Habiburrahman: Sastra Bagian dari Pertarungan Ide

39
Habiburrahman El Shirazy, Lc., Pg.D., (tengah) saat mengisi Kenduri Sastra #1 pada 12 Maret 2020 di Masjid Islamic Centre UAD.

Habiburrahman El Shirazy, Lc., Pg.D., atau biasa disapa Kang Abik, hadir ke Universitas Ahmad Dahlan (UAD) untuk menjadi pemateri dalam acara Kenduri Sastra #1 yang diadakan oleh Himpunan Mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia. Acara tersebut merupakan bincang sastra dengan mengangkat tema “Sastra Religius di Era Disrupsi”. Kang Abik tidak hanya menganggap acara ini sebagai bincang sastra, karena ia memaknai sebagai i’tikaf sehingga bernilai pahala.

“Disruptif berarti membongkar yang lama-lama dan inovatif artinya memperkenalkan sesuatu yang baru. Oleh sebab itu, pada era disrupsi harus ada inovasi dan kreativitas yang lebih agar sastra tidak ditelan zaman. Sastra juga bagian dari pertarungan ide. Hanya ada dua pilihan, yaitu memberi ide pada khalayak atau memakai ide orang lain. Agar bisa memberi ide, harus kreatif dan inovatif. Makanya, sastra religius atau islami di era disrupsi mendapatkan tantangan yang luar biasa,” ujarnya.

Tantangan untuk penulis yakni harus lebih berinovasi dan berkreativitas. Kalau masih menyampaikan sastra religius dengan cara yang lama, dikhawatirkan akan tertinggal atau tergerus. Selain itu juga harus mengikuti perkembangan teknologi yang ada. Penulis dituntut menghasilkan sastra yang berkualitas dan menyampaikan karyanya dengan cara yang unik.

Masih menurut Kang Abik, sastra yaitu bagian dari keindahan. Sementara bahasa yang indah itulah sastra. Keindahan adalah bagian dari agama Islam. Ada juga Hadisnya yang berbunyi, “Allah itu indah dan menyukai keindahan”. Islam itu indah dan disampaikan dengan cara yang indah. Artinya, sastra bagian dari roh Islam. Sejak lama, saat Al-Qur’an diturunkan merupakan peristiwa yang sastrawi. Istimewanya, dalam Islam diajarkan keseimbangan isi dan keindahan. Kalau isi saja tanpa memperhatikan keindahan maka akan menjadi garing.

Jika seseorang mampu memahami sastra dengan benar, pasti akan menemukan kebahagiaan dan keindahan. Karena sejatinya, mempelajari sastra ialah suatu bagian dari menuntut ilmu yang bernilai ibadah. Ia berpesan, jangan pernah lepas dari tolabul ngilmi, sebagai bentuk tindakan mengikuti jejak para ulama. Bahkan ia menegaskan bahwa ibadah dan aktivitas paling enak adalah mencari ilmu. Apalagi jika niat benar karena Allah, maka langkahnya menuju surga akan dipermudah.

Kang Abik juga membahas sebuah Hadis yang intinya menyuruh Hasan bin Sabid untuk mengeluarkan syair di hadapan orang-orang kafir. Ketika Hasan menyampaikan syair-syairnya untuk membela Allah dan Rasulnya, maka Jibril bersamanya. Dari Hadis tersebut, bisa dijadikan sebuah motivasi Kang Abik hingga bisa menulis novel Ayat-Ayat Cinta, Ketika Cinta Bertasbih, dan Bumi Cinta, sebagai motivasi supaya bersemangat menyebarkan kebaikan-kebaikan di atas muka bumi. (Dew)