Launching Logo Milad ke-59 Universitas Ahmad Dahlan
Universitas Ahmad Dahlan (UAD) secara rutin menggelar rangkaian milad di setiap tahunnya. Pada tahun 2019 ini, UAD genap memasuki usia ke-59 tahun. Rangkaian acara Milad UAD ke-59 diawali dengan launching logo yang dilaksanakan di Hall Kampus I pada Kamis (31-10-2019). Launching menjadi penanda dimulainya rangkaian acara milad yang akan berlangsung sejak 31 Oktober 2019 dan berakhir pada tanggal 26 Januari 2020.
Acara ini diawali dengan pembukaan, sambutan ketua panitia, sambutan rektor, acara inti peluncuran logo, dan diakhiri dengan doa penutup. Launching logo Milad UAD ke-59 dihadiri oleh jajaran Rektor dan Wakil Rektor, Dekan dan Wakil Dekan, hingga segenap Kepala Program Studi (Kaprodi) yang ada di UAD.
Nizam Ahsani, M.Hum., Ph.D. selaku Dekan Fakultas Sastra, Budaya, dan Komunikasi (FSBK) sekaligus sebagai Ketua Panitia Milad ke-59 UAD menuturkan bahwa, FSBK sebagai panitia utama dengan bantuan FKIP dalam menyelenggarakan rangkaian lomba milad pada tahun ini sedikit berbeda. Semoga rangkaian acara milad ini dapat berjalan dengan lancar.
Dr. Muchlas, M.T selaku Rektor UAD dalam sambutannya berharap agar momen milad dijadikan sebagai sarana untuk silaturahmi dan mengakrabkan antarwarga UAD. Ia menambahkan, “Jangan sampai membuat acara seperti memindahkan rapat ke lapangan sehingga tampak tegang. Sebisa mungkin acara dibuat informal dan santai sehingga bisa menghasilkan komunikasi yang baik.”
Logo Milad ke-59 UAD selaras dengan tema yang diangkat yaitu “Media Berkeadaban untuk Mewujudkan Masyarakat Berpendidikan”, yakni menitikberatkan pada terciptanya masyarakat madani melalui literasi. UAD senantiasa menerapkan Tri Dharma Perguruan Tinggi dalam berbagai kegiatan, seperti milad tahun ini yang menekankan pada pelaksanaan pembangunan di Indonesia dalam mewujudkan masyarakat yang berkemajuan. (Chk).



Aryanto yang berasal dari Dinas Kebudayaan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta ini menyampaikan sifat karakteristik budaya Jawa-Yogyakarta. Di antaranya adalah religius ber-Tuhan, mempunyai toleransi keagamaan yang besar, sangat menekankan aspek kerukunan, hormat dan keselarasan sosial yang tercermin dalam kearifan nilai budaya dengan kredo, asih ing sesami dan dudu sanak dudu kadang yen mati melu kelangan, serta lebih suka memecahkan masalah kehidupan dengan sikap mawas diri atau tepa slira agar dapat menghindari konflik dengan pihak lain.




