Langkah Annisa Harapuspa

0
106

Sejak pertama menjadi mahasiswa Universitas Ahmad Dahlan (UAD), keinginan Annisa Harapuspa belajar ke luar negeri benar-benar kuat. Memilih Program Studi Manajemen dan selama kuliah berpartisipasi aktif menjadi pengurus Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Manajemen serta anggota Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Tari, akhirnya tahun 2016 ia diberangkatkan ke Guangxi University for Nationalities Tiongkok melalui program double degree.

Sebelum mencapai prestasi tersebut, di sela-sela sibuknya kuliah, organisasi, dan mengasah hobi menari, perempuan kelahiran Sulawesi Selatan ini rajin berdiskusi dengan dosen pembimbing akademik mengenai matakuliah yang perlu ia ambil. Annisa menyadari hal ini harus dilakukan demi keinginannya belajar ke luar negeri. Ia harus dua kali lebih rajin daripada mahasiswa lain. Apabila teman-temannya tiap semester hanya mengambil 8−10 matakuliah, maka ia berani mengambil 14 mata kuliah.

Awalnya, ia ingin belajar ke negara yang lebih dekat, seperti Malaysia dan Singapura, karena masih terjangkau menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa utama. Kemudian, ia malah mendapat tawaran ke Tiongkok. Tawaran tersebut awalnya ditolak, tetapi akhirnya perempuan ini memberanikan diri mencoba mengubah rencana. Konsekuensinya, selama satu tahun penuh ia les bahasa Mandarin.

“Selain usaha, tentu doa ya, dan yang tidak kalah penting restu dari orang tua. Percuma kita sudah bekerja keras agar dapat belajar di negara impian tapi orang tua tidak merestui,” ungkap Annisa.

Selama setengah tahun berada di Tiongkok, ia merasa begitu terisolasi dari dunia luar. Terbatasnya akses jaringan membuat sulit berkomunikasi dengan keluarga dan teman. Saat itu, ia tidak mengetahui jika ada VPN untuk mengakses website yang diblokir. Solusinya membeli atau menggunakan VPN gratis.

Segala kesulitan berlalu beriringan dengan jalannya waktu. Sampai pada tahun 2017, ketika Annisa menjadi anggota Perhimpunan Pelajar Indonesia-Tiongkok (PPIT) cabang Naning. Ia diminta menjadi pengisi acara pada Malam Kebudayaan Indonesia. Tentu saja tawaran ini segera diiyakan. Bulan-bulan sebelumnya, perempuan tersebut hanya diminta menjadi panitia dan melatih menari saja. Namun mendekati hari pelaksanaan karena kekurangan orang, ia diminta ikut terjun menari bersama tim tari pengisi acara.

Tahun 2018, perempuan hobi traveling ini menjadi ketua PPIT sekaligus didapuk sebagai pelaksana acara Malam Kebudayaan Indonesia 2018 dengan tema “Portray od Sundanese”. Acara tersebut merupakan bagian yang paling berkesan bagi Annisa. Selama berbulan-bulan, ia menyusun konsep acara kemudian sampai pada tengah-tengah perjalanan, diterjang badai dari teman-teman dan dosennya yang kurang setuju dengan konsep yang sudah disiapkan. Namun, Annisa tegas mengambil keputusan segera. Kabar baiknya, saat hari pelaksanaan, semua berjalan dengan lancar dan lebih dari yang dibayangkan.

Berdasarkan pengalamannya di Tiongkok, ia mengungkapkan bahwa ilmu yang didapat akan diimplementasikan di Indonesia. Salah satunya adalah disiplin. Disiplin mengenai berbagai hal, terutama disiplin waktu. Ia berusaha selalu tepat waktu melakukan apa pun.

Tidak mengherankan jika sosok Annisa menjadi pribadi seperti sekarang ini. Keinginannya yang selalu ditekuni hingga tercapai, tidak lepas dari usaha serta dukungan orang-orang di sekelilingnya. Sejak SD sampai SMP, perempuan tersebut selalu meraih prestasi yakni mendapat juara 1 di kelas. Tradisi prestasi inilah yang memotivasinya untuk selalu berubah menjadi manusia yang lebih baik dan berguna bagi sesamanya.