Melihat Dunia Film UAD

454

“Film masih menjadi hal baru bagi mahasiswa Universitas Ahmad Dahlan (UAD) untuk menjadi filmaker. Mahasiswa berada dalam tahapan proses mengenal film, belajar mencari, dan mengonsumsi referensi film. Terdapat tiga elemen dasar yang penting dalam film, yaitu ilmu pengetahuan, seni, dan teknologi. Ketiga elemen itu harus selaras,” ujar Heri Nugroho, S.Sn., M.Sn., dosen Ilmu Komunikasi UAD saat diwawancarai via daring dalam rangka memperingati Hari Film Nasional Maret lalu.

Film dibagi dalam dua jenis, yaitu film dokumenter dan fiksi. Heri menjelaskan orientasi produksi film bikinan mahasiswa untuk penugasan mata kuliah dan lomba festival film tingkat mahasiswa, tetapi sedikit yang berpartisipasi. Produksi film tingkat kampus harusnya memiliki komunitas sebagai wadah yang akan membantu dalam pengerjaan film. Komunitas juga berperan penting dalam sumber inovasi dan tempat diskusi. Mahasiswa harus banyak belajar kepada orang yang aktif di film, praktisi, mendatangi lokasi syuting film saat produksi, screening film, atau magang.

Sementara itu, Rizkan Is. Mahmud, mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi mengungkapkan pandangannya mengenai dunia perfilman di UAD. Ia adalah salah satu mahasiswa yang menekuni bidang pembuatan film. “Secara umum, perkembangan perfilman saat ini cukup pesat. Film pendek yang paling banyak digemari mahasiswa karena memiliki keunikan tersendiri dalam menyampaikan isi pesan kepada penonton, dibandingkan film-film panjang.”

Rizkan telah memproduksi film fiksi dan dokumenter seperti “Regret” (Penghargaan Best Film pada kegiatan 2nd Internasional Workshop on TV Broadcasting 2017 di UAD), “Batas” (2018), “Gegayuhan” (Penghargaan Penyunting Gambar terbaik dan masuk 8 kategori nominasi pada Festival Film Mahasiswa Indonesia 2019 di Lampung).

 

Proses Syuting film Gegayuhan, film pendek karya mahasiswa UAD.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

“Di UAD masih kurang adanya wadah diskusi tentang perfilman, padahal itu penting untuk membuka wawasan mahasiswa terhadap dunia film. Selain itu, belum adanya kompetisi film mahasiswa yang diselenggarakan oleh UAD. Semoga ke depannya ada sehingga dapat menghasilkan sineas-sineas muda film dari UAD,” tutupnya. (JM)