Mengolah Limbah Sekam Padi dengan Alat Cetak Briket Bioarang

0
376

 

Pada proses penggilingan padi, sekam akan terpisah dari butir beras dan menjadi bahan sisa atau limbah penggilingan. Kadar sekam adalah 20-30% dari bobot gabah yang digiling, dedak atau abu  15 %, dan beras giling  50-53,5 %. (Hambali dkk, 2007).

Sekam padi kebanyakan dibuang dan dibakar. Banyak petani yang belum mampu memanfaatkan karena minimnya kesadaran, pengetahuan, dan keterampilan. Oleh karena itu, dampak yang ditimbulkan adalah pencemaran lingkungan karena sekam padi tidak dapat terelakkan.

“Hanya sedikit petani yang memanfaatkan sekam padi. Biasanya mereka gunakan untuk membakar bata merah, alas kandang ayam, abu gosok, membuat tungku, dan lain-lain sehingga pemanfaatannya kurang maksimal,” terang Fatwa Tentama, S.Psi., M.Si.

Sebenarnya, petani dapat memanfaatkan dan mengolah sekam menjadi produk sehingga bisa mengurangi dampak dari limbah yang dihasilkan. Di antaranya menjadi briket bioarang, media tanam, dan pupuk organik. Mereka juga bisa membuat bahan bakar (bioenergi) untuk keperluan petani, penghematan bahan bakar fosil, dan potensi penguatan perekonomian. Strategi efektif pemanfaatan limbah sekam ini dapat dilakukan dengan alat dan teknologi yang sederhana.

“Pemanfaatan limbah akan meminimalisasi pencemaran sekam padi di lingkungan persawahan, saluran irigasi, dan mencegah pencemaran udara karena pembakaran sekam padi yang dilakukan di area persawahan atau pengilingan beras. Briket bioarang yang dihasilkan dari sekam padi memiliki kelebihan, yaitu sangat baik digunakan untuk bahan bakar yang merata dan stabil,” papar Surahma Asti Mulasari, S.Si., M.Kes

Ia melanjutkan, briket bioarang dengan pemanfaatan bioenergi dapat menjadi aternatif pilihan masyarakat. Selain sebagai sumber energi, abu hasil pembakaran briket dapat digunakan untuk abu gosok oleh petani dan manfaat lainnya. Pembakaran briket biorang tidak menghasilkan emisi gas beracun seperti NOx dan SOx yang dihasilkan pada pembakaran briket batu bara. Keuntungan lain adalah tersedia bahan bakar (bioenergi) untuk keperluan petani, penghematan bahan bakar fosil, dan potensi penguatan perekonomian petani.

            Prosedur kerja pembuatan briket bioarang sebagai bioenergi alternatif yang mengacu pada buku IbM pedesaan adalah sebagai berikut: 

Alat dan bahan untuk membuat briket bioarang adalah media tanam dan pupuk organik. Beberapa peralatan dan bahan yang dibutuhkan yaitu drum tertutup, kompor, korek api, panci, penumbuk (lumpang dan alu), limbah sekam padi, air, dan kanji.

Cara kerjanya cukup mudah. Untuk pembuatan lem kanji, rebus air 500 ml hingga hangat,  lalu tuangkan kanji ke dalam panci dan aduk terus hingga mengental seperti lem. Untuk pembakaran sampah secara pirolasi, masukan limbah sekam padi kurang lebih ketinggian 10 cm dan dasar drum, lalu dibakar dan diaduk agar pembakaran merata dan terbentuk bara api. Tutup drum untuk mengurangi oksigen yang masuk agar yang terbakar tidak menjadi abu. Bila dirasa cukup, hentikan pembakaran, dan diamkan beberapa waktu agar proses pembakaran sempurna.

Selanjutnya, buat briket bioarang. Caranya, tuang hasil pembakaran dalam tempat penumbuk lalu tumbuk sampai halus, beri campuran lem, dan dicampur menggunakan tangan. Cetak adonan hasil pembuatan briket, lalu keringkan. Pencetakan adonan ini dilakukan dengan menggunakan alat pencetak briket bioarang.

Selain itu, arang sekam padi bisa dimanfaatkan untuk media tanam. Arang yang dihasilkan dari proses pirolisis dihancurkan, kemudian dicampurkan dengan pupuk kandang untuk media tanam. Hal itu juga bisa digunakan sebagai pupuk organik. Manfaatnya antara lain padi yang dihasilkan berkualitas unggul, dari segi ekonomis harga jual padi organik lebih tinggi daripada padi yang ditanam dengan pupuk kimia, biaya yang dikeluarkan jauh lebih sedikit sehingga keuntungan menjadi bertambah, dan kualitas tanah senantiasa terjaga (Riofrans, 2013).

Melalui Surahma Asti Mulasari dan Fatwa Tentama, UAD akhirnya mematenkan Desain Industri Alat Cetak Briket Bioarang ke dalam Hak Kekayaan Intelektual (HKI). Alat cetak didesain untuk menghemat waktu dan tenaga. Bagian cetakan dilengkapi dengan pegangan untuk mempermudah proses mencetak.

Menurut Surahma, alat cetak briket bioarang tersebut diperuntukkan untuk industri kecil atau rumah tangga. Alat ini memiliki beberapa keunggulan dan perbedaan dengan alat cetak briket yang lain karena lebih mudah digunakan dan bersifat portable.

Alat ini terdiri atas dua bagian, yaitu badan alat dan bagian cetakan. Alat cetak dibuat dengan menggunakan dongkrak hidrolik untuk memberikan tekanan ketika menge-press adonan briket. Selain itu, bagian cetakan didesain dengan sembilan cetakan sehingga dalam sekali operasi, dapat menghasilkan sembilan briket.