Alumni PBI UAD Bagikan Kisah Inspiratif Karier Akademik di Negeri Sakura

Career Talk Show bersama Alumni PBI Universitas Ahmad Dahlan (UAD) di Jepang (Foto. Ana)
Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris (PBI) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) kembali menggelar sesi diskusi karier yang menghadirkan sosok inspiratif, Pratiwi Tri Utami, Ph.D. Melalui sesi daring langsung dari Jepang, Pratiwi menceritakan transformasinya dari seorang mahasiswa aktif di Yogyakarta hingga kini berhasil menjabat sebagai Assistant Professor di Hiroshima University. Siapa sangka, bagi Pratiwi yang berasal dari keluarga sederhana di Bangka Belitung, mengenyam bangku kuliah S1 saja sudah menjadi anugerah besar yang melampaui ekspektasinya saat itu.
Namun, jalan menuju Negeri Sakura tidaklah mulus. Pratiwi sempat menghadapi keraguan dari orang tua yang mengkhawatirkan beban finansial dan jarak yang jauh. Dengan prinsip “kalau sudah ingin, harus dikejar”, ia akhirnya mendapatkan restu setelah meyakinkan keluarga melalui kemampuannya meraih beasiswa JASSO. Meski begitu, beasiswa tersebut hanya mencakup biaya hidup, sehingga ia harus banting tulang bekerja paruh waktu demi melunasi biaya kuliah.
“Ada kalanya saya ragu, tapi restu orang tua dan tawakal menjadi kunci pembuka jalan yang sebelumnya terasa tertutup,” ungkapnya.
Setibanya di Jepang, Pratiwi harus menghadapi kejutan budaya akademik yang sangat kontras dengan di tanah air. Jika di Indonesia mahasiswa cenderung pasif mendengarkan dosen, di Jepang ia dituntut berpikir kritis, mandiri, dan aktif dalam diskusi. Tantangan ini ia hadapi dengan belajar bahasa Jepang secara otodidak, mencatat setiap percakapan baru di tangan untuk dipraktikkan langsung dalam keseharian.
Perjalanan akademiknya pun menemui titik balik penting pada tahun 2020. Usai menuntaskan gelar Magister, ia mendapatkan tawaran langsung dari dosen pembimbingnya untuk melanjutkan studi ke jenjang Doktoral. Setelah pertimbangan matang, ia memantapkan diri menempuh program S3 melalui beasiswa Next Generation Fellowship dari Hiroshima University.
Pencapaian Pratiwi saat ini nyatanya tidak diraih dengan instan. Setelah menuntaskan gelar Ph.D. pada 2023, ia sempat mencoba peruntungan dengan melamar posisi postdoctoral di berbagai negara, mulai dari Inggris, Eropa, hingga Amerika Serikat selama satu tahun. Meski belum membuahkan hasil, pintu lain justru terbuka di tahun 2024 ketika dosen pembimbingnya (sensei) menawarkan posisi strategis sebagai Assistant Professor. Melalui serangkaian seleksi ketat mulai dari pemberkasan, wawancara, hingga micro teaching, Pratiwi akhirnya resmi mengabdi sebagai pengajar di kampus tempat ia menempuh studi S2 dan S3-nya tersebut.
Melalui gelar wicara tersebut, Pratiwi memberikan motivasi kuat bagi seluruh mahasiswa agar tidak rendah diri dengan latar belakang yang dimiliki.
“Pencapaian ini menjadi pengingat bahwa memiliki mimpi global itu bukan hanya untuk orang-orang tertentu saja, tetapi juga pasti bisa dimiliki oleh siapa saja yang konsisten mau belajar dan berani mencoba,” pungkasnya. (anw)
