• TERKINI
  • UAD BERDAMPAK
  • PRESTASI
  • FEATURE
  • OPINI
  • MEDIA
  • KIRIM BERITA
  • Menu
News Portal of Universitas Ahmad Dahlan

Posts

Rahasia di Balik Rentetan Prestasi Dhita Pratama Putra, Wisudawan Berprestasi UAD

10/08/2026/in Feature /by Ard

Dhita Pratama Putra wisudawan berprestasi bidang akademik dan nonakademik periode IV tahun 2026 Universitas Ahmad Dahlan (UAD) (Foto. Dhita).jpg

Di balik toga yang dikenakan pada hari wisuda, selalu ada cerita yang tidak tertulis dalam selembar transkrip nilai. Ada langkah-langkah panjang yang ditempuh dalam diam, ada air mata yang tidak sempat disaksikan siapa pun, dan ada mimpi yang terus dijaga agar tidak padam meski berkali-kali diterpa keadaan.

Bagi Dhita Pratama Putra, S.Si., lulusan Program Studi Fisika Fakultas Sains dan Teknologi Terapan Universitas Ahmad Dahlan (UAD), momen dinobatkan sebagai Wisudawan Berprestasi Bidang Akademik dan Nonakademik UAD Periode IV Tahun 2026 bukan sekadar penghargaan atas pencapaian. Gelar itu menjadi penanda bahwa setiap perjuangan, sekecil apa pun, selalu menemukan jalannya untuk dihargai.

Dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,78, Dhita tidak hanya berhasil menyelesaikan studinya dengan baik, tetapi juga menorehkan sekitar 130 prestasi di tingkat provinsi, nasional, hingga internasional. Namun, bagi dirinya, angka bukanlah inti dari perjalanan tersebut.

“Alhamdulillah, saya bangga sekali. Apalagi bisa mendapatkan penghargaan di bidang akademik sekaligus nonakademik. Semua itu bukan sesuatu yang datang begitu saja. Ada banyak usaha, waktu, dan pengorbanan yang harus dijalani,” tuturnya.

Di balik sederet penghargaan itu, tersimpan hari-hari yang dipenuhi kesibukan. Sejak semester dua, Dhita telah bekerja sambil menjalani perkuliahan. Ia juga aktif dalam organisasi, bahkan dipercaya memimpin Himpunan Mahasiswa Fisika dan tergabung dalam Study Club Instrumentasi. Selama menjadi mahasiswa, ia terlibat dalam belasan organisasi dan berbagai kepanitiaan, sembari tetap konsisten mengikuti kompetisi.

Menjaga keseimbangan antara kuliah, pekerjaan, organisasi, penelitian, hingga perlombaan menjadi tantangan yang terus menguji keteguhannya. Namun, ia percaya bahwa mimpi tidak pernah tumbuh dari zona yang nyaman.

Salah satu pencapaian yang paling membekas dalam ingatannya adalah saat meraih Juara II Nasional Pemilihan Mahasiswa Berprestasi (Pilmapres) Tingkat PTMA se-Indonesia. Kompetisi tersebut menurutnya menjadi pengalaman paling menantang karena tidak hanya menilai prestasi akademik, tetapi juga karya unggulan, capaian nonakademik, hingga kemampuan diri secara menyeluruh.

Tak hanya itu, Dhita juga berhasil menjadi Finalis Pilmapres Nasional yang diselenggarakan Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas) pada tahun 2023. Pencapaian tersebut memiliki makna tersendiri karena mengakhiri penantian panjang UAD yang selama tujuh hingga delapan tahun belum berhasil meloloskan wakilnya ke tingkat nasional.

Prestasi internasional pun turut menghiasi perjalanannya melalui ajang Indonesia Inventors Day (IID) 2022 dan World Young Inventors Exhibition (WYIE) 2022 yang mempertemukan inovator dari berbagai negara. Menariknya, penelitian yang ia bawa dalam kompetisi tersebut kemudian berkembang menjadi topik tugas akhirnya.

Meski demikian, motivasi awal Dhita mengikuti kompetisi ternyata sangat sederhana. Ia mengaku, pada mulanya perlombaan menjadi salah satu cara untuk memperoleh penghasilan tambahan untuk membantu meringankan beban keluarga sekaligus membiayai berbagai kebutuhan. Namun seiring waktu, kompetisi berubah menjadi ruang belajar yang mempertemukannya dengan banyak pengalaman, jejaring, dan kesempatan berkembang. “Bukan hanya tentang menang. Dari setiap lomba saya belajar memperbaiki diri. Ada yang gagal, ada yang berhasil, tetapi semuanya membuat saya bertumbuh,” ujarnya.

Lebih jauh, ia ingin membuktikan bahwa latar belakang bukanlah batas bagi seseorang untuk bermimpi. Sebagai sarjana pertama di keluarga, anak pertama, sekaligus cucu pertama, Dhita merasa memiliki tanggung jawab moral untuk membuka jalan bagi adik-adik dan keluarganya. Ia juga ingin menjadi bukti bahwa anak desa mampu bersaing di tingkat nasional maupun internasional.

Namun perjalanan itu tidak selalu berjalan mulus. Di tengah padatnya aktivitas, Dhita pernah berjuang melawan gangguan kesehatan mental yang harus ia hadapi selama beberapa tahun. Ia baru menyelesaikan masa pengobatan pada awal tahun 2026. Masa-masa tersebut menjadi ujian yang jauh lebih berat dibandingkan perlombaan mana pun yang pernah diikutinya.

Alih-alih menyerah, pengalaman itu justru membentuk cara pandangnya terhadap kehidupan. “Saya ingin menunjukkan bahwa seseorang yang lahir dari keluarga broken home juga bisa berprestasi. Anak desa bisa berprestasi. Orang yang pernah mengalami gangguan kesehatan mental juga tetap bisa berkarya dan membanggakan orang-orang di sekitarnya,” ungkapnya.

Bagi Dhita, keberhasilan tidak pernah hadir karena keberuntungan semata. Sejak menjadi mahasiswa baru, ia telah menyusun peta perjalanan yang ingin ditempuh setiap semester. Bahkan, target mengikuti Pilmapres telah ia tuliskan sejak semester pertama setelah melihat informasi kompetisi tersebut.

Ia juga menetapkan target setidaknya mengikuti satu kompetisi setiap bulan. Ketika gagal, ia memilih menjadikan kegagalan sebagai bahan evaluasi, bukan alasan untuk berhenti. Selain itu, ia aktif berdiskusi dengan dosen dan memanfaatkan berbagai fasilitas yang disediakan kampus sebagai bagian dari proses belajarnya.

Menurutnya, prestasi bukan hanya tentang medali atau gelar. “Prestasi adalah bukti dari usaha yang dilakukan secara konsisten. Dulu saya mengira prestasi hanya soal nilai atau penghargaan. Sekarang saya sadar, prestasi juga berarti mampu bertahan, terus belajar, tidak menyerah pada keadaan, dan menjadikan ilmu sebagai jalan untuk memberi manfaat bagi orang lain.”

Pemahaman itu pula yang menjadi bekal setelah menyelesaikan studi sarjananya. Dhita berencana melanjutkan karier profesional sembari menempuh pendidikan Magister Ilmu Komunikasi di Universitas Bakrie melalui jalur beasiswa. Pilihan bidang tersebut lahir dari pengalaman selama kuliah yang membawanya berkecimpung di dunia marketing dan communications.

Baginya, perjalanan akademik tidak selalu harus berjalan lurus sesuai jurusan yang ditempuh. Justru pengalaman selama menjadi mahasiswa membantunya menemukan ruang pengabdian yang paling sesuai dengan dirinya.

Dhita menyampaikan satu pelajaran yang akan selalu ia pegang. “Hidup tidak selalu berjalan sesuai rencana. Keberhasilan bukan ditentukan oleh seberapa cepat kita sampai, tetapi seberapa kuat kita tetap melangkah ketika keadaan tidak berjalan sesuai harapan. Setiap orang memiliki garis waktunya masing-masing.”

Kalimat itu mungkin menjadi ringkasan paling sederhana dari seluruh perjalanan Dhita. Sebab pada akhirnya, prestasi bukan hanya tentang berdiri di atas podium. Prestasi adalah keberanian untuk terus melangkah, bahkan ketika hidup berkali-kali menguji keteguhan hati. (Mawar)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Dhita-Pratama-Putra-wisudawan-berprestasi-bidang-akademik-dan-nonakademik-periode-IV-tahun-2026-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-Foto.-Dhita.jpg.jpeg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2026-08-10 15:06:132026-08-10 15:06:13Rahasia di Balik Rentetan Prestasi Dhita Pratama Putra, Wisudawan Berprestasi UAD

Perjalanan Arivansi Mengubah Kegagalan Menjadi Ruang Bertumbuh

06/08/2026/in Feature /by Ard

Arivansi Ringu Kodi wisudawan terbaik FSBK Universitas Ahmad Dahlan (UAD) (Foto. Arivansi)

Rencana awal tidak selalu berjalan selaras dengan kenyataan. Kegagalan di masa lalu tidak menyurutkan langkah Arivansi Ringu Kodi untuk mengukir prestasi di perguruan tinggi. Bagi Arivan, alumnus Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Sastra, Budaya, dan Komunikasi (FSBK) angkatan 2022 Universitas Ahmad Dahlan (UAD), peraih predikat Wisudawan Terbaik FSBK UAD, perjalanan menuju bangku perkuliahan diawali dengan rentetan rasa kecewa. Sebelum melangkahkan kaki di UAD, ia harus menerima kenyataan pahit, yakni ditolak di lebih dari delapan Perguruan Tinggi Negeri (PTN) di Indonesia. Kehilangan kesempatan berkuliah di perguruan tinggi impian sempat mendatangkan rasa kecewa dan keraguan saat ia harus memulai masa studi di tempat yang awalnya tidak masuk dalam rencana.

Namun, seiring berjalannya waktu, sudut pandang Arivan mulai bergeser. Ia menyadari bahwa penolakan beruntun bukanlah akhir dari segalanya, melainkan sebuah titik balik. Daripada terus menyesali apa yang tidak berhasil didapatkan, ia memilih untuk bangkit dan memaksimalkan setiap peluang yang ada di depan mata.

β€œSaya berkata kepada diri sendiri bahwa saya sudah memulai perjalanan ini, sehingga saya harus memberikan yang terbaik,” ucapnya. β€œsaya memiliki prinsip, β€œFinish what you have started”. Ketika saya memutuskan untuk memulai sesuatu, saya harus bertanggung jawab menyelesaikannya. Saya juga selalu mengingatkan diri sendiri, β€œTake all the opportunities that come to you”. Saya percaya setiap kesempatan adalah ruang untuk belajar, bertumbuh, dan mengembangkan diri. Kesempatan tidak selalu datang dua kali, sehingga saya berusaha untuk tidak pernah menyia-nyiakannya.” Imbuhnya.

Selama menjalani masa kuliah, Arivansi menjadikan lirik lagu β€œMirrorball” karya Taylor Swift, β€œAll I do is try, try, try,” sebagai motivasinya untuk terus berusaha. Baginya, kalimat sederhana itu secara tepat menggambarkan proses hampir empat tahun di perguruan tinggi. Tidak semua ajang kompetisi berhasil ia menangkan dan tidak semua usaha berjalan mulus sesuai harapan. Namun, keberanian untuk terus mencoba, belajar, dan memperbaiki diri secara konsisten menjadi kunci yang membentuk proses perkuliahannya.

Selama menempuh studi di UAD, berbagai tantangan hadir menguji ketahanannya. Salah satu proses adaptasi yang paling membekas adalah statusnya sebagai seorang mahasiswa beragama Kristen yang menempuh pendidikan di perguruan tinggi berbasis Islam Muhammadiyah. Pada awal masa perkuliahan, rasa canggung sempat muncul karena ia terbiasa berada di lingkungan yang mayoritas beragama Kristen. Kendati demikian, kekhawatiran tersebut sirna seiring berjalannya waktu. Arivansi justru menemukan ekosistem kampus yang sangat terbuka dan inklusif. Teman-temannya yang beragama Islam menerima dan merangkul kedatangannya dengan sangat baik, sehingga proses adaptasi sosial berjalan dengan lancar.

Sebagai pemeluk agama Kristen yang taat, Arivansi mengandalkan iman dan keyakinannya kepada Tuhan dalam menjalani setiap tahapan studi. Salah satu ayat Kitab Suci yang senantiasa menjadi pegangan hidupnya adalah Amsal 3:5 yang berbunyi,β€œPercayalah kepada Tuhan dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri.” Ayat ini menjadi pengingat baginya bahwa pertolongan Tuhan lah yang membuatnya tetap bertahan dan kuat melangkah hingga garis akhir.

Tantangan lainnya datang dari pengelolaan waktu. Di tengah padatnya jadwal perkuliahan, ia harus membagi energi untuk aktif di organisasi, mengikuti berbagai kompetisi, serta menyelesaikan berbagai tanggung jawab lainnya. Ketika rasa lelah atau burnout melanda di tengah tekanan yang bertubi-tubi, Arivansi memilih untuk tidak memaksakan diri. Mengambil jeda dan beristirahat sejenak menjadi caranya untuk memulihkan pikiran, sehingga ia bisa kembali bekerja dengan fokus yang lebih baik.

Komitmen untuk menyelesaikan apa yang telah dimulai akhirnya membuahkan hasil yang konkret. Mahasiswa FSBK ini tidak hanya berhasil menyabet predikat Wisudawan Terbaik Program Studi Ilmu Komunikasi UAD, tetapi juga dinobatkan sebagai Juara I Pemilihan Mahasiswa Berprestasi (Pilmapres) FSBK, serta menjadi Finalis Pilmapres di tingkat Universitas.

Di ranah kompetisi, jejak perjalanannya terentang luas. Arivansi berhasil meraih Juara I U-DARE 3.0 International Competition yang diselenggarakan oleh Universitas Syiah Kuala, Juara I International Presenter Ahmad Dahlan International Seminar, Juara II Ahmad Dahlan Youth Camp Competition, Juara II National Public Relations Campaign Competition Monalesa, serta terpilih menjadi delegasi UAD pada ajang National University Debating Championship (NUDC). Di samping itu, ia juga aktif berorganisasi sebagai Staf Khusus Kementerian Agama BEM UAD dan pengurus Divisi Public Relations Debating Community UAD.

Rangkaian prestasi ini tidak lepas dari perkuliahan di UAD yang dinilainya sangat kondusif. Kampus menyediakan ruang yang memadai bagi mahasiswa untuk mengasah potensi akademik maupun nonakademik. Peran para dosen, khususnya di Program Studi Ilmu Komunikasi, dirasakannya sangat besar. Dosen tidak hanya berperan mengajar di dalam kelas, tetapi juga memberikan arahan, motivasi, serta kepercayaan penuh bagi mahasiswa untuk mengeksplorasi kemampuan diri.

Pencapaian gelar Wisudawan Terbaik mendatangkan perasaan bahagia, bangga, sekaligus terharu bagi Arivansi. Baginya, capaian ini menjadi bukti bahwa perjuangan, kerja keras, dan pengorbanan selama masa studi tidak berlalu dalam sia-sia. Meski demikian, Arivansi menegaskan bahwa penghargaan tersebut bukan semata-mata milik pribadinya. Predikat wisudawan terbaik dimaknai sebagai bentuk rasa syukur atas hadirnya orang-orang yang senantiasa memberikan dukungan–orang tua, keluarga, dosen, sahabat, serta kawan-kawan yang membersamainya sepanjang proses studi.

β€œJangan menunggu sampai merasa benar-benar siap, karena sering kali kita justru bertumbuh di dalam prosesnya. Gunakan masa kuliah bukan hanya untuk mengejar nilai, tetapi juga membangun karakter, memperluas pengalaman, dan mengembangkan kemampuan diri melalui organisasi maupun kompetisi,” pesannya.

Ia juga menekankan pentingnya untuk tidak membandingkan perjalanan pribadi dengan pencapaian orang lain. Fokus utama yang perlu dijaga adalah menjadi pribadi yang lebih baik dari hari kemarin, dengan keyakinan bahwa setiap usaha yang dilakukan secara sungguh-sungguh tidak akan pernah sia-sia. (Anove)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Arivansi-Ringu-Kodi-wisudawan-terbaik-FSBK-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-Foto.-Arivansi.jpg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2026-08-06 10:25:412026-08-06 10:25:41Perjalanan Arivansi Mengubah Kegagalan Menjadi Ruang Bertumbuh

Kupas Hadis hingga Cetak Modul Braille: Kisah Inspiratif Lulusan Terbaik FAI UAD

24/11/2025/in Terkini /by Ard

Tsulusiyah Apriliyananingrum, Wisudawati Terbaik Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) (Foto. Lusi)

Tsulusiyah Apriliyananingrum meraih predikat lulusan terbaik Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) pada Wisuda Periode I dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,88 dari Program Studi Ilmu Hadis. Mahasiswi yang akrab disapa Lusi ini menulis skripsi bertopik unik, yakni menelaah hadis-hadis yang dibahas para penceramah dalam Kajian Ahad Pagi di Masjid Islamic Center UAD.

Skripsi berjudul β€œAnalisis Pemahaman Hadis oleh Penceramah dalam Kajian Ahad Pagi Mei 2024 di Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan” tersebut bertujuan memperjelas makna hadis yang kerap dipaparkan dalam ceramah. Salah satu pembahasannya adalah Hadis Sunan Ibn Mājah no. 3123 yang berisi peringatan keras bagi orang yang mampu tetapi tidak berkurban.

β€œHadis ini menjadi teguran moral agar umat Islam tidak mengabaikan syiar penting seperti kurban,” jelas Lusi. Ia menambahkan bahwa ulama berbeda pendapat mengenai hukumnya, Abu αΈ€anifah mewajibkan, sedangkan Syafiβ€˜i memandangnya sebagai sunnah mu’akkadah. Dalam kajiannya, ia juga mengutip Ḁāsyiyah Sindi yang menjelaskan makna saβ€˜ah sebagai kelapangan harta dan memahami ancaman hadis tersebut secara simbolik. Selain itu, penceramah menggunakan hadis ini sebagai penguat pendapat bahwa kurban wajib bagi yang mampu.

Selain berkiprah secara akademik, Lusi juga aktif di berbagai organisasi kemahasiswaan. Ia pernah menjadi Kader IMM FAI UAD (2021–2022), Anggota Madrasatul Qur’ān LSO Akhilla BEM FAI UAD (2023), Koordinator Keanggotaan UKM Paduan Suara Mahasiswa Ahda Gitana (2024), Student Employment FAI UAD (2023), serta Jurnalis Bidang Humas dan Protokol (BHP) UAD selama dua tahun (2024–2025).

Dalam dunia paduan suara, ia turut menyumbang prestasi berupa Silver Medal pada Satya Dharma Gita Choir Festival (SDGCF) 2023 dan Silver Medal di Festival Seni Pertunjukan Indonesia (FSPI) UNY 2023. Tak hanya itu, Lusi juga pernah lolos pendanaan Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) 2023 bidang Pengabdian Masyarakat oleh Kemendikbudristek. Ia mengembangkan Modul Braille Trilingual Language sebagai alat bantu kosakata bagi siswa tunanetra di MTs LB/A Yaketunis. Modul tersebut memuat tiga bahasa yaitu Indonesia, Inggris, dan Arab, serta dilengkapi puzzle beam dan flash card yang dicetak dalam huruf Braille.

Dalam sambutannya pada pelepasan wisuda, Lusi menyampaikan pesan penuh harapan. β€œPelepasan ini bukanlah akhir dari perjuangan, melainkan awal dari pengabdian yang sesungguhnya. Amanah ilmu yang telah kita peroleh di UAD harus kita wujudkan dalam bentuk kontribusi nyata bagi umat, bangsa, dan agama,” tuturnya.

Ia mengajak para wisudawan untuk terus menghidupkan nilai Islam berkemajuan. β€œMari menjadi generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga berakhlak, berintegritas, dan bermanfaat bagi masyarakat. Semoga Allah selalu meridai setiap langkah kita dalam mengamalkan ilmu dan menebar kebermanfaatan,” tutupnya. (Lus)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Tsulusiyah-Apriliyananingrum-Wisudawati-Terbaik-Fakultas-Agama-Islam-FAI-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-Foto.-Lusi.jpg-1.jpg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2025-11-24 10:44:582025-11-24 10:44:58Kupas Hadis hingga Cetak Modul Braille: Kisah Inspiratif Lulusan Terbaik FAI UAD

Doa Ibu di balik Perjuangan Lathifah Apriana Putri, Wisudawan Berprestasi UAD 2025

10/11/2025/in Terkini /by Ard

Lathifah Apriana Putri, Wisudawati Berprestasi Universitas Ahmad Dahlan (UAD) (Foto. Lathifah)

Lathifah Apriana Putri, mahasiswa Program Studi (Prodi) Bisnis Jasa Makanan, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Ahmad Dahlan (UAD), menjadi salah satu wisudawan berprestasi yang menginspirasi banyak orang. Berasal dari keluarga sederhana, Lathifah tumbuh dengan tekad kuat untuk mengubah masa depan lewat pendidikan. Sebelum berkuliah, ia sempat bekerja sebagai buruh pabrik. Pengalaman itu menanamkan keyakinan bahwa pendidikan adalah jalan terbaik untuk memperbaiki kehidupan sekaligus memberi manfaat bagi sesama.

Akrab disapa Lathifah, ia kehilangan ayah sejak berusia 5 tahun. Hal itu menjadi ujian terbesar dalam hidupnya. Namun, sang ibu mengambil peran ganda sebagai sosok ayah sekaligus ibu yang penuh kasih dan perjuangan. β€œBeliau adalah motivasi terbesar saya. Saya ingin membalas pengorbanan ibu dan membuktikan bahwa saya layak mendapatkan kesempatan untuk kuliah,” ungkapnya.

Tak hanya itu, sosok almarhum ayah yang merupakan lulusan pendidikan (S.Pd.) juga memberi inspirasi tersendiri. Semangat ayahnya dalam dunia pendidikan menjadi api kecil yang terus menuntun langkahnya. Dengan tekad yang kuat, Lathifah berjuang mencari peluang beasiswa hingga akhirnya diterima sebagai penerima Beasiswa KIP Kuliah di UAD.

Motivasi terbesar Lathifah adalah membanggakan sang ibu dan membuktikan bahwa anak dari keluarga sederhana pun mampu bersinar. Di balik kelembutan dan kesederhanaannya, tersimpan cerita penuh keteguhan. Sejak SD hingga SMK, ia kerap mengalami perundungan dan keraguan dari lingkungan sekitar. Namun, pengalaman pahit itu tidak membuatnya menyerah. β€œSaya justru menjadikannya bahan bakar untuk terus berkembang dan terbang lebih tinggi dari apa yang pernah orang lain bayangkan,” tuturnya penuh semangat.

Salah satu pengalaman paling berkesan selama masa kuliah adalah ketika ia berhasil meraih Juara I Pemilihan Mahasiswa Berprestasi tingkat wilayah dan tingkat Perguruan Tinggi Muhammadiyah β€˜Aisyiyah (PTMA) Nasional tahun 2024. Selain itu, beberapa kompetisi inovasi mahasiswa juga berhasil ia menangkan. Dari pengalaman tersebut, Lathifah semakin menyadari pentingnya riset dan inovasi di bidang pangan fungsional. Menurutnya, riset bukan hanya tentang penemuan ilmiah, tetapi juga tentang memberikan dampak sosial yang nyata bagi kesehatan dan ketahanan pangan masyarakat.

Kesempatan menyusun dan memublikasikan artikel ilmiah menjadi titik balik penting dalam perjalanannya. Dari situ, ia belajar arti disiplin, ketelitian, dan tanggung jawab ilmiah. β€œSaya semakin memahami bagaimana penelitian bisa menjadi jembatan antara ilmu pengetahuan dan dunia industri,” katanya.

Perjalanan akademik Lathifah tentu tidak selalu mulus. Tantangan terbesar yang dihadapinya adalah membagi waktu antara kuliah, organisasi, kompetisi, dan riset. Namun, ia belajar mengatasi semuanya dengan manajemen waktu yang baik dan disiplin. β€œSaya membuat prioritas dan jadwal harian, juga tidak sungkan meminta bimbingan dari dosen dan mentor. Saya percaya, proses berkembang tidak bisa dilakukan sendirian,” ucapnya.

Dalam setiap langkah, doa sang ibu selalu menjadi penguat. β€œIbu selalu mendukung dengan cara yang sederhana, tapi penuh makna. Doa beliau adalah bahan bakar utama saya,” ungkap Lathifah. Selain itu, para dosen dan pembimbing turut menjadi bagian penting dalam perjalanannya, terutama saat menghadapi persiapan kompetisi dan penelitian.

Setelah lulus, Lathifah memiliki tekad kuat untuk terus melangkah. β€œKe depan, saya ingin mengembangkan usaha berbasis inovasi pangan fungsional lokal dan riset produk pangan kesehatan. Saya berharap dapat berkontribusi pada industri makanan sehat di Indonesia, sekaligus membuka peluang bagi masyarakat sekitar melalui pemberdayaan dan kolaborasi,” ujarnya.

Tidak berhenti di situ, Lathifah juga berencana melanjutkan pendidikan serta aktif mengembangkan karya ilmiah dan inovasi mahasiswa. Ia ingin menjadi contoh bahwa mahasiswa dari latar belakang sederhana pun mampu berprestasi dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat. (Lin)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Lathifah-Apriana-Putri-Wisudawati-Berprestasi-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-Foto.-Lathifah.jpg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2025-11-10 11:58:252025-11-10 11:58:25Doa Ibu di balik Perjuangan Lathifah Apriana Putri, Wisudawan Berprestasi UAD 2025

Hanif Menapaki Perjalanan Panjang Penuh Doa dan Usaha

07/11/2025/in Terkini /by Ard

Muhamad Hanif Nuril Fikri, Wisudawan Terbaik Program Studi Biologi, Universitas Ahmad Dahlan (UAD) (Foto. Hanif)

Menjadi wisudawan terbaik bukanlah hal yang pernah dibayangkan oleh Muhamad Hanif Nuril Fikri, mahasiswa Program Studi Biologi Universitas Ahmad Dahlan (UAD). Ia mengaku baru mengetahui kabar tersebut saat acara pelepasan fakultas. β€œJujur, saya tidak menyangka bisa dinobatkan sebagai wisudawan terbaik Periode I Tahun Akademik 2025/2026 karena pertama kali tahu saat pelepasan fakultas. Banyak teman saya yang juga luar biasa dan pantas mendapatkan penghargaan ini. Saya merasa sangat bersyukur, semoga ini bisa menjadi motivasi untuk terus belajar dan berkontribusi setelah lulus,” ungkap Hanif.

Hanif menempuh studinya selama 4 tahun 1 bulan di UAD. Baginya, perjalanan akademik ini bukan hanya tentang menimba ilmu, tetapi juga bentuk pengabdian dan rasa terima kasih kepada orang tuanya. β€œMotivasi terbesar saya adalah ingin membahagiakan orang tua dan membalas semua pengorbanan mereka karena saya tahu perjuangan untuk membiayai pendidikan saya tidak mudah,” tuturnya.

Sebagai mahasiswa, Hanif menghadapi berbagai tantangan, terutama saat menyusun penelitian skripsi. Ia mengaku sempat menghadapi kendala di laboratorium, mulai dari keterbatasan bahan larutan hingga hasil penelitian yang tidak sesuai harapan. β€œNamun, saya belajar untuk tetap sabar dan mencari solusi. Dengan bimbingan dosen pembimbing dan dukungan teman-teman, akhirnya saya bisa menyelesaikan penelitian saya,” jelasnya.

Hanif juga menuturkan bahwa sosok yang paling berperan penting dalam perjalanan kuliahnya adalah orang tua dan dosen pembimbingnya. β€œOrang tua saya selalu mendoakan dan memberikan semangat, bahkan membiayai pendidikan saya sejak awal. Sedangkan dosen pembimbing saya membimbing dengan sabar dan memberikan masukan berharga ketika hasil penelitian tidak sesuai rencana. Tanpa mereka, saya mungkin tidak akan bisa sampai sejauh ini,” ujarnya dengan penuh rasa hormat.

Selama masa kuliah, Hanif berusaha menyeimbangkan antara kegiatan akademik dan aktivitas lain di luar kelas dengan mengatur prioritas. Ia juga masih ingat momen paling berkesan selama menjadi mahasiswa, yakni ketika berkesempatan menjalani kerja praktik di Laboratorium Narkoba Forensik POLRI Semarang. β€œItu pengalaman berharga karena pertama kali saya melihat langsung berbagai barang bukti narkoba dan psikotropika. Banyak hal baru yang saya pelajari di sana,” kenangnya.

Predikat wisudawan terbaik yang kini disandangnya menjadi penutup manis dari perjalanan panjang penuh perjuangan. Hanif berharap pencapaiannya dapat menjadi inspirasi bagi mahasiswa lain untuk terus berusaha tanpa menyerah. (Adi)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Muhamad-Hanif-Nuril-Fikri-Wisudawan-Terbaik-Program-Studi-Biologi-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-Foto.-Hanif.jpg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2025-11-07 11:20:472025-11-07 11:20:47Hanif Menapaki Perjalanan Panjang Penuh Doa dan Usaha

Tak Menyerah Meski Tanpa Orang Tua, Nona Carolina Buktikan Mimpi Bisa Dicapai

07/11/2025/in Terkini /by Ard

Nona Carolina, mahasiswa Kesehatan Masyarakat, Universitas Ahmad Dahlan (UAD), dinobatkan sebagai Wisudawan Terbaik (Foto. Nona)

Universitas Ahmad Dahlan (UAD) kembali melahirkan sosok inspiratif dalam Wisuda Periode I Tahun Akademik 2025/2026. Ia adalah Nona Carolina, mahasiswa Program Studi Kesehatan Masyarakat, yang dinobatkan sebagai Wisudawan Terbaik sekaligus Wisudawan Berprestasi Bidang Akademik.

Perempuan kelahiran Kediri, 28 September 2003 ini berhasil menempuh studi S1-nya hanya dalam waktu 3 tahun 11 bulan 14 hari. Pencapaian tersebut diraih melalui kerja keras dan komitmen tinggi selama menjalani perkuliahan di bawah beasiswa KIP-Kuliah.

β€œAlhamdulillah, saya merasa bersyukur, senang, dan bangga akhirnya bisa menyelesaikan studi dengan tepat waktu serta memaksimalkan kesempatan kuliah melalui beasiswa KIP-Kuliah di UAD,” ungkap Nona.

Menjadi yatim piatu sejak kecil tidak membuatnya berhenti berjuang. Justru kondisi itu menjadi sumber kekuatan utama dalam menempuh pendidikan. β€œSosok yang paling berperan penting adalah diri saya sendiri, karena saya seorang yatim piatu. Saya menempatkan diri sebagai tokoh utama dalam kehidupan, bagaimana saya harus bersikap dan ingin menjadi seperti apa. Selain itu, Allah Swt. juga menjadi penolong terbaik saya selama menjalani studi di UAD,” tuturnya.

Motivasi terbesar Nona dalam menempuh pendidikan adalah rasa syukur. Ia selalu berusaha memberikan yang terbaik dalam segala hal sebagai bentuk terima kasih atas kesempatan yang diberikan. Meski demikian, perjalanan kuliahnya tidak lepas dari tantangan. Ia mengaku manajemen waktu menjadi hal tersulit ketika harus menyeimbangkan antara kuliah, praktikum, lomba, dan tanggung jawab sebagai jurnalis kemahasiswaan UAD selama 17 bulan.

β€œTantangan terbesar saya adalah manajemen waktu, pikiran, dan tenaga. Saya mengatasinya dengan membuat skala prioritas, menentukan mana yang perlu dikerjakan lebih dahulu dan mana yang harus segera diselesaikan,” jelasnya.

Salah satu momen paling berkesan bagi Nona adalah ketika berhasil membawa nama UAD sebagai juara pertama dalam ajang KMI Expo Kemdikbud RI. Ia juga mengungkapkan bahwa lingkungan kampus yang Islami menjadi salah satu nilai paling berkesan selama menempuh pendidikan di UAD.

β€œNuansa Islami di lingkungan akademik UAD menjadi bekal untuk terus berusaha menebar manfaat bagi umat di mana pun berada,” tambahnya.

Menutup perbincangan, Nona menyampaikan pesan bagi mahasiswa lain agar terus berjuang dan menjaga prestasi UAD di masa depan. β€œSaya berharap agar mahasiswa lain dapat mempertahankan prestasi yang telah diukir oleh kakak tingkat sebelumnya, sehingga nama UAD tetap berjaya di masa mendatang,” ujarnya. Β (Adi)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Nona-Carolina-mahasiswa-Kesehatan-Masyarakat-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-dinobatkan-sebagai-Wisudawan-Terbaik-Foto.-Nona.jpg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2025-11-07 10:29:042025-11-07 10:29:04Tak Menyerah Meski Tanpa Orang Tua, Nona Carolina Buktikan Mimpi Bisa Dicapai

Lulusan UAD Raih Dua Gelar Sekaligus, di Indonesia dan Tiongkok

07/11/2025/in Terkini /by Ard

Lu’lu’ Shofiyatul Jannah, Wisudawati FEB Universitas Ahmad Dahlan (UAD) (Foto. Humas dan Protokol UAD)

Wisudawati Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Lu’lu’ Shofiyatul Jannah, sukses menuntaskan studi program joint degree dan meraih dua gelar sekaligus dari Universitas Ahmad Dahlan (UAD) dan Guangxi Minzu University, Tiongkok.

Perempuan yang akrab dipanggil Lu’lu’ ini, berasal dari Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Ia mengikuti program joint degree yang dijalankan selama empat tahun, dengan dua tahun pertama (semester 1-4) di UAD dan dua tahun berikutnya (semester 5-8) di Guangxi Minzu University, Nanning. Prestasi Lu’lu’ ini membuktikan bahwa kerja keras, keberanian belajar lintas negara, dan kemampuan beradaptasi dapat membuka jalan menuju kesuksesan.

Lu’lu’ mengaku sangat bersyukur dan lega setelah berhasil menyelesaikan dua gelar di dua universitas berbeda. β€œSaya merasa sangat lega karena bisa menuntaskan perkuliahan di dua universitas, salah satunya di Tiongkok dengan bahasa Mandarin sebagai bahasa pengantar. Senang sekali bisa mendapatkan pengalaman yang begitu berharga,” tuturnya.

Meski demikian, perjalanan akademiknya tidak lepas dari tantangan besar, terutama soal bahasa dan adaptasi budaya. β€œTantangan terbesar saya adalah bahasa. Saat pertama datang ke Tiongkok, kemampuan Mandarin saya belum terlalu bagus. Selain itu, mencari makanan halal juga cukup sulit,” ungkapnya.

Untuk beradaptasi dengan sistem belajar dan budaya akademik di dua kampus berbeda, Lu’lu’ berupaya membangun relasi dengan mahasiswa lokal. β€œSaya berusaha mencari teman lokal agar bisa saling belajar. Mereka sangat membantu menjelaskan materi kuliah dengan bahasa yang lebih mudah dipahami,” jelasnya.

Momen tersulit yang ia alami adalah pada masa awal perkuliahan di Guangxi Minzu University, ketika harus mengikuti pembelajaran penuh dalam bahasa Mandarin. Namun, dukungan dosen dan teman-teman sangat membantu prosesnya. β€œDosen di sana sangat pengertian. Kalau kami tidak mengerti, mereka menjelaskan ulang dengan perlahan sampai kami paham,” terangnya.

Salah satu pencapaian yang paling membanggakan bagi Lu’lu’ adalah keberhasilannya menyelesaikan skripsi dan sidang akhir menggunakan bahasa Mandarin. β€œSkripsi saya ditulis dan dipresentasikan dalam bahasa Mandarin. Alhamdulillāh, semuanya berjalan lancar,” ucapnya.

Setelah lulus, Lu’lu’ kini telah bekerja di perusahaan Allmed, yang di Indonesia lebih dikenal sebagai PT Ace Medical Products Indonesia, yaitu sebuah perusahaan asal Tiongkok yang bergerak di bidang medis. β€œAlhamdulillāh, sekarang saya bekerja sebagai specialist Mandarin di PT Ace Medical Products Indonesia,” tutupnya di akhir wawancara. (Lus)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Lulu-Shofiyatul-Jannah-Wisudawati-FEB-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-Foto.-Humas-dan-Protokol-UAD.jpg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2025-11-07 10:09:532025-11-07 10:09:53Lulusan UAD Raih Dua Gelar Sekaligus, di Indonesia dan Tiongkok

Menjaga Keseimbangan Ilmu dan Spiritualitas di Bangku Kuliah

15/08/2025/in Terkini /by Ard

Murtihana Rahma Pratiwi, wisudawan berprestasi dari Prodi Ilmu Hadis Universitas Ahmad Dahlan (UAD) (Foto. Murti)

Murtihana Rahma Pratiwi, wisudawan berprestasi dari Program Studi Ilmu Hadis, Fakultas Agama Islam Universitas Ahmad Dahlan (FAI UAD) dengan IPK 3,93, merasa bahwa perjalanan kuliah bukan sekadar pencapaian akademis. Lebih dari itu, ia memaknainya sebagai proses menjaga keseimbangan antara ilmu dan spiritualitas.

β€œSpiritualitas memberikan peran penting dalam kehidupan saya sebagai mahasiswa karena berpengaruh besar dalam mengatur keseimbangan mental dan emosional,” ungkapnya. Saat menghadapi tekanan akademis, ia memilih untuk memandang setiap ujian sebagai bagian dari ketentuan terbaik Allah Swt. β€œKetika sulit, saya yakin Allah sedang mengangkat derajat saya. Dan ketika mendapatkan kebaikan, saya tidak menganggap itu murni hasil jerih payah, tetapi karunia dari-Nya,” tambahnya.

Lulus dari UAD sekaligus Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah (PUTM) membentuk mimpi besar bagi Murtihana. Ia ingin memberikan kontribusi positif bagi masyarakat melalui penelitian, pendidikan, dan pengabdian. β€œSaya ingin membantu menciptakan solusi untuk masalah-masalah yang dihadapi masyarakat. Selain itu, saya ingin berkontribusi dalam dakwah Islam dan Kemuhammadiyahan dengan menghidupkan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) yang ada di masyarakat secara luas,” jelasnya.

Selama kuliah di PUTM, Murtihana menganggap interaksi dengan teman-teman dari berbagai daerah sebagai pengalaman paling berharga. β€œSetiap orang punya karakter dan keunikan masing-masing. Bekerja sama dengan mereka dalam berbagai proyek membuat saya belajar memahami dan menghargai perbedaan, sekaligus memperluas relasi dengan orang-orang berkualitas,” katanya.

Kesibukan di asrama tidak menjadi penghalang baginya untuk tetap berprestasi. Strategi belajarnya sederhana namun konsisten, yakni dengan membuat jadwal belajar yang terstruktur, menetapkan skala prioritas, dan disiplin dalam menjalankannya. β€œBelajar kelompok juga sangat membantu saya memperdalam pemahaman materi, sekaligus melatih kemampuan menyampaikan materi secara lebih mendalam,” ujarnya.

Bagi Murtihana, ilmu dan iman adalah dua pilar yang saling menguatkan. Ia percaya, prestasi akademik akan lebih bermakna jika dibersamai dengan keteguhan spiritual dan kepedulian pada sesama. (Lus)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Murtihana-Rahma-Pratiwi-wisudawan-berprestasi-dari-Prodi-Ilmu-Hadis-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-Foto.-Murti.jpg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2025-08-15 10:04:222025-08-15 10:04:22Menjaga Keseimbangan Ilmu dan Spiritualitas di Bangku Kuliah

Merantau, Berjuang, dan Menemukan Manisnya Ilmu

13/08/2025/in Terkini /by Ard

Azmi Sani, wisudawan berprestasi dari Program Studi BSA Universitas Ahmad Dahlan (UAD) (Foto. Humas FAI UAD)

Azmi Sani, wisudawan berprestasi dari Program Studi Bahasa dan Sastra Arab Fakultas Agama Islam Universitas Ahmad Dahlan (BSA FAI UAD), menganggap kelulusan bukan sekadar akhir dari perjalanan kuliah. Ia menyebutnya sebagai babak baru setelah menempuh jalan panjang yang penuh pelajaran, tantangan, dan keberkahan.

Berasal dari Sorong Utara, Papua Barat, Azmi memutuskan merantau ke Yogyakarta untuk menuntut ilmu. Prinsip hidupnya sederhana, terinspirasi dari nasihat Imam Syafi’i yang mengatakan bahwa orang berilmu dan beradab tidak akan tinggal diam di kampung halaman. β€œTinggalkan negerimu dan hiduplah di negeri orang. Berlelah-lelahlah karena manisnya hidup akan terasa setelah lelah berjuang,” ujarnya.

Salah satu momen paling berkesan selama berkuliah di UAD adalah ketika ia menjadi bagian dari tim Kuliah Kerja Nyata (KKN) Madinah UAD 2024. β€œSebuah kesyukuran dan kehormatan bisa menjadi salah satu tim KKN Madinah UAD batch #1 ini,” tuturnya. Bagi Azmi, kesempatan itu tidak hanya menambah pengalaman, tetapi juga memperluas wawasan dan mengasah kemampuan bersosialisasi di lingkungan baru.

Perjalanan kuliah tentu tak lepas dari rasa jenuh, stres, dan kegagalan. Azmi memiliki cara tersendiri untuk menghadapinya. Saat jenuh, ia mengingat kembali tujuan awal merantau dan sesekali memberi jeda untuk penyegaran diri (self-refresh) dengan bepergian (hang out) atau wisata kuliner. Ketika stres, terutama menjelang ujian, ia memperketat jadwal belajar dan rutin meninjau ulang (review) materi. β€œSemakin sering kita meninjau ulang, semakin percaya diri kita menghadapi ujian,” katanya.

Ia melihat kegagalan sebagai bagian alami dari suatu proses. β€œOrang sukses itu harus bernyali untuk gagal. Mereka yang berani gagal tahu cara bangkit dan mencoba lagi sehingga di masa depan dapat lihai melihat peluang,” tuturnya.

Untuk adik-adik tingkatnya, ia berpesan agar tetap sabar dan semangat. β€œMaksimalkan segala potensi kalian, susun perencanaan masa depan dari sekarang, jangan melalaikan perkuliahan, dan tumbuhlah menjadi mahasiswa yang bermanfaat bagi siapa saja,” pesannya. (Lus)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Azmi-Sani-wisudawan-berprestasi-dari-Program-Studi-BSA-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-Foto.-Humas-FAI-UAD.jpg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2025-08-13 12:08:492025-08-13 12:08:49Merantau, Berjuang, dan Menemukan Manisnya Ilmu

Isah Fitriani: Perjuangan di Balik Gelar Wisudawan Berprestasi

12/08/2025/in Terkini /by Ard

Isah Fitriani, Wisudawan Berprestasi Universitas Ahmad Dahlan (UAD) (Foto. Isah)

Setiap mimpi, sekecil apa pun, layak untuk diperjuangkan. Kalimat itulah yang menjadi pengiring langkah Isah Fitriani selama menempuh pendidikan Magister Kesehatan Masyarakat di Universitas Ahmad Dahlan (UAD). Lulus dengan IPK 3,97, ia dinobatkan sebagai wisudawan berprestasi setelah menorehkan berbagai capaian akademik dan nonakademik di tingkat daerah, provinsi, hingga nasional.

Perjalanan prestasi Isah dimulai pada tahun 2021 saat ia meraih Hibah Pendanaan PKM-PM Ditjen Dikti Kemendikbud RI, Juara II LKTI Nasional, dan Juara III Lomba Esai Nasional. Setahun berselang, ia dinobatkan sebagai Koordinator Daerah Terbaik Se-Wilayah 3 ISMKMI dan menyabet Juara I Lomba Esai Tingkat Provinsi. Ia juga meraih Juara II Lomba Penelitian Ilmiah pada Forum Ilmiah Tahunan dan Kongres Nasional IAKMI.

Prestasinya terus berlanjut. Pada 2024, Isah menorehkan predikat Peserta Terbaik B dalam Lomba Puisi Nasional. Puncak pencapaian terjadi pada 2025, saat ia meraih Juara I Lomba Presentasi Oral, Juara III Lomba Esai disertai predikat Best Poster dan Favorite Paper, Juara II Lomba Esai Nusantara Writing Festival 3, serta masuk 10 besar Lomba Artikel Ilmiah JoMaSSH FK UNY.

Di balik deretan penghargaan tersebut, Isah tentu menghadapi tantangan yang tidak ringan. Ia harus membagi waktu antara kuliah, menyelesaikan tesis, membantu administrasi skripsi di Prodi S-1 Kesmas, mengajar les privat, menjadi jurnalis di Bidang Humas dan Protokol UAD, mempersiapkan lomba, hingga menulis publikasi ilmiah.

Meski begitu, prinsipnya tetap teguh. β€œGagal itu memang melelahkan, tetapi bukan berarti kau harus kehilangan masa depan. Bergeraklah, ciptakan perubahan, maka kau akan memperoleh keberhasilan. Kadang, kita harus berpura-pura kuat di tengah keramaian, tetapi apa yang dijalani sepenuh hati tidak akan sia-sia,” ungkapnya.

Di masa depan, Isah berencana untuk terus berkarya di bidang promosi kesehatan dan ilmu perilaku, menjangkau daerah terpencil, mengangkat isu kesehatan yang luput dari perhatian, dan berkontribusi dalam pengembangan kebijakan serta media promosi kesehatan. Baginya, gelar magister ini merupakan awal dari perjalanan baru. Sebab, ia selalu meyakini bahwa setiap orang akan hebat dengan caranya sendiri dan ia memilih untuk hebat melalui kontribusinya di bidang kesehatan masyarakat. (Lus)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Isah-Fitriani-Wisudawan-Berprestasi-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-Foto.-Isah.jpg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2025-08-12 11:44:062025-08-12 11:44:06Isah Fitriani: Perjuangan di Balik Gelar Wisudawan Berprestasi
Page 1 of 41234

TERKINI

  • Program Doktor Ilmu Farmasi UAD Luluskan Doktor ke-15 Melalui Riset Edukasi Vaksin Covid-1909/08/2026
  • Dari Rakyat, Oleh Rakyat, Untuk Rakyat08/08/2026
  • UAD Terjunkan 1.676 Mahasiswa KKN-PLP Periode 2026/202707/08/2026
  • Tim PKM RE UAD Kembangkan Nanoterapi Berbasis Minyak Atsiri Nilam untuk PPOK06/08/2026
  • Tim PKM RE UAD Hadirkan Inovasi Inhalasi Berbasis Kitosan untuk Terapi PPOK06/08/2026

PRESTASI

  • Mahasiswa UAD Raih Juara I Lomba Baca Puisi Dahlan Culture Festival 202608/08/2026
  • Mahasiswa UAD Raih Juara 3 Cakrawala National Essay Competition31/07/2026
  • Tim BEKAMIE UAD Raih Juara 2 pada Ajang Studentpreneur Bootcamp 202629/07/2026
  • Mahasiswa UAD Raih Juara 2 Lomba Video Kreatif Dahlan Culture Festival 202628/07/2026
  • Mahasiswa UAD Raih Juara III Monolog pada PEKSIMIPROV DIY 202628/07/2026

FEATURE

  • Hafiz: Berkali-Kali Gagal, Berkali-Kali Bangkit10/08/2026
  • Rahasia di Balik Rentetan Prestasi Dhita Pratama Putra, Wisudawan Berprestasi UAD10/08/2026
  • Meneladani Sejarah dan Merawat Optimisme di Tengah Ketidakpastian Bangsa10/08/2026
  • Wisudawan Terbaik FSBK Menemukan Makna Inklusivitas di UAD09/08/2026
  • Di Balik Gelar Wisudawan Berprestasi, Ada Proses yang Tidak Mudah07/08/2026

TENTANG | KRU | KONTAK | REKAPITULASI

Scroll to top