• TERKINI
  • UAD BERDAMPAK
  • PRESTASI
  • FEATURE
  • OPINI
  • MEDIA
  • KIRIM BERITA
  • Menu
News Portal of Universitas Ahmad Dahlan

Memaknai Hakikat Penciptaan dan Urgensi Menuntut Ilmu

29/07/2026/in Feature /by Ard

Kajian Ahad Pagi Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD) dengan pembicara Ustaz Muhammad Arief Ash-Shafi (Foto. Ana)

Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD) kembali menggelar agenda rohani rutin bagi sivitas akademika dan masyarakat luas melalui Kajian Rutin Ahad Pagi. Bertempat di Masjid Islamic Center UAD pada Ahad, 12 Safar 1448 H / 26 Juli 2026 M, kegiatan ini menghadirkan penceramah Ustaz Muhammad Arief Ash-Shafi, Lc. yang mengupas tuntas tema krusial bertajuk “Ilmu Wajib”.

Dalam pemaparannya, kajian dibuka dengan mengingatkan kembali esensi utama kehadiran manusia di muka bumi. Mengutip ayat Al-Qur’an dalam Surah Adz-Dzariyat ayat 56, dijelaskan bahwa tujuan penciptaan manusia tidak lain adalah untuk beribadah dan menghamba sepenuhnya kepada Allah SWT.

“Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk menyembah-Ku,” terangnya saat menjabarkan makna lil-hashr dalam tata bahasa Arab yang menegaskan bahwa tidak ada tujuan lain penciptaan manusia selain beribadah.

Lebih lanjut, ditekankan pula bahwa konsep ibadah tidak boleh disempitkan hanya pada ritual vertikal seperti salat, zakat, atau puasa saja. Ibadah mencakup seluruh bentuk interaksi vertikal maupun horizontal, yang intinya adalah kepatuhan mutlak seorang hamba terhadap segala perintah dan larangan Sang Pencipta.

Oleh karena itu, tugas utama seorang hamba yang berkedudukan sebagai khalifah di bumi adalah mengenali batasan-batasan tersebut. Di sinilah urgensi menuntut ilmu menjadi fondasi yang tidak bisa ditawar.

“Tugas pertama seorang hamba adalah mengetahui perintah dan larangan Allah SWT,” tegasnya. Pemahaman keliru di tengah masyarakat mengenai definisi ilmu wajib turut diluruskan. Ilmu yang diwajibkan oleh Rasulullah SAW melalui sabdanya “talabul ‘ilmi faridatun ‘ala kulli muslim” bukanlah ilmu formal umum seperti matematika, melainkan ilmu mendasar terkait hal yang dihukumi wajib dan haram bagi seorang Muslim.

Kajian ini turut mengingatkan para jemaah bahwa kebodohan atau alasan “tidak tahu” tidak dapat dijadikan pembelaan di hadapan Allah SWT kelak. Berbeda dengan kondisi khusus seperti anak-anak yang belum balig, orang tidur, orang gila, atau seseorang yang bertindak karena berada dalam tekanan paksaan, ketidaktahuan akibat enggan belajar ilmu agama tidaklah menggugurkan akuntabilitas amal.

Melalui penyelenggaraan Kajian Rutin Ahad Pagi ini, diharapkan jemaah dan masyarakat muslim dapat terus meningkatkan kesadaran spiritual serta menjadikan pencarian ilmu agama sebagai prioritas utama dalam menjalani kehidupan sehari-hari yang diridai Allah SWT. (Ana)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Kajian-Ahad-Pagi-Masjid-Islamic-Center-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-dengan-pembicara-Ustaz-Muhammad-Arief-Ash-Shafi-Foto.-Ana.jpg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2026-07-29 09:38:472026-07-29 09:38:47Memaknai Hakikat Penciptaan dan Urgensi Menuntut Ilmu

Empat Pilar Keselamatan Dunia dan Akhirat untuk Keluarga

28/07/2026/in Feature /by Ard

Kajian Ahad Pagi Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD) dengan pembicara Ustaz Rofiul Wahyudi (Foto. Mawar)

Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD) kembali menggelar Kajian Ahad Pagi pada, 19 Juli 2026. Pada kesempatan tersebut, Ustaz Rofiul Wahyudi, S.E.I., M.E.I., Ph.D., anggota Majelis Tabligh PWM DIY sekaligus dosen Perbankan Syariah UAD, menyampaikan materi bertajuk “Empat Pilar Keselamatan Dunia dan Akhirat untuk Keluarga.”

Dalam ceramahnya, Ustaz Rofiul mengajak jemaah untuk terus berupaya membangun keluarga yang tidak hanya bahagia di dunia, tetapi juga memperoleh keselamatan di akhirat. Menurutnya, setiap keluarga perlu menjaga empat pilar utama agar kehidupan rumah tangga senantiasa berada dalam keberkahan Allah Swt.

Pilar pertama yang disampaikan adalah menjaga akidah dan ibadah. Ia menegaskan bahwa identitas seorang muslim harus tercermin dalam kehidupan sehari-hari, salah satunya melalui komitmen menutup aurat sesuai syariat. Menurutnya, menjaga identitas keislaman tidak cukup dilakukan ketika berada di masjid atau pengajian, tetapi juga harus diwujudkan dalam aktivitas sehari-hari sebagai bentuk keteguhan akidah.

Selain menjaga akidah, Ustaz Rofiul menjelaskan bahwa seluruh aktivitas dapat bernilai ibadah apabila diniatkan karena Allah. Menuntut ilmu, bekerja mencari nafkah, makan, minum, hingga beristirahat dapat menjadi ibadah selama dilakukan dengan niat yang benar. Oleh sebab itu, umat Islam didorong untuk selalu memperbaiki niat dalam setiap aktivitas kehidupan.

Pilar kedua adalah menjaga semangat belajar ilmu agama. Menurutnya, kewajiban menuntut ilmu tidak mengenal batas usia. Ia mengajak masyarakat untuk terus mengikuti majelis ilmu, membaca Al-Qur’an, mempelajari hadis, serta tidak ragu bertanya kepada para ulama ketika menemui persoalan agama. “Ilmu agama menjadi bekal penting agar setiap ibadah yang dilakukan sesuai dengan tuntunan syariat,” ujarnya.

Selanjutnya, Ustaz Rofiul mengingatkan pentingnya menjaga kesehatan fisik sebagai pilar ketiga. Ia menuturkan bahwa kesehatan merupakan modal utama dalam menjalankan ibadah dan aktivitas sehari-hari. Karena itu, masyarakat diimbau menjaga pola makan, memperhatikan jenis makanan yang dikonsumsi, serta mengatur jumlah makanan secara proporsional agar tubuh tetap sehat dan produktif.

Pilar terakhir adalah menjaga maisyah atau kondisi ekonomi keluarga. Menurutnya, Islam mengajarkan sikap qanaah (merasa cukup) dan bersyukur atas nikmat yang telah diberikan Allah Swt. Sikap tersebut menjadi benteng agar seseorang tidak mudah tergoda gaya hidup konsumtif yang berlebihan. Ia juga mengajak jemaah untuk meneladani kesederhanaan Rasulullah saw. dalam menjalani kehidupan.

Menjelang akhir kajian, Ustaz Rofiul kembali menegaskan bahwa keempat pilar tersebut saling berkaitan dalam membentuk keluarga yang kokoh, harmonis, serta memperoleh kebahagiaan di dunia dan keselamatan di akhirat. (Mawar)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Kajian-Ahad-Pagi-Masjid-Islamic-Center-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-dengan-pembicara-Ustaz-Rofiul-Wahyudi-Foto.-Mawar.jpg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2026-07-28 08:59:002026-07-28 08:59:00Empat Pilar Keselamatan Dunia dan Akhirat untuk Keluarga

Mewujudkan Takwa dan Akhlak Mulia

26/07/2026/in Feature /by Ard

Kajian Ahad Pagi Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD) dengan pembicara Ustaz Fajar Rachmadhani (Foto. Mawar)

Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD) kembali menggelar Kajian Ahad Pagi yang menghadirkan Ustaz Fajar Rachmadhani, Lc., M.Hum., Ph.D., anggota Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Mengangkat tema “Takwa dan Akhlak Mulia”, kajian ini mengajak jemaah memahami hakikat ketakwaan sekaligus pentingnya membangun akhlak sebagai fondasi kehidupan seorang muslim.

Dalam pemaparannya, Ustaz Fajar mengawali kajian dengan mengulas hadis ke-18 dalam kitab Arba’in An-Nawawi yang berbunyi, “Bertakwalah kepada Allah di mana pun engkau berada, iringilah keburukan dengan kebaikan niscaya kebaikan itu akan menghapusnya, dan bergaullah dengan manusia dengan akhlak yang baik.”

Menurutnya, takwa bukan sekadar menjalankan ibadah, tetapi merupakan sikap hati-hati dalam menjalani kehidupan. Ia mengutip penjelasan sahabat Umar bin Khattab yang mengibaratkan takwa seperti seseorang yang berjalan di jalan gelap penuh duri sehingga harus melangkah dengan penuh kewaspadaan agar tidak terluka.

“Takwa adalah bentuk kehati-hatian kita dalam menjalani kehidupan. Kita harus berhati-hati terhadap perkara yang halal, haram, maupun syubhat agar tidak terjerumus dalam kemaksiatan,” jelasnya.

Ia juga menyampaikan pandangan Ali bin Abi Thalib bahwa takwa berarti takut kepada Allah. Namun, rasa takut tersebut bukan membuat seseorang menjauh dari Allah, melainkan semakin mendekat melalui ibadah dan amal saleh. Sementara itu, menurut Ibnu Umar, seseorang yang bertakwa tidak akan merasa dirinya lebih baik daripada orang lain.

Lebih lanjut, Ustaz Fajar menegaskan bahwa ketakwaan harus diwujudkan dalam setiap kondisi, baik ketika berada di tengah keramaian maupun saat sendirian. Menurutnya, menjaga ketakwaan ketika tidak ada seorang pun yang melihat justru menjadi ujian terbesar bagi seorang hamba.

“Manusia mungkin bisa tertipu oleh pencitraan, tetapi Allah mengetahui segala sesuatu, termasuk apa yang kita lakukan saat tidak ada orang lain,” ujarnya.

Selain membahas makna takwa, ia juga menyoroti pentingnya keikhlasan dalam beramal. Ia menjelaskan bahwa salah satu ciri orang yang ikhlas ialah kualitas amalnya tetap sama, baik ketika dipuji maupun dicela, serta ketika dilakukan secara terbuka maupun tersembunyi.

Dalam kesempatan tersebut, Ustaz Fajar mengingatkan bahaya melakukan dosa secara terang-terangan atau membanggakan kemaksiatan. Ia menjelaskan bahwa Rasulullah saw. menyebut perilaku tersebut sebagai mujahir, yaitu orang yang membuka sendiri aib dan dosa yang telah Allah tutupi.

“Kalau seseorang masih malu ketika berbuat dosa, berarti iman dan rasa malunya masih hidup. Namun ketika dosa dilakukan terang-terangan dan bahkan dibanggakan, itu menjadi tanda yang sangat berbahaya,” ungkapnya.

Sebagai solusi, ia mengajak jemaah untuk senantiasa memperbanyak amal saleh sebagai bentuk penghapus dosa-dosa kecil. Ia menegaskan bahwa setiap manusia pasti pernah melakukan kesalahan, tetapi Allah membuka pintu taubat seluas-luasnya bagi hamba yang sungguh-sungguh kembali kepada-Nya.

Pada akhir kajian, Ustaz Fajar menekankan bahwa akhlak mulia merupakan bukti nyata ketakwaan seseorang. Menurutnya, ilmu pengetahuan yang tinggi tidak akan memberikan manfaat apabila tidak disertai akhlak yang baik.

“Orang pintar banyak, tetapi orang berilmu yang berakhlak mulia justru semakin langka. Karena itu, yang harus kita bangun bukan hanya kecerdasan intelektual, tetapi juga karakter dan akhlak,” tuturnya.

Ia juga mengingatkan para orang tua agar tidak hanya berorientasi pada prestasi akademik anak, tetapi lebih mengutamakan pembentukan akhlak, keimanan, dan kebiasaan beribadah sebagai bekal kehidupan dunia maupun akhirat. (Mawar)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Kajian-Ahad-Pagi-Masjid-Islamic-Center-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-dengan-pembicara-Ustaz-Fajar-Rachmadhani-Foto.-Mawar.jpg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2026-07-26 08:00:522026-07-27 08:54:51Mewujudkan Takwa dan Akhlak Mulia

Pengobatan Klenik Modern dan Ancaman bagi Akidah

25/07/2026/in Feature /by Ard

Nur Utami Hidayati mahasiswa Magister Kesehatan Masyarakat Universitas Ahmad Dahlan (UAD) (Foto. Nur Utami)

Penulis: Nur Utami Hidayati (Mahasiswa Magister Kesehatan Masyarakat) Universitas Ahmad Dahlan (UAD)

Di tengah kemajuan dunia kesehatan modern, pesona pengobatan klenik masih memiliki tempat di hati masyarakat. Ketika layanan kesehatan semakin berkembang, teknologi kedokteran semakin canggih, dan akses informasi kesehatan semakin mudah, praktik-praktik pengobatan klenik tetap diminati. Mungkin masih segar diingatan kita  kasus menghebohkan dukun cilik Ponari, hingga praktik supranatural Ningsih Tinampi, fenomena ini menggambarkan bahwa masyarakat masing sangat mempercayai pengobatan klenik. Di berbagai daerah, masih banyak pula paranormal, dukun, “orang pintar”, hingga praktisi metafisika yang menawarkan pengobatan untuk kesembuhan berbagai penyakit.

Sebenarnya apa itu pengobatan klenik? Menurut Kamus Bahasa Indonesia klenik memiliki arti  kegiatan perdukunan dengan cara-cara yang sangat rahasia dan tidak masuk akal, tetapi dipercayai oleh banyak orang. Dalam kehidupan masyarakat, istilah klenik merujuk pada berbagai praktik yang mengandalkan kekuatan mistis, mantra, jimat, komunikasi dengan makhluk gaib, atau ritual tertentu yang diyakini dapat memberikan kesembuhan, keberuntungan, perlindungan, maupun solusi atas berbagai persoalan kehidupan. Dengan demikian, pengobatan klenik dapat dipahami sebagai bentuk pengobatan yang menggunakan praktik-praktik gaib atau perdukunan sebagai sarana memperoleh kesembuhan.

Pengobatan klenik bukanlah fenomena baru. Masyarakat Nusantara telah mengenal praktik ini  sejak sebelum masuknya agama-agama besar yaitu ketika masyarakat masih menganut kepercayaan animisme dan dinamisme. Kepercayaan tersebut kemudian diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya sebagai amanah turun-temurun. Tradisi yang diwariskan turun-temurun inilah yang menyebabkan praktik klenik tetap bertahan, meskipun tidak seluruhnya sejalan dengan ajaran Islam maupun ilmu pengetahuan modern.

Praktik pengobatan klenik berkembang dalam berbagai bentuk, sebagian dilakukan secara terang-terangan, sebagian lagi dikemas dengan istilah religius atau ilmiah dan bertransformasi mengikuti perkembangan zaman agar lebih mudah diterima masyarakat.

Beberapa jenis klenik

Pengobatan melalui dukun atau paranormal, biasanya dukun atau paranormal ini  mengaku mampu mengetahui penyebab penyakit melalui kemampuan gaib, kemudian melakukan ritual tertentu sebagai sarana penyembuhan yaitu dengan membaca jampi-jampi , meniup air, memindahkan penyakit ke hewan atau benda tertentu serta mengaku bisa melihat makhluk halus penyebab penyakit.

Jimat, pasien diberikan benda tertentu yang diyakini mempunyai kekuatan penyembuh seperti cincin, rajah, keris, dan lain-lain.

Pengobatan melalui ritual tertentu seperti berendam tengah malam, menyediakan sesajen, berpuasa tidak sesuai dengan syariat, dan lain-lain

Pengobatan berkedok agama seperti mencampurkan ayat Al-Qur’an dengan mantra, memberikan rajah Arab yang tidak dipahami maknanya atau mengaku memiliki khodam wali.

Pengobatan klenik digital, era media sosial melahirkan bentuk baru pengobatan klenik seperti transfer energi jarak jauh, terapi aura, penyembuhan melalui video call, konsultasi supranatural melalui WhatsApp atau pembukaan cakra secara daring

Fatwa Muhammadiyah

Muhammadiyah melalui Majelis Tarjih dan Tajdid secara konsisten mengajak umat Islam untuk memurnikan akidah dari praktik tahayul, bid’ah, dan khurafat. Majelis Tarjih Muhammadiyah dengan tegas mengeluarkan fatwa haram terhadap pengobatan berbasis supranatural destruktif/klenik.

Dalam berbagai fatwa dan putusan tarjih dijelaskan bahwa seorang muslim wajib bertawakal hanya kepada Allah Swt. dan tidak boleh meyakini adanya kekuatan gaib yang berasal dari selain-Nya. Penyakit dan kesembuhan berada sepenuhnya di bawah kehendak dan kekuasaan Allah Swt.

Seperti firman Allah Swt.:

“Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan.”
(QS. Al-Fatihah [1]: 5)

“Dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan aku.”
(QS. Asy-Syu’ara’ [26]: 80).

Dalam himpunan putusan tarjih Muhammadiyah dan berbagai fatwa tarjih, ditegaskan pula bahwa praktik perdukunan, penggunaan jimat, ramalan, serta pengobatan yang meminta bantuan jin atau kekuatan gaib termasuk perbuatan yang bertentangan dengan prinsip tauhid.

Seperti firman Allah Swt.:

“Dan sesungguhnya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia yang meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu hanya menambah bagi mereka dosa dan kesesatan.”
(QS. Al-Jin [72]: 6)

Islam mengajarkan bahwa setiap penyakit memiliki sebab dan Allah Swt. menyediakan obatnya. Oleh karena itu, umat Islam diperintahkan untuk berikhtiar mencari pengobatan yang benar yaitu pengobatan yang halal, tidak menimbulkan bahaya, tidak mengandung unsur sirik, dilakukan melalui cara-cara yang sesuai dengan syariat dan berdasarkan ilmu pengetahuan.

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Nur-Utami-Hidayati-mahasiswa-Magister-Kesehatan-Masyarakat-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-Foto.-Nur-Utami.jpg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2026-07-25 08:00:452026-07-27 08:41:09Pengobatan Klenik Modern dan Ancaman bagi Akidah

Olahraga dalam Perspektif Al-Qur’an dan Hadis

24/07/2026/in Feature /by Ard

Kajian Ahad Pagi Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD) dengan pemateri Ustaz Muhammad Hasnan Nahar (Foto. Mawar)

Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD) kembali menggelar Kajian Ahad Pagi pada Minggu, 5 Juli 2026. Kajian kali ini mengangkat tema “Olahraga dalam Tinjauan Al-Qur’an dan Hadis” dengan menghadirkan Ustaz H. Muhammad Hasnan Nahar, S.Th.I., M.Ag., dosen Program Studi Ilmu Hadis UAD. Kajian tersebut mengajak jemaah memahami pentingnya menjaga kesehatan jasmani sebagai bagian dari implementasi ajaran Islam.

Dalam pemaparannya, Ustaz Muhammad Hasnan Nahar menegaskan bahwa Islam tidak hanya mengajarkan kesehatan spiritual, tetapi juga mendorong umatnya menjaga kesehatan fisik. Menurutnya, tubuh yang sehat akan mendukung pelaksanaan ibadah dan aktivitas sehari-hari secara optimal.

Beliau mengawali kajian dengan mengisahkan ketegasan Umar bin Khattab terhadap gaya hidup yang berlebihan. Diceritakan bahwa Umar pernah menegur seseorang yang memiliki perut buncit karena dianggap sebagai simbol kemalasan dan terlalu mencintai dunia. “Pada masa itu, perut buncit dipandang sebagai simbol hidup bermalas-malasan, berfoya-foya, dan terlalu mendahulukan kenikmatan dunia sehingga melalaikan ibadah,” jelasnya.

Namun demikian, ia menekankan bahwa kondisi fisik seseorang tidak bisa langsung dijadikan ukuran. Obesitas yang disebabkan oleh faktor biologis atau keturunan tentu berbeda dengan kondisi yang muncul akibat pola hidup tidak sehat.

Selain menjelaskan pandangan para sahabat, beliau juga memaparkan kondisi kesehatan masyarakat Indonesia saat ini. Berdasarkan data World Obesity Atlas 2025, Indonesia menempati peringkat kelima dengan sekitar 13 persen penduduk dewasa mengalami obesitas. Menurutnya, kondisi tersebut menjadi pengingat bahwa masyarakat perlu lebih memperhatikan pola makan dan aktivitas fisik.

Untuk mengetahui status berat badan, beliau memperkenalkan perhitungan Indeks Massa Tubuh (IMT), yaitu berat badan dibagi tinggi badan dalam satuan meter kuadrat. Hasil perhitungan tersebut dapat digunakan sebagai acuan apakah seseorang berada pada kategori berat badan ideal, kelebihan berat badan, atau obesitas.

Mengacu pada ajaran Islam, beliau menjelaskan bahwa konsep diet sehat telah diajarkan dalam Al-Qur’an. Prinsip tersebut meliputi tidak makan dan minum secara berlebihan, mengonsumsi makanan yang halal dan baik (halalan thayyiban), menjaga keseimbangan gizi, serta menghindari makanan yang diharamkan.

“Yang pertama jangan makan dan minum berlebihan. Badan kita sebenarnya memiliki sistem yang sudah diatur Allah. Yang sering kali berlebihan justru keinginan mata dan lidah kita,” ungkapnya.

Beliau juga mengingatkan pentingnya mengatur jadwal makan secara teratur. Salah satu pola yang disarankan adalah konsep 3+2, yaitu tiga kali makan utama dan dua kali camilan sehat agar tubuh memperoleh asupan energi secara seimbang tanpa memicu makan berlebihan.

Selain pola makan, olahraga menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan. Dalam kajian tersebut, beliau menjelaskan perbedaan antara aktivitas fisik dan olahraga. Aktivitas sehari-hari seperti menyapu, mencuci, atau naik tangga memang membuat tubuh bergerak, tetapi belum tentu termasuk olahraga karena tidak dilakukan secara terstruktur dan sistematis.

“Olahraga memiliki gerakan yang terukur, sistematis, dan dilakukan secara terencana. Berbeda dengan aktivitas fisik sehari-hari yang sifatnya spontan,” jelasnya.

Menurutnya, olahraga memberikan manfaat berbeda pada setiap kelompok usia. Bagi anak-anak, olahraga membantu perkembangan motorik dan kemampuan bersosialisasi. Pada usia dewasa, olahraga berfungsi membakar kalori, menjaga tekanan darah, mengontrol kolesterol, serta mencegah berbagai penyakit kronis seperti diabetes dan penyakit jantung. Sementara bagi lansia, olahraga membantu menjaga keseimbangan tubuh, mempertahankan massa otot, serta mengurangi risiko osteoporosis dan jatuh.

Dalam perspektif Al-Qur’an, beliau mengutip kisah Nabi Talut dalam Surah Al-Baqarah ayat 247 sebagai gambaran pentingnya memiliki fisik yang kuat. Menurutnya, kekuatan Talut dan pasukannya bukan diperoleh secara instan, melainkan melalui latihan dan kedisiplinan.

Beliau juga mengutip hadis Rasulullah saw. yang diriwayatkan Imam Muslim mengenai keutamaan seorang mukmin yang kuat. “Mukmin yang kuat lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah, meskipun pada keduanya terdapat kebaikan,” tuturnya.

Di akhir kajian, beliau mengingatkan bahwa olahraga bukan sekadar menjaga penampilan, tetapi merupakan bentuk ikhtiar untuk merawat amanah berupa tubuh yang telah diberikan Allah Swt. “Jangan menunggu sakit untuk mulai hidup sehat. Ketika hasil Indeks Massa Tubuh sudah menunjukkan overweight atau bahkan obesitas, mulailah mengatur pola makan dan berolahraga. Ikhtiar adalah tugas manusia, sedangkan hasilnya Allah yang menentukan,” pesannya. (Mawar)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Kajian-Ahad-Pagi-Masjid-Islamic-Center-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-dengan-pemateri-Ustaz-Muhammad-Hasnan-Nahar-Foto.-Mawar.jpg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2026-07-24 10:41:242026-07-24 10:41:24Olahraga dalam Perspektif Al-Qur'an dan Hadis

Makna Hijrah Rasulullah saw.

23/07/2026/in Feature /by Ard

Kajian Ahad Pagi Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD) dengan pembicara Drs. H. Masykur Azahri, M.A. (Foto. Mawar)

Kajian Ahad Pagi yang diselenggarakan pada Minggu, 21 Juni 2026 di Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD) mengangkat tema “Makna dan Hijrah Rasulullah saw.”. Kajian tersebut menghadirkan Drs. H. Masykur Azahri, M.A., anggota Majelis Tabligh Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Sleman, sebagai pemateri. Dalam tausiyahnya, ia mengajak jemaah menjadikan momentum Tahun Baru Islam sebagai sarana meningkatkan ketakwaan, memperbaiki diri, serta meneladani perjuangan Rasulullah saw. dalam berhijrah.

Mengawali kajian, Ustaz Masykur menjelaskan bahwa bulan Muharam merupakan salah satu dari empat bulan yang dimuliakan Allah Swt. Pada bulan tersebut, setiap amal kebaikan akan dilipatgandakan pahalanya, sementara perbuatan maksiat memiliki konsekuensi dosa yang lebih besar.

“Bulan Muharam adalah bulan yang dimuliakan Allah. Kalau seseorang berbuat maksiat, dosanya lebih besar. Sebaliknya, jika melaksanakan kebaikan dan ketaatan kepada Allah, maka pahalanya akan dilipatgandakan. Karena itu, mari kita manfaatkan hari-hari di bulan Muharam dengan memperbanyak amal saleh,” tuturnya.

Ia juga mengingatkan bahwa sepuluh hari pertama bulan Muharam memiliki keutamaan tersendiri. Menurutnya, momentum tersebut seharusnya dimanfaatkan umat Islam untuk meningkatkan ibadah, menghadiri majelis ilmu, memperbanyak sedekah, serta memperkuat hubungan dengan Allah Swt.

Ia turut menjelaskan makna Hari Asyura, yaitu tanggal 10 Muharam, yang memiliki banyak peristiwa penting dalam sejarah para nabi. Ia menyebutkan bahwa pada hari tersebut Allah Swt. menerima tobat Nabi Adam a.s., menyelamatkan Nabi Yunus a.s. dari perut ikan, menyelamatkan Nabi Nuh a.s. dari banjir besar, menyelamatkan Nabi Ibrahim a.s. dari api Raja Namrud, serta menyelamatkan Nabi Musa a.s. dari kejaran Firaun.

Menurutnya, kemuliaan bulan Muharam tidak boleh dipahami sebagai bulan yang membawa kesialan atau pantangan tertentu sebagaimana berkembang dalam sebagian tradisi masyarakat.

“Muharam adalah bulan yang dimuliakan Allah, bukan bulan yang harus ditakuti. Yang perlu kita lakukan adalah memperbanyak amal kebaikan, bukan mempercayai berbagai mitos yang tidak memiliki dasar dalam ajaran Islam,” jelasnya.

Lebih lanjut, ia mengajak jemaah untuk membangun “benteng kehidupan” agar senantiasa mendapatkan perlindungan Allah Swt. Benteng tersebut, menurutnya, bukan diwujudkan melalui ritual-ritual tertentu, melainkan melalui akhlak dan amal saleh dalam kehidupan sehari-hari.

“Benteng kehidupan itu dibangun dengan menjaga lisan, memperbanyak sedekah, menjaga silaturahmi, memperbanyak doa, dan senantiasa berzikir kepada Allah. Itulah benteng yang akan menjaga kehidupan seorang muslim,” ungkapnya.

Ia menjelaskan bahwa menjaga lisan menjadi salah satu kunci utama terciptanya kehidupan yang damai. Banyak persoalan, mulai dari pertengkaran hingga perpecahan, berawal dari ucapan yang tidak dijaga dengan baik. Selain itu, sedekah juga disebut sebagai salah satu amalan yang mampu menjadi penolak berbagai musibah.

Memasuki pembahasan utama, Ustaz Masykur mengulas makna hijrah Rasulullah SAW dari Makkah ke Madinah. Ia menegaskan bahwa hijrah bukan sekadar perpindahan tempat, melainkan titik awal kebangkitan peradaban Islam yang dilandasi perjuangan, kesabaran, dan keimanan.

Selama berdakwah di Makkah, Rasulullah SAW menghadapi berbagai bentuk penindasan, intimidasi, hingga kekerasan. Meski demikian, beliau tetap menunjukkan akhlak mulia dalam menghadapi setiap perlakuan tersebut.

Sebagai teladan, Ustaz Masykur mengisahkan seorang perempuan yang setiap hari meludahi Rasulullah SAW ketika beliau berangkat menuju masjid. Ketika suatu hari perempuan tersebut tidak terlihat, Rasulullah justru mencari tahu keadaannya dan mendatangi rumahnya karena mengetahui bahwa ia sedang sakit.

“Rasulullah tidak membalas keburukan dengan keburukan. Beliau justru menjenguk orang yang selama ini menyakitinya. Akhlak seperti inilah yang akhirnya mampu melunakkan hati dan menjadi jalan hidayah bagi banyak orang,” paparnya.

Menurutnya, kisah tersebut mengajarkan bahwa hijrah sejati bukan hanya berpindah tempat, tetapi juga berpindah menuju akhlak yang lebih baik, mampu memaafkan, serta membalas keburukan dengan kebaikan.

Di akhir kajian, Ustaz Masykur mengutip hadis Rasulullah SAW tentang tiga golongan yang akan memperoleh derajat tinggi karena rahmat Allah, yaitu orang yang tetap memberi kepada mereka yang tidak pernah memberi, menyambung silaturahmi dengan orang yang memutuskannya, serta memaafkan orang yang pernah menzaliminya.

Ia berharap nilai-nilai hijrah Rasulullah SAW dapat menjadi inspirasi bagi umat Islam dalam menjalani kehidupan, terutama pada bulan Muharam yang penuh kemuliaan. Dengan memperkuat ibadah, menjaga akhlak, serta memperbanyak amal saleh, setiap muslim diharapkan mampu menjadikan hijrah sebagai proses perubahan menuju pribadi yang lebih bertakwa dan bermanfaat bagi sesama. (Mawar)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Kajian-Ahad-Pagi-Masjid-Islamic-Center-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-dengan-pembicara-Drs.-H.-Masykur-Azahri-M.A.-Foto.-Mawar.jpg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2026-07-23 08:18:382026-07-23 08:18:38Makna Hijrah Rasulullah saw.

Shaldan dan Tantangannya di ONMIPA Perguruan Tinggi 2026

21/07/2026/in Feature /by Ard

Shaldhan Bayu Yuska mahasiswa Program Studi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Ahmad Dahlan (UAD) (Foto. Shaldan)

Perjuangan pantang menyerah ditunjukkan oleh Shaldhan Bayu Yuska, mahasiswa Program Studi Kedokteran, Fakultas Kedokteran (FK), Universitas Ahmad Dahlan (UAD) angkatan 2023. Setelah melewati proses panjang, persaingan ketat, serta perjuangan selama tiga tahun, ia sukses menorehkan prestasi gemilang dengan menyabet medali perunggu dalam ajang Olimpiade Nasional Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Perguruan Tinggi (ONMIPA-PT) 2026 yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek). Kompetisi tingkat nasional tersebut berlangsung di Universitas Airlangga (Unair) pada 8 hingga 11 Juni 2026.

Perjalanan Shaldhan menuju babak final dimulai dari tahapan seleksi internal di kampus UAD. Dari proses tersebut, terpilih 5 delegasi per bidang pendaftaran. Shaldhan bersama 4 delegasi bidang biologi UAD lainnya kemudian dikirim untuk mewakili universitas di tingkat wilayah LLDIKTI V. Setelah melewati seleksi wilayah, ia berhasil menyisihkan kompetitor dan masuk ke dalam jajaran 65 finalis dari seluruh Indonesia yang berhak maju ke babak final tingkat nasional.

Sebagai mahasiswa kedokteran, Shaldhan mengakui adanya tantangan tersendiri karena cakupan materi yang diujikan merupakan biologi komprehensif yang sangat luas. Materi tersebut meliputi level genetik, molekuler, mikroorganisme, hewan, tumbuhan, hingga ekologi, yang mayoritas tidak didapatkan dalam perkuliahan rutinnya.

“Sebagai mahasiswa kedokteran, saya menemui kendala dalam mengejar materi biologi karena tidak diajarkan dalam kuliah. Strateginya adalah dengan menyelesaikan seluruh bab pada buku Campbell yang jadi fundamental biologi. Selain itu, latihan dari soal tahun lalu yang memegang peranan paling penting,” ujar Shaldhan.

Pada babak final nasional, seluruh soal disajikan penuh dalam bentuk esai. Shaldhan menjelaskan bahwa tingkat kesulitan utama pada kompetisi ini terletak pada analisis soal serta manajemen pengerjaan, mengingat kolom jawaban dan waktu yang disediakan panitia sangat terbatas. Untuk menjaga fokus selama kompetisi, Shaldhan menerapkan strategi dengan mengurangi interaksi yang tidak perlu dengan delegasi lain, terutama dalam hal mencocokkan atau mendiskusikan jawaban. Begitu ujian selesai, ia memilih untuk langsung pulang atau mencari udara segar demi menjaga kejernihan pikiran.

“Saat di hari H, banyakin waktu untuk istirahat, jangan terlalu banyak push materi,” tambahnya.

Pencapaian ini sekaligus menjadi momen puncak dari partisipasi ketiga Shaldhan dalam ajang ONMIPA-PT setelah pada dua edisi sebelumnya belum berhasil membawa pulang penghargaan.

“Momen yang paling tidak terlupakan adalah ketika malam penganugerahan di mana namaku akhirnya dipanggil setelah dua kali aku mencoba ONMIPA dan belum pernah dapat penghargaan sama sekali. Itu menjadi momen penantian selama tiga tahun,” pungkasnya. (Anove)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Shaldhan-Bayu-Yuska-mahasiswa-Program-Studi-Kedokteran-Fakultas-Kedokteran-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-Foto.-Shaldan.jpg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2026-07-21 08:19:302026-07-21 08:19:30Shaldan dan Tantangannya di ONMIPA Perguruan Tinggi 2026

Irgiawan Aditya Rangga Alumnus UAD dengan Segudang Prestasi Akademik dan Nonakademik

03/07/2026/in Feature /by Ard

Irgiawan Aditya Rangga Alumnus Universitas Ahmad Dahlan (UAD) dengan segudang prestasi akademik dan nonakademik (Foto. Irgiawan)

Dedikasi, kerja keras, dan keberanian memanfaatkan setiap peluang mengantarkan Irgiawan Aditya Rangga menjadi salah satu Wisudawan Berprestasi Universitas Ahmad Dahlan (UAD) pada periode wisuda tahun 2026. Lulusan Program Studi Ilmu Komunikasi dengan IPK 3,94 tersebut berhasil menunjukkan prestasi gemilang, baik di bidang akademik maupun nonakademik, selama menempuh pendidikan di UAD.

Putra pasangan Tafriah dan Akhmad Ihsan ini mengaku sangat bersyukur dan bahagia atas penghargaan yang diterimanya.

Selama menjadi mahasiswa UAD, Irgiawan berhasil mengoleksi sekitar 25 prestasi dari berbagai bidang dan tingkatan, mulai dari regional, nasional, hingga internasional. Prestasi tersebut mencakup bidang akademik, seni, kepenulisan, presentasi ilmiah, hingga kompetisi minat dan bakat.

Beberapa prestasi yang berhasil diraih antara lain Juara II Solo Vocal International Competition SILAT APIK PTMA 2025, Juara I Presenter Ahmad Dahlan International Youth Camp (ADYC) #3, Juara III Kategori Esai ADYC 2025, Juara I Management Creative Fair 2025, Juara II Festival Bisnis UNEJ 2025, Juara I Euforia Seni 3.0, Juara II Cultural Literacy FSBK 2024, serta berbagai penghargaan lainnya di tingkat nasional maupun internasional.

Dari sekian banyak pencapaian tersebut, keikutsertaannya dalam Pekan Seni Mahasiswa Nasional (PEKSIMINAS) menjadi pengalaman yang paling berkesan.

“Bagi saya, ajang PEKSIMINAS merupakan kompetisi bidang minat dan bakat yang paling bergengsi bagi mahasiswa. Pengalaman mengikuti kompetisi tersebut menjadi salah satu perjalanan yang paling berharga selama kuliah,” ujarnya.

Motivasi terbesar yang mendorong Irgiawan untuk terus berprestasi adalah keinginan membanggakan kedua orang tuanya. Selain itu, ia meyakini bahwa setiap kompetisi dan pencapaian tidak hanya menghasilkan penghargaan, tetapi juga memberikan pengalaman serta ilmu berharga yang tidak semua orang dapatkan.

Menurut Irgiawan, keberhasilan yang diraihnya tidak terlepas dari dukungan orang tua yang selalu memberikan semangat dan doa. Selain itu, ia juga mengapresiasi peran Bidang Kemahasiswaan UAD yang selama ini memberikan berbagai fasilitas dan dukungan bagi mahasiswa untuk berkembang dan berprestasi.

Dalam menjaga konsistensi prestasinya, Irgiawan selalu berpegang pada prinsip menentukan prioritas dan mengelola waktu dengan baik. Baginya, kemampuan mengenali kapasitas diri dan mengatur berbagai aktivitas secara seimbang merupakan modal penting untuk mencapai hasil yang optimal.

Setelah menyelesaikan pendidikan sarjana, Irgiawan berencana melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi, baik di dalam maupun luar negeri. Sambil mempersiapkan langkah tersebut, ia juga ingin terus mengembangkan berbagai keterampilan yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja dan karier di masa depan.

Bagi Irgiawan, prestasi tidak selalu identik dengan piala atau penghargaan. Ia memaknai prestasi sebagai keberhasilan menaklukkan sesuatu yang sebelumnya dianggap sulit atau bahkan mustahil untuk dicapai.

Sementara itu, kesuksesan menurutnya adalah hasil dari usaha yang mampu memberikan dampak positif, baik bagi diri sendiri maupun orang-orang di sekitar.

Ia berharap UAD terus berkembang dan mampu bersaing di tingkat nasional maupun internasional. Kepada mahasiswa UAD, ia berpesan agar terus memanfaatkan setiap peluang yang ada karena kampus selalu memberikan dukungan bagi mahasiswanya untuk berkembang dan berprestasi.

“UAD akan selalu mendukung mahasiswanya untuk berprestasi sesuai slogan yang selama ini dikenal, yaitu ‘Prestasi adalah Tradisi Kami’,” katanya.

Ia menambahkan, “Tidak ada kata mudah untuk meraih kesuksesan, sama halnya dengan kuliah. Karena itu, hiasilah masa kuliah dengan berbagai kegiatan yang bermanfaat dan mendukung masa depan. Jangan menyesal karena tidak mencoba sesuatu hanya karena merasa tidak mampu. Beranilah untuk mencoba dan melakukannya,” tuturnya.

Salah satu pelajaran hidup paling berharga yang diperoleh Irgiawan selama menempuh studi di UAD adalah nilai TANGGUH, yaitu Takwa, Amanah, Nalar, Gesit, Gembira, Ulet, dan Humanis. Nilai tersebut menjadi pedoman dalam menjalani berbagai aktivitas sekaligus pengingat untuk selalu melibatkan nilai-nilai ibadah dalam setiap perjalanan kehidupan.

Melalui berbagai prestasi yang telah diraih, Irgiawan membuktikan bahwa keberhasilan tidak datang secara instan. Konsistensi, manajemen waktu yang baik, keberanian mencoba hal baru, serta dukungan dari lingkungan menjadi bekal penting dalam mengukir prestasi dan meraih kesuksesan. (Mawar)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Irgiawan-Aditya-Rangga-Alumnus-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-dengan-segudang-prestasi-akademik-dan-nonakademik-Foto.-Irgiawan.jpg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2026-07-03 10:00:012026-07-06 08:43:43Irgiawan Aditya Rangga Alumnus UAD dengan Segudang Prestasi Akademik dan Nonakademik

Kisah Noval Arwansyah: Belajar, Bertumbuh, dan Berprestasi

03/07/2026/in Feature /by Ard

Noval Arwansyah alumni Universitas Ahmad Dahlan (UAD) dengan berbagai prestasi nasional dan internasional (Foto. Noval)

Keberhasilan meraih gelar sarjana menjadi momen istimewa bagi setiap mahasiswa. Namun, bagi Noval Arwansyah, lulusan Program Studi S1 Teknik Kimia Universitas Ahmad Dahlan (UAD), momen tersebut semakin bermakna karena ia dinobatkan sebagai Wisudawan Berprestasi Bidang Akademik UAD.

Dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,56, Noval berhasil menunjukkan bahwa prestasi akademik dapat berjalan beriringan dengan pencapaian di berbagai kompetisi nasional maupun internasional. Penghargaan tersebut menjadi bukti atas kerja keras, kedisiplinan, dan konsistensi yang ia bangun selama menempuh pendidikan di UAD.

“Saya merasa sangat bersyukur, bangga, dan terhormat atas penghargaan sebagai Wisudawan Berprestasi Bidang Akademik UAD. Pencapaian ini merupakan hasil dari proses panjang yang tidak saya lalui sendiri, melainkan berkat dukungan orang tua, dosen, teman-teman, serta lingkungan kampus yang selalu memberikan kesempatan untuk berkembang,” ungkap Noval.

Selama menempuh studi di Teknik Kimia, Noval aktif mengikuti berbagai kompetisi yang berhasil mengantarkannya meraih sejumlah prestasi membanggakan. Pada tahun 2023, ia berhasil meraih Juara I Pekan Karya Tulis Ilmiah Nasional (PEKTIN) kategori esai. Pada tahun yang sama, ia bersama tim memperoleh Juara Harapan dalam ajang 15th Malaysian Chem-E Car Competition kategori Car Performance serta meraih penghargaan Best All Category, Best Most Consistent Team, dan Best Video Profile pada Indonesia Chemical Reaction Car Competition (ICRCC).

Prestasi tersebut berlanjut pada tahun 2024 ketika Noval berhasil meraih Juara I kategori Presenter dan Juara II kategori Artikel dalam Ahmad Dahlan International Youth Camp (ADYC).

Dari berbagai pencapaian yang diraih, pengalaman mengikuti kompetisi Chem-E Car di Malaysia menjadi salah satu yang paling berkesan baginya. Kompetisi tersebut tidak hanya menjadi ajang unjuk kemampuan akademik, tetapi juga memberikan kesempatan untuk menerapkan ilmu Teknik Kimia secara nyata, bekerja sama dalam tim, serta membawa nama baik UAD di tingkat internasional.

Menurut Noval, motivasi terbesar yang mendorongnya untuk terus berprestasi adalah keinginan membanggakan kedua orang tua serta memanfaatkan setiap kesempatan yang diberikan dengan sebaik-baiknya.

“Saya percaya bahwa pendidikan merupakan sarana untuk mengembangkan potensi diri sekaligus membuka peluang agar dapat memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat,” tuturnya.

Di balik berbagai prestasi yang diraih, Noval mengaku menghadapi tantangan yang tidak ringan. Ia harus mampu menjaga keseimbangan antara kegiatan perkuliahan, penelitian, kompetisi, organisasi, tugas akhir, hingga magang industri. Untuk mengatasinya, ia menerapkan manajemen waktu yang baik, menentukan prioritas, serta menjaga konsistensi dalam menyelesaikan setiap tanggung jawab.

Bagi Noval, sosok yang paling berperan dalam perjalanan prestasinya adalah kedua orang tua. Dukungan, doa, dan pengorbanan mereka menjadi sumber semangat terbesar dalam setiap langkah yang ditempuh. Selain itu, ia juga menyampaikan rasa terima kasih kepada para dosen pembimbing, mentor, dan teman-teman yang telah memberikan arahan serta dukungan selama masa perkuliahan.

Setelah menyelesaikan studi sarjananya, Noval berencana memulai karier di industri yang relevan dengan bidang Teknik Kimia untuk memperluas pengalaman profesional dan mengembangkan kompetensi teknis. Dalam jangka menengah, ia menargetkan untuk melanjutkan studi magister melalui program beasiswa LPDP guna memperdalam keilmuan serta meningkatkan kapasitas diri.

“Saya berharap kombinasi pengalaman industri dan pendidikan lanjutan dapat menjadi bekal untuk memberikan kontribusi yang lebih besar bagi perkembangan industri dan kemajuan Indonesia,” ujarnya.

Bagi Noval, prestasi bukan sekadar penghargaan atau pencapaian tertentu, melainkan proses untuk terus menjadi pribadi yang lebih baik. Sementara itu, kesuksesan dimaknai sebagai kemampuan untuk memberikan manfaat kepada orang lain melalui ilmu, pengalaman, dan kemampuan yang dimiliki.

Ia juga menyampaikan harapannya agar UAD terus berkembang sebagai perguruan tinggi yang melahirkan lulusan unggul, berintegritas, dan mampu bersaing di tingkat global.

“Perjalanan kuliah saya adalah proses belajar, bertumbuh, dan terus berusaha memberikan yang terbaik dalam setiap kesempatan.”

Pelajaran hidup paling berharga yang diperoleh selama menempuh studi di UAD adalah keyakinan bahwa hasil besar lahir dari konsistensi dalam melakukan hal-hal kecil dengan sungguh-sungguh. Baginya, kerja keras, kedisiplinan, dan kemauan untuk terus belajar akan selalu membuka jalan menuju peluang yang lebih baik.

Penghargaan sebagai Wisudawan Berprestasi Bidang Akademik menjadi penutup manis perjalanan Noval di UAD sekaligus awal dari langkah-langkah baru untuk terus berkarya dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat. (Mawar)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Noval-Arwansyah-alumni-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-dengan-berbagai-prestasi-nasional-dan-internasional-Foto.-Noval.jpg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2026-07-03 09:00:032026-07-06 08:38:58Kisah Noval Arwansyah: Belajar, Bertumbuh, dan Berprestasi

Menggali Makna Hijrah Rasulullah: Benteng Keselamatan dan Kunci Masyarakat Madani

27/06/2026/in Feature /by Ard

Kajian Rutin Ahad Pagi Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD) (Foto. Ito)

Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD) kembali menyelenggarakan Kajian Rutin Ahad Pagi pada Ahad, 21 Juni 2026, yang bertepatan dengan suasana awal tahun baru Hijriah. Menghadirkan Ustaz Drs. H. Masykur Azhari, M.A., dari Majelis Tabligh PDM Sleman sebagai pemateri, kajian kali ini membedah secara mendalam tentang “Makna Hijrah Rasulullah saw.”.

Dalam mukadimahnya, Ustaz Masykur mengajak jemaah untuk merefleksikan keutamaan bulan Muharram. Ia menekankan bahwa bulan ini bukanlah bulan sial atau wingit sebagaimana mitos yang beredar di masyarakat, melainkan bulan mulia di mana pahala ketaatan akan dilipatgandakan oleh Allah Swt. Menyikapi tradisi tapa bisu mengelilingi benteng di bulan Muharram, ia menegaskan bahwa keselamatan sejati tidak diraih melalui ritual tersebut, melainkan dengan membangun “benteng hidup” berupa penjagaan lisan (menjaga tutur kata), sedekah, silaturahmi, dan senantiasa berdoa kepada Allah.

Memasuki inti materi, pemateri mengisahkan betapa beratnya perjuangan Rasulullah saw. selama 10 tahun berdakwah di Makkah. Beliau menghadapi berbagai bentuk penyiksaan fisik, hinaan hingga diludahi, serta tawaran harta, takhta, dan wanita agar menghentikan dakwahnya. Namun, semua itu dihadapi Nabi dengan kesabaran, integritas, dan kelapangan hati yang luar biasa, bahkan beliau menjenguk orang yang biasa meludahinya ketika orang tersebut jatuh sakit. Kesabaran paripurna inilah yang menjadi bekal penting sebelum akhirnya turun perintah Allah untuk berhijrah ke Madinah guna menghindari kekejaman kaum Quraisy.

Lebih lanjut, Ustaz Masykur merumuskan bahwa hijrah Rasulullah saw. bukan sekadar perpindahan fisik, melainkan membawa tiga pesan moral utama yang relevan hingga saat ini. Pertama, hijrah adalah langkah mempertahankan akidah. Setiap umat Islam yang melangkah keluar dari rumah hendaknya meniatkan diri untuk menjaga ketakwaannya di tengah berbagai godaan dunia luar. Kedua, hijrah adalah perjalanan ibadah. Hal ini dibuktikan oleh Rasulullah yang selalu memprioritaskan pembangunan masjid, seperti Masjid Quba dan Masjid Nabawi, sebagai pusat penegakan salat berjemaah begitu tiba di tempat tujuan.

Ketiga, hijrah merupakan momentum membangun ukhuwah (persaudaraan). Di Madinah, Rasulullah sukses menyatukan berbagai elemen masyarakat yang majemuk, mulai dari kaum Muhajirin, Anshar, hingga suku-suku Yahudi, melalui prinsip persamaan derajat, tolong-menolong, toleransi, dan keadilan. Kumpulan nilai inilah yang kelak melahirkan tatanan masyarakat sipil yang ideal atau civil society (masyarakat madani).

Sebagai penutup, Ustaz Masykur berpesan agar umat Islam senantiasa menjadikan semangat hijrah sebagai inspirasi untuk berbuat kebaikan, menjaga ketaatan, dan menebar persaudaraan di mana pun berada. (Ito)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Kajian-Rutin-Ahad-Pagi-Masjid-Islamic-Center-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-Foto.-Ito.jpg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2026-06-27 09:00:552026-06-29 09:28:37Menggali Makna Hijrah Rasulullah: Benteng Keselamatan dan Kunci Masyarakat Madani
Page 4 of 78«‹23456›»

TERKINI

  • UAD Beri Penghargaan bagi Lulusan Terbaik Apoteker Angkatan 5001/10/2026
  • Mahasiswa Gizi UAD Inisiasi Program SENADA di MAN 2 Sleman01/10/2026
  • Pelatihan Pembuatan NIB Dorong Legalitas dan Pengembangan UMKM Miedes di Srihardono01/10/2026
  • Deru Mesin Kemanusiaan: Saat Komunitas Motor UAD dan LazisMu UAD Antar 100 Tangki Air ke Pelosok Gunungkidul01/10/2026
  • Berbagai Program KKN UAD Perkuat Kebersamaan Warga Jangkang Kidul30/09/2026

PRESTASI

  • Mahasiswa UAD Raih Juara III pada Kejurnas IX Senior-Junior Hapkido Indonesia 202630/09/2026
  • Tim Al Qorni UAD Raih Dua Gelar Juara di Ajang KMLI 202630/09/2026
  • Pustakawan UAD Raih Prestasi di IPI Awards DIY 202629/09/2026
  • Mahasiswa UAD Raih Juara I Esai Nasional Ajang PIKIR 202629/09/2026
  • Tim King Phoenix UAD Juara III Kontes Robot Terbang Indonesia28/09/2026

FEATURE

  • Runtuhkan Sekat Pembatas, Dekan FKIP UAD Tekankan Kolaborasi Pendidikan yang Berdampak28/09/2026
  • Menelusuri Hakikat dan Empat Tanda Kebahagiaan di Dunia15/09/2026
  • Memaknai Singkatnya Kehidupan dan Rahmat Berlimpah Menuju Surga10/09/2026
  • Menapaki Jalan Lurus melalui Sepuluh Wasiat Allah04/09/2026
  • LPSI UAD Gelar Kajian Tafsir At-Tanwir, Bedah Makna dan Keutamaan Surat Al-Baqarah Ayat 18503/09/2026

TENTANG | KRU | KONTAK | REKAPITULASI

Scroll to top