• TERKINI
  • UAD BERDAMPAK
  • PRESTASI
  • FEATURE
  • OPINI
  • MEDIA
  • KIRIM BERITA
  • Menu
News Portal of Universitas Ahmad Dahlan

Maklumat PP Jelang Idul Fitri 1432H: “Memaknai Puasa, Idul Fitri, dan Hikmah Perbedaan”

28/08/2011/0 Comments/in Terkini /by Super News

Pimpinan Pusat Muhammadiyah mengucapkan selamat hari raya Idul Fitri 1432 H dengan harapan semoga segenap kaum muslimin dapat mengambil makna ibadah puasa dan ibadah-ibadah lainnya untuk pencerahan ruhani, serta seluruh ibadah tersebut dapat diterima di sisi Allah SWT.

Berkenaan dengan ‘Idul Fitri 1 Syawwal 1432 H yang jatuh pada Hari Selasa, 30 Agustus 2011, Pimpinan Pusat Muhammadiyah menyampaikan maklumat sebagai berikut :

A. MEMAKNAI PUASA DAN ‘IDUL FITRI

1. Esensi ibadah puasa, ialah pengendalian diri. Jika setiap muslim yang berpuasa berhasil menyerap nilai yang utama ini, maka kaum muslimin yang merupakan mayoritas dari bangsa ini dapat berperan sebagai benteng ruhani yang amat kokoh dalam menghadapi berbagai macam kemungkaran, kemaksiatan dan penyelewengan. Benteng ruhani tersebut sangat diperlukan karena di tubuh bangsa ini masih terdapat berbagai bentuk kemungkaran, seperti korupsi, perjudian, penyalahgunaan obat-obat terlarang, eksploitasi sumber daya alam, pencurian kekayaan negara, pornografi dan pornoaksi, penyelewengan hak publik, dan sebagainya.

2. Sesuai hikmah ‘Idul Fitri, seluruh kaum muslimin hendaknya dapat menjadikan ‘Idul Fitri tahun ini sebagai momentum untuk lebih mempererat tali silaturrahim dan persaudaraan serta mengembangkan rasa kasih sayang, sehingga dapat meningkatkan sikap solidaritas sosial dan saling mengasihi. Dalam situasi kehidupan sosial bangsa ini yang masih dililit oleh berbagai kesulitan dan penderitaan, seperti merebaknya berbagai macam penyakit fisik maupun sosial, meningkatnya jumlah penduduk miskin dan sebagainya menuntut kaum muslimin untuk memiliki kepekaan sosial yang tinggi yang tercermin dalam berbagai tindakan dan amal nyata untuk meringankan penderitaan mereka.

3. Kepada para elite di tubuh bangsa ini yang diberi nikmat Allah berupa kekuasaan, rizki, dan peluang yang besar dihimbau untuk memiliki kesadaran rohani yang tinggi dalam merasakan penderitaan rakyat dan tidak menunjukkan sikap hidup yang terkesan ajimumpung yang meruntuhkan martabat dan kepercayaan publik. Gunakanlah amanat untuk sebesar-sebesarnya memenuhi hajat hidup dan kepentingan rakyat.

4. Kepada seluruh anggota masyarakat dihimbau untuk lebih mengedepankan hati nurani dalam menyikapi dan menyelesaikan masalah serta menjauhkan diri dari praktik-praktik kekerasan, konflik, dan tindakan-tindakan anarkis yang bertentangan dengan nilai-nilai agama dan merugikan kehidupan bersama.

5. Kepada para tokoh agama khususnya di lingkungan umat Islam kami mengajak untuk memanfaatkan momentum Ramadhan dan ‘Idul Fitri sebagai wahana membimbing umat ke arah kemajuan, perdamaian, dan ukhuwah serta menunjukkan pemihakan terhadap penderitaan rakyat. Mari kita manfaatkan momentum yang baik ini untuk melakukan introspeksi (muhasabah) tentang amal shalih yang telah dikhidmatkan bagi sebesar-besarnya kemaslahatan umat dan bangsa seraya mengambil prakarsa-prakarsa yang positif untuk penyelamatan bangsa dan dunia kemanusiaan sehingga kehidupan ini berada dalam ridha dan karunia Allah SWT.

B. KEMUNGKINAN PERBEDAAN ‘IDUL FITRI

Berkaitan dengan kemungkinan perbedaan pelaksanaan ‘Idul Fitri, kami menyampaikan hal-hal sebagai berikut:

1. Mengajak dan mengimbau semua pihak untuk saling menghormati dan mengembangkan tasamuh (toleransi) karena perbedaan tersebut didasarkan pada keyakinan agama serta memperolah jaminan konstitusi. Kami yakin bahwa umat Islam memiliki kearifan, kedewasaan, dan sudah terbiasa dalam menghadapi perbedaan tersebut. Perbedaan pelaksanaan ‘Idul Fitri maupun ‘Idul Adha selama ini sering terjadi dan tidak merusak ukhuwah serta berlangsung wajar adanya. Mari kembangkan sikap lapang hati dan gembira dalam menyiarkan gema ‘Idul Fitri tanpa ada halangan, rintangan, dan saling menyalahkan.

2. Kepada pemerintah baik di tingkat Pusat maupun Daerah dengan seluruh lembaga dan aparaturnya diminta untuk bersikap adil dan memberikan keleluasaan pada umat Islam yang berbeda menjalankan ‘Idul Fitri, serta menghindarkan diri dari praktik-praktik pelarangan atau mempersulit karena menjalankan shalat ‘Idul Fitri tersebut merupakan perwujudan dari keyakinan beragama dan beribadah yang semestinya dihormati karena dijamin oleh konstitusi Negara Republik Indonesia. Alangkah bijak apabila pemerintah mengayomi dan memfasilitasi siapapun dari warga negara yang menjalankan ibadah sesuai dengan keyakinan agamanya, serta tidak mencampuri dan mempersulit pelaksanaannya.

3. Muhammadiyah berpandangan bahwa perbedaan pelaksanaan hari raya selama ini tidaklah merusak ukhuwah (persatuan) di tubuh umat Islam maupun sesamakomponen bangsa. Muhammadiyah yang telah berkiprah 100 tahun selalu berkomitmen dalam mengembangkan ukhuwah dan membangun kebaikan untuk bangsa tanpa pamrih. Perbedaan tidak berarti rusaknya ukhuwah, lebih-lebih jika disertai dengan sikap saling menghormati dan toleransi. Adapun ukhuwah itu sendiri dapat dikembangkan secara luas ke aspek-aspek mu’amalah duniawiyah serta untuk membangun tatanan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara ke arah yang lebih tercerahkan sebagaimana pesan luhur puasa dan ‘Idul Fitri. Ukhuwah sesama umat Islam tidak dapat dipaksakan dalam satu pandangan tertentu karena pada kenyataannya umat Islam selama ini tersebar ke dalam berbagai paham dan golongan tanpa saling menegasikan. Muhammadiyah menilai ukhuwah baik sesama umat Islam maupun komponen bangsa selama ini telah terjalin dengan cukup baik. Kepada para tokoh umat dan pejabat publik dihimbau kearifannya untuk bersama-sama mengembangkan suasana positif dan memberikan uswah hasanah yang sebaik-baiknya.

4. Mari segenap umat Islam lebih mengkonsentrasikan diri pada niat dan ikhtiar untuk menyongsong ‘Idul Fitri dengan keikhlasan, lapang hati, toleran, dan mengambil hikmah dari ibadah puasa dan ibadah-ibadah lainnya di bulan Ramadlan untuk meretas hidup baru yang lebih baik dan penuh pengharapan positif. Terlalu banyak agenda-agenda dan masalah-masalah besar yang dihadapi umat dan bangsa, yang memerlukan penghadapan dan langkah semua pihak secara serius, termasuk dari umat Islam yang telah menjalankan puasa dan ber’idul fitri. Jadikan ‘Idul Fitri sebagai momentum untuk menampilkan perilaku-perilaku yang autentik (fitri, aseli, murni), sehingga mampu memberi warna bagi pembentukan karakter yang mulia dan penuh martabat di tubuh bangsa tercinta ini.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah mengucapkan selamat hari raya Idul Fitri 1432 H dengan harapan semoga segenap kaum muslimin dapat mengambil makna ibadah puasa dan ibadah-ibadah lainnya untuk pencerahan ruhani, serta seluruh ibadah tersebut dapat diterima di sisi Allah SWT.

Berkenaan dengan ‘Idul Fitri 1 Syawwal 1432 H yang jatuh pada Hari Selasa, 30 Agustus 2011, Pimpinan Pusat Muhammadiyah menyampaikan maklumat sebagai berikut :

A. MEMAKNAI PUASA DAN ‘IDUL FITRI

1. Esensi ibadah puasa, ialah pengendalian diri. Jika setiap muslim yang berpuasa berhasil menyerap nilai yang utama ini, maka kaum muslimin yang merupakan mayoritas dari bangsa ini dapat berperan sebagai benteng ruhani yang amat kokoh dalam menghadapi berbagai macam kemungkaran, kemaksiatan dan penyelewengan. Benteng ruhani tersebut sangat diperlukan karena di tubuh bangsa ini masih terdapat berbagai bentuk kemungkaran, seperti korupsi, perjudian, penyalahgunaan obat-obat terlarang, eksploitasi sumber daya alam, pencurian kekayaan negara, pornografi dan pornoaksi, penyelewengan hak publik, dan sebagainya.

2. Sesuai hikmah ‘Idul Fitri, seluruh kaum muslimin hendaknya dapat menjadikan ‘Idul Fitri tahun ini sebagai momentum untuk lebih mempererat tali silaturrahim dan persaudaraan serta mengembangkan rasa kasih sayang, sehingga dapat meningkatkan sikap solidaritas sosial dan saling mengasihi. Dalam situasi kehidupan sosial bangsa ini yang masih dililit oleh berbagai kesulitan dan penderitaan, seperti merebaknya berbagai macam penyakit fisik maupun sosial, meningkatnya jumlah penduduk miskin dan sebagainya menuntut kaum muslimin untuk memiliki kepekaan sosial yang tinggi yang tercermin dalam berbagai tindakan dan amal nyata untuk meringankan penderitaan mereka.

3. Kepada para elite di tubuh bangsa ini yang diberi nikmat Allah berupa kekuasaan, rizki, dan peluang yang besar dihimbau untuk memiliki kesadaran rohani yang tinggi dalam merasakan penderitaan rakyat dan tidak menunjukkan sikap hidup yang terkesan ajimumpung yang meruntuhkan martabat dan kepercayaan publik. Gunakanlah amanat untuk sebesar-sebesarnya memenuhi hajat hidup dan kepentingan rakyat.

4. Kepada seluruh anggota masyarakat dihimbau untuk lebih mengedepankan hati nurani dalam menyikapi dan menyelesaikan masalah serta menjauhkan diri dari praktik-praktik kekerasan, konflik, dan tindakan-tindakan anarkis yang bertentangan dengan nilai-nilai agama dan merugikan kehidupan bersama.

5. Kepada para tokoh agama khususnya di lingkungan umat Islam kami mengajak untuk memanfaatkan momentum Ramadhan dan ‘Idul Fitri sebagai wahana membimbing umat ke arah kemajuan, perdamaian, dan ukhuwah serta menunjukkan pemihakan terhadap penderitaan rakyat. Mari kita manfaatkan momentum yang baik ini untuk melakukan introspeksi (muhasabah) tentang amal shalih yang telah dikhidmatkan bagi sebesar-besarnya kemaslahatan umat dan bangsa seraya mengambil prakarsa-prakarsa yang positif untuk penyelamatan bangsa dan dunia kemanusiaan sehingga kehidupan ini berada dalam ridha dan karunia Allah SWT.

B. KEMUNGKINAN PERBEDAAN ‘IDUL FITRI

Berkaitan dengan kemungkinan perbedaan pelaksanaan ‘Idul Fitri, kami menyampaikan hal-hal sebagai berikut:

1. Mengajak dan mengimbau semua pihak untuk saling menghormati dan mengembangkan tasamuh (toleransi) karena perbedaan tersebut didasarkan pada keyakinan agama serta memperolah jaminan konstitusi. Kami yakin bahwa umat Islam memiliki kearifan, kedewasaan, dan sudah terbiasa dalam menghadapi perbedaan tersebut. Perbedaan pelaksanaan ‘Idul Fitri maupun ‘Idul Adha selama ini sering terjadi dan tidak merusak ukhuwah serta berlangsung wajar adanya. Mari kembangkan sikap lapang hati dan gembira dalam menyiarkan gema ‘Idul Fitri tanpa ada halangan, rintangan, dan saling menyalahkan.

2. Kepada pemerintah baik di tingkat Pusat maupun Daerah dengan seluruh lembaga dan aparaturnya diminta untuk bersikap adil dan memberikan keleluasaan pada umat Islam yang berbeda menjalankan ‘Idul Fitri, serta menghindarkan diri dari praktik-praktik pelarangan atau mempersulit karena menjalankan shalat ‘Idul Fitri tersebut merupakan perwujudan dari keyakinan beragama dan beribadah yang semestinya dihormati karena dijamin oleh konstitusi Negara Republik Indonesia. Alangkah bijak apabila pemerintah mengayomi dan memfasilitasi siapapun dari warga negara yang menjalankan ibadah sesuai dengan keyakinan agamanya, serta tidak mencampuri dan mempersulit pelaksanaannya.

3. Muhammadiyah berpandangan bahwa perbedaan pelaksanaan hari raya selama ini tidaklah merusak ukhuwah (persatuan) di tubuh umat Islam maupun sesamakomponen bangsa. Muhammadiyah yang telah berkiprah 100 tahun selalu berkomitmen dalam mengembangkan ukhuwah dan membangun kebaikan untuk bangsa tanpa pamrih. Perbedaan tidak berarti rusaknya ukhuwah, lebih-lebih jika disertai dengan sikap saling menghormati dan toleransi. Adapun ukhuwah itu sendiri dapat dikembangkan secara luas ke aspek-aspek mu’amalah duniawiyah serta untuk membangun tatanan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara ke arah yang lebih tercerahkan sebagaimana pesan luhur puasa dan ‘Idul Fitri. Ukhuwah sesama umat Islam tidak dapat dipaksakan dalam satu pandangan tertentu karena pada kenyataannya umat Islam selama ini tersebar ke dalam berbagai paham dan golongan tanpa saling menegasikan. Muhammadiyah menilai ukhuwah baik sesama umat Islam maupun komponen bangsa selama ini telah terjalin dengan cukup baik. Kepada para tokoh umat dan pejabat publik dihimbau kearifannya untuk bersama-sama mengembangkan suasana positif dan memberikan uswah hasanah yang sebaik-baiknya.

4. Mari segenap umat Islam lebih mengkonsentrasikan diri pada niat dan ikhtiar untuk menyongsong ‘Idul Fitri dengan keikhlasan, lapang hati, toleran, dan mengambil hikmah dari ibadah puasa dan ibadah-ibadah lainnya di bulan Ramadlan untuk meretas hidup baru yang lebih baik dan penuh pengharapan positif. Terlalu banyak agenda-agenda dan masalah-masalah besar yang dihadapi umat dan bangsa, yang memerlukan penghadapan dan langkah semua pihak secara serius, termasuk dari umat Islam yang telah menjalankan puasa dan ber’idul fitri. Jadikan ‘Idul Fitri sebagai momentum untuk menampilkan perilaku-perilaku yang autentik (fitri, aseli, murni), sehingga mampu memberi warna bagi pembentukan karakter yang mulia dan penuh martabat di tubuh bangsa tercinta ini.

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png 0 0 Super News https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Super News2011-08-28 22:08:072011-08-28 22:08:07Maklumat PP Jelang Idul Fitri 1432H: “Memaknai Puasa, Idul Fitri, dan Hikmah Perbedaan”
0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply Cancel reply

You must be logged in to post a comment.

TERKINI

  • Usung Program NAWASENA, Tim PPK Ormawa RDC UAD Siap Terapkan Sistem Pertanian Cerdas24/06/2026
  • Tim PkM UAD Tingkatkan Literasi Digital Guru melalui Generative AI24/06/2026
  • HMPS PBSI UAD Gelar Aksi Bakti Sosial di Panti Asuhan Giwangan24/06/2026
  • HMPS Perbankan Syariah UAD Gelar Seminar Nasional Pengembangan Diri24/06/2026
  • BEM Fakultas Psikologi UAD Gelar Diskusi dan Kajian NONGKI24/06/2026

PRESTASI

  • Mahasiswa UAD Raih Penghargaan Favorit pada Kompetisi Fotografi Internasional di Malaysia23/06/2026
  • Mahasiswa Gizi UAD Raih Dua Gelar Juara dalam Kompetisi Artikel Ilmiah Nasional 202622/06/2026
  • Tim CIVIC’S UNITED UAD Raih Juara Harapan I pada Semarak Keilmuan 2026 Lewat Inovasi Pengelolaan Sampah Sungai22/06/2026
  • Mahasiswa Kedokteran UAD Raih Medali Perunggu ONMIPA-PT 202618/06/2026
  • Mahasiswa UAD Juara III Solo Vocal Pop pada Euphoria Art Competition 2026 Tingkat Nasional15/06/2026

FEATURE

  • Hukum Puasa Asyura Tanpa Tasu’a: Kajian Ahad Pagi UAD Kupas Tuntas Fikih Muharram22/06/2026
  • Dari Jalur Beasiswa, Rentetan Medali, Hingga Predikat Wisudawan Berprestasi18/06/2026
  • Menghindari Penyesalan Abadi11/06/2026
  • Menggali Makna Kesetiaan dan Pengorbanan01/06/2026
  • Sabil Isan Permana: Kalah Harus Bangkit Lagi30/05/2026

TENTANG | KRU | KONTAK | REKAPITULASI

Scroll to top