Mahasiswa Sistem Informasi UAD Raih Dua Penghargaan Nasional Lewat Inovasi Bioenergi Daun Pepaya Jepang

Dio Lutvi Andre mahasiswa Universitas Ahmad Dahlan (UAD) (Foto. Dio)
Dio Lutvi Andre, mahasiswa Program Studi Sistem Informasi angkatan 2024 Universitas Ahmad Dahlan (UAD), kembali menorehkan prestasi gemilang. Ia berhasil memborong dua penghargaan sekaligus, yakni Juara 1 Presenter Terbaik dan Juara 2 Artikel Terbaik pada Subtema Teknologi dalam ajang Kompetisi Artikel Ilmiah #2 Tingkat Nasional Tahun 2026.
Kompetisi yang diselenggarakan oleh Biro Kemahasiswaan dan Alumni (Bimawa) UAD ini berlangsung sejak 9 April hingga 16 Mei 2026, dengan pengumuman pemenang pada 20 Mei 2026. Persaingan dalam ajang tersebut terbilang sangat ketat karena diikuti oleh 557 peserta yang berasal dari 43 perguruan tinggi di Indonesia, termasuk kampus-kampus ternama seperti UI, UGM, dan UPN “Veteran” Yogyakarta.
Dalam kompetisi ini, Dio mengangkat karya ilmiah berjudul “Daun Pepaya Jepang (Cnidoscolus aconitifolius): Energi Ramah Lingkungan, Terbarukan, Aman Wujudkan Indonesia Nol Emisi 2050″. Ide inovatif ini lahir dari keprihatinannya terhadap tingginya ketergantungan Indonesia pada bahan bakar fosil yang memicu krisis iklim, serta beratnya langkah menuju target Nol Emisi di tahun 2050.
Dio menjelaskan bahwa daun pepaya jepang, yang kerap hanya dianggap sebagai gulma, ternyata memiliki potensi luar biasa sebagai sumber bioenergi karena kandungan minyak nabatinya yang tinggi. Tanaman ini dapat tumbuh subur di lahan marginal tanpa merusak hutan lindung, dan tidak bersaing dengan bahan pangan pokok seperti sawit atau jagung.
Inovasi pengolahan daun pepaya jepang menjadi biodiesel atau biogas ini dinilai aman dan rendah emisi. Karya tersebut juga sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya poin ke-7 mengenai Energi Bersih dan Terjangkau, serta poin ke-13 tentang Penanganan Perubahan Iklim.
Mahasiswa yang juga aktif dalam komunitas Novo Club Paragon Corp dan berstatus sebagai Google Student Ambassador 2026 ini mengungkapkan bahwa persiapan lomba memakan waktu sekitar dua hingga empat minggu. Proses tersebut meliputi pencarian potensi lokal, riset permasalahan, penyusunan strategi, hingga tahap eksekusi penulisan. Menghadapi ratusan delegasi hebat justru memacu Dio untuk semakin mematangkan data dan argumen ilmiah pada artikelnya.
Ke depannya, Dio berharap gagasan ini tidak sekadar berakhir sebagai konsep di atas kertas kompetisi. Ia ingin membuktikan bahwa solusi energi hijau dapat lahir dari riset anak bangsa, serta berharap karyanya mampu menginspirasi kolaborasi nyata dalam bentuk pilot project energi terbarukan yang aplikatif di Indonesia. (ito)
