Teliti Perilaku Seks Remaja, Dosen UAD Temukan Hasil Mengejutkan

366

Bidang kesehatan reproduksi menjadi perhatian khusus Dr. Sitti Nur Djannah, M.Kes., salah seorang dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Ahmad Dahlan (UAD). Sebagai seorang akademisi yang peduli terhadap permasalahan di masyarakat, pada disertasinya ia memilih meneliti perilaku seks remaja.

Hasilnya 68 persen remaja dari sebuah paguyuban yang dijadikan objek penelitiannya pernah melakukan hubungan seksual. Tentu ini bukan angka yang sedikit dan perlu mendapat perhatian serius dari pihak-pihak terkait.

“Saya tertarik terhadap remaja. Saya melihat remaja perlu mendapat perhatian khusus karena mereka yang digadang sebagai generasi muda penerus bangsa. Presentase mengenai perilaku seks remaja yang telah saya teliti menunjukkan angka yang mengkhawatirkan,” ujar Sitti ketika diwawancarai di kantornya, Selasa (10/7/2018).

Menurutnya, perilaku seks ini sangat menyedihkan karena banyak faktor yang memengaruhi. Di antaranya faktor keluarga, teman sebaya, media sosial, dan pelayanan edukasi reproduksi yang masih sangat rendah. Di antara beberapa tersebut, yang paling dominan adalah faktor teman sebaya.

Remaja memiliki norma sendiri yang berbeda dengan norma masyarakat pada umumnya. Pada dasarnya, remaja sedang pada tahapan mencari jati diri. Sehingga lebih banyak pengalaman yang dicari di luar rumah.

“Bahaya dari teman sebaya pasti ada seseorang yang menjadi ‘model’ atau panutan. Model ini memiliki peran mencontohkan perilaku yang kebanyakan bersifat negatif. Seperti pacaran, merokok, dan konsumsi minuman keras. Parahnya lagi, paguyuban menjadi tempat untuk tukar menukar media pornografi,” ungkap Sitti miris.

Dari penelitiannya, ternyata perilaku pacaran, merokok, minum, media pornografi, sejalan dengan perilaku seks yang dilakukan oleh remaja kelompok berisiko ini. Bahkan mereka juga sempat berganti-ganti pacar supaya dianggap gaul.

Kebanyakan dari remaja kelompok berisiko ini berasal dari keluarga dengan pendidikan rendah dan ekonomi menengah ke bawah. Orang tua dari para remaja ini juga banyak yang belum melakukan fungsi edukasi secara baik. Sehingga banyak pembelajaran yang didapat dari teman sebaya yang justru menjerumuskan. Usia rata-rata paling rawan terhadap perilaku seks antara 16 hingga 20 tahun. Dampaknya, banyak remaja yang putus sekolah, menikah dini, bahkan sampai aborsi. (ard)