BEM Farmasi UAD Perluas Wawasan Global Mahasiswa Lewat Short Course 2026 di IKOP Pharma Malaysia

BEM Farmasi Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Ikuti Short Course 2026 di IKOP Pharma Malaysia (Foto. BEM Farmasi)
Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Farmasi Universitas Ahmad Dahlan (UAD) melalui Departemen Luar Negeri sukses menginisiasi program Short Course 2026. Sebanyak delapan mahasiswa pilihan diberangkatkan untuk mengikuti pengalaman belajar komprehensif di lingkungan industri farmasi internasional, IKOP Pharma, Pahang, Malaysia, pada Senin hingga Jumat, 21 sampai 25 September 2026.
Program ini lahir dari komitmen organisasi dalam menghadirkan wadah pembelajaran yang adaptif, di mana calon tenaga kefarmasian dituntut tidak hanya menguasai teori perkuliahan, tetapi juga memahami langsung penerapan standar industri di tingkat global.
Gubernur BEMF Farmasi UAD periode 2026/2027, Daffa Danurwenda, menjelaskan bahwa kegiatan ini diselenggarakan melalui koordinasi erat bersama Fakultas Farmasi UAD yang memanfaatkan jejaring kerja sama kelembagaan dengan Kulliyyah of Pharmacy, International Islamic University Malaysia (IIUM).
“Kami ingin agar program kerja organisasi tidak hanya menjadi agenda internal, tetapi juga mampu membuka akses terhadap pengalaman, pengetahuan, dan jejaring yang dapat mendukung pengembangan kompetensi mahasiswa,” ujar Daffa.
Selama lima hari di IKOP Pharma, yakni fasilitas industri yang berlokasi di kompleks IIUM Kampus Pahang, Kuantan, para delegasi mendalami tiga pilar utama dalam sistem manufaktur farmasi modern. Pada aspek Quality Control (QC), peserta mempelajari peran pengawasan mutu melalui pengujian bahan hingga produk jadi di laboratorium QC Kimia dan Biologi.
Sementara pada aspek Production, mahasiswa mengamati alur pembuatan obat, pengoperasian teknologi produksi, hingga proses pengemasan. Adapun pada aspek Quality Assurance (QA), delegasi mendapatkan pemahaman mendalam mengenai tata kelola sistem penjaminan mutu, pengelolaan dokumen, serta pentingnya kepatuhan regulasi demi menjaga mutu produk.
Tak hanya mempelajari operasional industri, para peserta yang terdiri dari Azka Naiyaka Raihany, Evan Ardi Kusuma, Nadia Elma Firjatullah, Ghina Isna Novijayanti, Puti Anugrah Mahardita, Dewinda Nabila, Daffa Danurwenda, dan Muhammad Rifqi Rahadi ini juga berkesempatan memperluas jejaring internasional.
Di sela agenda utama, mereka bersilaturahmi dengan Nurin Afifah binti Nurul Shams, Presiden IIUM Pharmacy Students Association (IPHA), untuk bertukar pandangan mengenai dinamika organisasi kemahasiswaan serta kehidupan akademik antarnegara.
Pertemuan ini menjadi kegiatan pendukung yang memberikan nilai tambah bagi pengalaman internasional peserta. ” Kami berbagi cerita dan bertukar perspektif mengenai dinamika organisasi mahasiswa, kehidupan perkuliahan, serta pengelolaan kegiatan kemahasiswaan di masing-masing kampus. Dari pertemuan tersebut, kami memperoleh gambaran mengenai pengalaman mahasiswa farmasi di lingkungan pendidikan yang berbeda, sekaligus melihat peluang untuk saling belajar dan membangun relasi antarmahasiswa,” tutur Daffa.
Daffa juga menekankan bahwa esensi dari studi internasional ini bukanlah untuk membandingkan industri farmasi di Malaysia dan Indonesia, melainkan untuk memperkaya cara pandang profesional.
“Keluar dari zona nyaman bukan berarti mengabaikan risiko, melainkan berani mempertimbangkan risiko tersebut, mempersiapkan diri, dan tetap mengambil langkah ketika kita melihat adanya peluang untuk berkembang,” kata mahasiswa Farmasi angkatan 2023 tersebut.
Ia pun mengajak seluruh mahasiswa UAD untuk berani mengambil peluang berkembang, sejalan dengan semangat Kabinet Poros Juang BEMF Farmasi UAD dalam membentuk mahasiswa yang tangguh, berintegritas, serta berkeunggulan intelektual.
“Bagi saya, pengalaman internasional bukan tentang seberapa jauh kita pergi, tetapi sejauh mana kita bersedia membuka diri terhadap perspektif baru. Melihat praktik di lingkungan yang berbeda memberikan bahan refleksi untuk kemajuan industri farmasi di Indonesia, sekaligus membuktikan bahwa BEM bukan hanya tempat menjalankan program kerja, melainkan ruang mempertemukan mahasiswa dengan peluang dan memfasilitasi pengembangan potensi,” katanya.
“Harapan saya, semakin banyak mahasiswa UAD yang berani mengambil kesempatan, meskipun kesempatan tersebut menuntut usaha, pengorbanan, dan keberanian untuk menghadapi hal-hal baru. Jangan sampai kita terlalu sibuk mempertimbangkan apa yang mungkin kita korbankan hingga lupa melihat apa yang bisa kita pelajari dan kembangkan dari kesempatan tersebut. Tentu saja, setiap keputusan tetap perlu dipertimbangkan dan dipersiapkan dengan matang, tetapi jangan biarkan rasa takut menjadi satu-satunya alasan kita untuk tidak mencoba.” (Anove)
