Seminar Pra Muktamar Muhammadiyah Ke-46 di UAD Menghadirkan H.M. Jusuf Kalla

0
285

Jusuf Kalla dalam seminar pra-muktamar muhammadiyah di UAD YogyakartaSabtu (06/02/10) kemarin Seminar Pra Muktamar Muhammadiyah  Ke-46 diselenggarakan di Auditorium Kampus I Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta, Indonesia Jl. Kapas No. 9 Semaki Yogyakarta. Salah satu dari rangkaian Seminar Pra Muktamar ini, mengambil tema : Revitalisasi Gerakan Muhammadiyah Bidang Ekonomi dan Pemberdayaan Masyarakat. Pada kesempatan seminar ini, dihadirkan mantan Wakil Presiden RI, Drs. H. Muhammad Jusuf Kalla.

Seminar Pra Muktamar ini dibuka secara langsung oleh Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof. Dr. Dien Syamsuddin. Dalam sambutannya beliau menyampaikan bahwa perlu dipahami masuknya Islam ke Indonesia adalah melalui perdagangan. Muhammadiyah pernah memiliki sentral-sentral pusat perdagangan dan perekonomian. Muhammadiyah merupakan suatu organisasi yang sangat didukung oleh masyarakat Islam yang terdiri dari kaum pedagang. Maka dari itu Perekonomian harus selalu menjadi bidang penting dalam mengembangkan perekonomian rakyat kecil, hal itu harus menjadi perhatian khusus bagi Muhammadiyah dalam memasuki Muktamar Muhammadiyah se-Abad.

Mantan Wakil Presiden Drs. H. M. Jusuf Kalla dalam pidatonya menyampaikan bahwa awal niat dari tujuan utama Muhammadiyah adalah bagaimana memajukan umat, kemajuan umat itu tidak lepas dari kemajuan ekonomi. Sama halnya dengan suatu Negara bahwa kemajuan bangsa itu tidak lepas dari kemajuan ekonomi atau dapat dilihat dari kemajuan perkembangan ekonominya. Suatu Negara akan menjadi tolak ukur kemajuannya. Secara sederhana, bukan dilihat dari banyaknya pemimpin, banyak rakyatnya, dan banyak partainya, tapi diukur dari bagaimana perkembangan ekonominya.

“Ukuran-ukuran kemajuan ekonomi pada Muhammadiyah itu diukur dari kemandirian, dan diukur dalam membiasakan infak, selalu berhubungan dengan kemampuan dan kebutuhan masyarakat, itu berarti Muhammadiyah sudah mempuyai suatu pendekatan yang begitu bagus, hanya tinggal bagaimana menerapkan esensi untuk memajukan umat, yaitu dengan cara melihat dari kemajuan ekonomi, dalam dunia  perekonomian dipengaruhi dengan tiga hal yaitu: kebijakan Negara, upaya masyarakat, dan lingkungan di luarnya yaitu lingkungan eksternalnya. Marilah kita memberikan motifasi dan memfasilitasi pada perkembangan ekonomi di dalam Muhammadiyah, karena dengan demikian kemajuan umat yang diharapkan akan bisa tercapai”, tegas beliau. (Sbwh).

Jusuf Kalla dalam seminar pra-muktamar muhammadiyah di UAD YogyakartaSabtu (06/02/10) kemarin Seminar Pra Muktamar Muhammadiyah  Ke-46 diselenggarakan di Auditorium Kampus I Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta, Indonesia Jl. Kapas No. 9 Semaki Yogyakarta. Salah satu dari rangkaian Seminar Pra Muktamar ini, mengambil tema : Revitalisasi Gerakan Muhammadiyah Bidang Ekonomi dan Pemberdayaan Masyarakat. Pada kesempatan seminar ini, dihadirkan mantan Wakil Presiden RI, Drs. H. Muhammad Jusuf Kalla.

Seminar Pra Muktamar ini dibuka secara langsung oleh Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof. Dr. Dien Syamsuddin. Dalam sambutannya beliau menyampaikan bahwa perlu dipahami masuknya Islam ke Indonesia adalah melalui perdagangan. Muhammadiyah pernah memiliki sentral-sentral pusat perdagangan dan perekonomian. Muhammadiyah merupakan suatu organisasi yang sangat didukung oleh masyarakat Islam yang terdiri dari kaum pedagang. Maka dari itu Perekonomian harus selalu menjadi bidang penting dalam mengembangkan perekonomian rakyat kecil, hal itu harus menjadi perhatian khusus bagi Muhammadiyah dalam memasuki Muktamar Muhammadiyah se-Abad.

Mantan Wakil Presiden Drs. H. M. Jusuf Kalla dalam pidatonya menyampaikan bahwa awal niat dari tujuan utama Muhammadiyah adalah bagaimana memajukan umat, kemajuan umat itu tidak lepas dari kemajuan ekonomi. Sama halnya dengan suatu Negara bahwa kemajuan bangsa itu tidak lepas dari kemajuan ekonomi atau dapat dilihat dari kemajuan perkembangan ekonominya. Suatu Negara akan menjadi tolak ukur kemajuannya. Secara sederhana, bukan dilihat dari banyaknya pemimpin, banyak rakyatnya, dan banyak partainya, tapi diukur dari bagaimana perkembangan ekonominya.

“Ukuran-ukuran kemajuan ekonomi pada Muhammadiyah itu diukur dari kemandirian, dan diukur dalam membiasakan infak, selalu berhubungan dengan kemampuan dan kebutuhan masyarakat, itu berarti Muhammadiyah sudah mempuyai suatu pendekatan yang begitu bagus, hanya tinggal bagaimana menerapkan esensi untuk memajukan umat, yaitu dengan cara melihat dari kemajuan ekonomi, dalam dunia  perekonomian dipengaruhi dengan tiga hal yaitu: kebijakan Negara, upaya masyarakat, dan lingkungan di luarnya yaitu lingkungan eksternalnya. Marilah kita memberikan motifasi dan memfasilitasi pada perkembangan ekonomi di dalam Muhammadiyah, karena dengan demikian kemajuan umat yang diharapkan akan bisa tercapai”, tegas beliau. (Sbwh).