• TERKINI
  • UAD BERDAMPAK
  • PRESTASI
  • FEATURE
  • OPINI
  • MEDIA
  • KIRIM BERITA
  • Menu
News Portal of Universitas Ahmad Dahlan

Posts

Belajar Tak Pernah Usai

13/08/2026/in Feature /by Ard

Septia Amalia, lulusan terbaik Prodi PVTE Universitas Ahmad Dahlan (UAD) pada Wisuda Periode IV Tahun 2026 (Foto. Septia)

Bagi Septia Amalia, keberhasilan bukanlah garis akhir yang menandai selesainya sebuah perjalanan. Sebaliknya, setiap pencapaian adalah awal untuk terus belajar, bertumbuh, dan menghadirkan manfaat yang lebih luas bagi orang lain.

Lulusan Terbaik Program Studi Pendidikan Vokasional Teknik Elektronika, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,86 ini mengaku tidak pernah memandang predikat yang diraihnya sebagai tujuan akhir.

Selama menempuh pendidikan, Septia tidak hanya berfokus pada pencapaian akademik. Ia juga aktif membangun pengalaman yang memperkaya kemampuan diri di luar ruang kuliah.

Di antara berbagai pengalaman tersebut, momen yang paling membekas justru bukan ketika menerima penghargaan, melainkan saat dipercaya menjadi narasumber dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat dan program Dahlan Muda Menginspirasi. Kesempatan itu memberinya ruang untuk berbagi pengetahuan sekaligus belajar menyampaikan gagasan di hadapan banyak orang.

Bagi Septia, kemampuan berbicara bukan sekadar keterampilan komunikasi, tetapi juga jembatan agar ilmu yang dimiliki dapat menjangkau lebih banyak orang.

Semangatnya untuk terus berkembang lahir dari keinginan sederhana, yakni membanggakan kedua orang tua dan memanfaatkan setiap kesempatan belajar sebaik mungkin.

Ia percaya bahwa setiap usaha yang dilakukan dengan sungguh-sungguh akan menemukan hasilnya pada waktu yang tepat. Di saat yang sama, ia juga mempersiapkan diri agar memiliki kompetensi yang mampu bersaing di dunia kerja setelah lulus.

Perjalanan menuju titik tersebut tentu tidak selalu mudah. Masa perkuliahan mempertemukannya dengan berbagai tanggung jawab yang datang secara bersamaan. Di satu sisi ia harus menyelesaikan tugas akhir, sementara di sisi lain ia tetap ingin aktif dalam organisasi, mengikuti pelatihan, dan mengembangkan kemampuan diri di luar kelas.

Alih-alih melihat kesibukan sebagai beban, Septia menjadikannya ruang belajar untuk mengenali kapasitas dirinya. Ia belajar bahwa setiap kesempatan memiliki nilai yang berbeda, dan setiap pengalaman selalu membawa pelajaran baru.

Baginya, proses bertumbuh bukan hanya tentang menyelesaikan banyak hal dalam waktu bersamaan, tetapi tentang keberanian untuk terus membuka diri terhadap pengalaman yang dapat membentuk karakter dan kompetensi.

Dalam menjaga prestasi, Septia memilih untuk membangun kebiasaan belajar secara bertahap. Ia tidak hanya berusaha memahami materi perkuliahan, tetapi juga aktif mengikuti berbagai pelatihan dan organisasi sebagai ruang untuk mengembangkan kemampuan nonakademik.

Menurutnya, konsistensi dan disiplin menjadi fondasi penting agar seseorang mampu terus berkembang tanpa kehilangan arah.

Di balik seluruh pencapaian tersebut, Septia menyadari bahwa keberhasilannya tidak diraih seorang diri. Ia menyampaikan rasa terima kasih kepada kedua orang tuanya yang tidak pernah berhenti mendoakan dan memberikan dukungan dalam setiap langkah.

Ia juga mengapresiasi para dosen pembimbing yang senantiasa memberikan arahan selama proses perkuliahan maupun penyelesaian tugas akhir, serta teman-teman yang selalu menghadirkan semangat untuk terus berkembang.

Selepas menyelesaikan pendidikan sarjana, Septia ingin memulai karier di bidang teknologi informasi. Ia berharap dapat terus meningkatkan kompetensi melalui pengalaman kerja, pelatihan, serta berbagai sertifikasi profesional.

Dalam jangka panjang, ia bercita-cita menjadi seorang profesional yang mampu berkontribusi dalam pengembangan teknologi yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Ia berpesan, “Setiap pengalaman akan menjadi bekal yang berharga di masa depan,” ucapnya.

Di akhir perjalanan studinya, Septia menyadari bahwa pelajaran hidup yang paling berharga bukan hanya tentang keberhasilan, melainkan tentang kesediaan untuk terus belajar.

Ia percaya bahwa kerja keras, disiplin, dan konsistensi memang penting, tetapi yang membuat seseorang terus bertumbuh adalah kemauan untuk tidak berhenti memperbaiki diri. Sebab, setiap tantangan selalu membawa kesempatan baru. (Mawar)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Septia-Amalia-lulusan-terbaik-Prodi-PVTE-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-pada-Wisuda-Periode-IV-Tahun-2026-Foto.-Septia.jpg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2026-08-13 09:20:572026-08-13 09:20:57Belajar Tak Pernah Usai

Dari Titik yang Tertinggal, Fikrotus Shofiyah Menemukan Jalannya

13/08/2026/in Feature /by Ard

Fikrotus Shofiyah, salah satu wisudawan terbaik Universitas Ahmad Dahlan (UAD) pada Wisuda Periode IV Tahun 2026 (Foto. Fikrotus)

Ada perjalanan yang dimulai dari garis yang berbeda. Ada pula mimpi yang tumbuh di tengah keraguan. Bagi Fikrotus Shofiyah, perjalanan itu bukan sekadar tentang menyelesaikan masa studi, melainkan tentang membuktikan bahwa keterbatasan tidak pernah menjadi alasan untuk berhenti melangkah.

Lulusan Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,88 ini mengaku tidak pernah membayangkan dirinya akan menjadi salah satu lulusan terbaik. “Tidak pernah terbayang menjadi salah satu bagian dari wisudawan terbaik. Saya sangat bersyukur. Rasanya Tuhan memberikan bonus dari perjalanan singkat saya selama menempuh pendidikan,” tuturnya.

Di balik rasa syukur tersebut, tersimpan perjalanan yang dibangun melalui keberanian untuk terus belajar dan berkembang.

Selama menjadi mahasiswa, Fikrotus berhasil meraih Juara II Lomba Penulisan Cerpen Pekan Seni Mahasiswa Daerah (Peksimida), lolos pendanaan Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPKO) dari Kemendikbudristek, lolos pendanaan Program Kreativitas Mahasiswa (PKM), serta meraih Harapan II Lomba Desain Poster tingkat Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah (PTMA).

Namun, pengalaman yang paling membekas baginya adalah ketika berhasil menjadi semifinalis kompetisi kepenulisan tingkat internasional. “Bagi saya, yang paling berharga bukan hanya hasilnya, tetapi prosesnya. Dari sana saya belajar bahwa ternyata saya bisa, selama saya mau terus berkembang,” jelasnya.

Semangat itu lahir dari perjalanan hidup yang tidak selalu berjalan mulus. Fikrotus berasal dari lembaga pendidikan berbasis tahfiz dengan ijazah kesetaraan Paket C. Saat hendak melanjutkan pendidikan, ia pernah dihadapkan pada kenyataan bahwa ijazah tersebut tidak dapat digunakan untuk mendaftar beasiswa tahfiz di sejumlah perguruan tinggi.

Saat itu, ia merasa kecewa. Namun, rasa kecewa tersebut perlahan berubah menjadi tekad. “Saya ingin membuktikan bahwa meskipun berasal dari pendidikan dengan ijazah Paket C, saya tetap bisa kuliah dan menjadi mahasiswa yang aktif di berbagai bidang,” ucapnya.

Tekad itu membawanya melangkah ke Universitas Ahmad Dahlan. Namun, perjuangan yang sesungguhnya justru dimulai setelah menjadi mahasiswa.

Tahun pertama menjadi fase yang paling berat. Latar belakang pendidikan yang lebih berfokus pada tahfiz membuatnya harus bekerja lebih keras untuk mengejar materi perkuliahan. Banyak konsep dasar yang belum pernah ia pelajari sebelumnya. Ia juga harus membiasakan diri dengan penggunaan bahasa asing yang menjadi bagian penting dalam proses pembelajaran di program studinya.

Sementara teman-temannya telah memiliki bekal dari sekolah umum, Fikrotus memilih mengejar ketertinggalannya sedikit demi sedikit. Ia percaya bahwa setiap halaman yang tertinggal masih bisa dikejar selama tidak berhenti membaca perjalanan.

Perjuangan itu tidak hanya hadir di ruang kelas. Di luar perkuliahan, ia juga harus menghadapi keterbatasan ekonomi.

Dengan keyakinan bahwa pendidikan adalah jalan yang harus diperjuangkan, ia tetap melanjutkan kuliah meski tanpa beasiswa. Ada masa ketika ia kesulitan membayar Uang Kuliah Tunggal (UKT), mengajukan dispensasi pembayaran agar tetap dapat mengikuti perkuliahan, bahkan hampir tidak bisa mengikuti ujian. Ia masih mengingat perjalanan menuju kampus dengan mengayuh sepeda ontel milik asrama di bawah hujan demi mengurus administrasi dispensasi. Ia juga pernah mencoba membangun usaha untuk membantu biaya kuliah, meskipun pilihan itu akhirnya tidak berjalan sesuai harapan.

Namun, setiap kegagalan tidak pernah ia anggap sebagai akhir perjalanan. “Saya belajar mengambil hikmah dari setiap keadaan. Dari situ saya mulai membuat target-target yang nyata untuk diri sendiri. Saya ingin membuktikan bahwa ternyata saya bisa,” tandasnya.

Keyakinan tersebut terus dijaga berkat doa dan dukungan dari orang-orang terdekat, yaitu orang tuanya, Chusnul Mubin dan Anariatin, sebagai sumber kekuatan terbesar yang selalu membuatnya mampu bangkit setiap kali ingin menyerah.

Ia juga menyampaikan terima kasih kepada keluarga besar yang terus memberikan semangat, serta Dekan Fakultas, Sayuti, yang banyak memberikan arahan, nasihat, dan pengalaman berharga selama masa perkuliahan.

Dalam menjalani berbagai aktivitas, Fikrotus selalu membuka diri terhadap pengalaman baru. Ia senang mencoba berbagai kesempatan untuk mengenal potensi dirinya, tetapi tetap menjadikan akademik sebagai prioritas utama. “Saya memilih mempersempit waktu bermain untuk hal-hal yang lebih bermanfaat dan bisa membantu saya berkembang,” tambahnya.

Fikrotus bercita-cita melanjutkan pendidikan magister melalui beasiswa di negara maju. Mimpinya tidak berhenti pada gelar akademik. Ia ingin berkontribusi menciptakan lingkungan pendidikan yang sehat dengan menanamkan adab dan pembentukan karakter sejak usia dini. Baginya, setiap ilmu baru merupakan bekal untuk mewujudkan cita-cita tersebut.

Selanjutnya, ia berharap kampus terus menjadi ruang yang memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk berkembang dan menghadirkan manfaat bagi masyarakat. Sementara kepada generasi berikutnya, ia berpesan agar tidak pernah berhenti berbuat baik di mana pun berada.

Pelajaran hidup yang paling berharga yang ia bawa dari perjalanan ini adalah tentang kerja keras. Menurutnya, sejauh apa pun seseorang merasa tertinggal, selalu ada kesempatan untuk mengejarnya selama memiliki keyakinan dan kemauan untuk terus berusaha. “Rasa minder dan tidak percaya diri hanya akan menghalangi kita mencapai tujuan. Saya percaya, selama mau bekerja keras, tidak ada perjalanan yang benar-benar terlambat,” tutupnya.

Perjalanan Fikrotus Shofiyah menjadi pengingat bahwa setiap orang memulai dari titik yang berbeda. Namun, bukan dari mana seseorang memulai yang menentukan akhirnya, melainkan keberanian untuk terus melangkah, meski jalan yang ditempuh tidak selalu mudah. (Mawar)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Fikrotus-Shofiyah-salah-satu-wisudawan-terbaik-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-pada-Wisuda-Periode-IV-Tahun-2026-Foto.-Fikrotus.jpg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2026-08-13 09:05:442026-08-13 09:05:44Dari Titik yang Tertinggal, Fikrotus Shofiyah Menemukan Jalannya

Rahasia di Balik Rentetan Prestasi Dhita Pratama Putra, Wisudawan Berprestasi UAD

10/08/2026/in Feature /by Ard

Dhita Pratama Putra wisudawan berprestasi bidang akademik dan nonakademik periode IV tahun 2026 Universitas Ahmad Dahlan (UAD) (Foto. Dhita).jpg

Di balik toga yang dikenakan pada hari wisuda, selalu ada cerita yang tidak tertulis dalam selembar transkrip nilai. Ada langkah-langkah panjang yang ditempuh dalam diam, ada air mata yang tidak sempat disaksikan siapa pun, dan ada mimpi yang terus dijaga agar tidak padam meski berkali-kali diterpa keadaan.

Bagi Dhita Pratama Putra, S.Si., lulusan Program Studi Fisika Fakultas Sains dan Teknologi Terapan Universitas Ahmad Dahlan (UAD), momen dinobatkan sebagai Wisudawan Berprestasi Bidang Akademik dan Nonakademik UAD Periode IV Tahun 2026 bukan sekadar penghargaan atas pencapaian. Gelar itu menjadi penanda bahwa setiap perjuangan, sekecil apa pun, selalu menemukan jalannya untuk dihargai.

Dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,78, Dhita tidak hanya berhasil menyelesaikan studinya dengan baik, tetapi juga menorehkan sekitar 130 prestasi di tingkat provinsi, nasional, hingga internasional. Namun, bagi dirinya, angka bukanlah inti dari perjalanan tersebut.

“Alhamdulillah, saya bangga sekali. Apalagi bisa mendapatkan penghargaan di bidang akademik sekaligus nonakademik. Semua itu bukan sesuatu yang datang begitu saja. Ada banyak usaha, waktu, dan pengorbanan yang harus dijalani,” tuturnya.

Di balik sederet penghargaan itu, tersimpan hari-hari yang dipenuhi kesibukan. Sejak semester dua, Dhita telah bekerja sambil menjalani perkuliahan. Ia juga aktif dalam organisasi, bahkan dipercaya memimpin Himpunan Mahasiswa Fisika dan tergabung dalam Study Club Instrumentasi. Selama menjadi mahasiswa, ia terlibat dalam belasan organisasi dan berbagai kepanitiaan, sembari tetap konsisten mengikuti kompetisi.

Menjaga keseimbangan antara kuliah, pekerjaan, organisasi, penelitian, hingga perlombaan menjadi tantangan yang terus menguji keteguhannya. Namun, ia percaya bahwa mimpi tidak pernah tumbuh dari zona yang nyaman.

Salah satu pencapaian yang paling membekas dalam ingatannya adalah saat meraih Juara II Nasional Pemilihan Mahasiswa Berprestasi (Pilmapres) Tingkat PTMA se-Indonesia. Kompetisi tersebut menurutnya menjadi pengalaman paling menantang karena tidak hanya menilai prestasi akademik, tetapi juga karya unggulan, capaian nonakademik, hingga kemampuan diri secara menyeluruh.

Tak hanya itu, Dhita juga berhasil menjadi Finalis Pilmapres Nasional yang diselenggarakan Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas) pada tahun 2023. Pencapaian tersebut memiliki makna tersendiri karena mengakhiri penantian panjang UAD yang selama tujuh hingga delapan tahun belum berhasil meloloskan wakilnya ke tingkat nasional.

Prestasi internasional pun turut menghiasi perjalanannya melalui ajang Indonesia Inventors Day (IID) 2022 dan World Young Inventors Exhibition (WYIE) 2022 yang mempertemukan inovator dari berbagai negara. Menariknya, penelitian yang ia bawa dalam kompetisi tersebut kemudian berkembang menjadi topik tugas akhirnya.

Meski demikian, motivasi awal Dhita mengikuti kompetisi ternyata sangat sederhana. Ia mengaku, pada mulanya perlombaan menjadi salah satu cara untuk memperoleh penghasilan tambahan untuk membantu meringankan beban keluarga sekaligus membiayai berbagai kebutuhan. Namun seiring waktu, kompetisi berubah menjadi ruang belajar yang mempertemukannya dengan banyak pengalaman, jejaring, dan kesempatan berkembang. “Bukan hanya tentang menang. Dari setiap lomba saya belajar memperbaiki diri. Ada yang gagal, ada yang berhasil, tetapi semuanya membuat saya bertumbuh,” ujarnya.

Lebih jauh, ia ingin membuktikan bahwa latar belakang bukanlah batas bagi seseorang untuk bermimpi. Sebagai sarjana pertama di keluarga, anak pertama, sekaligus cucu pertama, Dhita merasa memiliki tanggung jawab moral untuk membuka jalan bagi adik-adik dan keluarganya. Ia juga ingin menjadi bukti bahwa anak desa mampu bersaing di tingkat nasional maupun internasional.

Namun perjalanan itu tidak selalu berjalan mulus. Di tengah padatnya aktivitas, Dhita pernah berjuang melawan gangguan kesehatan mental yang harus ia hadapi selama beberapa tahun. Ia baru menyelesaikan masa pengobatan pada awal tahun 2026. Masa-masa tersebut menjadi ujian yang jauh lebih berat dibandingkan perlombaan mana pun yang pernah diikutinya.

Alih-alih menyerah, pengalaman itu justru membentuk cara pandangnya terhadap kehidupan. “Saya ingin menunjukkan bahwa seseorang yang lahir dari keluarga broken home juga bisa berprestasi. Anak desa bisa berprestasi. Orang yang pernah mengalami gangguan kesehatan mental juga tetap bisa berkarya dan membanggakan orang-orang di sekitarnya,” ungkapnya.

Bagi Dhita, keberhasilan tidak pernah hadir karena keberuntungan semata. Sejak menjadi mahasiswa baru, ia telah menyusun peta perjalanan yang ingin ditempuh setiap semester. Bahkan, target mengikuti Pilmapres telah ia tuliskan sejak semester pertama setelah melihat informasi kompetisi tersebut.

Ia juga menetapkan target setidaknya mengikuti satu kompetisi setiap bulan. Ketika gagal, ia memilih menjadikan kegagalan sebagai bahan evaluasi, bukan alasan untuk berhenti. Selain itu, ia aktif berdiskusi dengan dosen dan memanfaatkan berbagai fasilitas yang disediakan kampus sebagai bagian dari proses belajarnya.

Menurutnya, prestasi bukan hanya tentang medali atau gelar. “Prestasi adalah bukti dari usaha yang dilakukan secara konsisten. Dulu saya mengira prestasi hanya soal nilai atau penghargaan. Sekarang saya sadar, prestasi juga berarti mampu bertahan, terus belajar, tidak menyerah pada keadaan, dan menjadikan ilmu sebagai jalan untuk memberi manfaat bagi orang lain.”

Pemahaman itu pula yang menjadi bekal setelah menyelesaikan studi sarjananya. Dhita berencana melanjutkan karier profesional sembari menempuh pendidikan Magister Ilmu Komunikasi di Universitas Bakrie melalui jalur beasiswa. Pilihan bidang tersebut lahir dari pengalaman selama kuliah yang membawanya berkecimpung di dunia marketing dan communications.

Baginya, perjalanan akademik tidak selalu harus berjalan lurus sesuai jurusan yang ditempuh. Justru pengalaman selama menjadi mahasiswa membantunya menemukan ruang pengabdian yang paling sesuai dengan dirinya.

Dhita menyampaikan satu pelajaran yang akan selalu ia pegang. “Hidup tidak selalu berjalan sesuai rencana. Keberhasilan bukan ditentukan oleh seberapa cepat kita sampai, tetapi seberapa kuat kita tetap melangkah ketika keadaan tidak berjalan sesuai harapan. Setiap orang memiliki garis waktunya masing-masing.”

Kalimat itu mungkin menjadi ringkasan paling sederhana dari seluruh perjalanan Dhita. Sebab pada akhirnya, prestasi bukan hanya tentang berdiri di atas podium. Prestasi adalah keberanian untuk terus melangkah, bahkan ketika hidup berkali-kali menguji keteguhan hati. (Mawar)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Dhita-Pratama-Putra-wisudawan-berprestasi-bidang-akademik-dan-nonakademik-periode-IV-tahun-2026-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-Foto.-Dhita.jpg.jpeg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2026-08-10 15:06:132026-08-10 15:06:13Rahasia di Balik Rentetan Prestasi Dhita Pratama Putra, Wisudawan Berprestasi UAD

Perjalanan Arivansi Mengubah Kegagalan Menjadi Ruang Bertumbuh

06/08/2026/in Feature /by Ard

Arivansi Ringu Kodi wisudawan terbaik FSBK Universitas Ahmad Dahlan (UAD) (Foto. Arivansi)

Rencana awal tidak selalu berjalan selaras dengan kenyataan. Kegagalan di masa lalu tidak menyurutkan langkah Arivansi Ringu Kodi untuk mengukir prestasi di perguruan tinggi. Bagi Arivan, alumnus Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Sastra, Budaya, dan Komunikasi (FSBK) angkatan 2022 Universitas Ahmad Dahlan (UAD), peraih predikat Wisudawan Terbaik FSBK UAD, perjalanan menuju bangku perkuliahan diawali dengan rentetan rasa kecewa. Sebelum melangkahkan kaki di UAD, ia harus menerima kenyataan pahit, yakni ditolak di lebih dari delapan Perguruan Tinggi Negeri (PTN) di Indonesia. Kehilangan kesempatan berkuliah di perguruan tinggi impian sempat mendatangkan rasa kecewa dan keraguan saat ia harus memulai masa studi di tempat yang awalnya tidak masuk dalam rencana.

Namun, seiring berjalannya waktu, sudut pandang Arivan mulai bergeser. Ia menyadari bahwa penolakan beruntun bukanlah akhir dari segalanya, melainkan sebuah titik balik. Daripada terus menyesali apa yang tidak berhasil didapatkan, ia memilih untuk bangkit dan memaksimalkan setiap peluang yang ada di depan mata.

“Saya berkata kepada diri sendiri bahwa saya sudah memulai perjalanan ini, sehingga saya harus memberikan yang terbaik,” ucapnya. “saya memiliki prinsip, “Finish what you have started”. Ketika saya memutuskan untuk memulai sesuatu, saya harus bertanggung jawab menyelesaikannya. Saya juga selalu mengingatkan diri sendiri, “Take all the opportunities that come to you”. Saya percaya setiap kesempatan adalah ruang untuk belajar, bertumbuh, dan mengembangkan diri. Kesempatan tidak selalu datang dua kali, sehingga saya berusaha untuk tidak pernah menyia-nyiakannya.” Imbuhnya.

Selama menjalani masa kuliah, Arivansi menjadikan lirik lagu “Mirrorball” karya Taylor Swift, “All I do is try, try, try,” sebagai motivasinya untuk terus berusaha. Baginya, kalimat sederhana itu secara tepat menggambarkan proses hampir empat tahun di perguruan tinggi. Tidak semua ajang kompetisi berhasil ia menangkan dan tidak semua usaha berjalan mulus sesuai harapan. Namun, keberanian untuk terus mencoba, belajar, dan memperbaiki diri secara konsisten menjadi kunci yang membentuk proses perkuliahannya.

Selama menempuh studi di UAD, berbagai tantangan hadir menguji ketahanannya. Salah satu proses adaptasi yang paling membekas adalah statusnya sebagai seorang mahasiswa beragama Kristen yang menempuh pendidikan di perguruan tinggi berbasis Islam Muhammadiyah. Pada awal masa perkuliahan, rasa canggung sempat muncul karena ia terbiasa berada di lingkungan yang mayoritas beragama Kristen. Kendati demikian, kekhawatiran tersebut sirna seiring berjalannya waktu. Arivansi justru menemukan ekosistem kampus yang sangat terbuka dan inklusif. Teman-temannya yang beragama Islam menerima dan merangkul kedatangannya dengan sangat baik, sehingga proses adaptasi sosial berjalan dengan lancar.

Sebagai pemeluk agama Kristen yang taat, Arivansi mengandalkan iman dan keyakinannya kepada Tuhan dalam menjalani setiap tahapan studi. Salah satu ayat Kitab Suci yang senantiasa menjadi pegangan hidupnya adalah Amsal 3:5 yang berbunyi,“Percayalah kepada Tuhan dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri.” Ayat ini menjadi pengingat baginya bahwa pertolongan Tuhan lah yang membuatnya tetap bertahan dan kuat melangkah hingga garis akhir.

Tantangan lainnya datang dari pengelolaan waktu. Di tengah padatnya jadwal perkuliahan, ia harus membagi energi untuk aktif di organisasi, mengikuti berbagai kompetisi, serta menyelesaikan berbagai tanggung jawab lainnya. Ketika rasa lelah atau burnout melanda di tengah tekanan yang bertubi-tubi, Arivansi memilih untuk tidak memaksakan diri. Mengambil jeda dan beristirahat sejenak menjadi caranya untuk memulihkan pikiran, sehingga ia bisa kembali bekerja dengan fokus yang lebih baik.

Komitmen untuk menyelesaikan apa yang telah dimulai akhirnya membuahkan hasil yang konkret. Mahasiswa FSBK ini tidak hanya berhasil menyabet predikat Wisudawan Terbaik Program Studi Ilmu Komunikasi UAD, tetapi juga dinobatkan sebagai Juara I Pemilihan Mahasiswa Berprestasi (Pilmapres) FSBK, serta menjadi Finalis Pilmapres di tingkat Universitas.

Di ranah kompetisi, jejak perjalanannya terentang luas. Arivansi berhasil meraih Juara I U-DARE 3.0 International Competition yang diselenggarakan oleh Universitas Syiah Kuala, Juara I International Presenter Ahmad Dahlan International Seminar, Juara II Ahmad Dahlan Youth Camp Competition, Juara II National Public Relations Campaign Competition Monalesa, serta terpilih menjadi delegasi UAD pada ajang National University Debating Championship (NUDC). Di samping itu, ia juga aktif berorganisasi sebagai Staf Khusus Kementerian Agama BEM UAD dan pengurus Divisi Public Relations Debating Community UAD.

Rangkaian prestasi ini tidak lepas dari perkuliahan di UAD yang dinilainya sangat kondusif. Kampus menyediakan ruang yang memadai bagi mahasiswa untuk mengasah potensi akademik maupun nonakademik. Peran para dosen, khususnya di Program Studi Ilmu Komunikasi, dirasakannya sangat besar. Dosen tidak hanya berperan mengajar di dalam kelas, tetapi juga memberikan arahan, motivasi, serta kepercayaan penuh bagi mahasiswa untuk mengeksplorasi kemampuan diri.

Pencapaian gelar Wisudawan Terbaik mendatangkan perasaan bahagia, bangga, sekaligus terharu bagi Arivansi. Baginya, capaian ini menjadi bukti bahwa perjuangan, kerja keras, dan pengorbanan selama masa studi tidak berlalu dalam sia-sia. Meski demikian, Arivansi menegaskan bahwa penghargaan tersebut bukan semata-mata milik pribadinya. Predikat wisudawan terbaik dimaknai sebagai bentuk rasa syukur atas hadirnya orang-orang yang senantiasa memberikan dukungan–orang tua, keluarga, dosen, sahabat, serta kawan-kawan yang membersamainya sepanjang proses studi.

“Jangan menunggu sampai merasa benar-benar siap, karena sering kali kita justru bertumbuh di dalam prosesnya. Gunakan masa kuliah bukan hanya untuk mengejar nilai, tetapi juga membangun karakter, memperluas pengalaman, dan mengembangkan kemampuan diri melalui organisasi maupun kompetisi,” pesannya.

Ia juga menekankan pentingnya untuk tidak membandingkan perjalanan pribadi dengan pencapaian orang lain. Fokus utama yang perlu dijaga adalah menjadi pribadi yang lebih baik dari hari kemarin, dengan keyakinan bahwa setiap usaha yang dilakukan secara sungguh-sungguh tidak akan pernah sia-sia. (Anove)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Arivansi-Ringu-Kodi-wisudawan-terbaik-FSBK-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-Foto.-Arivansi.jpg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2026-08-06 10:25:412026-08-06 10:25:41Perjalanan Arivansi Mengubah Kegagalan Menjadi Ruang Bertumbuh

Kupas Hadis hingga Cetak Modul Braille: Kisah Inspiratif Lulusan Terbaik FAI UAD

24/11/2025/in Terkini /by Ard

Tsulusiyah Apriliyananingrum, Wisudawati Terbaik Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) (Foto. Lusi)

Tsulusiyah Apriliyananingrum meraih predikat lulusan terbaik Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) pada Wisuda Periode I dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,88 dari Program Studi Ilmu Hadis. Mahasiswi yang akrab disapa Lusi ini menulis skripsi bertopik unik, yakni menelaah hadis-hadis yang dibahas para penceramah dalam Kajian Ahad Pagi di Masjid Islamic Center UAD.

Skripsi berjudul “Analisis Pemahaman Hadis oleh Penceramah dalam Kajian Ahad Pagi Mei 2024 di Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan” tersebut bertujuan memperjelas makna hadis yang kerap dipaparkan dalam ceramah. Salah satu pembahasannya adalah Hadis Sunan Ibn Mājah no. 3123 yang berisi peringatan keras bagi orang yang mampu tetapi tidak berkurban.

“Hadis ini menjadi teguran moral agar umat Islam tidak mengabaikan syiar penting seperti kurban,” jelas Lusi. Ia menambahkan bahwa ulama berbeda pendapat mengenai hukumnya, Abu Ḥanifah mewajibkan, sedangkan Syafi‘i memandangnya sebagai sunnah mu’akkadah. Dalam kajiannya, ia juga mengutip Ḥāsyiyah Sindi yang menjelaskan makna sa‘ah sebagai kelapangan harta dan memahami ancaman hadis tersebut secara simbolik. Selain itu, penceramah menggunakan hadis ini sebagai penguat pendapat bahwa kurban wajib bagi yang mampu.

Selain berkiprah secara akademik, Lusi juga aktif di berbagai organisasi kemahasiswaan. Ia pernah menjadi Kader IMM FAI UAD (2021–2022), Anggota Madrasatul Qur’ān LSO Akhilla BEM FAI UAD (2023), Koordinator Keanggotaan UKM Paduan Suara Mahasiswa Ahda Gitana (2024), Student Employment FAI UAD (2023), serta Jurnalis Bidang Humas dan Protokol (BHP) UAD selama dua tahun (2024–2025).

Dalam dunia paduan suara, ia turut menyumbang prestasi berupa Silver Medal pada Satya Dharma Gita Choir Festival (SDGCF) 2023 dan Silver Medal di Festival Seni Pertunjukan Indonesia (FSPI) UNY 2023. Tak hanya itu, Lusi juga pernah lolos pendanaan Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) 2023 bidang Pengabdian Masyarakat oleh Kemendikbudristek. Ia mengembangkan Modul Braille Trilingual Language sebagai alat bantu kosakata bagi siswa tunanetra di MTs LB/A Yaketunis. Modul tersebut memuat tiga bahasa yaitu Indonesia, Inggris, dan Arab, serta dilengkapi puzzle beam dan flash card yang dicetak dalam huruf Braille.

Dalam sambutannya pada pelepasan wisuda, Lusi menyampaikan pesan penuh harapan. “Pelepasan ini bukanlah akhir dari perjuangan, melainkan awal dari pengabdian yang sesungguhnya. Amanah ilmu yang telah kita peroleh di UAD harus kita wujudkan dalam bentuk kontribusi nyata bagi umat, bangsa, dan agama,” tuturnya.

Ia mengajak para wisudawan untuk terus menghidupkan nilai Islam berkemajuan. “Mari menjadi generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga berakhlak, berintegritas, dan bermanfaat bagi masyarakat. Semoga Allah selalu meridai setiap langkah kita dalam mengamalkan ilmu dan menebar kebermanfaatan,” tutupnya. (Lus)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Tsulusiyah-Apriliyananingrum-Wisudawati-Terbaik-Fakultas-Agama-Islam-FAI-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-Foto.-Lusi.jpg-1.jpg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2025-11-24 10:44:582025-11-24 10:44:58Kupas Hadis hingga Cetak Modul Braille: Kisah Inspiratif Lulusan Terbaik FAI UAD

Doa Ibu di balik Perjuangan Lathifah Apriana Putri, Wisudawan Berprestasi UAD 2025

10/11/2025/in Terkini /by Ard

Lathifah Apriana Putri, Wisudawati Berprestasi Universitas Ahmad Dahlan (UAD) (Foto. Lathifah)

Lathifah Apriana Putri, mahasiswa Program Studi (Prodi) Bisnis Jasa Makanan, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Ahmad Dahlan (UAD), menjadi salah satu wisudawan berprestasi yang menginspirasi banyak orang. Berasal dari keluarga sederhana, Lathifah tumbuh dengan tekad kuat untuk mengubah masa depan lewat pendidikan. Sebelum berkuliah, ia sempat bekerja sebagai buruh pabrik. Pengalaman itu menanamkan keyakinan bahwa pendidikan adalah jalan terbaik untuk memperbaiki kehidupan sekaligus memberi manfaat bagi sesama.

Akrab disapa Lathifah, ia kehilangan ayah sejak berusia 5 tahun. Hal itu menjadi ujian terbesar dalam hidupnya. Namun, sang ibu mengambil peran ganda sebagai sosok ayah sekaligus ibu yang penuh kasih dan perjuangan. “Beliau adalah motivasi terbesar saya. Saya ingin membalas pengorbanan ibu dan membuktikan bahwa saya layak mendapatkan kesempatan untuk kuliah,” ungkapnya.

Tak hanya itu, sosok almarhum ayah yang merupakan lulusan pendidikan (S.Pd.) juga memberi inspirasi tersendiri. Semangat ayahnya dalam dunia pendidikan menjadi api kecil yang terus menuntun langkahnya. Dengan tekad yang kuat, Lathifah berjuang mencari peluang beasiswa hingga akhirnya diterima sebagai penerima Beasiswa KIP Kuliah di UAD.

Motivasi terbesar Lathifah adalah membanggakan sang ibu dan membuktikan bahwa anak dari keluarga sederhana pun mampu bersinar. Di balik kelembutan dan kesederhanaannya, tersimpan cerita penuh keteguhan. Sejak SD hingga SMK, ia kerap mengalami perundungan dan keraguan dari lingkungan sekitar. Namun, pengalaman pahit itu tidak membuatnya menyerah. “Saya justru menjadikannya bahan bakar untuk terus berkembang dan terbang lebih tinggi dari apa yang pernah orang lain bayangkan,” tuturnya penuh semangat.

Salah satu pengalaman paling berkesan selama masa kuliah adalah ketika ia berhasil meraih Juara I Pemilihan Mahasiswa Berprestasi tingkat wilayah dan tingkat Perguruan Tinggi Muhammadiyah ‘Aisyiyah (PTMA) Nasional tahun 2024. Selain itu, beberapa kompetisi inovasi mahasiswa juga berhasil ia menangkan. Dari pengalaman tersebut, Lathifah semakin menyadari pentingnya riset dan inovasi di bidang pangan fungsional. Menurutnya, riset bukan hanya tentang penemuan ilmiah, tetapi juga tentang memberikan dampak sosial yang nyata bagi kesehatan dan ketahanan pangan masyarakat.

Kesempatan menyusun dan memublikasikan artikel ilmiah menjadi titik balik penting dalam perjalanannya. Dari situ, ia belajar arti disiplin, ketelitian, dan tanggung jawab ilmiah. “Saya semakin memahami bagaimana penelitian bisa menjadi jembatan antara ilmu pengetahuan dan dunia industri,” katanya.

Perjalanan akademik Lathifah tentu tidak selalu mulus. Tantangan terbesar yang dihadapinya adalah membagi waktu antara kuliah, organisasi, kompetisi, dan riset. Namun, ia belajar mengatasi semuanya dengan manajemen waktu yang baik dan disiplin. “Saya membuat prioritas dan jadwal harian, juga tidak sungkan meminta bimbingan dari dosen dan mentor. Saya percaya, proses berkembang tidak bisa dilakukan sendirian,” ucapnya.

Dalam setiap langkah, doa sang ibu selalu menjadi penguat. “Ibu selalu mendukung dengan cara yang sederhana, tapi penuh makna. Doa beliau adalah bahan bakar utama saya,” ungkap Lathifah. Selain itu, para dosen dan pembimbing turut menjadi bagian penting dalam perjalanannya, terutama saat menghadapi persiapan kompetisi dan penelitian.

Setelah lulus, Lathifah memiliki tekad kuat untuk terus melangkah. “Ke depan, saya ingin mengembangkan usaha berbasis inovasi pangan fungsional lokal dan riset produk pangan kesehatan. Saya berharap dapat berkontribusi pada industri makanan sehat di Indonesia, sekaligus membuka peluang bagi masyarakat sekitar melalui pemberdayaan dan kolaborasi,” ujarnya.

Tidak berhenti di situ, Lathifah juga berencana melanjutkan pendidikan serta aktif mengembangkan karya ilmiah dan inovasi mahasiswa. Ia ingin menjadi contoh bahwa mahasiswa dari latar belakang sederhana pun mampu berprestasi dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat. (Lin)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Lathifah-Apriana-Putri-Wisudawati-Berprestasi-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-Foto.-Lathifah.jpg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2025-11-10 11:58:252025-11-10 11:58:25Doa Ibu di balik Perjuangan Lathifah Apriana Putri, Wisudawan Berprestasi UAD 2025

Hanif Menapaki Perjalanan Panjang Penuh Doa dan Usaha

07/11/2025/in Terkini /by Ard

Muhamad Hanif Nuril Fikri, Wisudawan Terbaik Program Studi Biologi, Universitas Ahmad Dahlan (UAD) (Foto. Hanif)

Menjadi wisudawan terbaik bukanlah hal yang pernah dibayangkan oleh Muhamad Hanif Nuril Fikri, mahasiswa Program Studi Biologi Universitas Ahmad Dahlan (UAD). Ia mengaku baru mengetahui kabar tersebut saat acara pelepasan fakultas. “Jujur, saya tidak menyangka bisa dinobatkan sebagai wisudawan terbaik Periode I Tahun Akademik 2025/2026 karena pertama kali tahu saat pelepasan fakultas. Banyak teman saya yang juga luar biasa dan pantas mendapatkan penghargaan ini. Saya merasa sangat bersyukur, semoga ini bisa menjadi motivasi untuk terus belajar dan berkontribusi setelah lulus,” ungkap Hanif.

Hanif menempuh studinya selama 4 tahun 1 bulan di UAD. Baginya, perjalanan akademik ini bukan hanya tentang menimba ilmu, tetapi juga bentuk pengabdian dan rasa terima kasih kepada orang tuanya. “Motivasi terbesar saya adalah ingin membahagiakan orang tua dan membalas semua pengorbanan mereka karena saya tahu perjuangan untuk membiayai pendidikan saya tidak mudah,” tuturnya.

Sebagai mahasiswa, Hanif menghadapi berbagai tantangan, terutama saat menyusun penelitian skripsi. Ia mengaku sempat menghadapi kendala di laboratorium, mulai dari keterbatasan bahan larutan hingga hasil penelitian yang tidak sesuai harapan. “Namun, saya belajar untuk tetap sabar dan mencari solusi. Dengan bimbingan dosen pembimbing dan dukungan teman-teman, akhirnya saya bisa menyelesaikan penelitian saya,” jelasnya.

Hanif juga menuturkan bahwa sosok yang paling berperan penting dalam perjalanan kuliahnya adalah orang tua dan dosen pembimbingnya. “Orang tua saya selalu mendoakan dan memberikan semangat, bahkan membiayai pendidikan saya sejak awal. Sedangkan dosen pembimbing saya membimbing dengan sabar dan memberikan masukan berharga ketika hasil penelitian tidak sesuai rencana. Tanpa mereka, saya mungkin tidak akan bisa sampai sejauh ini,” ujarnya dengan penuh rasa hormat.

Selama masa kuliah, Hanif berusaha menyeimbangkan antara kegiatan akademik dan aktivitas lain di luar kelas dengan mengatur prioritas. Ia juga masih ingat momen paling berkesan selama menjadi mahasiswa, yakni ketika berkesempatan menjalani kerja praktik di Laboratorium Narkoba Forensik POLRI Semarang. “Itu pengalaman berharga karena pertama kali saya melihat langsung berbagai barang bukti narkoba dan psikotropika. Banyak hal baru yang saya pelajari di sana,” kenangnya.

Predikat wisudawan terbaik yang kini disandangnya menjadi penutup manis dari perjalanan panjang penuh perjuangan. Hanif berharap pencapaiannya dapat menjadi inspirasi bagi mahasiswa lain untuk terus berusaha tanpa menyerah. (Adi)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Muhamad-Hanif-Nuril-Fikri-Wisudawan-Terbaik-Program-Studi-Biologi-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-Foto.-Hanif.jpg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2025-11-07 11:20:472025-11-07 11:20:47Hanif Menapaki Perjalanan Panjang Penuh Doa dan Usaha

Tak Menyerah Meski Tanpa Orang Tua, Nona Carolina Buktikan Mimpi Bisa Dicapai

07/11/2025/in Terkini /by Ard

Nona Carolina, mahasiswa Kesehatan Masyarakat, Universitas Ahmad Dahlan (UAD), dinobatkan sebagai Wisudawan Terbaik (Foto. Nona)

Universitas Ahmad Dahlan (UAD) kembali melahirkan sosok inspiratif dalam Wisuda Periode I Tahun Akademik 2025/2026. Ia adalah Nona Carolina, mahasiswa Program Studi Kesehatan Masyarakat, yang dinobatkan sebagai Wisudawan Terbaik sekaligus Wisudawan Berprestasi Bidang Akademik.

Perempuan kelahiran Kediri, 28 September 2003 ini berhasil menempuh studi S1-nya hanya dalam waktu 3 tahun 11 bulan 14 hari. Pencapaian tersebut diraih melalui kerja keras dan komitmen tinggi selama menjalani perkuliahan di bawah beasiswa KIP-Kuliah.

“Alhamdulillah, saya merasa bersyukur, senang, dan bangga akhirnya bisa menyelesaikan studi dengan tepat waktu serta memaksimalkan kesempatan kuliah melalui beasiswa KIP-Kuliah di UAD,” ungkap Nona.

Menjadi yatim piatu sejak kecil tidak membuatnya berhenti berjuang. Justru kondisi itu menjadi sumber kekuatan utama dalam menempuh pendidikan. “Sosok yang paling berperan penting adalah diri saya sendiri, karena saya seorang yatim piatu. Saya menempatkan diri sebagai tokoh utama dalam kehidupan, bagaimana saya harus bersikap dan ingin menjadi seperti apa. Selain itu, Allah Swt. juga menjadi penolong terbaik saya selama menjalani studi di UAD,” tuturnya.

Motivasi terbesar Nona dalam menempuh pendidikan adalah rasa syukur. Ia selalu berusaha memberikan yang terbaik dalam segala hal sebagai bentuk terima kasih atas kesempatan yang diberikan. Meski demikian, perjalanan kuliahnya tidak lepas dari tantangan. Ia mengaku manajemen waktu menjadi hal tersulit ketika harus menyeimbangkan antara kuliah, praktikum, lomba, dan tanggung jawab sebagai jurnalis kemahasiswaan UAD selama 17 bulan.

“Tantangan terbesar saya adalah manajemen waktu, pikiran, dan tenaga. Saya mengatasinya dengan membuat skala prioritas, menentukan mana yang perlu dikerjakan lebih dahulu dan mana yang harus segera diselesaikan,” jelasnya.

Salah satu momen paling berkesan bagi Nona adalah ketika berhasil membawa nama UAD sebagai juara pertama dalam ajang KMI Expo Kemdikbud RI. Ia juga mengungkapkan bahwa lingkungan kampus yang Islami menjadi salah satu nilai paling berkesan selama menempuh pendidikan di UAD.

“Nuansa Islami di lingkungan akademik UAD menjadi bekal untuk terus berusaha menebar manfaat bagi umat di mana pun berada,” tambahnya.

Menutup perbincangan, Nona menyampaikan pesan bagi mahasiswa lain agar terus berjuang dan menjaga prestasi UAD di masa depan. “Saya berharap agar mahasiswa lain dapat mempertahankan prestasi yang telah diukir oleh kakak tingkat sebelumnya, sehingga nama UAD tetap berjaya di masa mendatang,” ujarnya.  (Adi)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Nona-Carolina-mahasiswa-Kesehatan-Masyarakat-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-dinobatkan-sebagai-Wisudawan-Terbaik-Foto.-Nona.jpg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2025-11-07 10:29:042025-11-07 10:29:04Tak Menyerah Meski Tanpa Orang Tua, Nona Carolina Buktikan Mimpi Bisa Dicapai

Lulusan UAD Raih Dua Gelar Sekaligus, di Indonesia dan Tiongkok

07/11/2025/in Terkini /by Ard

Lu’lu’ Shofiyatul Jannah, Wisudawati FEB Universitas Ahmad Dahlan (UAD) (Foto. Humas dan Protokol UAD)

Wisudawati Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Lu’lu’ Shofiyatul Jannah, sukses menuntaskan studi program joint degree dan meraih dua gelar sekaligus dari Universitas Ahmad Dahlan (UAD) dan Guangxi Minzu University, Tiongkok.

Perempuan yang akrab dipanggil Lu’lu’ ini, berasal dari Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Ia mengikuti program joint degree yang dijalankan selama empat tahun, dengan dua tahun pertama (semester 1-4) di UAD dan dua tahun berikutnya (semester 5-8) di Guangxi Minzu University, Nanning. Prestasi Lu’lu’ ini membuktikan bahwa kerja keras, keberanian belajar lintas negara, dan kemampuan beradaptasi dapat membuka jalan menuju kesuksesan.

Lu’lu’ mengaku sangat bersyukur dan lega setelah berhasil menyelesaikan dua gelar di dua universitas berbeda. “Saya merasa sangat lega karena bisa menuntaskan perkuliahan di dua universitas, salah satunya di Tiongkok dengan bahasa Mandarin sebagai bahasa pengantar. Senang sekali bisa mendapatkan pengalaman yang begitu berharga,” tuturnya.

Meski demikian, perjalanan akademiknya tidak lepas dari tantangan besar, terutama soal bahasa dan adaptasi budaya. “Tantangan terbesar saya adalah bahasa. Saat pertama datang ke Tiongkok, kemampuan Mandarin saya belum terlalu bagus. Selain itu, mencari makanan halal juga cukup sulit,” ungkapnya.

Untuk beradaptasi dengan sistem belajar dan budaya akademik di dua kampus berbeda, Lu’lu’ berupaya membangun relasi dengan mahasiswa lokal. “Saya berusaha mencari teman lokal agar bisa saling belajar. Mereka sangat membantu menjelaskan materi kuliah dengan bahasa yang lebih mudah dipahami,” jelasnya.

Momen tersulit yang ia alami adalah pada masa awal perkuliahan di Guangxi Minzu University, ketika harus mengikuti pembelajaran penuh dalam bahasa Mandarin. Namun, dukungan dosen dan teman-teman sangat membantu prosesnya. “Dosen di sana sangat pengertian. Kalau kami tidak mengerti, mereka menjelaskan ulang dengan perlahan sampai kami paham,” terangnya.

Salah satu pencapaian yang paling membanggakan bagi Lu’lu’ adalah keberhasilannya menyelesaikan skripsi dan sidang akhir menggunakan bahasa Mandarin. “Skripsi saya ditulis dan dipresentasikan dalam bahasa Mandarin. Alhamdulillāh, semuanya berjalan lancar,” ucapnya.

Setelah lulus, Lu’lu’ kini telah bekerja di perusahaan Allmed, yang di Indonesia lebih dikenal sebagai PT Ace Medical Products Indonesia, yaitu sebuah perusahaan asal Tiongkok yang bergerak di bidang medis. “Alhamdulillāh, sekarang saya bekerja sebagai specialist Mandarin di PT Ace Medical Products Indonesia,” tutupnya di akhir wawancara. (Lus)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Lulu-Shofiyatul-Jannah-Wisudawati-FEB-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-Foto.-Humas-dan-Protokol-UAD.jpg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2025-11-07 10:09:532025-11-07 10:09:53Lulusan UAD Raih Dua Gelar Sekaligus, di Indonesia dan Tiongkok

Menjaga Keseimbangan Ilmu dan Spiritualitas di Bangku Kuliah

15/08/2025/in Terkini /by Ard

Murtihana Rahma Pratiwi, wisudawan berprestasi dari Prodi Ilmu Hadis Universitas Ahmad Dahlan (UAD) (Foto. Murti)

Murtihana Rahma Pratiwi, wisudawan berprestasi dari Program Studi Ilmu Hadis, Fakultas Agama Islam Universitas Ahmad Dahlan (FAI UAD) dengan IPK 3,93, merasa bahwa perjalanan kuliah bukan sekadar pencapaian akademis. Lebih dari itu, ia memaknainya sebagai proses menjaga keseimbangan antara ilmu dan spiritualitas.

“Spiritualitas memberikan peran penting dalam kehidupan saya sebagai mahasiswa karena berpengaruh besar dalam mengatur keseimbangan mental dan emosional,” ungkapnya. Saat menghadapi tekanan akademis, ia memilih untuk memandang setiap ujian sebagai bagian dari ketentuan terbaik Allah Swt. “Ketika sulit, saya yakin Allah sedang mengangkat derajat saya. Dan ketika mendapatkan kebaikan, saya tidak menganggap itu murni hasil jerih payah, tetapi karunia dari-Nya,” tambahnya.

Lulus dari UAD sekaligus Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah (PUTM) membentuk mimpi besar bagi Murtihana. Ia ingin memberikan kontribusi positif bagi masyarakat melalui penelitian, pendidikan, dan pengabdian. “Saya ingin membantu menciptakan solusi untuk masalah-masalah yang dihadapi masyarakat. Selain itu, saya ingin berkontribusi dalam dakwah Islam dan Kemuhammadiyahan dengan menghidupkan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) yang ada di masyarakat secara luas,” jelasnya.

Selama kuliah di PUTM, Murtihana menganggap interaksi dengan teman-teman dari berbagai daerah sebagai pengalaman paling berharga. “Setiap orang punya karakter dan keunikan masing-masing. Bekerja sama dengan mereka dalam berbagai proyek membuat saya belajar memahami dan menghargai perbedaan, sekaligus memperluas relasi dengan orang-orang berkualitas,” katanya.

Kesibukan di asrama tidak menjadi penghalang baginya untuk tetap berprestasi. Strategi belajarnya sederhana namun konsisten, yakni dengan membuat jadwal belajar yang terstruktur, menetapkan skala prioritas, dan disiplin dalam menjalankannya. “Belajar kelompok juga sangat membantu saya memperdalam pemahaman materi, sekaligus melatih kemampuan menyampaikan materi secara lebih mendalam,” ujarnya.

Bagi Murtihana, ilmu dan iman adalah dua pilar yang saling menguatkan. Ia percaya, prestasi akademik akan lebih bermakna jika dibersamai dengan keteguhan spiritual dan kepedulian pada sesama. (Lus)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Murtihana-Rahma-Pratiwi-wisudawan-berprestasi-dari-Prodi-Ilmu-Hadis-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-Foto.-Murti.jpg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2025-08-15 10:04:222025-08-15 10:04:22Menjaga Keseimbangan Ilmu dan Spiritualitas di Bangku Kuliah
Page 1 of 41234

TERKINI

  • Mahasiswa KKN UAD Perkuat Syiar Keagamaan melalui Pengajian10/09/2026
  • KKN UAD Edukasi Siswa SD Muhammadiyah Balerante Buat Ecoprint10/09/2026
  • KKN UAD Kenalkan Pengolahan Sampah Organik melalui Pembuatan Eco-Enzyme di Dusun Pelem10/09/2026
  • KKN UAD Gelar Workshop Pembuatan Spray Sereh Multifungsi dan Losida Galon09/09/2026
  • KKN Dahlan Muda Salurkan Hibah Buku di Taman Nasional Siberut09/09/2026

PRESTASI

  • Buat Inovasi Pendidikan dan Literasi, Mahasiswa UAD Raih Tiga Prestasi Nasional20/08/2026
  • Mahasiswa UAD Raih Gold dan Silver Medal pada Essay National Competition 202619/08/2026
  • Mahasiswa UAD Raih Juara II Lomba Poster Edukatif Kesehatan Mental18/08/2026
  • Mahasiswa UAD Raih Juara I Lomba Baca Puisi Dahlan Culture Festival 202608/08/2026
  • Mahasiswa UAD Raih Juara 3 Cakrawala National Essay Competition31/07/2026

FEATURE

  • Memaknai Singkatnya Kehidupan dan Rahmat Berlimpah Menuju Surga10/09/2026
  • Menapaki Jalan Lurus melalui Sepuluh Wasiat Allah04/09/2026
  • LPSI UAD Gelar Kajian Tafsir At-Tanwir, Bedah Makna dan Keutamaan Surat Al-Baqarah Ayat 18503/09/2026
  • Menyelami Kedudukan Al-Qur’an dan Spirit Kemudahan Syariat02/09/2026
  • Resep Istikamah Ibadah dan Menjaga Kesehatan Kerja28/08/2026

TENTANG | KRU | KONTAK | REKAPITULASI

Scroll to top