Mahasiswa UAD Raih Juara Nasional lewat Penelitian Fenomena Toxic Relationship di TikTok

Mahasiswa Universitas Ahmad Dahlan (UAD) raih juara nasional lewat penelitian fenomena toxic relationship di TikTok (Foto. Farid)
Fenomena romantisasi perilaku toxic dalam hubungan yang marak di media sosial mengantarkan Farid Bagaskara, mahasiswa Program Studi Sastra Inggris Universitas Ahmad Dahlan (UAD), meraih Juara I Artikel Terbaik Kategori Sosial Budaya Kelas C pada Kompetisi Artikel Ilmiah #2 Tingkat Nasional Tahun 2026 yang diselenggarakan oleh Biro Kemahasiswaan dan Alumni UAD.
Farid mengangkat karya ilmiah berjudul “Implikatur dan Konstruksi Makna Romantisasi Hubungan Toxic dalam Wacana TikTok: Kajian Pragmatik Kritis”. Penelitian tersebut mengkaji bagaimana berbagai perilaku yang sebenarnya tergolong tidak sehat dalam sebuah hubungan justru sering dimaknai sebagai bentuk romantisme di media sosial. Salah satu contoh yang ditemukan adalah perilaku posesif yang kini kerap dianggap sebagai bukti cinta dan perhatian pasangan.
Melalui pendekatan pragmatik kritis, Farid menganalisis makna tersirat di balik berbagai konten TikTok yang menampilkan hubungan romantis. Penelitian ini berupaya menjelaskan bagaimana konstruksi makna tersebut terbentuk dan mengapa sebagian pengguna media sosial menganggap perilaku toxic sebagai sesuatu yang wajar bahkan ideal dalam hubungan.
Farid mengungkapkan rasa syukurnya atas prestasi yang berhasil diraih. “Alhamdulillah, saya sangat senang dan bangga bisa meraih penghargaan ini. Di tengah berbagai kesibukan yang sedang dijalani, saya masih diberikan kesempatan untuk berprestasi dan mendapatkan juara dalam kompetisi ini,” ujarnya.
Ia berpesan, “Cobalah semua kesempatan yang ada. Kalaupun gagal, setidaknya itu bisa menjadi pembelajaran. Namun jika berhasil, pencapaian tersebut dapat menjadi motivasi untuk terus berkembang dan meraih prestasi yang lebih baik lagi,” tuturnya.
Melalui penelitian ini, Farid berharap masyarakat, khususnya generasi muda, dapat lebih kritis dalam memahami konten media sosial serta tidak mudah menormalisasi perilaku yang berpotensi merugikan dalam sebuah hubungan. Penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa kajian bahasa dan budaya memiliki peran penting dalam membaca serta mengkritisi fenomena sosial yang berkembang di era digital. (Mawar)
