Menggali Makna Hijrah Rasulullah: Benteng Keselamatan dan Kunci Masyarakat Madani

Kajian Rutin Ahad Pagi Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD) (Foto. Ito)
Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD) kembali menyelenggarakan Kajian Rutin Ahad Pagi pada Ahad, 21 Juni 2026, yang bertepatan dengan suasana awal tahun baru Hijriah. Menghadirkan Ustaz Drs. H. Masykur Azhari, M.A., dari Majelis Tabligh PDM Sleman sebagai pemateri, kajian kali ini membedah secara mendalam tentang “Makna Hijrah Rasulullah saw.”.
Dalam mukadimahnya, Ustaz Masykur mengajak jemaah untuk merefleksikan keutamaan bulan Muharram. Ia menekankan bahwa bulan ini bukanlah bulan sial atau wingit sebagaimana mitos yang beredar di masyarakat, melainkan bulan mulia di mana pahala ketaatan akan dilipatgandakan oleh Allah Swt. Menyikapi tradisi tapa bisu mengelilingi benteng di bulan Muharram, ia menegaskan bahwa keselamatan sejati tidak diraih melalui ritual tersebut, melainkan dengan membangun “benteng hidup” berupa penjagaan lisan (menjaga tutur kata), sedekah, silaturahmi, dan senantiasa berdoa kepada Allah.
Memasuki inti materi, pemateri mengisahkan betapa beratnya perjuangan Rasulullah saw. selama 10 tahun berdakwah di Makkah. Beliau menghadapi berbagai bentuk penyiksaan fisik, hinaan hingga diludahi, serta tawaran harta, takhta, dan wanita agar menghentikan dakwahnya. Namun, semua itu dihadapi Nabi dengan kesabaran, integritas, dan kelapangan hati yang luar biasa, bahkan beliau menjenguk orang yang biasa meludahinya ketika orang tersebut jatuh sakit. Kesabaran paripurna inilah yang menjadi bekal penting sebelum akhirnya turun perintah Allah untuk berhijrah ke Madinah guna menghindari kekejaman kaum Quraisy.
Lebih lanjut, Ustaz Masykur merumuskan bahwa hijrah Rasulullah saw. bukan sekadar perpindahan fisik, melainkan membawa tiga pesan moral utama yang relevan hingga saat ini. Pertama, hijrah adalah langkah mempertahankan akidah. Setiap umat Islam yang melangkah keluar dari rumah hendaknya meniatkan diri untuk menjaga ketakwaannya di tengah berbagai godaan dunia luar. Kedua, hijrah adalah perjalanan ibadah. Hal ini dibuktikan oleh Rasulullah yang selalu memprioritaskan pembangunan masjid, seperti Masjid Quba dan Masjid Nabawi, sebagai pusat penegakan salat berjemaah begitu tiba di tempat tujuan.
Ketiga, hijrah merupakan momentum membangun ukhuwah (persaudaraan). Di Madinah, Rasulullah sukses menyatukan berbagai elemen masyarakat yang majemuk, mulai dari kaum Muhajirin, Anshar, hingga suku-suku Yahudi, melalui prinsip persamaan derajat, tolong-menolong, toleransi, dan keadilan. Kumpulan nilai inilah yang kelak melahirkan tatanan masyarakat sipil yang ideal atau civil society (masyarakat madani).
Sebagai penutup, Ustaz Masykur berpesan agar umat Islam senantiasa menjadikan semangat hijrah sebagai inspirasi untuk berbuat kebaikan, menjaga ketaatan, dan menebar persaudaraan di mana pun berada. (Ito)
