Obrolan Milenial soal Pendidikan Inklusi
Pendidikan inklusi adalah sistem layanan pendidikan yang mengatur agar difabel dapat dilayani di sekolah terdekat, di kelas reguler bersama-sama teman seusianya. Tanpa harus dikhususkan kelasnya, siswa dapat belajar bersama dengan aksesibilitas yang mendukung untuk semua siswa, tanpa terkecuali difabel. Kurangnya pemahaman tentang pendidikan inklusi mendasari Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) mengadakan acara Obrolan Milenial soal Pendidikan Inklusi.
Obrolan ini mengangkat tema “Perlukah Pemetaan Sistem Inklusi pada Dunia Pendidikan?”, bertempat di Kampus Utama UAD dengan pembicara Sukinah, M.Pd., Inayah Adi Oktafiyana, dan Sarwiasih, M.Pd. (17-11-2019).

Inayah menyampaikan bahwa edukasi inklusi itu penting, semua pihak harus peduli, serta berkontribusi dengan baik sepenuh hati dan cinta. Anak-anak difabel butuh kita sebagai teman. Sedangkan Sukinah menuturkan, keterlibatannya dalam pendidikan inklusi berawal dari kepedulian dan rasa simpati kepada anak-anak difabel. Hal pertama kali yang perlu dibangun ialah kesadaran dan mensyukuri dunia yang dijalani.
“Berawal dari keprihatinan dan rasa penasaran tentang bahasa isyarat anak tunarungu, saya bergabung di sini. Banyak guru dan masyarakat yang belum terbuka dan memahami anak berkebutuhan khusus. Tugas kita bersama mengedukasi mereka. Anak berkebutuhan khusus juga bisa berkarya dan berprestasi, namun cara pembelajarannya harus dipahami dulu,” papar Sarwiasih.
Pendidikan inklusif bukan sekadar metode atau pendekatan pendidikan, melainkan suatu bentuk implementasi filosofi yang mengakui kebhinekaan antarmanusia yang mengemban misi tunggal untuk membangun kehidupan bersama yang lebih baik. Tujuan pendidikan inklusi adalah untuk menyatukan hak semua orang tanpa terkecuali dalam memperoleh pendidikan. (JM)









Aryanto yang berasal dari Dinas Kebudayaan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta ini menyampaikan sifat karakteristik budaya Jawa-Yogyakarta. Di antaranya adalah religius ber-Tuhan, mempunyai toleransi keagamaan yang besar, sangat menekankan aspek kerukunan, hormat dan keselarasan sosial yang tercermin dalam kearifan nilai budaya dengan kredo, asih ing sesami dan dudu sanak dudu kadang yen mati melu kelangan, serta lebih suka memecahkan masalah kehidupan dengan sikap mawas diri atau tepa slira agar dapat menghindari konflik dengan pihak lain.