UAD Merangkul Semua Perbedaan

0
388
Dr. Abdul Fadlil, M.T. (Wakil Rektor III UAD), Eko Prasetyo (Aktivis Pendidikan), dan Andi Ar-Rahman (Mahasiswa FSBK UAD) dalam diskusi di aula kampus 4 UAD.

Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta baru saja membuat klarifikasi tentang larangan mahasiswi yang bercadar. Ini membuktikan bahwa UAD merupakan universitas yang merangkul semua perbedaan.

Ternyata, ada kegelisahan lain yang muncul, yakni terkait rambut gondrong. Oleh karena itu pada Jumat (09/03/2018) pukul 18.00 WIB, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Poros mengadakan diskusi publik. Acara ini bekerja sama dengan Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) Fakultas Sastra, Budaya, dan Komunikasi (FSBK) dengan mengangkat tema “Pendidikan dan Wacana Pelarangan Rambut Gondrong”. Dr. Abdul Fadlil, M.T. (Wakil Rektor III UAD),  Eko Prasetyo (Aktivis Pendidikan), dan Andi Ar-Rahman (Mahasiswa FSBK UAD) diundang sebagai pembicara.

Pada diskusi tersebut, Fadlil mengklarifikasi tentang larangan rambut gondrong. Menurutnya, dari IKIP Muhammadiyah sampai menjadi nama UAD, tidak pernah ditemukan dan tidak ada larangan terkait rambut godrong. Banyak juga alumni UAD yang lulus berambut gondrong, dan mereka kini mempunyai profesi beragam seperti seniman, penyair, sutradara, musisi, dan banyak lagi.

UAD juga menerima mahasiswa yang memiliki perbedaan budaya, suku, agama, dan ras. Bagi UAD, rambut gondrong tidak menjadi hambatan untuk mahasiswa berprestasi di kancah nasional maupun internasional.

“Rambut gondrong menjadi image dari suatu budaya. Jika ada larangan terhadap rambut gondrong di UAD, itu semua tidak benar. Hanya saja, UAD membuat peraturan untuk mahasiswanya berpakain rapi. UAD juga merangkul semua perbedaan di dunia,” jelas Fadlil di aula kampus 4 UAD Jln. Ringroad, Tamanan, Banguntapan, Bantul.