Self-Regulation Skill sebagai Modal Mental Mahasiswa Tangguh

Dr. Dewi Ekowati, M.Psi. pemateri pengajian bulanan mahasiswa FKIP Universitas Ahmad Dahlan (UAD) (Foto. Mawar)
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Ahmad Dahlan (UAD), kembali menggelar Pengajian Bulanan Mahasiswa edisi #7. Kajian kali ini mengangkat tema Self-Regulation Skill sebagai Modal Mental Mahasiswa Tangguh. Dalam sambutannya, Koordinator Tim AIK FKIP UAD, Dwi Astuti, S.Pd.Si., M.Pd., menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya kegiatan rutin tersebut.
“Alhamdulillah, pengajian ini bukan sekadar agenda formal, tetapi ruang bertumbuh bagi mahasiswa untuk menguatkan mental dan spiritualitasnya di tengah tantangan zaman,” ujarnya. Ia juga mengapresiasi kerja keras tim pendamping AIK serta semangat mahasiswa yang tetap hadir meskipun cuaca kurang bersahabat dan agenda perkuliahan sedang padat.
Pemateri, Dr. Dewi Ekowati, M.Psi., menekankan bahwa membangun vibes positif merupakan bagian dari self-regulation. “Regulasi diri bukan proses instan. Ia adalah keterampilan yang terus dilatih sepanjang hidup, terutama ketika kita berada dalam tekanan,” jelasnya. Mahasiswa sebagai generasi yang hidup di tengah dinamika akademik dan sosial dituntut memiliki ketahanan mental serta kemampuan mengelola emosi secara bijak.
Dalam pemaparannya, dijelaskan bahwa kesehatan mental berkaitan erat dengan kemampuan mengelola stres, kecemasan, overthinking, dan berbagai tekanan hidup lainnya. Tantangan menuju kedewasaan memang tidak ringan, tetapi setiap ujian selalu disertai kemudahan.
Berpikir positif (husnuzan), bersyukur atas ujian, serta memahami bahwa setiap kesulitan membawa peluang peningkatan derajat menjadi landasan penting dalam membangun mental yang sehat. Regulasi emosi membantu mahasiswa tetap rasional dalam mengambil keputusan dan tidak larut dalam tekanan.
Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa regulasi emosi dapat dilakukan melalui dua cara, yaitu cognitive reappraisal (mengubah cara pandang terhadap situasi) dan suppression (menekan respons emosi). Keduanya dapat digunakan sesuai konteks. Mengubah persepsi negatif menjadi sudut pandang yang lebih konstruktif dapat meredakan kecemasan, sementara menahan respons emosional dapat mencegah konflik yang lebih besar. Namun, penekanan emosi tanpa penyelesaian masalah berpotensi menjadi beban terpendam, sehingga diperlukan kesadaran untuk mengelolanya secara sehat.
Ia menguatkan dengan perspektif Islam, bahwa pengelolaan emosi juga dicontohkan melalui kisah-kisah para nabi dan tokoh teladan, seperti menangis sebagai bentuk pelepasan emosi, menyibukkan diri dengan aktivitas positif, berdiam diri untuk introspeksi, serta menahan ucapan saat marah. Kunci utamanya adalah mengambil keputusan dalam keadaan tenang dan memberi jeda sebelum menilai orang lain. Dengan demikian, mahasiswa diharapkan mampu menjadi pribadi yang matang, tenang, dan tangguh dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan. (Mawar)









