Menghindari Penyesalan Abadi

Kajian Ahad Pagi Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD) dengan pemateri Ustaz Sholahuddin Zuhri, M.Pd. (Foto. Ito)
Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD) kembali menggelar Kajian Rutin Ahad Pagi pada Ahad, 7 Juni 2026. Mengusung tema “Penyesalan”, kajian kali ini menghadirkan Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Pemuda Muhammadiyah (PWPM) DIY, Ustaz Sholahuddin Zuhri, M.Pd., sebagai narasumber utama.
Di hadapan para jemaah, ia mengupas tuntas hakikat penyesalan manusia, baik di dunia maupun di akhirat kelak, serta bagaimana orang beriman seharusnya menyikapi realitas kehidupan sesaat ini.
Dalam mukadimahnya, Ustaz Sholahuddin mengingatkan bahwa kehidupan dunia sejatinya adalah sebuah “paradigma ilusi kenyataan kehidupan”. Dunia ibarat sebuah permainan yang melenakan, di mana segala kemewahan, harta, dan jabatan yang dikumpulkan manusia pada akhirnya akan ditinggalkan begitu saja.
Ia menegaskan bahwa satu-satunya hal yang benar-benar kekal menjadi milik manusia dan dibawa menghadap Allah kelak hanyalah amal saleh dan dosa-dosanya. Mengutip ulama Ibnu Athaillah As-Sakandari, ia menyoroti fenomena manusia modern yang kerap menunda amal kebaikan dengan alasan menunggu waktu luang, yang mana kebiasaan menunda ketaatan tersebut dinilai sebagai ciri kebodohan jiwa yang berujung pada penyesalan ketika jatah usia telah habis.
Lebih lanjut, pemateri membedah tiga gambaran penyesalan terbesar manusia kelak di akhirat sebagaimana terekam dalam Al-Qur’an. Penyesalan pertama datang dari mereka yang abai dan enggan mengikuti petunjuk Allah serta ajaran Nabi Muhammad saw. Penyesalan kedua dialami oleh orang-orang yang salah dalam memilih teman karib atau lingkungan pergaulan yang justru menjauhkan mereka dari agama.
Terkait hal ini, ia mewanti-wanti jemaah agar cermat menjaga keluarga dari pergaulan toxic dan penyimpangan moral, seperti fenomena LGBT yang makin mengkhawatirkan di lingkungan anak muda. Adapun penyesalan ketiga dirasakan oleh umat yang bertaklid buta atau sekadar mematuhi tokoh dan pimpinannya tanpa menggunakan akal sehat, sehingga ikut tersesat dari jalan kebenaran.
Sebagai penutup, Ustaz Sholahuddin membagikan kiat agar hidup manusia tidak berujung pada penyesalan yang tiada guna. Ia mengibaratkan ilmu dan keimanan layaknya nyala api yang harus terus dijaga keberlangsungannya. Nyala api tersebut tidak akan membesar jika tidak diberi asupan kayu bakar, yang bermakna bahwa ilmu agama dan ketaatan tidak akan berdampak luas tanpa diwujudkan melalui amal perbuatan yang nyata. Ia berpesan kepada seluruh jemaah untuk bersemangat mengejar rida Allah dan memaksimalkan sisa jatah usia untuk beramal saleh, tanpa perlu merisaukan cibiran atau penilaian manusia semata. (Ito)

