Mahasiswa UAD Raih Juara I Short Semi Documentary Kategori Cinematography pada SILAT APIK PTMA 2026

Mahasiswa Universitas Ahmad Dahlan (UAD) juara I short semi documentary kategori cinematography pada SILAT APIK PTMA 2026 (Foto. Aninda)
Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Aninda Rahayu, berhasil menorehkan prestasi membanggakan dengan meraih Juara I Short Semi Documentary Kategori Cinematography dalam ajang Silaturahmi Asosiasi Pendidikan Ilmu Komunikasi Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (APIK PTMA) 2026 yang diselenggarakan di Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. HAMKA (UHAMKA), Jakarta Selatan, pada 24-26 Juni 2026.
Bagi Aninda, prestasi tersebut menjadi pencapaian yang sangat berarti. Ia mengaku sangat bersyukur karena kompetisi tersebut merupakan ajang pertama yang berhasil mengantarkannya meraih gelar juara sejak menempuh pendidikan di perguruan tinggi.
Pada kompetisi Short Semi Documentary, Aninda bersama tim mengangkat karya bertajuk “Some Are Quietly Left Behind”. Film dokumenter tersebut mengangkat isu kesenjangan dalam pemanfaatan teknologi digital di tengah pesatnya perkembangan ekonomi Kota Jakarta.
Melalui karya tersebut, tim menyoroti penggunaan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) sebagai salah satu simbol transformasi digital di Indonesia. Di balik pesatnya penerapan sistem pembayaran digital, mereka menemukan bahwa masih banyak pedagang kecil yang belum memanfaatkan QRIS dalam aktivitas usahanya. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa tidak semua pelaku usaha dapat mengikuti laju perkembangan teknologi secara merata.
“Melalui film ini kami ingin menunjukkan bahwa di balik kemajuan ekonomi Jakarta masih ada kelompok masyarakat yang tertinggal dalam proses transformasi digital. Salah satu contohnya adalah masih banyak pedagang yang belum menggunakan QRIS sebagai metode pembayaran,” jelas Aninda.
Proses produksi film dilakukan dalam waktu yang terbatas. Tim mulai menyusun ide pada malam hari, kemudian melakukan pengambilan gambar keesokan harinya di beberapa lokasi di Jakarta, di antaranya kawasan Blok M, lingkungan Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. HAMKA (UHAMKA), serta sejumlah angkringan di sekitar tempat penginapan peserta. Setelah seluruh footage terkumpul, tim langsung melanjutkan proses penyuntingan pada malam hari dan menyelesaikannya pada hari berikutnya sebelum batas waktu pengumpulan.
Selama proses produksi, tim menghadapi tantangan dalam mencari narasumber yang bersedia diwawancarai. Menurut Aninda, sebagian besar pedagang yang ditemui pada awalnya enggan memberikan keterangan. Untuk mengatasi hal tersebut, tim memilih membangun komunikasi secara santai terlebih dahulu agar narasumber merasa lebih nyaman sebelum proses wawancara dilakukan.
Aninda menilai keberhasilan tim meraih Juara I pada kategori Cinematography tidak terlepas dari kualitas visual yang dihasilkan. Teknik pengambilan gambar, pemilihan sudut kamera, serta proses penyuntingan yang matang menjadi kekuatan utama karya mereka sehingga mampu menarik perhatian dewan juri.
“Karena yang dilombakan adalah kategori sinematografi, kami benar-benar berusaha memaksimalkan teknik pengambilan gambar dan proses editing agar hasil visualnya lebih kuat dan mampu mendukung pesan yang ingin kami sampaikan,” ujarnya.
Aninda menambahkan, “Lawanlah semua ketakutan dalam diri. Hadapi setiap tantangan karena justru di situlah letak keseruannya. Jadikan setiap pengalaman sebagai pelajaran hidup. Melalui dunia perfilman dan videografi, kita juga bisa melihat banyak sisi kehidupan yang mungkin belum pernah kita ketahui sebelumnya,” pesannya. (Mawar)
