019/in Feature, Terkini /by NewsUAD

Universitas Ahmad Dahlan (UAD) mengadakan kuliah umum dengan tema “Indonesia dan Azerbaijan: Hubungan Antarperadaban dan Budaya”. Pembicara pada kuliah umum ini merupakan Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Republik Indonesia untuk Azerbaijan Prof. Dr. Husnan Bey Fananie, M.A.

Acara yang berlangsung di kampus utama Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Rabu (17-7-2019) dihadiri pimpinan, dosen, dan mahasiswa UAD. Kuliah umum ini merupakan tindak lanjut dari kunjungan pimpinan UAD ke Azerbaijan beberapa bulan lalu.

Rektor UAD, Dr. Kasiyarno, M.Hum., dalam sambutannya mengucapkan terima kasih atas kehadiran Prof. Husnan ke UAD untuk memberi kuliah umum. “Ketika di Azerbaijan, kami melakukan MoU dengan empat perguruan tinggi di Azerbaijan. Ini berkat bantuan Duta Besar juga,” ujar Kasiyarno.

Setelah penandatanganan MoU, UAD berencana memberikan beasiswa bagi 10 mahasiswa Azerbaijan untuk kuliah di perguruan tinggi Muhammadiyah ini. UAD akan memfasilitasi secara penuh, mulai dari biaya kuliah, sampai tempat tinggal. Nantinya mahasiswa dari Azerbaijan bisa kuliah di program studi bahasa, agama, maupun pendidikan.

Di sisi lain, Husnan dalam kuliah umumnya menjelaskan tentang perbedaan kebudayaan dan peradaban antarkedua negera ini. Selain memberi kuliah umum, ia juga memberikan MoU UAD dan buku.

“Azerbaijan terletak di Pegunungan Kaukasus. Di lembah paling rendah. Azerbaijan konon merupakan negerinya Nabi Nuh. Di tempat ini lahir peradaban yang luar biasa pada masanya,” jelasnya.

Namun, ia mengatakan, kondisi saat ini berbeda sejak invasi Uni Soviet. Oleh karenanya, ia mengimbau agar berkaca dari keadaan di Azerbaijan, jangan sampai Indonesia dipecah belah dan kehilangan identitas, terutama agama.

“Saat ini kita adalah pejuang budaya dan peradaban. Mempertahankan budaya dan peradaban adalah kewajiban. Jangan sampai seperti Timur Tengah, kita harus mempertahankan persatuan dan kesatuan,” lanjut Husnan.

Husnan menegaskan, Indonesia saat ini merupakan benteng peradaban umat Islam terakhir di dunia. Benteng ini tidak bisa lagi disandarkan ke Timur Tengah maupun Afrika. Oleh karenanya Indonesia harus mampu mencetak ulama berkualitas dan menyebarkannya.

Benteng memiliki pilar-pilar, dan salah satu pilarnya adalah perguruan tinggi (red: UAD). Melalui perguruan tinggi pilar-pilar keislaman harus dipertahankan. Perguruan tinggi juga memegang peranan penting dalam perkembangan peradaban dan kebudayaan. (ard)

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Prof.-Husnan-Bey-Fananie-M.A.-Duta-Besar-Luar-Biasa-dan-Berkuasa-Penuh-RI-untuk-Azerbaijan-saat-memberi-kuliah-umum-di-UAD.jpeg 320 480 NewsUAD https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png NewsUAD2019-07-26 11:37:192019-07-26 11:37:19Perguruan Tinggi Pilar Peradaban dan Kebudayaan

UAD Gandeng British Council Tingkatkan Ekonomi Kreatif Inklusif

26/07/2019/in Feature, Terkini /by NewsUAD

Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta menjadi salah satu inkubator perguruan tinggi dari Program Developing Inclusive and Creative Economies (DICE) British Council. Dice merupakan program Kedutaan Inggris dengan pendekatan inovatif dan lintas sektoral di bidang ekonomi kreatif serta ekonomi sosial untuk mendukung perkembangan ekonomi inklusif.

Melalui Kantor Urusan Bisnis dan Inovasi (KUBI), UAD terlibat aktif dalam program ini. Program ini dapat menjadi partner strategis bagi UAD untuk pengembangan ekonomi kreatif inklusif di Indonesia lebih khusus lagi Yogyakarta.

Perwakilan British Council, Ambarizky Trinugraheni dan Muhammad Setiyawan Kusumo mengaku sangat puas terhadap sambutan UAD yang memperlihatkan sejumlah inkubatornya. Hal tersebut disampaikan saat mengunjungi kampus II UAD, di Jln. Pramuka 42, Umbulharjo, Senin (15-7-2019).

Prof. Sarbiran, M.Ed., Ph.D., Wakil Rektor IV UAD, dalam sambutannya mengatakan, stan inkubator wirausaha yang dipamerkan untuk menyambut kunjungan perwakilan British Council merupakan hasil riset mahasiswa dan dosen.

“Produk-produk ini merupakan kebanggaan kami. Sebab perguruan tinggi swasta tanpa memiliki nilai lebih, tidak akan dilirik oleh masyarakat,” jelas Sarbiran yang didampingi Wakil Rektor III Dr. Abdul Fadlil, M.T.

Di sisi lain, Ambar menjelaskan, program DICE dimaksudkan untuk mengatasi dua permasalahan kompleks di masyarakat. Pertama, meningkatnya pengangguran, kurangnya lapangan pekerjaan, dan prospek lapangan pekerjaan yang rendah bagi anak muda di negara-negara berkembang. Kedua, kurangnya pembangunan ekonomi inklusif yang memicu ketidakstabilan, ketidakpuasan politik, dan lambannya pertumbuhan ekonomi.

“Nantinya, inkubator yang lolos program DICE akan diberikan ToT, difasilitasi tim dari Inggris dan Indonesia. Para peserta diharapkan, pertama, dapat memahami ramuan suksesnya inkubator bisnis universitas yang belajar dari pebisnis Inggris dan Indonesia. Kedua, meningkatkan keterampilan yang terkait dengan inkubasi bisnis. Ketiga, bisa memberikan layanan, pelatihan, dan mentoring dampingannya untuk berinovasi,” jelasnya.

 

Sementara Hari Haryadi, Kepala Kerja Sama KUBI UAD mengatakan ToT dapat membuka pintu hubungan UAD dan British Council. Kegiatan ini sesuai dengan upaya UAD untuk mewujudkan entrepreneur university. Selama ini KUBI UAD memiliki fokus kepada pembinaan dengan kategori perempuan korban perceraian yang termarginalkan secara ekonomi, dan kaum disabilitas.

“Di samping itu, KUBI UAD juga turut dalam kegiatan pengembangan ekonomi secara umum di masyarakat, khususnya mendorong tumbuhnya produk start up bisnis,” kata Hari.

Sebelumnya, jelas Hari, UAD telah mendapat kepercayaan dari Kementerian Riset Teknologi Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) hibah Program Pengembangan Kewirausahaan (PPK) sebagai satu-satunya universitas di lingkungan Muhammadiyah yang dipercaya Uni Eropa untuk menerima hibah Erasmus+ dalam bidang kewirausahaan dan kurikulum pendidikan kewirausahaan. (ard)

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/UAD-Gandeng-British-Council-Tingkatkan-Ekonomi-Kreatif-Inklusif.jpg 912 1368 NewsUAD https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png NewsUAD2019-07-26 11:09:422019-07-26 11:09:42UAD Gandeng British Council Tingkatkan Ekonomi Kreatif Inklusif

Tantangan Energi Indonesia di Masa Depan

15/07/2019/in Feature /by NewsUAD

Cadangan minyak dan gas Indonesia sangat kecil. Jika tidak ada pencarian minyak baru, Indonesia akan terus tergantung pada impor minyak. Mulai tahun 2022, Indonesia impor gas. Hal itu disampaikan oleh Prof. Dr. Maizar Rahman, dalam kuliah umum Program Studi Teknik Kimia, 29 Juni 2019, di Aula Islamic Centre Universitas Ahmad Dahlan (UAD).

Tantangan energi yang dihadapi Indonesia yaitu produksi minyak terus menurun, sementara konsumsi makin besar. Impor minyak bumi juga makin besar sedangkan cadangan penyangga energi belum tersedia. Sementara itu, kegiatan eksplorasi migas rendah dan keberhasilan penemuan baru rendah, iklim investasi kurang kondusif, energi baru belum berkembang dengan baik, kurangnya infrastruktur energi, efisiensi pemakaian energi rendah, serta pemanfaatan energi baru dan terbarukan masih rendah.

“Enam proyek kilang menuju 2 juta barel per hari. Infrastruktur migas Indonesia cukup rumit, karena jarak antarpulau jauh, itu salah satu hambatan dan tantangan untuk Indonesia. Tahun 2050 ke atas, penggunaan energi terbarukan akan lebih dominan. Tenaga air, panas bumi, tenaga surya, dan tenaga angin merupakan sumber daya dan potensi energi terbarukan,” jelasnya.

Arah teknologi minyak dan gas perlu dirumuskan untuk meningkatkan prospek, cadangan baru. Misalnya melakukan eksplorasi dan produksi migas, eksplorasi laut dalam, dan pencarian gas terpencil. Masih ada 74 cekungan migas potensial, diprioritaskan eksplorasi dan produksi untuk menciptakan kemandirian bidang migas. (JM)

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Tantangan-Energi-Indonesia-di-Masa-Depan.jpg 648 972 NewsUAD https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png NewsUAD2019-07-15 10:57:322019-07-15 10:57:32Tantangan Energi Indonesia di Masa Depan

Masa Depan Energi Global

12/07/2019/in Feature /by NewsUAD

Minyak dan gas adalah energi fosil yang berapa tahun mendatang akan hilang. Orang-orang mulai mencari pengganti energi fosil yaitu energi terbarukan. Hal itu disampaikan oleh Prof. Dr. Maizar Rahman, dalam kuliah umum program studi Teknik Kimia pada 29 Juni 2019 di Aula Islamic Centre Universitas Ahmad Dahlan (UAD).

 

 

 

 

 

 

 

 

Energi global menghadapi tantangan yang rumit, seperti peningkatan jumlah penduduk dan konsumsi energi dunia, sumber minyak terbatas, ketidakpastian cadangan minyak dunia, geopolitik dan kebijakan negara, fluktuasi dan spekulasi harga minyak, ketidakpastian investasi, isu lingkungan, gangguan produksi, serta gangguan cuaca.

“Mobil dan motor masih menggunakan bensin, di Eropa dan Tiongkok sudah mulai menggunakan motor listrik. Cadangan minyak dunia tidak pasti pasokannya. Negara yang memiliki minyak banyak belum tentu juga membuka ladang minyak. Masalah geopolitik, isu lingkungan, pemanasan global, kini orang mulai anti dengan energi fosil, menyebabkan polusi, cuaca juga berpengaruh pada penggunaan energi dunia,” paparnya.

Sumber minyak paling besar berada di kawasan Timur Tengah, negara-negara Arab. Bahan Bakar Minyak (BBM) masih dominan digunakan untuk transportasi hingga 2040. Cadangan minyak baru makin sulit ditemukan, jika pun masih melimpah namun perlu biaya tinggi untuk produksinya.

“Ada beberapa prinsip keamanan energi global misalnya, diversifikasi, transportasi dan infrastruktur energi, oil market dan kepastian suplai, security margin, fleksibilitas oil market, kerja sama produsen dan konsumen, serta keamanan rantai suplai,” tutupnya. (JM)

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Masa-Depan-Energi-Global.jpg 648 972 NewsUAD https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png NewsUAD2019-07-12 09:00:472019-07-12 09:00:47Masa Depan Energi Global

Sunday Sound Session: Nada Bicara tentang Rasa

11/07/2019/in Feature /by NewsUAD

 

Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Seni Musik Universitas Ahmad Dahlan (UAD) menyelenggarakan Sunday Sound Session (SSS) pada 30 Juni 2019, bertempat di Setren Opak, Bantul, Yogyakarta. SSS menampilkan Kopi Basi, Jejak Imaji, Sahsaka, Forum Komunikasi UKM Musik se-Yogyakarta (FKUKMMY), Sukma Ibu Jari, dan Satulana. SSS kali ini mengusung tema “Nada Bicara tentang Rasa” bergenre folk.

“Tema tersebut kami ambil karena segala sisi kehidupan manusia adalah seni. Cara berjalan, berbicara, menangis, tertawa, amarah, benci, keresahan, dan cinta. Lima tahun belakangan ini musik folk sedang meriah di kalangan penikmat musik, khususnya anak muda. Alunan musik yang sendu membuat pendengar menjadi tenang dan nyaman. Musik folk juga tidak jauh dari literasi dalam penulisan liriknya yang sarat dengan makna. Harapannya perasaan manusia itu tersampaikan lewat musik,” ujar ketua panitia Hardi Mardiansyah.

Banyak kendala yang dialami kepanitiaan dalam menyelenggarakan acara ini. Namun kendala itu langsung dikomunikasikan panitia ke Badan Pengurus Harian (BPH) dan senior UKM Seni Musik UAD untuk mencari solusi. Acara SSS yang merupakan program kerja tahunan UKM Seni Musik UAD ini sangat ditunggu oleh teman-teman musik di luar UAD. FKUKMMY juga selalu antusias dan mendukung setiap acara.

“Setiap tahun pasti memiliki kejutan tersendiri dan berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Diharapkan acara ini dapat menjadi ajang silaturahmi antara teman-teman musik, penikmat sastra, dan teater. Juga, sebagai edukasi kepada penonton tentang genre folk itu sendiri,” tutupnya. (JM)

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Sunday-Sound-Session-Nada-Bicara-tentang-Rasa.jpg 853 1280 NewsUAD https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png NewsUAD2019-07-11 12:39:512019-07-11 12:39:51Sunday Sound Session: Nada Bicara tentang Rasa

Bimtek Daring Pendidikan Profesi Guru di UAD

11/07/2019/in Feature /by NewsUAD

Rabu (3-7-2019), berlangsung Bimbingan Teknis (Bimtek) Pembelajaran Daring Pendidikan Profesi Guru (PPG) dalam jabatan angkatan V tahun 2019, yang diselenggarakan oleh Program Studi Pendidikan Profesi Guru (PPG) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Ahmad Dahlan (UAD). Acara yang bertempat di lantai satu Fakultas Kedokteran kampus IV UAD ini bertujuan untuk menambah bekal bagi guru yang sedang mengikuti PPG.

Dr. Sri Hartini M.Pd. selaku Kaprodi PPG dalam sambutannya memberikan semangat dan arahan untuk peserta. Ia mengajak tepuk PPG diiringi gerakan. Senyum, sapa, salam, semangat, sukses, dan surga! Begitu bunyi dari tepuk dan salam PPG. Selain untuk memberi semangat, tepuk ini juga memiliki esensi bahwa seorang guru harus ikhlas dan profesional dalam mengemban tugas maka insya Allah balasannya surga.

Sementara itu, materi Bimtek diberikan oleh Febrianto Amri Ristadi dari Teknik Mesin Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Kesukaan dalam bidang e-learning dan pembelajaran daring, membuat dirinya diundang oleh program studi PPG FKIP UAD untuk membimbing teknis peserta PPG. Selanjutnya, alur PPG dalam jabatan 2019 disampaikan secara rinci oleh Amri, yang diikuti oleh peserta dengan praktik di laptop masing-masing.

Uji kompetensi profesi merupakan syarat mengikuti PPG jika sudah dinyatakan lulus. Secara umum, peserta dari guru tingkat nasional yang terdiri atas 66 perguruan tinggi se-Indonesia, baik PTN dan PTS. Peserta seharusnya ada 168, tetapi yang hadir hanya 77 orang. Kali ini peserta dari jurusan Bimbingan dan Konseling, Pendidikan Guru PAUD, Pendidikan Guru SD, serta Pendidikan Bahasa Inggris.

Peserta tidak hanya dari Yogyakarta dan Jawa Tengah. Namun ada dari Sulawesi, Kalimantan, Lampung, Bangka, dan NTB. Para peserta yang jauh dari kampus bisa lihat live streaming yang disediakan oleh UAD.

Hartini menjelaskan, bimbingan sudah mulai dari tahun 2017 hingga 2019. Pada tahun ini ada lima gelombang dari Januari sampai akhir November. Bimtek daring kali ini merupakan gelombang lima pada tahun 2019.

Bimtek merupakan tahap awal supaya mahasiswa PPG bisa melakukan daring atau pembelajaran online. Setelah tiga bulan setengah melaksanakan daring, bulan keempat datang ke UAD untuk melakukan pelatihan dan PPL masing-masing selama tiga minggu.

“Saya berpesan untuk guru dalam jabatan, supaya serius karena tuntutan pembelajaran semakin sulit dan kemajuan teknologi berpacu terus dengan waktu. Sehingga, tetap harus meningkatkan kualitas diri. Bagi yang belum jadi guru atau prajabatan, harus lebih bersemangat. Bagi anak-anak muda harus menyiapkan bekal untuk jadi guru masa depan yang profesional,” pesan Hartini selaku Ketua program PPG. (Dew)

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/bimtekppg.jpg 354 715 NewsUAD https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png NewsUAD2019-07-11 12:25:182019-07-15 10:02:47Bimtek Daring Pendidikan Profesi Guru di UAD

Sastra Peranakan Tionghoa dalam Konstelasi Kesusastraan Indonesia

10/07/2019/in Feature /by NewsUAD

Forum Apresiasi Sastra (FAS) mengadakan bincang-bincang tentang sastra peranakan Tionghoa, 26 Juni 2019, bertempat di hall kampus IV Universitas Ahmad Dahlan (UAD) bersama Sunlie Thomas Alexander. Sunlie merupakan sastrawan Indonesia peranakan Tionghoa yang telah menulis berbagai buku, seperti cerpen Makam Seekor Kuda (2018), Istri Muda Dewa Dapur (2012), Malam Buta Yin (2009), dan kumpulan puisi Sisik Ular Tangga (2014).

Salah satu masalah yang sangat lama terpendam yaitu belum adanya pengakuan atas kepeloporan orang-orang Tionghoa dalam proses kebangsaan Indonesia melalui perkembangan kesusastraan Melayu-Tionghoa. Padahal, kesusastraan ini sudah ada sejak 1870. Kesusastraan Melayu-Tionghoa, yang ditulis dalam bahasa Melayu oleh dan untuk orang Tionghoa perantauan, berkembang di Hindia Belanda khususnya di Jawa dan dalam tingkatan lebih rendah di Malaysia dari akhir abad ke-19 sampai tahun 1945. Sejak itu kesusastraan tersebut perlahan mulai terlupakan.

Menurut Claudine Salmon dalam bukunya Sastra Indonesia Awal Kontribusi Orang Tionghoa, selama hampir 100 tahun (1870−1960) kesastraan Melayu-Tionghoa melibatkan 806 penulis yang menghasilkan 3.005 karya. Sebaliknya, berpatok pada catatan Prof. Dr. A. Teeuw, selama hampir 50 tahun (1918−1967), kesastraan modern Indonesia (tidak termasuk terjemahan) hanya ada 175 penulis dan sekitar 400 karya. Dihitung sampai 1979, sebanyak 284 penulis dan 770 karya.

Dalam kurun waktu 1920−1980-an, banyak penulis Tionghoa yang ikut serta menyumbangkan buah karyanya bagi perkembangan sastra di tanah air. Misalnya, Tjio Peng Hong, Im Yang Tjoe, Kwee Tek Hoay, Njoo Cheong Seng, Tan Sioe Tjhoan, Oen Bo Tik, Liem Khing Hoo, Gan San Hok, Soe Lie Piet, Pouw Kioe An, Tan Mo Goan, Wang Renshu, dan Siauw Giok Tjhan.

Jauh sebelum penerbitan roman berbahasa Indonesia karangan Marah Rusli berjudul Sitti Nurbaya (1922), 30 tahun sebelumnya, penulisan prosa telah muncul berupa roman Melayu Klasik   yang langsung ditulis dalam bahasa Melayu oleh para pengarang Tionghoa. Antara tahun 1880 dan 1930, ditemukan sekitar 280 judul roman yang diterjemahkan dari bahasa Tionghoa. Karya-karya terjemahan tersebut tidak hanya dibaca oleh masyarakat Tionghoa Peranakan, tetapi juga dibaca oleh penduduk Hindia Belanda yang kini bernama Indonesia. (JM)

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Sastra-Peranakan-Tionghoa-dalam-Konstelasi-Kesusastraan-Indonesia.jpg 712 1068 NewsUAD https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png NewsUAD2019-07-10 10:28:092019-07-10 10:28:09Sastra Peranakan Tionghoa dalam Konstelasi Kesusastraan Indonesia

Sentani: Bincang-Bincang Pembelajaran di Sekolah Merdeka

26/05/2019/in Feature /by NewsUAD

Sekolah Akar Rumput yang kerap kali disebut dengan sekolah merdeka, sudah berdiri sejak Juli 2017. Sekolah ini terletak di Dusun Pendes, Kelurahan Panggungharjo, Sewon, Bantul. Pembelajaran di sini tidak sama dengan pembelajaran sekolah formal pada umumnya. Peserta didik tidak berpakaian seragam, tidak ada kurikulum, dan tidak ada mata pelajaran. Prinsip sekolah ini adalah, semua kegiatan merupakan pembelajaran.

Menurut Mirja Sentani selaku fasilitator, pembelajaran di Sekolah Akar Rumput yaitu riset tentang kearifan lokal. Semester ini telah mengangkat kegiatan riset bedah desa. Awalnya dari bedah desa, mendatangkan orang-orang dari balai desa untuk membicarakan keunggulan-keunggulan di Desa Panggungharjo.

Pertemuan dilakukan dari Senin sampai Jumat. Mereka meneliti tentang apa pun yang mereka lihat, kemudian ditulis. Setelah itu, dipresentasikan oleh peserta didik saat akhir semester.

Pembelajaran hari Senin lebih ke tema budaya, semester ini mereka belajar karawitan. Selasa sampai Rabu ada persiapannya. Kamis, mereka belajar kreativitas, yaitu membuat batik cap dan teknik membatik. Kamis juga berkunjung ke rumah salah satu orang tua dari peserta didik. Di sana nanti ada pembelajaran dari orang tua tersebut. Jumat dilalui dengan olahraga bela diri, renang, dan kepanduan.

Secara lebih umum, sekolah ini dipersiapkan dari Januari sampai Mei. Bulan pertama, mereka mencari dan menentukan judul riset. Bulan kedua, mereka memantapkan dan membuat pertanyaan. Bulan ketiga, mereka wawancara. Bulan keempat, mereka mulai mengerjakan dan mengevaluasi hasil riset. Bulan kelima, mereka presentasi.

“Cara menjadi fasilitator bagi anak-anak di sini adalah harus bisa membaur dengan mereka, melebur, dan bisa memahami mereka. Tidak muluk-muluk. Harapan saya untuk anak-anak di sini, mereka dapat mengenali diri sendiri,” ujar Mirja, yang merupakan mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) Universitas Ahmad Dahlan (UAD).

“Visi dan misi dari Sekolah Akar Rumput ringkasnya adalah tentang kesehatan, pangan, dan budaya. Kemudian, semua itu dimasukkan dalam pengajaran. Kami ingin anak-anak menemukan dirinya. Para penggagas Sekolah Akar Rumput tertarik dari Sanggar Anak Alam (Salam). Selama ini, praktik pembelajaran dibagi dalam kelas besar dan kecil, yakni kelas satu sampai tiga dan empat sampai enam. Target kami membuat mereka memahami huruf dan angka. Selanjutnya, memanfaatkan keahlian huruf dan angka itu untuk mencapai keahlian lain,” jelas Rona Narendra, alumnus ISI Yogyakarta asal Jepara yang merupakan salah satu penggagas di Sekolah Akar Rumput.

Rona juga menyampaikan, “Kelas enam melakukan riset soal ujian dan mengikuti kejar paket. Rapotnya tidak dalam bentuk angka, namun narasi. Lulusan sekolah Akar Rumput Sangat bisa melanjutkan ke sekolah formal, bahkan sampai jenjang perkuliahan juga bisa. Sekolah ini berbasis Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM). Kebetulan kepala desa visioner, yang menerapkan pembangunan berbasis desa.” (Dew)

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Sentani-Bincang-Bincang-Pembelajaran-di-Sekolah-Merdeka.jpg 682 1024 NewsUAD https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png NewsUAD2019-05-26 14:25:162019-06-01 19:39:20Sentani: Bincang-Bincang Pembelajaran di Sekolah Merdeka

Mahasiswa UAD Menjadi Fasilitator di Akar Rumput

25/05/2019/in Feature /by NewsUAD

Mirja Sentani mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) semester enam, dikenal sebagai aktivis kampus. Ia mengikuti Lembaga Semi Otonom (LSO) Kreativitas Kita (Kreskit) yang bergerak di bidang jurnalistik, Teater Jaringan Anak Bahasa (JAB), serta Forum Kreativitas Mahasiswa Bangka Tengah (Forkrevmah) yang merupakan organisasi daerah ekstra kampus.

Saat ini, mahasiswa asal Bangka Tengah itu sedang bekerja sebagai fasilitator di Sekolah Akar Rumput yang terletak di Dusun Pendes, Kelurahan Panggungharjo, Sewon, Bantul. Mantan Pemimpin Umum Kreskit periode 2017/2018 tersebut mengaku mengajar di Sekolah Akar Rumput setelah mendapat tawaran dari temannya. Esensi pendidikan menurutnya ialah memanusiakan manusia, yang dinyatakan oleh Ki Hajar Dewantara.

“Sebelumnya saya tidak termovitasi sebagai fasilitator, namun tertarik dengan metode pembelajaran di sekolah merdeka. Saya tertarik sejak tahun 2018, saat Kreskit mengadakan bakti sosial di Sanggar Anak Alam (Salam). Kebetulan tahun 2019 teman saya menjadi fasilitator di Sekolah Akar Rumput. Sekolah ini juga mempunyai benang merah dengan Salam. Saat teman saya mengunggah kegiatan di sekolah merdeka, saya selalu mengikuti posting-annya. Kemudian, saya tertarik dengan sistem pembelajaran di sana. Suatu sistem pembelajaran yang berbeda dengan sekolah pada umumnya. Pembelajaran yang tidak menggunakan kurikulum dan tidak ada mata pelajaran, karena semua kegiatan termasuk pembelajaran,” jelas Mirja saat ditemui di Sekolah Akar Rumput pada Kamis (16-5-2019).

Ia menyampaikan, “Saya baru tiga bulan mengajar di Sekolah Akar Rumput. Saya merasa bodoh, karena ternyata banyak hal yang tidak saya dapatkan di ruang kuliah saat di kampus. Untungnya saya terbantu saat mengikuti LSO Kreskit tentang kepenulisan di organisasi. Khususnya dalam kepenulisan dan teater, keduanya sangat membantu saya. Kreativitas sangat dibutuhkan, bukan hanya teori a, b, dan z.”

“Ketika seseorang mendapatkan IPK empat, saya berani bertaruh bahwa orang tersebut belum tentu bisa menerapkan gaya belajar IPK-nya pada macam-macam kepala anak. Karena setiap anak memiliki karakter yang berbeda, memiliki keunikan masing-masing. Misalnya kita yang menjalani pendidikan dari SD, SMP, dan SMA, maka kita dijejali semua mata pelajaran. Sebenarnya semua mata pelajaran tersebut belum tentu kita pahami. Seharusnya, kita juga tidak harus paham semua dengan bidang tersebut, karena setiap anak memiliki keahlian di bidang masing-masing. Berbeda dengan sekolah merdeka. Setiap anak kami latih dan dampingi, sampai mereka menemukan hal yang mereka bisa. Sebagai fasilitator, kami hanya mendampingi bukan menuntut mereka harus bisa ini dan itu,” pungkasnya. (Dew)

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Mahasiswa-UAD-Menjadi-Fasilitator-di-Akar-Rumput.jpg 682 1024 NewsUAD https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png NewsUAD2019-05-25 17:11:372019-06-01 19:21:00Mahasiswa UAD Menjadi Fasilitator di Akar Rumput
Page 62 of 75«‹6061626364›»

TERKINI

  • IMM FAI UAD Sukses Gelar Darul Arqam Dasar 202609/07/2026
  • UAD Perkuat Literasi Kesehatan Ibu-Ibu Aisyiyah09/07/2026
  • Tim PESTAMI UAD Olah Limbah Pisang Jadi Inovasi Ekonomi Sirkular09/07/2026
  • FEB UAD Gelar 3rd International Economic Fair 202609/07/2026
  • Mahasiswa Ilkom UAD Sukses Gelar Dahlan Muda Fashion Week 309/07/2026

PRESTASI

  • Mahasiswa Kedokteran UAD Raih Juara II Lomba Literature Review Tingkat Nasional09/07/2026
  • Mahasiswa Sistem Informasi UAD Raih Dua Penghargaan Nasional Lewat Inovasi Bioenergi Daun Pepaya Jepang08/07/2026
  • Mahasiswa Ilmu Komunikasi UAD Juara 1 Lomba Fotografi di Ajang SILAT APIK PTMA 202606/07/2026
  • Mahasiswa UAD Juara I Poster Competition GALA BISMA VI 202602/07/2026
  • Mahasiswa Ilmu Komunikasi UAD Raih Juara III dalam University Clash 202625/06/2026

FEATURE

  • Irgiawan Aditya Rangga Alumnus UAD dengan Segudang Prestasi Akademik dan Nonakademik03/07/2026
  • Kisah Noval Arwansyah: Belajar, Bertumbuh, dan Berprestasi03/07/2026
  • Menggali Makna Hijrah Rasulullah: Benteng Keselamatan dan Kunci Masyarakat Madani27/06/2026
  • Hukum Puasa Asyura Tanpa Tasu’a: Kajian Ahad Pagi UAD Kupas Tuntas Fikih Muharram22/06/2026
  • Dari Jalur Beasiswa, Rentetan Medali, Hingga Predikat Wisudawan Berprestasi18/06/2026

TENTANG | KRU | KONTAK | REKAPITULASI

Scroll to top