Mahasiswa PLP-KKN UAD Edukasi Siswa SMK Muhammadiyah 2 Wates tentang Budidaya Hidroponik

Mahasiswa PLP-KKN Universitas Ahmad Dahlan (UAD) edukasi siswa SMK Muhammadiyah 2 Wates tentang budidaya hidroponik (Foto. PLP-KKN UAD)
Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata dan Praktik Lapangan Persekolahan (PLP-KKN) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Unit I.D.3 melaksanakan program edukasi dan praktik budidaya hidroponik di SMK Muhammadiyah 2 Wates. Kegiatan yang berlangsung pada 10 Agustus hingga 11 September 2026 tersebut menjadi bagian dari pengabdian mahasiswa sekaligus upaya memberikan pengalaman pembelajaran yang aplikatif kepada warga sekolah.
Program edukasi hidroponik melibatkan siswa, guru, dan karyawan SMK Muhammadiyah 2 Wates. Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa mengenalkan teknik budidaya tanaman tanpa menggunakan tanah sekaligus memberikan pengalaman praktik kepada siswa. Hidroponik dipilih karena dapat diterapkan pada lahan terbatas dan menjadi salah satu alternatif dalam pemanfaatan ruang di lingkungan sekolah.
Pelaksanaan kegiatan dilakukan melalui beberapa tahapan, mulai dari pengenalan konsep dasar hidroponik, persiapan alat dan bahan, penyemaian bibit, pemindahan tanaman ke instalasi, hingga pemeliharaan tanaman. Pada tahap awal, mahasiswa memberikan sosialisasi mengenai prinsip kerja hidroponik, jenis tanaman yang sesuai untuk dibudidayakan, serta sejumlah faktor yang perlu diperhatikan selama proses pertumbuhan tanaman.
Setelah penyampaian materi, siswa mengikuti praktik budidaya hidroponik dengan sistem Nutrient Film Technique (NFT). Dalam praktik tersebut, mahasiswa memperkenalkan cara kerja instalasi serta aliran larutan nutrisi melalui pipa. Siswa turut mengamati dan mencoba secara langsung tahapan pengoperasian instalasi sehingga memperoleh pemahaman yang tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga praktis.
Perwakilan mahasiswa PLP-KKN UAD Unit I.D.3, Qonita, menjelaskan alasan pemilihan hidroponik sebagai salah satu program kerja. “Kami memilih program hidroponik karena metode bercocok tanam ini praktis, tidak membutuhkan lahan yang luas, dan mudah diterapkan di lingkungan sekolah. Selain itu, kegiatan ini dapat menjadi sarana edukasi bagi siswa untuk memanfaatkan lahan terbatas,” ungkapnya.
Instalasi hidroponik yang dibangun melalui program tersebut diharapkan dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan oleh pihak sekolah. Selain menjadi sarana pembelajaran, instalasi tersebut berpotensi dikembangkan sebagai media untuk mengenalkan pertanian modern dan kewirausahaan kepada siswa. Dengan demikian, pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh selama kegiatan dapat diterapkan di lingkungan sekolah maupun tempat tinggal masing-masing. (Mawar)









