PERLUNYA MENANAMKAN KARAKTER KEWIRAUSAHAAN UNTUK CALON GURU PGSD

0
225

Oleh : Nur Hidayah, M.Pd.

(Dosen PGSD FKIP Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta,

email: hzam_09@yahoo.com /Hp. 085729184200)

 

Matakuliah kewirausahaan merupakan alternatif yang baik untuk dikembangkan di tingkat perguruan tinggi. Mengingat banyaknya informasi yang menyebutkan bahwa lulusan perguruan tinggi yang semakin tahun semakin banyak, justru tidak menghasilkan sarjana-sarjana yang “plus” tetapi lebih banyak mencetak tenaga-tenaga buruh/karyawan yang bekerja tidak sesuai dengan dimensi keilmuannya. Mengacu pada data direktorat kependidikan terdapat 83,18% menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang maka semakin rendah tingkat kemandiran dan semangat kewirausahaannya, sehingga perguruan tinggi (PT) dianggap tidak berhasil dalam membekali mahasiswanya dalam kemandirian dan tidak berhasil dalam menanamkan karakter-karakter kewirausahaan.

Pendidikan kewirausahaan pada intinya adalah menciptakan kreativitas inovasi. Pendidikan kewirausahaan mendidik peserta didik melakukan perubahan dengan proses kerja yang sistemik. Proses kerja yang dimaksud seperti menghubungkan konsep yang relevan (connecting the concepts), melakukan eksplorasi terhadap hasil (exploring the impact), berpikir yang tidak lagi bersifat terarah (convergent thinking) atau pola pemikiran yang berbeda (thinking differently), mengorganisasikan system (organizing the system) dan mengaplikasikan suatu standard dan etika (applying standard and ethic). 

Adapun ekonomi kreatif menekankan pemecahan masalah yang produktif yang nantinya peserta didik mampu menciptakan ide-ide kreatif sekaligus ide-ide yang teruji dengan kritis. Perlunya berpikir kreatif dalam era globalisasi ini dengan berbagai alasan. Perkembangan yang cepat dalam persaingan dan industri, penggunaan sumber daya manusia kreatif secara efektif dan menemukan cara-cara baru dalam memecahkan masalah.

Beberapa karakter yang dapat diciptakan dari kewirausahaan sangat banyak, seperti: kemandirian, keberanian, kesiap dan kesigapan, kejujuran, dan lain sebagainya adalah modal dasar dalam profesi keguruan khususnya untuk menjadi guru SD. Mengingat sudah mulai lunturnya keteladanan dari guru untuk para siswanya. Sehingga banyak siswa yang tidak lagi mengidolakan guru sebagai figur dalam kehidupannya dan lebih suka mencari idola-idola lain yang terkadang jauh dari karakter bangsa Indonesia yang berbasis pada Pancasila dan UUD 1945.

Mahasiswa sebagai agent of change tentunya jika dibelajarkan dengan pendekatan-pendekatan yang berbasis pada keaktifan, kreatifitas, dan menyenangkan maka akan mudah menumbuhkan atmosfera belajar sehingga akan tumbuh kemampuan untuk pengembangan potensi dirinya, sehingga kemandirian akan dengan mudah tercipta. Oleh karena itu, model pembelajaran kewirausahaan di PT seyogyanya dikorelasikan dengan dunia usaha dan dunia industri yang sesuai dengan karakter keilmuan masing-masing.

Khusus untuk PGSD sebaiknya diarahkan pada kemampuan enterpreneur dibidang pendidikan, seperti dalam dunia usaha pengembangan media pendidikan anak yang berbasis lingkungan, alat-alat peraga pendidikan, dan dibawa untuk berkunjung ke dunia usaha/industri yang menerapkan pola-pola manajemen profesional. Dengan begitu mahasiswa calon guru akan melakukan sebuah proses transformasi keilmuan yang didapat secara langsung dan bahkan bisa melakukan proses learning by doing sehingga akan meninggalkan bekas berupa exsperience (pengalaman). Jika hal itu dilakukan maka mahasiswa calon guru juga akan mengalami proses pematangan berpikir yang dapat diindikasikan sebagai proses pendewasaan diri, sehingga karakter kemandirian, keberanian, keuletan, dan lain sebagainya akan mendarah daging dalam dirinya dan akan menjadi suri tauladan bagi murid-muridnya dalam proses penjalankan profesi yang diembannya. Insyaaloh.