Tantangan Pendidikan di Era Revolusi Industri 4.0

262

Penduduk Indonesia selama ini dikenal konsumstif. Tentu saja ada beberapa penyebabnya. Misalnya tidak mampu memproduksi sendiri suatu barang. Garam masih perlu mengimpor karena kita tidak mempunyai teknologi pengolah garam. Belum lagi alat transportasi yang semakin hari semakin memenuhi jalan. Dua contoh itu hanya bagian kecil saja. Kemudian, langkah apa yang harus dilakukan agar kehidupan lebih berimbang? Kegelisahan tentang keadaan Indonesia ini masuk dalam tantangan setiap manusia dalam menghadapi era revolusi industri 4.0.

Prof. Dr. Ir. Dwi Sulisworo, M.T., dalam seminar nasional pendidikan yang diselenggarakan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan bertajuk “Realisasi Iptek, Sains, Kearifan Lokal dalam Meningkatkan Daya Saing Pemuda di Era 4.0,” memaparkan beberapa hal. Acara menarik ini berlangsung di Kampus I Universitas Ahmad Dahlan (UAD), (24-11-2019).

 

“Dari sisi industri manufaktur daya saing meningkat, tapi hanya pada sisi pasar. Diukur dari sisi pendidikan, ranking pendidikan tidak baik dan mengkhawatirkan. Iklan menumbuhkan konsumerisme dan masyarakat akan terjebak sehingga melanggengkan pasar yang besar tanpa bisa menumbuhkan daya saing yang besar,” ucapnya.

Generasi muda yang tidak disiapkan dengan baik, tidak memberi dampak pada bonus demografi Indonesia 2030. Anak muda produktif memiliki populasi terbanyak dalam sebuah negara. Jika bisa menunjukkan produktifitasnya, maka daya saingnya akan meningkat. Generasi yang tingkat pendidikannya rendah, jika dibiarkan maka akan menjadi problem yang berkelanjutan. Peran perubahan di masyarakat ada di tangan para pendidik. Pendidikan menjadi peluang besar dan pilar besar Indonesia dengan terus meningkatkan produktivitas diri.

“Terjadi pergeseran pendidikan dalam keluarga, misalnya anak sejak kecil sudah beri akses ke gawai. Tanpa sadar, kebiasaan ini menimbulkan perilaku konsumtif karena hanya dari gawai, kita sudah bisa membeli banyak hal. Sekolah dan guru harus siap menghadapi perubahan besar karena teknologi. Guru harus senantiasa menumbuhkan kemampuan sehingga teknologi bisa mendorong pembelajaran ke arah baik,” tutupnya.

Jadi, pendidikan memang sangat berpengaruh terhadap tindakan kita. Untuk menghadapi era revolusi industri 4.0, mari bersama-sama bersikap lebih bijak didukung dengan mengembangkan kemampuan diri agar suatu saat tidak hanya menjadi konsumen, tetapi juga produsen. Indonesia mampu untuk itu. (JM)