• TERKINI
  • UAD BERDAMPAK
  • PRESTASI
  • FEATURE
  • OPINI
  • MEDIA
  • KIRIM BERITA
  • Menu
News Portal of Universitas Ahmad Dahlan

Posts

Empat Karakter Penting untuk Keseimbangan Dunia dan Akhirat

14/04/2022/in Terkini /by Ard

Direktur Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah H. Aly Aulia, Lc., M.Hum., penceramah Kajian Tarawih di Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD) (Foto: Didi)

“Menjawab panggilan Allah Swt. dalam rangka menjalankan perintah-Nya dan mengisi bulan suci Ramadan dengan serangkaian ibadah. Tentu di bulan inilah, Allah Swt. memberikan kemuliaan, manfaat, dan kebaikan yang berlimpah.”

Ungkapan tersebut disampaikan, H. Aly Aulia, Lc., M.Hum., yang merupakan Direktur Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah memberikan nasihatnya di depan para jamaah Masjid Islamic Center, Universitas Ahmad Dahlan (UAD), menjelang salat tarawih terlaksana. Hadir sebagai pemateri di kajian tarawih berjamaah, Aly juga berkesempatan menyapa para hadirin daring melalui siaran langsung pada Senin, 11 April 2022, di kanal YouTube Masjid Islamic Center UAD.

Dalam penuturannya, Aly mengatakan bahwa Allah Swt. memerintahkan manusia untuk mempersiapkan kehidupannya di akhirat kelak, dengan tanpa mengabaikan kehidupan di dunia.

“Utamakan akhirat tapi tidak boleh mengesampingkan kehidupan dunia!” ujarnya.

Aly mengingatkan agar manusia berusaha semaksimal mungkin untuk mengimbangkan kehidupan dunia dan akhirat. Sebab, dikatakan di dalam Al-Qur’an dan hadis, sosok yang benar-benar selamat dan mendapatkan berbagai karunia nantinya adalah ia yang mampu menyeimbangkan kehidupan dunia dan akhirat.

“Harus ada empat karakter penting yang ada di dalam diri manusia, agar segala aktivitas di dunia bisa berpengaruh baik untuk kehidupan di akhiratnya kelak. Empat karakter tersebut di antaranya, pemahaman, semangat ketaatan, ikhlas, dan pendirian yang kokoh.

Paham yang dimaksudkan di sini ialah memahami ilmu agama sebagai penunjang dalam melakukan ibadah, dan segala aktivitas yang kita lakukan haruslah dipahami terlebih dahulu, agar mendapatkan tuntunan dan arah tujuan yang jelas. Semangat ketaatan ialah motivasi diri yang bertujuan untuk mencapai rida Allah Swt., kepatuhan kepada-Nya, dan segala apa pun yang dilakukan adalah dalam rangka wujud ketaatan kepada Allah Swt.

Sementara itu, ikhlas merupakan wujud dari melakukan segala sesuatu dengan semata-mata karena Allah Swt., baik itu dari melakukan amal saleh maupun lain sebagainya. Wujud keikhlasan tidak ada kaitannya dengan imbalan. Perlu ditekankan juga pada pendirian yang kokoh untuk menjalankan aktivitas dan ibadah, menahan seluruh godaan, dan menerjang tantangan maupun rintangan. Keteguhan hati dan kesabaran mempunyai keterkaitan kuat atas terciptanya pendirian yang kokoh tersebut.

“Dengan izin Allah Swt. segala aktivitas yang dilakukan jika dibarengi dengan empat karakter itu, ia akan bernilai dan menjadi bekal di akhirat kelak,” tutup Aly. (didi)

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Direktur-Madrasah-Muallimin-Muhammadiyah-H.-Aly-Aulia-Lc.-M.Hum_.-memberikan-nasihat-di-depan-para-jamaah-Masjid-Islamic-Center-UAD-menjelang-salat-tarawih.-SS-YouTube-terkait.jpg 750 1334 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2022-04-14 07:52:142022-04-14 07:52:14Empat Karakter Penting untuk Keseimbangan Dunia dan Akhirat

Momen Mahasiswa Menguatkan Akidah di Bulan Ramadan

13/04/2022/in Terkini /by Ard

IMM PBII Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Adakan Kegiatan Ruang Bincang Komisariat (Foto: Istimewa)

Bulan suci Ramadan merupakan bulan yang penuh ampunan. Hal ini sesuai dengan Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim yang menegaskan bahwa “Barang siapa yang berpuasa Ramadan karena iman dan mengharap pahala, diampuni baginya dosa-dosa masa lalu”.

Sebagai seorang muslim, tentunya kesempatan ini harus dimanfaatkan secara betul untuk meraih rida Ilahi. Itu pula yang dilakukan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn), Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia (PBSI), dan Pendidikan Bahasa Inggris (PBI), dengan menggelar majelis ilmu yang membahas mengenai “Akidah Kader dalam Menyambut Bulan Suci Ramadan”, dengan mengundang narasumber Muhammad Saeful Effendi, S.Pd., M.Pd.B.I.

Saeful menjelaskan bahwa di zaman yang serba paradoks seperti saat ini, antara apa yang ada di pikiran dengan apa yang ada di hati kita saling bertentangan, sehingga sangat diperlukan kekuatan akidah dalam menjalani kehidupan. Akidah di mana pun kita berada harus benar-benar disesuaikan. Jika merujuk pada pengertiannya akidah merupakan suatu hal yang sangat mendasar serta mempunyai konsekuensi.

Seorang individu harus mempunyai pengalaman spiritual untuk dapat menguatkan iman dan akidah. Misalnya seperti cobaan. Manusia dalam menjalani hidupnya pasti tidak akan pernah lepas dari yang namanya cobaan. Namun, itu tidak bisa diartikan secara sempit sebagai sesuatu hal yang menyedihkan atau yang menyengsarakan. Cobaan dapat juga berupa sesuatu hal yang menyenangkan, seperti kekayaan, harta, anak, dan sebagainya. Ini pula yang terdapat dalam surat Al-Baqarah ayat 214 dan surat Al-Anfal ayat 28. Dalam surat Al-Anfal dijelaskan bahwa harta, kekayaan, dan anak merupakan salah satu wujud dari sebuah cobaan yang membahagiakan.

“Apakah dengan adanya anugerah berupa harta benda, anak-anak, dan kekayaan ini menambah ketakwaan kepada Allah, dengan mensyukuri nikmat-Nya serta melaksanakan hak dan kewajiban seperti yang telah di tentukan oleh Allah? Atau justru malah melalaikan kita terhadap perintah-perintah Allah?” tutur Saeful Effendi. (wid)

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/IMM-PBII-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-Adakan-Kegiatan-Ruang-Bincang-Komisariat-Foto-Istimewa-1.jpeg 900 1600 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2022-04-13 10:16:592022-04-13 10:17:22Momen Mahasiswa Menguatkan Akidah di Bulan Ramadan

Kisah Sultan Hassanal Bolkiah, Pedagang Kaki Lima, dan Naifnya Calon Mempelai Wanita

13/04/2022/in Feature /by Ard

Dalam Islam, pernikahan adalah salah satu ibadah yang bernilai kebaikan sangat besar. Untuk melaksanakannya, pernikahan haruslah sempurna dari rukun dan syaratnya. Dari pendapat mayoritas ulama, meski bukan termasuk dari rukun dan syarat nikah, pemberian mahar oleh calon mempelai pria kepada calon mempelai wanita tidak boleh dianggap remeh. Bahkan, dianggap berdosa dan dinilai telah meninggalkan kewajiban jika calon mempelai pria tidak memberikan mahar, walaupun pernikahannya dinyatakan sah.

“Apa yang dimaksud dengan mahar? Sejatinya di dalam menerangkan segala sesuatu haruslah berangkat dari definisinya terlebih dahulu, agar tidak keliru dalam memahaminya kemudian,” ucap Ustaz Budi Jaya Putra, S.Th.I., M.H., saat menjadi pemateri kajian jelang buka puasa di Masjid Islamic Center, Universitas Ahmad Dahlan (UAD).

“Secara bahasa, mahar adalah kata serapan dari bahasa Arab ‘muhuruun’ yang bermakna ‘maskawin’, ialah seserahan berupa barang atau uang yang diberikan mempelai pria kepada mempelai wanita ketika melangsungkan pernikahan.”

Tayang secara langsung di kanal YouTube Masjid Islamic Center UAD, pada Senin, 11 April 2022, Kepala Pusat Tarjih UAD itu menjelaskan secara mudah perihal mahar dan bagaimana perilaku bijak dalam menyikapi nilai mahar yang akan diberikan di dalam suatu pernikahan.

Kajian jelang buka puasa Masjid Islamic Center, Universitas Ahmad Dahlan (UAD) dengan pembicara Ustaz Budi Jaya Putra, S.Th.I., M.H. (Foto: Didi)

Adapun dalil tentang pemberian mahar, Ustaz Budi menyampaikan bahwa ada banyak ayat Al-Qur’an dan hadis yang bisa dijadikan landasan, salah satunya ialah Al-Qur’an surah An-Nisa ayat 4. “Berikanlah maskawin (mahar) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan.”

Ustaz Budi beranggapan bahwa pada umumnya masyarakat di Indonesia telah memahami hakikat maupun posisi penting mahar dalam suatu pernikahan. Namun, pemahaman ini sering kali tidak berjalan lurus dengan pemahaman terhadap nilai materi ataupun wujud mahar itu sendiri. Dengan dalil yang diperoleh dari Al-Qur’an dan hadis tanpa memahami asbabul wurud-nya, calon mempelai wanita kerap salah kaprah lagi naif.

Mengutip dari Hadis Riwayat Ahmad, di zaman Rasulullah terjadi pernikahan dengan mahar sepasang sandal, “Lalu adakah mahasiswa UAD saat ini yang kelak berkenan menikah atau dinikahkan dengan mahar sepasang sandal pula?” gurau Ustaz Budi.

Sepasang sandal, zirah perang, sampai hafalan Al-Qur’an merupakan beberapa wujud mahar yang diberikan pada saat itu di zaman Rasulullah. Tapi bukan tanpa alasan, itu diberikan oleh para calon mempelai pria dikarenakan mereka tergolong tidak mampu dari segi materi.

“Karena pria yang datang kepada Rasulullah untuk minta dinikahkan adalah seorang yang tidak mampu, maka solusinya ialah dengan hafalan Al-Qur’an sebagai mahar nikah. Namun jika seorang mempelai pria mampu dalam artian ekonomi maupun materi, bijak kiranya mahar berupa sesuatu yang bernilai,” Ustaz Budi menambahkan.

Sebagai penguat dari penjabaran yang disampaikan, Ustaz Budi turut menyertakan Hadis Riwayat Sunan Abu Dawud 2117, “Dari Uqbah Bin ‘Amir (diriwayatkan) Rasulullah saw. bersabda, sebaik-baik mahar adalah yang paling mudah baginya (calon suami).”

“Bisa disaksikan dari hadis ini, bahwa yang ditekankan ialah ‘paling mudah bagi calon suami’, dan yang mudah tidak selalu bermakna murah. Dari sinilah salah kaprah biasanya bermula, karena ingin dianggap calon istri yang salihah oleh calon suaminya, tanpa melihat asbabul wurud dalil, calon mempelai wanita menganggap yang mudah bagi calon mempelai suaminya ialah yang murah. Alhasil, si calon mempelai wanita pasrah saja perihal mahar. Padahal siapa tahu, calon mempelai prianya bisa saja mengusahakan mahar yang lebih baik dan bernilai.”

Tidak puas dengan penjelasan yang baru saja disampaikannya, Ustaz Budi memberikan analogi sederhana kepada para jamaah, dengan menggunakan sosok Sultan Hassanal Bolkiah dan pedagang kaki lima sebagai perumpamaan.

“Sultan Hassanal Bolkiah akan dengan mudah memberikan uang senilai tiga puluh miliar sebagai mahar pernikahan. Tapi sebaliknya, seorang pedagang kaki lima akan mencolok mata Anda jika ia ditagih nilai rupiah yang sama sebagai mahar. Dari sini sangat jelas terlihat bahwa mudah belum tentu murah dan pemberian mahar disesuaikan dengan kesanggupan calon mempelai pria, di situlah letak ‘mudah’ yang dimaksudkan.”

Masih satu benang merah, Ustaz Budi berpesan agar para wanita memperhatikan asal muasal pria yang akan mempersuntingnya kelak. Jika pria itu mampu atau kaya, mintalah mahar yang bernilai besar padanya. Lalu sebaliknya, jangan memaksakan mahar yang bernilai besar kepada pria yang tidak mampu.

“Sekali lagi ingat pesan Rasulullah, ‘yang memudahkan mempelai pria’, paham ya?”

Khusus pula kepada pria sampai menyepelekan persoalan mahar dan memberikan mahar berupa barang yang tidak bermanfaat bagi calon mempelai wanita. “Perlu diketahui, bahwa yang berhak meminta mahar ialah calon mempelai wanita, bukan ibu maupun keluarganya sendiri,” tekan Ustaz Budi.

Sebagai ultimatum, Ustaz Budi menceritakan kisah Rasulullah saat mempersunting istrinya, Khadijah. Dalam berbagai riwayat disebutkan, bahwa Rasulullah memberikan 20 unta muda sebagai mahar pernikahannya. Jika dikonversi dalam bentuk rupiah, maka akan didapati nilai fantastis sebesar 600 juta rupiah. “Jika benar-benar ingin mengikuti sunah Rasulullah terkait pemberian mahar, beliau telah mencontohkannya saat meminang Khadijah. Dengan memberikan 20 unta betina muda sebagai mahar, Rasulullah menegaskan kepada umatnya jika mampu maka hendaklah calon mempelai pria memberikan mahar yang bernilai besar. Sekali lagi ingat, dilakukan kalau dirasa mudah dan jangan dipaksa bila memberatkan.” (didi)

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Kajian-jelang-buka-puasa-Masjid-Islamic-Center-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-dengan-pembicara-Ustaz-Budi-Jaya-Putra-S.Th_.I.-M.H.-Foto-Didi.jpg 750 1334 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2022-04-13 08:52:482022-04-13 08:52:48Kisah Sultan Hassanal Bolkiah, Pedagang Kaki Lima, dan Naifnya Calon Mempelai Wanita

Diskusi Kesehatan Reproduksi Wanita dalam Islam dan Ilmu Kesehatan

12/04/2022/in Terkini /by Ard

Diskusi Kesehatan Reproduksi Wanita dalam Islam dan Ilmu Kesehatan oleh IMM FAI UAD (Foto: Laras)

Bidang Immawati Pimpinan Komisariat (PK) Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta mengadakan “Dialog Immawati”, dengan bab pembahasannya yakni Bincang Fikih #2, yang mengusung tema “Kesehatan Reproduksi Wanita dalam Islam dan Ilmu Kesehatan”.

“Selain sebagai wadah dan bentuk pemahaman dan pembinaan kader immawati seputar fikih kontemporer, Bincang Fikih kali ini juga saya kira berbicara soal kesehatan reproduksi, terlebih dalam pandangan Islam penting untuk diperhatikan kembali. Pada dasarnya seseorang tidak lepas dari kesehatan, hal ini bersifat krusial dalam diri seseorang,” tutur Raisah selaku ketua bidang Immawati, (09-04-2022).

Islam juga sangat memperhatikan dan mengharuskan untuk menjaga kesehatan reproduksi karena sudah menjadi fitrah manusia untuk berpasang-pasangan dengan tujuan melestarikan keturunan.

Narasumber pada acara ini adalah Immawati Naufal Elsania, yang sekarang menjadi ketua umum IMM Fakultas Kedokteran UAD. Dalam acara yang dipandu Immawati Tsulusiyah A. sebagai moderator itu, peserta yang bergabung tidak hanya regional IMM UAD, tetapi ada juga peserta dari IMM Malang. Jumlah keseluruhan peserta yakni kurang lebih 40 orang.

Bincang yang dilangsungkan via Google Meet pada Kamis, 07 April 2022, sangat menarik perhatian peserta. Antusias peserta untuk bertanya pun banyak, bahkan ada peserta yang tidak berkesempatan bertanya mengingat waktu yang sudah larut.

Setelah Bincang Fikih ini selesai, harapannya peserta dapat mengetahui dan mengerti atas urgensi dalam kesehatan reproduksi, serta ke depannya mampu merawat nalar kritis dalam menangani persoalan kehidupan saat ini. (Lrs)

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Diskusi-Kesehatan-Reproduksi-Wanita-dalam-Islam-dan-Ilmu-Kesehatan-oleh-IMM-FAI-UAD-Foto-Laras.jpg 559 1277 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2022-04-12 10:30:572022-04-12 10:30:57Diskusi Kesehatan Reproduksi Wanita dalam Islam dan Ilmu Kesehatan

Pintu Surga Ar-Rayyan bagi yang Rajin Puasa

12/04/2022/in Terkini /by Ard

Siraman Hati Persada Universitas Ahmad Dahlan (UAD) (Foto: Laras)

Selama bulan suci Ramadan, Pesantren Ahmad Dahlan (Persada) Yogyakarta menyajikan acara yang ditayangkan di YouTube Persada UAD TV, yakni Siraman Hati. Berbagai tema menarik disampaikan, mulai dari keutamaan di bulan Ramadan, Ramadan bulan Al-Qur’an, pintu surga Ar-Rayyan bagi yang puasa, dan tema-tema lainnya. Sebagai tempat belajar sekaligus dakwah menyebarkan kebaikan, siraman rohani ini diisi oleh mahasantri Persada. Salah satunya Zuhruf Al-Adni, santriwati Persada yang pada Sabtu, 09 April 2022 membagikan ilmu bertema “Pintu Surga Ar-Rayyan bagi yang Puasa”.

Rasulullah saw. pernah bersabda “Sesungguhnya di surga ada delapan pintu, salah satu pintunya disebut dengan Ar-Rayyan, yang pintu tersebut tidak dimasuki kecuali oleh orang-orang yang berpuasa”.

“Dari hadis tersebut, kita dapat pahami bahwa Allah Swt. telah menjanjikan kepada hamba-Nya yaitu orang-orang yang berpuasa di surga Ar-Rayyan. Surga ini dikhususkan bagi yang berpuasa yang tak lain karena niat karena Allah, juga menahan segala hawa nafsunya dari hal-hal yang membatalkan puasa,” tutur Zuhruf dalam ceramahnya.

Ar-Rayyan sendiri memiliki arti sesuatu yang menyegarkan, sesuatu yang dapat menghilangkan rasa haus. Jadi ketika orang-orang yang berpuasa niat karena Allah setelah memasuki pintu surga ini, rasa haus seketika hilang dan tidak akan merasakan kehausan sekalipun.

Pada penutupan Zuhruf menyampaikan, di bulan Ramadan kali ini semoga menjadi kesempatan kita semua untuk meluruskan niat karena Allah Swt., dan termasuk dalam golongan orang-orang yang memasuki surganya melalui pintu Ar-Rayyan, serta di bulan suci ini kita mendapatkan keberkahan, ampunan, dan diberikan kemudahan. (Lrs)

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Siraman-Hati-Episode-3-bertema-Pintu-Surga-Ar-Rayyan-bagi-yang-Rajin-Puasa.jpg 720 1520 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2022-04-12 08:41:112022-04-12 08:41:11Pintu Surga Ar-Rayyan bagi yang Rajin Puasa

Bulan Ramadan Bulan Al-Qur’an

12/04/2022/in Terkini /by Ard

Siraman Hati Persada Universitas Ahmad Dahlan (UAD) (Foto: Laras)

Bulan suci Ramadan, bulan penuh ampunan dan segala kebaikan pahalanya dilipat gandakan. Pesantren Ahmad Dahlan (Persada) Yogyakarta memanfaatkan bulan ini dengan tayangan yang memberikan pemahaman baru dengan tema yang apik dan sesuai dengan momen sekarang ini. “Ramadan Bulan Al-Qur’an”, menjadi tema yang dibahas pada siraman hati episode dua dan disampaikan oleh Ahmad Farhan Juliawansyah, salah satu santriwan Persada.

Ia mengatakan, bulan Ramadan memiliki beberapa nama yang masyhur, di antaranya bulannya puasa, bulan ampunan, bulan yang penuh keberkahan, dan bulan Al-Qur’an. Disebut sebagai bulannya Al-Qur’an karena mempunyai beberapa kriteria.

Pertama, pada surat Al-Baqarah ayat 185 dijelaskan, bulan Ramadan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk keseluruhan manusia tanpa terkecuali, juga sebagai penjelas daripada petunjuk tersebut, serta sebagai pembeda mana yang halal dan mana yang haram, mana yang benar dan salah.

“Kedua, di bulan ini Rasulullah saw. sering berinteraksi dengan Al-Qur’an, berjumpa dengan malaikat Jibril untuk belajar Al-Qur’an.”

Hal ini juga disebutkan dalam Hadis Ibnu Abbas, Rasulullah saw. adalah orang yang paling dermawan, terlebih ketika bulan Ramadan karena bertemu dengan malaikat Jibril, dan sungguh ketika bertemu dengan malaikat Jibril kedermawanan Rasulullah makin bertambah.

Alasan yang ketiga, dalam bulan Ramadan, para ulama salaf termasuk Tabiut Tabi’in, senantiasa meningkatkan intensitasnya dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an. Sebagaimana yang disampaikan Ibnu Rajab Al Hambali dalam kitabnya Lathaiful Ma’arif. Khatam Al-Qur’an bisa dilakukan selama tiga hari, tujuh hari, dan sepuluh hari.

Di akhir ceramahnya Farhan mengajak untuk meningkatkan semangat dan intensitas kita dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an, sebagaimana diketahui bersama bahwasanya setiap huruf Al-Qur’an mengandung kebaikan, dan setiap kebaikannya ada sepuluh kali lipat pahala. (Lrs)

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Siraman-Hati-Persada-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-Foto-Laras.jpg 720 1520 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2022-04-12 08:27:132022-04-12 08:27:13Bulan Ramadan Bulan Al-Qur’an

Pengajian Songsong Ramadan 1443 H

30/03/2022/in Terkini /by Ard

Dr. H. Fuad Zein, M.A sedang memaparkan materi pada acara Pengajian songsong Ramadhan 1443 H Universitas Ahmad Dahlan (UAD) (Foto: Farida)

Lembaga Pengembangan Studi Islam (LPSI) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) mengadakan pengajian dalam rangka menyongsong bulan suci Ramadan 1443 H dengan tajuk “Ibadah Ramadan Menurut Tuntutan Putusan Tarjih Muhammadiyah”. Acara digelar pada Senin, 28 Maret 2022 secara daring melalui platform Zoom Meeting dan disiarkan langsung melalui kanal YouTube LPSI UAD juga secara luring bertempat di Masjid Islamic Center UAD. Hadir sebagai pemateri adalah Dr. H. Fuad Zein, M.A. selaku ketua Divisi Fatwa dan Pengembangan Tuntutan Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

Drs. H. Anhar Ansyory, M.Si., Ph.D. selaku ketua LPSI UAD dalam sambutannya menyampaikan, dalam rangka menyambut bulan suci Ramadan tidak hanya dengan hati yang bersih dan fisik yang sehat, tetapi juga dengan persiapan ilmu agar dengan hati yang bersih, jiwa yang bersih, fisik yang telah disiapkan tentu dengan ilmu yang bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya, bukan hanya di hadapan manusia tetapi yang terpenting di hadapan Allah Swt.

Lebih lanjut, Fuad menyampaikan dalam menjalankan ibadah ada tiga hal yang penting yaitu apa yang dipersiapkan, apa yang dilakukan, dan apa yang dilestarikan, sehingga dari ketiga hal tersebut akan mencapai tujuan dalam beribadah. Dalam menyongsong Ramadan, hal penting yang perlu dipersiapkan di antaranya senantiasa berdoa agar diberi kondisi yang maksimal baik menyangkut masalah fisik maupun rohani, bertaubat dengan memperbanyak istighfar, membiasakan kebaikan, memahami fikih puasa, dan mendapatkan keberkahan dalam arti harus mempunyai target dalam mengatur diri. Ramadan sebagai madrasah untuk berubah, puasa menjadi momentum yang balik mudah untuk berubah dalam hal kebaikan.

“Jika datang bulan Ramadan dibukakan pintu surga dan ditutuplah pintu neraka, serta diikatlah para setan. Ramadan merupakan bulan kemenangan, banyak kemenangan kaum muslim di bulan tersebut. Bulan Ramadan adalah bulan taubat dan ampunan. Man qoma romadhona imanan wahtisaban ghofiro lahu ma taqoddama min dzambihi, siapa yang melaksanakan Ramadan dengan penuh iman dan introspeksi diri maka akan diampuni dosanya yang telah lalu. Bulan Ramadan banyak orang yang diselamatkan dari neraka, Allah menyelamatkan orang-orang dari api neraka dan itu terjadi pada tiap malam bulan Ramadan,” papar Fuad.

Berdasarkan Q.S. Al-Baqarah ayat 83, semua muslim dan muslimat yang mukalaf wajib hukumnya melaksanakan puasa Ramadan, sedang yang tidak diwajibkan berpuasa tetapi wajib menggantinya yaitu perempuan yang sedang mengalami menstruasi dan nifas. Lalu, dalam Q.S. Al-Baqarah ayat 144 dijelaskan orang yang diberi keringanan tidak berpuasa adalah orang yang sakit dan musafir, tetapi Allah lebih mengharapkan untuk berpuasa apabila kuat. Ada beberapa golongan yang tidak mampu melaksanakan puasa dan diperbolehkan meninggalkan puasa yaitu orang yang tidak mampu puasa karena sudah tua dan sakit menahun. Perempuan yang hamil dan menyusui boleh meninggalkan puasa tetapi wajib menggantinya dengan membayar fidyah.

Terakhir Fuad menyampaikan mengenai hal-hal yang membatalkan puasa yaitu sesuatu yang masuk melalui mulut, hidung, atau telinga. Suntik atau infus selagi bukan pengganti makanan masih dibenarkan, muntah dengan saja, melakukan hubungan seksual di siang hari, nifas, menstruasi, gila atau hilang akal, makan minum dengan sengaja, dan merokok. Hal yang tidak membatalkan puasa yaitu makan dengan minum tidak sengaja, melakukan bekam, berkumur dan tidak sengaja menelan air, mandi, masuknya asap dan debu, menelan dahak, masuk air ke telinga saat berenang, muntah tanpa sengaja, menelan air ludah, dan suntik. (frd)

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Dr.-H.-Fuad-Zein-M.A-sedang-memaparkan-materi-pada-acara-Pengajian-songsong-Ramadhan-1443-H.-foto-farida.jpg 768 1366 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2022-03-30 13:26:482022-03-30 13:26:48Pengajian Songsong Ramadan 1443 H

Tadabur Qur’an di Bulan Ramadan

13/05/2021/in Terkini /by Ard

Kajian jelang berbuka puasa membahas tentang tadabur Alquran

Al-Qur’an sebagai kitab suci umat Islam dan wahyu Allah Swt. yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw. menjadi baru hidup umat manusia. Malaikat Jibril secara berangsur-angsur menyampaikan ayat-ayat Allah Swt. kepada Rasulullah Saw. Al-Qur’an memberikan ketenangan dan kedamaian bagi siapa saja yang mendengarkan.

“Ibadah puasa Ramadan menjadi puncak ibadah dari bulan-bulan sebelumnya. Di bulan suci inilah, umat Islam dapat memperoleh pahala yang melimpah. Salah satunya dengan mentadaburi Al-Qur’an, ”ungkap Ustaz Ahmad Arif Rif’an, SHI, MSI saat memberikan tausiah jelang berbuka puasa yang dikirim langsung di kanal YouTube Masjid Islamic Center UAD (29-04-2021).

Allah Swt. memberikan satu pahala dari setiap huruf yang dibaca, kemudian melipatgandakan menjadi 10 kali bagi orang yang membacanya. Puasa tidak hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi puasa mengajarkan umat Islam agar senantiasa meningkatkan kualitas ibadah hingga bulan-bulan berikutnya. Amalan-amalan yang dapat menambah pahala ialah dengan mentadaburi Al-Qur’an. Membaca, menghafal, memahami, dan mengamalkan kandungan ayat suci dapat meningkatkan keimanan.

“Dua ibadah yang dapat dimaksimalkan di bulan Ramadan ialah dengan memperbanyak sedekah dan mentadaburi ayat suci Al-Qur’an. Bacalah Al-Qur’an meski kalian terbata-bata maka satu kebaikan untukmu. Allah Swt. menyayangi umatnya yang senantiasa berusaha dalam mendekatkan diri dan meraih rida dari-Nya,” ujar Ustaz Akhmad.

Ia menambahkan bahwa dengan mengkaji ayat Al-Qur’an akan mendapatkan ketenangan, kasih sayang, serta orang yang senantiasa bertadarus akan diberi jaminan tempat terbaik di sisi Allah Swt. Selain itu, mentadaburi Al-Qur’an akan mendatangkan syafaat di hari akhir kelak. (Chk)

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/kajian-jelang-berbuka-puasa-membahas-tentang-tadabur-al-quran.jpeg 720 1278 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2021-05-13 07:30:042021-05-27 08:56:01Tadabur Qur’an di Bulan Ramadan

Kajian Ramadan: Mengulik Kebenaran di Bulan Ramadan

12/05/2021/in Terkini /by Ard

PK IMM FSBK UAD selenggarakan Kajian Ramadan secara daring melalui Google meet

“Bulan Ramadan menjadi bulan yang sangat dinantikan umat Islam. Bulan ketika Allah Swt. buka pintu ampunan dan melipatgandakan setiap perbuatan. Pantaslah banyak muslim yang berbondong-bondong ke masjid, memakmurkan masjid, serta berharap mendapatkan pahala di malam Lailatulqadar, ”terang Rosti Hanifah Salsabila, mahasiswi Universitas Al-Azar Mesir saat mengisi tausiah di Kajian Ramadan # 2 yang diselenggarakan oleh Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Komisariat Fakultas Sastra, Budaya, dan Komunikasi (FSBK) Universitas Ahmad Dahlan (UAD).

Kajian diselenggarakan dalam jaringan melalui aplikasi Google Meet pada Selasa (04-05-2021). IMM sebagai organisasi otonom (ortom) di bawah Persyarikatan Muhammadiyah dalam menjalankan dakwah amar ma’ruf nahi mungkar di kalangan mahasiswa senantiasa menebar kebermanfaatan. Salah satunya dengan mengadakan berbagai kajian sebagai wujud dari Tri Kompetensi IMM yaitu religiositas.

Amalan-amalan di bulan suci tentu banyak yang bisa dilakukan. Namun, banyak muslim yang masih mempersoalkan berbagai hal yang diragukan atas kebenarannya. Hadis about 15 Ramadan yang jatuh pada hari Jumat sebagai awal huru-hara dan kejadian kiamat, perbedaan malam Lailatulqadar dengan malam Nuzululqur’an, niat puasa yang dilisankan atau tidak, dan jumlah rakaat shalat tarawih yang sering dipermasalahkan, menjadi beberapa contoh hal yang sering diperdebatkan oleh umat Islam di Indonesia.

“Negara Indonesia merupakan negara muslim terbesar dengan berbagai adat istiadat yang masih terjaga hingga sekarang. Indonesia memiliki beberapa ormas dengan keyakinan pada mazhabnya masing-masing. Perkara jumlah rakaat salat tarawih misalnya, ada orang yang melaksanakan 8 rakaat dan ada pula yang 23 rakaat. Lalu pernah ditanyakan, siapa yang paling benar? Situasi masalah-masalah fikih sangat maklum sekali, ”terang Rosti.

Perkara Hadis 15 Ramadhan sebagai hari kiamat, jika dilihat dari Hadis dan perawinya tidak dapat dibuktikan kebenarannya. Hal-hal lain seperti niat yang dilisankan atau tidak pada cukup di dalam hati. Adapun jika ingin diucapkan menurut mazhab Syafi’i hukumnya sunah.

“Allah SWT. berfirman wakadzalika ja’alnakum ummatan wasaton litakunu yang berarti demikianlah kami menciptakan kamu sebagai umat yang wasati. Hendaknya kita sebagai generasi muda menyatakan moderat dan wasatiah. Kita mengambil jalan tengah dan jangan persoalkan hal yang tidak perlu dipersoalkan. Setiap orang memiliki keyakinannya masing-masing. Tidak ada yang benar atau pun salah semuanya. Yang salah hanya orang yang tidak salat bukan orang yang salatnya 8 rakaat atau 23 raka’at ataupun kunut dan tidak kunut, ”tandas Rosti di akhir sesi kajian. (Chk)

 

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/PK-IMM-FSBK-UAD-selenggarakan-Kajian-Ramadan-secara-daring-melalui-Google-meet-1-e1622080378465.jpeg 630 1280 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2021-05-12 12:00:022021-05-27 08:53:14Kajian Ramadan: Mengulik Kebenaran di Bulan Ramadan

Muhasabah Diri dengan Berbagi

06/05/2021/in Terkini /by Ard

PK IMM JPMIPA sedang membungkus takjil mentahan dengan Lazismu Bantul

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Pimpinan Komisariat (PK) Jurusan Pendidikan Matematika Ilmu Pengetahuan Alam (JPMIPA) dalam upaya meningkatkan kepedulian sosial terhadap sesama, menjalin kerja sama dengan salah satu lembaga di Muhammadiyah yaitu Lembaga Amil Zakat Infaq dan Sadaqah Muhammadiyah (Lazismu) cabang Bantul. Mereka berbagi takjil mentahan setiap hari Jumat.

“Takjil mentahan namanya, pembagian takjil ini berupa bahan makanan mentah untuk musafir, masyarakat, dan keluarga duafa. Isinya berupa beras, minyak goreng, minuman sereal, dan telur ayam. Pembagian dilakukan setiap hari Jumat dan biasanya pengemasan itu hari Kamis,” tutur Antri Renayantri selaku anggota Bidang Sosial Pemberdayaan Masyarakat (Sospem) PK IMM JPMIPA lewat pesan singkat WhatsApp, (03 Mei 2021).

Program ini juga membuka donasi untuk seluruh masyarakat sampai tanggal 5 Mei 2021. Hingga kini donasi terkumpul sebanyak Rp370.000,00. Adanya kolaborasi tersebut juga bisa menyambung tali silaturahmi dengan lembaga Muhammadiyah dan berpeluang besar untuk menyukseskan setiap agenda, khususnya agenda yang berhubungan langsung dengan masyarakat.

“Semoga bisa meningkatkan silaturahmi kader IMM maupun dengan lembaga di Muhammadiyah, selain itu bisa meringankan beban perekonomian kaum duafa, dan program ini juga bisa menjadi ladang ibadah untuk bermuhasabah diri,” imbuh Immawati yang akrab disapa Antri.

Di balik kelancaran program ini tentunya ada beberapa hal yang bisa dijadikan pembelajaran, dari membuat perencanaan kedua, ketiga, dan seterusnya, menempatkan posisi sesuai bidang dan kemampuan, serta belajar bertanggung jawab atas sesuatu yang sudah ditugaskan. (Lrs)

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/PK-IMM-JPMIPA-sedang-membungkus-takjil-mentahan-dengan-Lazismu-Bantul.jpeg 720 1280 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2021-05-06 07:00:342021-05-27 08:37:01Muhasabah Diri dengan Berbagi
Page 8 of 9«‹6789›

TERKINI

  • Pengajian Ramadan PWM DIY Perkuat Sinergi Pelestarian Lingkungan01/03/2026
  • Garda Depan Melawan Dengue: Mahasiswa UAD Perkuat Peran Jumantik di Bokoharjo27/02/2026
  • Dukung Sektor Pertanian, KKN UAD Ikuti Penanaman Kentang Serentak di Batur Lor27/02/2026
  • Mahasiswa KKN UAD dan KWT Banaran Lor Gelar Tanaman Tumbuhan Herbal26/02/2026
  • Mudik Sekolah, Menjembatani Siswa dan Perguruan Tinggi25/02/2026

PRESTASI

  • Mahasiswa PBI UAD Raih Silver Medal dalam Lomba Esai Nasional26/02/2026
  • Mahasiswa PBio UAD, Zul Hamdi Batubara Raih Andalan Awards Tiga Tahun Berturut-turut19/02/2026
  • Tim AL-Qorni UAD Raih Juara I Prototype Vehicle Design pada Shell Eco-marathon Middle East & Asia 202628/01/2026
  • Mahasiswa UAD Raih Juara I Best Use of Data pada ADIYC Tahun 202523/01/2026
  • Mahasiswa UAD Raih Juara Harapan I Presenter Terbaik pada ADIYC 202522/01/2026

FEATURE

  • Budaya Ekologis dan Resiliensi di Dunia Pendidikan01/03/2026
  • Restorasi Lingkungan sebagai Pilar Perkhidmatan Masa Depan01/03/2026
  • Optimalisasi Karya Kampus untuk Masyarakat26/02/2026
  • Istikamah dalam Ibadah, Kunci Meraih Ampunan di Bulan Ramadan26/02/2026
  • Meminta Tanpa Menuntut, Belajar Ikhlas dan Tawakal dari Doa Nabi Zakaria25/02/2026

TENTANG | KRU | KONTAK | REKAPITULASI

Scroll to top