• TERKINI
  • UAD BERDAMPAK
  • PRESTASI
  • FEATURE
  • OPINI
  • MEDIA
  • KIRIM BERITA
  • Menu
News Portal of Universitas Ahmad Dahlan

Pelajaran Dari Idul Kurban

11/11/2012/0 Comments/in Terkini /by Super News

Sudaryanto

Oleh: Sudaryanto, M.Pd.

Dosen PBSI FKIP UAD Yogyakarta

Belajar dari Ibrahim

Belajar takwa kepada Allah

Belajar dari Ibrahim

Belajar untuk mencintai Allah

Snada, “Belajar dari Ibrahim”

Momentum Idul Adha atau Idul Kurban yang jatuh pada 10 Dzulhijjah ini, bermula dari kisah Nabi Ibrahim AS dan anaknya, Ismail. Setiap tahun kita, umat Islam di seluruh dunia selalu mengenang dongeng suci tersebut. Meski kisah tersebut telah terjadi pada puluhan atau ratusan tahun silam, ajaibnya makna dari kisah Nabi Ibrahim dan anak semata wayangnya itu selalu hidup sepanjang masa. Sekurang-kurangnya ada pelajaran yang dapat kita petik di balik kisah tersebut.

Dalam kacamata saya, ada tiga pelajaran yang dapat dipetik dari kisah Nabi Ibrahim AS dan anaknya itu. Pertama, pelajaran ketaatan. Dikisahkan, Nabi Ibrahim ialah sosok Nabi yang taat kepada perintah Allah SWT. Termasuk tatkala ia diperintahkan oleh Allah SWT untuk menyembelih anaknya. Al Quran menggambarkan secara tegas bahwa Ibrahim, istri dan anaknya, Ismail, adalah orang-orang yang menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah SWT.

Kata Ibrahim dalam doanya, “Sesungguhnya shalatku, pengorbananku, hidup dan matiku kepunyaan Allah Rab al-Alamin…”. Ismail juga demikian: ia siap disembelih sesuai dengan perintah Allah. Bagi Ibrahim dan keluarganya, mencintai Allah SWT merupakan titik awal dan akhir dari perjalanan hidupnya yang sarat liku-liku. Karena itu, Idul Kurban juga merupakan simbolisasi dari cinta kita kepada Allah SWT, Dzat Maha Pengasih dan Maha Penyayang.

Kedua, pelajaran berbagi kepada sesama. Seusai shalat Idul Adha, biasanya dimulai prosesi pemotongan hewan kurban di pelataran masjid. Setelahnya, daging hewan kurban tadi diberikan kepada orang-orang yang membutuhkan, seperti fakir miskin dan kaum dhuafa. Atau, jika memungkinkan dapat pula didistribusikan kepada pengelola panti asuhan dan pondok pesantren di daerah lainnya. Pendek kata, kebermanfaatan hewan kurban itu menjadi jelas.

Dalam hal ini, semangat berbagi kepada sesama—seperti pada peristiwa Idul Kurban—mestinya lebih dikedepankan dalam kehidupan sehari-hari. Di tengah masyarakat yang kian egois dan materialistis, semangat berbagi kepada sesama perlu ditumbuhkan, meski hal itu tidaklah semudah menyimak khotbah. Alangkah bijaknya semua orang memiliki semangat berbagi kepada sesama, terlepas dari status sosial, agama, pekerjaan, maupun suku/ras.

Ketiga, pelajaran berkorban demi orang lain. Dalam kisahnya, Nabi Ibrahim AS berkorban perasaan dengan cara meninggalkan istri dan anaknya di tengah gurun yang kering kerontang. Saat ditanya oleh Hajar istrinya, mengapa dirinya dan Ismail ditinggalkan di sana, Ibrahim hanya berujar singkat, “Ini perintah dari Allah SWT.” Baik Hajar maupun Ibrahim sama-sama memiliki keyakinan bahwa Allah SWT tidak akan menyia-nyiakan hamba yang bertawakal kepada-Nya.

Jika diresapi dalam-dalam, kisah Nabi Ibrahim, istri dan anaknya itu, mengajarkan kepada kita perlunya pengorbanan dalam kehidupan ini. Sebagai guru/pendidik, Anda dituntut memiliki pengorbanan yang luar biasa bagi anak didik Anda. Demi kesuksesan hidup mereka, Anda siap berkorban banyak hal. Semoga kisah Nabi Ibrahim dan keluarganya itu tak hanya menjadi tradisi agama, tetapi juga menginspirasi semua orang untuk berkorban dalam hidup ini.[]

Sudaryanto

Oleh: Sudaryanto, M.Pd.

Dosen PBSI FKIP UAD Yogyakarta

Belajar dari Ibrahim

Belajar takwa kepada Allah

Belajar dari Ibrahim

Belajar untuk mencintai Allah

Snada, “Belajar dari Ibrahim”

Momentum Idul Adha atau Idul Kurban yang jatuh pada 10 Dzulhijjah ini, bermula dari kisah Nabi Ibrahim AS dan anaknya, Ismail. Setiap tahun kita, umat Islam di seluruh dunia selalu mengenang dongeng suci tersebut. Meski kisah tersebut telah terjadi pada puluhan atau ratusan tahun silam, ajaibnya makna dari kisah Nabi Ibrahim dan anak semata wayangnya itu selalu hidup sepanjang masa. Sekurang-kurangnya ada pelajaran yang dapat kita petik di balik kisah tersebut.

Dalam kacamata saya, ada tiga pelajaran yang dapat dipetik dari kisah Nabi Ibrahim AS dan anaknya itu. Pertama, pelajaran ketaatan. Dikisahkan, Nabi Ibrahim ialah sosok Nabi yang taat kepada perintah Allah SWT. Termasuk tatkala ia diperintahkan oleh Allah SWT untuk menyembelih anaknya. Al Quran menggambarkan secara tegas bahwa Ibrahim, istri dan anaknya, Ismail, adalah orang-orang yang menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah SWT.

Kata Ibrahim dalam doanya, “Sesungguhnya shalatku, pengorbananku, hidup dan matiku kepunyaan Allah Rab al-Alamin…”. Ismail juga demikian: ia siap disembelih sesuai dengan perintah Allah. Bagi Ibrahim dan keluarganya, mencintai Allah SWT merupakan titik awal dan akhir dari perjalanan hidupnya yang sarat liku-liku. Karena itu, Idul Kurban juga merupakan simbolisasi dari cinta kita kepada Allah SWT, Dzat Maha Pengasih dan Maha Penyayang.

Kedua, pelajaran berbagi kepada sesama. Seusai shalat Idul Adha, biasanya dimulai prosesi pemotongan hewan kurban di pelataran masjid. Setelahnya, daging hewan kurban tadi diberikan kepada orang-orang yang membutuhkan, seperti fakir miskin dan kaum dhuafa. Atau, jika memungkinkan dapat pula didistribusikan kepada pengelola panti asuhan dan pondok pesantren di daerah lainnya. Pendek kata, kebermanfaatan hewan kurban itu menjadi jelas.

Dalam hal ini, semangat berbagi kepada sesama—seperti pada peristiwa Idul Kurban—mestinya lebih dikedepankan dalam kehidupan sehari-hari. Di tengah masyarakat yang kian egois dan materialistis, semangat berbagi kepada sesama perlu ditumbuhkan, meski hal itu tidaklah semudah menyimak khotbah. Alangkah bijaknya semua orang memiliki semangat berbagi kepada sesama, terlepas dari status sosial, agama, pekerjaan, maupun suku/ras.

Ketiga, pelajaran berkorban demi orang lain. Dalam kisahnya, Nabi Ibrahim AS berkorban perasaan dengan cara meninggalkan istri dan anaknya di tengah gurun yang kering kerontang. Saat ditanya oleh Hajar istrinya, mengapa dirinya dan Ismail ditinggalkan di sana, Ibrahim hanya berujar singkat, “Ini perintah dari Allah SWT.” Baik Hajar maupun Ibrahim sama-sama memiliki keyakinan bahwa Allah SWT tidak akan menyia-nyiakan hamba yang bertawakal kepada-Nya.

Jika diresapi dalam-dalam, kisah Nabi Ibrahim, istri dan anaknya itu, mengajarkan kepada kita perlunya pengorbanan dalam kehidupan ini. Sebagai guru/pendidik, Anda dituntut memiliki pengorbanan yang luar biasa bagi anak didik Anda. Demi kesuksesan hidup mereka, Anda siap berkorban banyak hal. Semoga kisah Nabi Ibrahim dan keluarganya itu tak hanya menjadi tradisi agama, tetapi juga menginspirasi semua orang untuk berkorban dalam hidup ini.[]

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png 0 0 Super News https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Super News2012-11-11 19:14:172012-11-11 19:14:17Pelajaran Dari Idul Kurban
0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply Cancel reply

You must be logged in to post a comment.

TERKINI

  • FK UAD Lantik 29 Dokter Baru pada Sumpah Dokter Periode V23/10/2026
  • Teknologi untuk Perkuat Ideologi, Rektor UAD Paparkan Kerangka Transformasi Digital ‘Aisyiyah23/10/2026
  • UAD Menggelar Sumpah Profesi Psikolog Angkatan III Periode Oktober 202622/10/2026
  • Bimawa UAD Gelar Seminar Kesehatan Mental untuk Bangun Kesadaran dan Regulasi Diri Mahasiswa22/10/2026
  • Penutupan POMDA DIY Cabor Voli Pasir, UAD Apresiasi Para Juara22/10/2026

PRESTASI

  • Tim Voli Putri UAD Raih Juara III Liga Voli Mahasiswa 202615/10/2026
  • Mahasiswa UAD Raih Juara II Math Essay Competition Nasional15/10/2026
  • Mahasiswa UAD Raih Juara I Writing Contest FOMUNY 202612/10/2026
  • Mahasiswa UAD Raih Juara III pada Kejurnas IX Senior-Junior Hapkido Indonesia 202630/09/2026
  • Tim Al Qorni UAD Raih Dua Gelar Juara di Ajang KMLI 202630/09/2026

FEATURE

  • Meneladani Keteguhan dan Keluhuran Akhlak Rasulullah di Tengah Pemboikotan12/10/2026
  • Kesederhanaan yang Menjadi Pilihan Hidup Rasulullah06/10/2026
  • Runtuhkan Sekat Pembatas, Dekan FKIP UAD Tekankan Kolaborasi Pendidikan yang Berdampak28/09/2026
  • Menelusuri Hakikat dan Empat Tanda Kebahagiaan di Dunia15/09/2026
  • Memaknai Singkatnya Kehidupan dan Rahmat Berlimpah Menuju Surga10/09/2026

TENTANG | KRU | KONTAK | REKAPITULASI

Scroll to top