Mengintip Peluang dan Tantangan Psikologi Klinis di Era Digital

BEM Fakultas Psikologi Universitas Ahmad Dahlan (UAD) menggelar seminar Psychology Career Planning 2026 (Foto. BEM Psikologi UAD)
Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Psikologi (Fapsi) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) menggelar seminar Psychology Career Planning (PCP) 2026. Mengusung tema “Find Your Way: Clinical & Industrial Psychology Career Exploration”, acara ini berlangsung di Ruang Amphitarium, Gedung Utama Kampus 4 UAD, pada Sabtu, 4 Juli 2026. Kelulusan dari bangku perkuliahan sendiri sering kali menjadi sebuah persimpangan besar bagi mahasiswa, di mana rentetan pertanyaan tentang masa depan mulai membayangi.
Ketua Pelaksana PCP 2026, Aflahah Cahya Insani, mengungkapkan bahwa seminar ini dirancang khusus sebagai kompas penunjuk arah bagi mahasiswa untuk menentukan dan mengarahkan karier mereka sejak dini. Hal senada ditegaskan oleh Gubernur BEM Fapsi UAD, Irawan Setia Putra. Dalam sambutannya, ia mengibaratkan fase pencarian karier seperti sebuah persimpangan krusial.
“Di dalam kehidupan, kita berada di satu titik keberhasilan dan satu langkah kegagalan. Yang membedakan keduanya bukanlah keberuntungan, melainkan keberanian dari diri kita untuk menentukan arah dari tujuan itu. Setiap keputusan yang kita ambil nantinya sangat berpengaruh pada masa depan, dan langkah itu harus kita mulai dari sekarang,” ujar Irawan.
Irawan menambahkan bahwa mahasiswa masa kini tidak hanya dituntut untuk sekadar lulus dengan predikat akademis, tetapi juga harus matang dalam mempersiapkan diri di dunia profesional. Mengutip pemikiran Peter Drucker, ia mengingatkan bahwa cara terbaik untuk memprediksi masa depan adalah dengan mengkreasikan dan membentuknya sejak hari ini.
Tantangan di dunia kerja nyata juga diamini oleh Ketua Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) Fapsi UAD, Silvana Zahwa Rahmadani. Ia membagikan cerita inspiratif tentang bagaimana perusahaan-perusahaan modern saat ini sering kali melontarkan pertanyaan mendasar kepada para kandidat, “Apakah mereka benar-benar mengenali dan memahami diri mereka sendiri?” Pemahaman diri inilah yang menjadi fondasi utama dalam perencanaan karier.
Mendobrak Stigma dan Membaca Realitas Psikologi Klinis
Sesi eksplorasi karier menghadirkan narasumber yang kompeten di bidangnya, salah satunya adalah Mahira Syafana Kuswanto, S.Psi., Psikolog, CHt. Lulusan Universitas Indonesia (UI) yang kini aktif sebagai psikolog klinis dewasa sekaligus Co-Founder dari platform kesehatan mental mentalhealing.id ini membedah tuntas seluk-beluk profesi psikolog klinis. Mahira menekankan bahwa berdasarkan data dari Pomerantz (2023) dan Kementerian Kesehatan RI (2024), wilayah kerja psikologi klinis kini telah bertransformasi dan tidak lagi terbatas di dalam ruang konseling konvensional. Profesi ini mencakup spektrum yang luas, mulai dari asesmen psikologis, konseling dan psikoterapi, psikoedukasi, intervensi krisis, promosi kesehatan mental, riset dan pengembangan layanan, hingga kolaborasi lintas profesi. Bahkan, sektor korporasi dan perusahaan saat ini banyak yang merekrut psikolog klinis untuk menjaga kesejahteraan mental karyawan mereka.
“Saat ini, kasus klinis yang paling sering muncul didominasi oleh kelompok usia remaja hingga dewasa awal, yaitu 15-24 tahun. Perlu ditanamkan bahwa datang ke psikolog bukanlah tanda seseorang itu lemah, melainkan sebuah tanda bahwa kita adalah manusia yang sadar akan kesehatan diri,” jelas Mahira.
Meski kesadaran publik terhadap kesehatan mental meningkat seiring menjamurnya konten psikologi di media sosial, Mahira mengingatkan adanya tantangan. Banyaknya informasi yang tidak akurat di media sosial memicu fenomena self-diagnose, yakni mendiagnosis diri sendiri di kalangan awam.
“Kita tidak boleh melakukan self-diagnose hanya berdasarkan konten-konten media sosial, atau dengan mudahnya melabeli orang lain dengan istilah klinis seperti Narcissistic Personality Disorder (NPD) tanpa dasar medis,” tegasnya.
Selain itu, ia menyayangkan masih kuatnya stigma negatif di sebagian masyarakat yang mengaitkan gangguan mental dengan kurangnya ibadah, kegilaan, atau kurang waras. Di sinilah peran penting psikolog klinis untuk terus memberikan edukasi klinis yang tepat kepada publik, baik secara luring maupun daring.
Untuk menjawab tantangan industri tersebut, Mahira menekankan pentingnya menguasai empat pilar skill utama, meliputi skill akademik untuk memahami psikopatologi, skill klinis seperti empati dan mendengarkan aktif, skill profesional terkait kepatuhan kode etik, serta skill personal berupa regulasi emosi dan self-care. Selain itu, ia mengingatkan mahasiswa untuk membangun personal branding yang positif melalui kejujuran kompetensi dan komunikasi empatik, serta menghindari perilaku negatif seperti memberikan diagnosis tanpa asesmen atau memanipulasi klaim terapi di ruang publik. Selain keahlian tersebut, Mahira menekankan pentingnya personal branding yang positif untuk membangun reputasi profesional, bukan sekadar aktif membuat konten. Personal branding yang baik dibentuk melalui kejujuran kompetensi, komunikasi empatik, konsistensi belajar, dan kepatuhan pada kode etik. Sebaliknya, ia memperingatkan untuk menghindari branding negatif seperti melakukan diagnosis tanpa asesmen, memberikan ujaran kebencian di ruang publik, serta memanipulasi data atau klaim terapi.
Eksplorasi Dunia PIO bersama Praktisi HR
Selain membedah ranah klinis, seminar Psychology Career Planning (PCP) 2026 juga menghadirkan sesi eksplorasi mendalam di bidang Psikologi Industri dan Organisasi (PIO) bersama Yova Renaldi, S.Psi., seorang Human Resources (HR) Practitioner di Fast Moving Consumer Goods (FMCG) Beauty Company. Dalam pemaparannya, Yova membuka sesi dengan menggunakan prinsip andragogi dan analogi buah apel, Yova menjelaskan bahwa praktisi HR pada dasarnya adalah “man behind the organization” yang bertindak sebagai mitra strategis perusahaan. Industri saat ini telah bergeser dari era HR “palugada” menjadi peran spesialis yang dinamis dan menyentuh langsung seluruh siklus hidup karyawan.
“Sebagai praktisi HR di era modern, kita tidak lagi terbatas pada proses rekrutmen semata, melainkan harus hadir dan menyentuh langsung aspek kehidupan karyawan secara menyeluruh, mulai dari proses onboarding hingga offboarding,” ujar Yova.
Materi kemudian mengupas peran penting Organizational Development (OD) sebagai arsitek perusahaan dalam merancang perubahan proses bisnis demi efisiensi organisasi. Di tengah perubahan industri yang cepat, Yova mengingatkan mahasiswa agar tidak hanya terpaku pada materi perkuliahan formal, melainkan juga berani mempelajari proses bisnis secara umum serta terus meningkatkan kapabilitas diri, baik dari segi hard skill regulasi ketenagakerjaan maupun soft skill seperti problem solving yang dilandasi empati.
“Sebagai praktisi HR di era modern, kita tidak lagi terbatas pada proses rekrutmen semata, melainkan harus hadir dan menyentuh langsung aspek kehidupan karyawan secara menyeluruh, mulai dari proses onboarding hingga offboarding,” ujar Yova.
Materi yang disampaikan mengupas peran penting Organizational Development (OD) yang diibaratkan sebagai arsitek perusahaan dalam merancang perubahan proses bisnis ketika sebuah organisasi ingin bergerak maju. Yova memberikan contoh nyata di mana sebuah divisi sales yang awalnya tunggal, dapat dipecah oleh OD menjadi tim offline dan online demi efisiensi dan target perusahaan. Di tengah perubahan industri yang serba cepat ini, ia mengingatkan mahasiswa agar tidak hanya mengandalkan materi perkuliahan formal saja, melainkan juga harus berani mempelajari bidang lain seperti lini sales dan proses bisnis secara umum.
Yova menekankan bahwa dunia kerja modern sebenarnya tidak mencari kandidat yang sempurna, melainkan individu yang memiliki kemauan kuat untuk terus berkembang. Oleh karena itu, mahasiswa psikologi perlu terus meningkatkan kapabilitas diri, baik dari segi hard skill seperti pemahaman regulasi ketenagakerjaan, maupun soft skill seperti kemampuan berkomunikasi, berpikir analitis, serta keahlian problem solving yang dilandasi oleh empati yang baik terhadap karyawan.
“Dunia kerja modern sebenarnya tidak mencari kandidat yang sempurna, melainkan individu yang memiliki kemauan kuat untuk terus berkembang,” pungkasnya.
Melalui seminar PCP 2026 ini, mahasiswa Fakultas Psikologi UAD diharapkan mampu mengenali potensi diri dan melangkah dengan bekal kompetensi yang matang untuk merancang masa depan di dunia psikologi. (Anove)
