Pembunuhan Karakter Anak oleh Orang Tua dan Guru yang Jarang Disadari
Dra. Alif Muarifah., S.Psi., M.Si
Dosen Universitas Ahmad Dahlan
Setiap anak yang lahir di dunia merupakan amanah yang dibekali dengan berbagai potensi hebat berupa kepekaan, kecerdasan, penglihatan serta pendengaran yang luar biasa bagusnya. Jika sejak dini sampai masa anak-anak berlangsung disadari dan dikembangkan dengan cara yang kondusif, akan terbentuk anak hebat yang sangat mengagumkan. Namun pada kenyataannya, banyak orang tua dan guru tidak memahami akan potensi tersebut sehingga dalam proses belajarnya salah dan menyimpang.
Jika kita melihat pendidikan yang berlangsung di Negara yang telah maju dan sadar terhadap potensi besar tersebut, maka anak merupakan asset yang harus diperhatikan dan dibina se awal mungkin dalam proses pembelajarannya, sehingga ia menjadi pribadi yang mandiri, cerdas serta bercharacter. Kesadaran orang tua dalam pendidikan, peran guru dalam pembelajaran, system pemerintahan yang mendukung serta keikutsertaan masyarakat mempunyai andil besar untuk mewujudkan impian tersebut. Seringkali beberapa aspek tersebut tidak konsisten dalam menjalankan tanggungjawab atau malah saling bertolak belakang.
Manusia adalah makhluk edukandum yang mampu dididik dan diarahkan serta dikembangkan melebihi kehebatan computer secanggih apapun. Sebab otak manusia merupakan organ yang membantu untuk berfikir serta menyimpan berbagai informasi yang didapatkan melalui semua indera dan disimpan dalam memory dengan daya simpan yang basa bertahan lama bahkan seumur hidupnya. Diantara masa bayi sampai pada kisaran 10 tahun, sel otak pada anak memiliki fleksibilitas yang tinggi, sehingga dengan bermain dengan suasana yang menyenangkan dapat mengembangkan imaginasi serta kreativitas yang begitu tinggi. Sebab bagi anak, bermain merupakan aktivitas yang sangat menyenangkan sehingga banyak kegiatan belajar yang dilakukan dalam suasana tersebut mampu merubah kejenuhan dan kebisanan anak sehingga menumbuhkan semangat kembali. Selain dapat dapat mengembangkan berbagai potensi yang dimiliki oleh anak, dengan bermain yang menyenangkan dapat dipakai untuk melatih daya konsentrasi anak sehingga ia dapat terfokus terhadap kegiatan tertentu. Konsentrasi merupakan sesuatu yang esensi dalam kehidupan, terutama bagi anak yang akan memasuki dunia sekolah sehingga ia lebih siap untuk mendapatkan materi yang lebih meningkat dari jenjang sebelumnya. Melalui bermain anak akan belajar mendapatkan pengalaman, 30 % dari apa yang didengar, 40 dari yang dilihat, 60 % dari yang dilakukan dan 90 % dari yang dilihat, didengar dan dilakukan.
Anak akan melakukan hal-hal sesuai dengan apa yang di lihat dan dicontohkannya, sehingga jika diberikan pelatihan secara continue dan berulang dapat menimbulkan habit akan berpengaruh terhadap perkembangan kognisi selanjutnya, yakni memperkuat relasi antar neuron kemampuan akademik yang memiliki keguanaan pada perkembangan di masa yang akan datang. Sebab pada usia dini otak anak belum terisi oleh banyaknya persoalan hidup sehingga daya kemampuan untuk menangkap informasi serta daya simpan dalam memory begitu tajam. Banyaknya latihan bicara yang diberikan akan memperkuat keterampilan berbahasa. Anak yang dilatih dengan kelembutan, kesungguhan, kedisiplinan memiliki pengaruh dalam perkembangan social, kognisi serta keperibadian. Belajar harus berfokus pada kontektual, bukan tekstual, sehingga mengajarkan kepada anak harus konsisten dan penuh kesungguhan sehingga akan menumbuhkan character yang kuat.
Namun kenyataan banyak yang didapati anak dalam proses belajar tidak semulus harapnnya, banyak dari mereka mendapatkan perlakuan yang tidak layak dengan berbagai pembunuhan character yakni pemunculan kalimat negative, kelemahan serta kekurangan yang dimiliki anak. Sejak dulu, manusia seringkali dipandang sebagai makhluk yang bermasalah. Lebih-lebih aliran behavioristik yang memandang manusia sebagai sesuatu mekanik yang penuh dengan berbagai masalah. Juga pandangan aliran klasik psikoanalisis yang selalu melihat kenangan masa lalu sebagai penyebab penderitaan yang ada saat ini. Mereka lebih banyak mengedepankan kekurangan dibandingkan dengan kelebihan yang ada pada manusia Sehingga pembelajaran yang seringkali dilakukan kebanyakan berorientasi kepada pandangan-pandangan yang dapat merusak bahkan membunuh character atau potensi alamiah yang diberikan oleh Tuhan dengan berjuta kebaikan.
Pada kenyatannya setiap anak manusia selalu mendambakan kebahagiaan serta terbebas dari masalah yang menghimpitnya. Mereka memiliki keinginan untuk dihargai, disanjung, dikasihsayangi, dimiliki, humor, optimism serta dimunculkan nilai-nilai kebaikan lainnya sehingga menjadikannya berarti dan bermakna. Mengedepankan nilai positif tidak hanya bermanfaat untuk meningkat kemampuan serta mengembangkan kreativitas anak, melainkan juga dapat digunakan untuk menyembuhkan stress dan gangguan mental lainnya. Sebab pengobatan bukan hanya memperbaiki yang rusak; pengobatan juga berarti mengembangkan apa yang terbaik yang ada dalam diri kita.” (Seligman). Untuk membangun character maka lebih berfokus pada kelebihan manusia bukan pathogenesis. Pathogenisis akan membuat manusia semkin terpuruk dan jauh dari potensi dasar yang sebenarnya. Sebagai orangtua, guru serta anggota masyarakat kita dapat memahami mengapa hal-hal yang positif susah dikembangkan atau sering diabaikan? Sebab emosi negatif lebih memiliki efek serta pengaruh yang kuat terhadap perasaan nyaman yang subyektif dalam beradaptasi dibandingkan emosi positif. Kesedihan, penderitaan, sakit hati lebih berkesan dibanding rasa bahagia. Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh ahli didapatkan bahwa marah adalah emosi yang dipelajari, yang dapat menurunkan ketegangan serta menimbulkan kepuasan, sehingga ada kecenderungan untuk mengulangi hal yang dirasa nyaman. Padahal jika dianalisis secara mendalam atas dampak yang dilakukan sangatlah tinggi, baik ditinjau dari aspek fisik maupun psikologis.

Pada Mukernas I APMAPI di Malang telah terbentuk pengurus inti yaitu: Ketua Umum: Prof. Udin Syaefudin Saud, Ph.D. (UPI), Sekretaris Umum: Dr. Imran Arifin, M.Pd. (UM), Team formatur dari PTN dan PTS. Pengurus dan formatur dipersyaratkan peserta yang memiliki linieritas bidang Manajemen/Administrasi Pendidikan.
Tahun ini, genap 10 tahun usia kerja sama strategis Cina dengan negara-negara ASEAN termasuk Indonesia. Seperti tahun-tahun sebelumnya, diadakan Cina-ASEAN EXPO (CAEXPO), berupa pameran ekonomi dan perdagangan berskala internasional. Kegiatan yang berlangsung pada tanggal 3-6 September tersebut mengusung tema “Pengembangan Kerjasama Regional: Peluang Baru, Motivasi Baru, Tahap Baru”.
Mahasiswa Fakultas Psikologi UAD mengadakan lokakarya Taman Bacaan Masyarakat (TBM) pada hari Sabtu (21/09). Temayang diangkat adalah “TBM Go to Kampus dan Gerakan Mahasiswa 1001 Buku”. Acara yang diadakan di auditorium Kampus I ini menghadirkan Agung Nugroho,S.Pd.I. (Ketua forum TBM Motor Keliling DIY) dan Heni Waradatur Rohmah (TBM Mata Aksara) sebagai pembicara. Acara tersebut diadakan dengan tujuan untuk meningkatkan minat baca mahasiswa saat ini khususnya para mahasiswa Psikologi Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta.
KKN Alternatif Ramadhan periode 38 telah selesai melaksanakan tugasnya di daerah Banguntapan, Bantul. Pada hari Rabu (25/09) lalu, Drs. H. Jabrohim, M.M. selaku Kepala Lembaga Pengabdian kepada Masyarakat (LPM) resmi menarik 120 mahasiswa KKN. Selama 2 bulan berada di Bantul, mereka melakukan banyak program. Antara lain pengobatan gratis, donor darah, penyuluhan, pelatihan, bimbingan belajar, dan TPA. Mahasiswa juga mengadakan berbagai kegiatan bermasyarakat yang bersifat membangun dan mempererat tali silaturahmi.
Dua mahasiswa Fakultas Hukum (FH) yang tergabung dalam Komunitas Peradilan Semu (KPS) FH Universitas Ahmad Dahlan (UAD) menghadiri Kompetisi Peradilan Semu Tingkat Nasional Prof Soedarto IV. Mereka hadir memenuhi undangan dari Universitas Diponegoro (UNDIP) Semarang. Kompetisi yang digelar mulai dari 13-19 September lalu dihadiri 16 universitas sebagai delegasi dan 4 pengamat.
Jurnal TELKOMNIKA Universitas Ahmad Dahlan (UAD) kini memperoleh akreditasi A pada bulan Maret 2013 melalui SK No. 58/DIKTI/Kep/2013. Ini merupakan akreditasi kedua setelah sebelumnya Jurnal TELKOMNIKA terakreditasi B pada tahun 2010. Penilaian akreditasi A menunjukkan bahwa TELKOMNIKA telah menjadi jurnal yang lebih baik dan diakui DIKTI di antara jurnal Program Studi Teknik Elektro di Indonesia. “Dari 24 jurnal yang terakreditasi di periode I tahun 2013, TELKOMNIKA adalah 1 dari 2 jurnal yang mendapat terakreditasi A,” terang Tole Sutikno, S.T., M.T. selaku Ketua Dewan Editor.