Danbo dan Ragam Kejutan Ramaikan Masta FKM

0
114

Menengok kegiatan Masa Taaruf (Masta) di Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM), ternyata memakai tema yang sama dengan Masta pusat. Namun dalam segi konsep, panitia mengemas menjadi suatu kegiatan yang apik dan menarik. Mahasiswa memakai slayer ungu yang membuat FKM berbeda dengan program studi lain.

Hal unik lain yang diterapkan dalam Masta kali ini adalah panitia membuat tiket masuk berupa screenshot video tentang Muhammadiyah yang telah diunggah panitia. Secara tidak langsung, mahasiswa baru FKM jadi tahu tentang Muhammadiyah. Selain properti P2K yang lengkap, syarat video ini juga menentukan mahasiswa baru lolos untuk mengikuti serangkaian kegiatan Masta.

Boneka danbo sebagai maskot diletakkan di depan kelas untuk menyambut mahasiswa baru. Boneka ini terbuat dari kardus bekas, sebuah konsep yang pernah dipakai pada 2016. Bedanya, tahun ini danbo dibuat besar dan dilapisi dengan baju saman, yaitu baju budaya yang menggabungkan ilmu-ilmu religius. Panitia ingin menunjukkan bahwa sampah bisa didaur ulang menjadi barang yang cantik dan bermanfaat.

Ada berbagai permainan yang diadakan oleh panitia selama Masta. Di akhir Masta, ada King dan Queen Masta. Mahasiswa yang berhasil melalui beberapa misi akan mendapatkan penghargaan dan hadiah istimewa. Selain itu, panitia menyediakan banner untuk tanda tangan para mahasiswa baru FKM agar mereka ingat pernah mengikuti Masta. Sebagai pemanis, mahasiswa diberi hadiah kecil tetapi bermanfaat.

Botol minuman menjadi salah satu hadiah. Tujuannya, agar mahasiswa terbiasa membawa botol minum, bukan membeli air kemasan. Tentu saja, agar mahasiswa belajar diet plastik. Ada juga yang mendapat handuk kecil, dan kaus kaki. Rasionalisasi sederhana, karena panitia mencari hal yang murah tapi bisa bermanfaat dan berkesan.

Millenia Intan Borneo Ketua Masta FKM 2019 menjelaskan, “Harapannya mereka bisa menikmati kegiatan, mendapat hal yang berkesan, dan selalu ingat tentang hal-hal yang indah. Kami juga sangat senang karena mahasiswa baru yang mengikuti Organisasi Otonom (Ortom) antusiasnya lebih banyak dan lebih aktif di dalamnya.”

Ia menambahkan, “Fakultas kami terkenal paling banyak perempuannya. Bisa dikatakan satu banding sepuluh. Oleh karena itu, kegiatan yang kami lakukan banyak menerapkan metode pendekatan perasaan. Hasilnya, mahasiswa baru mulai dekat dengan panitia. Hal ini biasanya dimulai dari tanya tentang tugas atau proses perkuliahan. Respons positif dari mereka, menjadi kesuksesan tersendiri bagi kami.” (Dew)