Gelar Dokter adalah Awal dari Pengabdian

Perwakilan mahasiswa pada Pelantikan dan Pengambilan Sumpah Dokter Periode V Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) (Foto. Humas UAD)
Perwakilan dokter baru, dr. Dinda Ian Elistiana, dan perwakilan orang tua, dr. Tri Widodo, Sp.PD., Subsp.GH(K), FINASIM., menyampaikan kesan dan pesan dalam Pelantikan dan Pengambilan Sumpah Dokter Periode V Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) pada Kamis, 22 Oktober 2026. Keduanya mengingatkan bahwa gelar dokter bukanlah akhir dari sebuah perjuangan, melainkan awal dari pengabdian.
Dalam pidatonya, Dinda mengenang masa preklinik yang diisi dengan menghafal istilah medis yang sulit diucapkan, hingga masa koas yang mengajarkan bahwa di balik setiap rekam medis terdapat kehidupan dan di setiap pasien ada seseorang yang dicintai. Ia juga menyinggung malam-malam jaga serta berbagai acara keluarga yang hanya dapat disaksikan melalui layar gawai.
Dinda berterima kasih kepada orang tua atas doa dan kekhawatiran yang sering disembunyikan. Ia turut menyampaikan apresiasi kepada para dosen dan pembimbing yang tidak hanya mengajarkan cara mengenali penyakit, tetapi juga cara memperlakukan seorang manusia dengan baik.
“Hari ini sumpah dokter yang kami ucapkan bukanlah akhir dari perjuangan, melainkan awal dari sebuah tanggung jawab yang jauh lebih besar,” tegasnya. Ia menutup pidatonya dengan memohon doa agar langkah para dokter baru senantiasa dijaga dan niat pengabdian mereka diluruskan.
Sementara itu, perwakilan orang tua dokter baru menyampaikan rasa bangga dan haru atas dimulainya pengabdian anak-anak mereka sebagai tenaga medis. “Hari ini adalah hari yang sangat istimewa bagi kami. Ada kebahagiaan yang sulit diungkapkan, ada rasa bangga yang memenuhi dada, serta air mata yang coba kami tahan,” ujarnya. Ia mengucapkan terima kasih kepada UAD, FK UAD, para dosen, pembimbing S1 dan pembimbing klinis di rumah sakit pendidikan, perawat, tenaga administrasi, serta para pasien yang telah membimbing anak-anak mereka.
Senada dengan Dinda, dr. Tri mengingatkan bahwa pasien bukanlah sekadar kode diagnosis atau objek pengobatan, melainkan membawa harapan besar keluarga akan kesembuhan. “Namun, hati nurani harus selalu disertakan dalam setiap karya kalian,” tegasnya. Ia juga mengajak para dokter baru untuk senantiasa menjaga nama baik almamater melalui prestasi dan budi pekerti yang luhur.
Menutup sambutannya, dr. Tri memanjatkan doa agar anak-anak mereka kelak menjadi dokter yang beriman, berakhlak karimah, berilmu, dan mengutamakan kemanusiaan. Ia juga berdoa agar sumpah yang telah diucapkan senantiasa dijaga di hadapan Allah Swt.(Septia)
