• TERKINI
  • UAD BERDAMPAK
  • PRESTASI
  • FEATURE
  • OPINI
  • MEDIA
  • KIRIM BERITA
  • Menu
News Portal of Universitas Ahmad Dahlan

Posts

Cerita Muhammad Iqbal, Atlet sekaligus Ketua Umum Tapak Suci UAD

21/01/2025/in Feature /by Ard

Muhammad Iqbal, Ketua Umum Tapak Suci (TS) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) (Dok. Iqbal)

Muhammad Iqbal adalah Ketua Umum Tapak Suci (TS) Universitas Ahmad Dahlan (UAD). Ia menceritakan pengalaman istimewanya. Laki-laki yang kerap disapa Iqbal ini merupakan mahasiswa Program Studi (Prodi) Pendidikan Agama Islam (PAI) yang aktif di berbagai kegiatan. Selain itu, ia telah mengukir prestasi gemilang di dunia tapak suci dengan berbagai penghargaan nasional, di antaranya:

Juara I Kejuaraan Pencak Silat Begawan Solo Nasional

Juara I Kejuaraan Pencak Silat Bali Open Competition

Juara I Kejuaraan Pencak Silat Nasional Sumedang Challenge

Juara II Kejuaraan Nasional Pencak Silat UPY CUP IV

Juara III Kejurnas Antar Perti UNY

Juara III Kejuaraan Nasional Tapak Suci Antar Perti Sebelas Maret ke-V

Juara III Kejuaraan Open Tournament Pencak Silat Lampung Championship VI Piala Menpora RI

Juara III Kejuaraan Pencak Silat Borneo

Awal Perjalanan dan Motivasi

Karier Iqbal di tapak suci dimulai saat ia mengikuti latihan di Pondok Pesantren Al-Kautsar Muhammadiyah, Sumatra Barat, di bawah bimbingan Pendekar Syailendra. Fokusnya pada prestasi mulai meningkat saat memasuki jenjang Madrasah Aliyah (MA) hingga kini melanjutkan kiprahnya di UAD bersama Coach Prabawa dan Coach Singgih.

Motivasi terbesar Iqbal dalam mengikuti tapak suci adalah sebagai bekal bela diri untuk menjadi muslim yang kuat, sekaligus membanggakan orang tua melalui pencapaian prestasi. “Tapak suci bukan hanya soal bela diri, tapi juga jalan untuk mendidik diri menjadi lebih baik secara fisik, mental, dan spiritual,” ungkap Iqbal.

Tips Membagi Waktu dan Dukungan Kampus

Sebagai mahasiswa sekaligus atlet, Iqbal memiliki tips khusus dalam membagi waktu. Ia menekankan pentingnya skala prioritas. “Kuliah adalah prioritas utama. Saya menyelesaikan tugas di luar waktu latihan agar tetap maksimal dalam berlatih. Kemudian, saya fokus pada kegiatan organisasi di sela-sela jadwal kuliah dan latihan,” jelasnya.

Iqbal juga menyampaikan rasa terima kasihnya kepada pelatih dan pembina Tapak Suci UAD, termasuk pihak rektorat yang telah memberikan dukungan penuh, mulai dari akomodasi hingga pengalaman tak terlupakan seperti penerbangan perdana ke berbagai lokasi kompetisi.

Pengalaman sebagai Ketua Umum Tapak Suci UAD

Menjabat sebagai Ketua Umum Tapak Suci UAD menjadi salah satu pengalaman paling berkesan dalam perjalanan hidup Iqbal. Ia merasa dinamika organisasi telah membentuk dirinya menjadi lebih berkembang. “Melalui Tapak Suci UAD, saya bertemu teman-teman luar biasa dari berbagai daerah. Mereka mengajarkan saya arti perjuangan, kekeluargaan, dan pengorbanan yang sangat saya syukuri,” tuturnya.

Harapan dan Rencana ke Depan

Iqbal berencana untuk terus mendukung Tapak Suci UAD, terutama menjelang reorganisasi ini. Ia berharap kepengurusan selanjutnya mampu membuat inovasi baru dalam program kerja dan mempertahankan tradisi berprestasi. “Semoga Tapak Suci UAD terus berkembang dan memberikan kontribusi yang besar, baik di tingkat nasional maupun internasional,” harapnya. (Lus)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Muhammad-Iqbal-Ketua-Umum-Tapak-Suci-TS-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-Dok.-Iqbal.jpg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2025-01-21 10:54:522025-01-21 10:54:52Cerita Muhammad Iqbal, Atlet sekaligus Ketua Umum Tapak Suci UAD

Empat Pilar Keluarga Sakinah

21/01/2025/in Feature /by Ard

Penyampaian Materi Kajian Ahad Pagi Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD) (Dok. Lusi)

Dalam Kajian Rutin Ahad Pagi yang diselenggarakan di Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD) pada 19 Januari 2025, Ust. Rofiul Wahyudi, S.E.I., M.E.I. selaku Majelis Tablig Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) menyampaikan empat pilar keluarga sakinah sesuai Himpunan Putusan Tarjih (HPT) Jilid 3.

Pertama, pembinaan aspek spiritual. Dalam HPT penekanan aspek spiritual ada dua hal yaitu aspek akidah dan aspek ibadah, seperti yang juga tertuang di dalam Surah Al-Ikhlas. Harapannya keimanan keluarga menjadi sama rata, hal ini tentu diiringi dengan permohonan doa “Rabbana hablana min azwajina wa dzurriyatina qurrota a’yun waj’alna lil muttaqina imama” yang artinya “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa”.

Pembinaan akidah bisa di mana saja, yakni di rumah, di masjid, dan di sekolah. Ust. Rofiul menekankan bahwa pembinaan utama aspek spiritual ini adalah akidah. Dalam aspek ibadah, ulama membagi dua jenis ibadah, yaitu ibadah mahdhah dan ibadah ghairu mahdhah. Ibadah dapat berupa salat lima waktu, puasa Ramadan, dan pembiasaan dengan ucapan-ucapan baik.

Kedua, aspek pendidikan formal dan moral. Pendidikan formal yang dimaksud adalah pendidikan yang ada di sekolah. Kemudian, pendidikan moral berupa adab sopan santun dalam kehidupan sehari-hari.

Ketiga, aspek kesehatan dan lingkungan hidup. Kesehatan yang dimaksud adalah kesehatan rohani (jiwa) dan fisik (raga). Kesehatan rohani dapat dipupuk dengan memperbanyak zikir kepada Allah Swt. Doa yang Allah ajarkan untuk menjaga kesehatan telah termaktub di dalam Surah Al-Baqarah ayat 201 “Rabbana, atina fid dunya hasanah, wa fil akhirati hasanah, wa qina adzaban nar” yang artinya “Tuhan kami, berikan kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan lindungilah kami dari siksa neraka”. Di dalam Tafsir Al-Munir, Wahbah Zuhaili menjelaskan kesehatan yang utama adalah kesehatan badan. Karena dengan hal itu memudahkan manusia untuk beraktivitas positif.

Keempat, aspek ekonomi. di dalam Al-Qur’an ukuran ekonomi yang dimaksud adalah cukup. Pilar ini merupakan pilar yang penting, maka dari itu hendaknya setiap keluarga senantiasa qanaah dan menggunakan hartanya untuk hal-hal prioritas.

Kajian yang dihadiri jamaah Masjid Islamic Center UAD ini juga selalu disiarkan melalui YouTube. Melalui kajian ini, diharapkan para jamaah dapat menerapkan empat pilar keluarga sakinah yang telah disebutkan untuk menuju keluarga bahagia. Jika semua aspek terpenuhi maka keluarga yang dibangun akan bermuara pada kebahagiaan. Empat pilar tersebut adalah wasilah keluarga untuk mendapatkan kebahagiaan di dunia dan bebas dari api neraka. (Lus)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Penyampaian-Materi-Kajian-Ahad-Pagi-Masjid-Islamic-Center-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-Dok.-Lusi.jpg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2025-01-21 10:41:542025-01-21 10:41:54Empat Pilar Keluarga Sakinah

Hikmah Keistimewaan Hari Jumat

18/01/2025/in Feature /by Ard

Khutbah Jumat pada 17 Januari 2025 di Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD) oleh Ust. Akhmad Arif Rif’an, S.H.I., M.S.I. (Dok. Lusi)

Keutamaan hari Jumat sering juga disebut sebagai sayyidul ayyam (penghulu segala hari). Mengutip hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra. dalam Shahih Bukhari dan Muslim, Rasulullah saw. bersabda, “Sebaik-baik hari adalah hari yang terbit matahari padanya, yaitu hari Jumat. Pada hari itu Adam diciptakan, pada hari itu ia dimasukkan ke dalam surga, dan pada hari itu pula ia dikeluarkan darinya. Tidaklah terjadi Hari Kiamat kecuali pada hari Jumat.” (HR Muslim, Ahmad, Tirmidzi, dan Nasa’i).

Hari Jumat memiliki banyak kemuliaan dan keistimewaan, di antaranya sebagai hari penciptaan Nabi Adam, hari ia dimasukkan ke dalam surga, hingga hari kiamat yang akan terjadi pada hari tersebut. Hari Jumat menjadi waktu yang tepat untuk merenungi tujuan hidup manusia, sebagaimana yang termaktub dalam firman Allah Surah Adz-Dzariyat ayat 56, yang artinya “Tidakkah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan adalah untuk beribadah kepada-Ku.”

Selain itu, di dalam Surah Al-An’am ayat 162, menegaskan bahwa seluruh aspek kehidupan manusia, mulai dari salat, ibadah, kehidupan, hingga kematian, haruslah dilakukan sepenuhnya kepada Allah, Tuhan semesta alam. “Hidup manusia adalah untuk beribadah kepada Allah, tetapi pada saat yang sama, ia juga harus menjalani kehidupan dengan kesadaran bahwa dunia hanyalah tempat ujian untuk bekal akhirat,” terang Arif.

Selain itu, dalam hidup ini, sudah pasti seorang mukmin akan selalu menghadapi dua jenis ujian, baik itu dari perkara yang buruk dan perkara yang baik. Rasulullah saw. pernah menyatakan bahwa seluruh perkara yang dialami seorang Muslim itu sejatinya adalah baik. Ketika ia mendapatkan kebaikan, ia bersyukur, dan ketika ditimpa kesulitan, ia bersabar, keduanya adalah bentuk kebaikan.

Ujian kehidupan, seperti kesedihan, penderitaan, rasa sakit, hingga kekhawatiran, dijadikan oleh Allah sebagai penebus dosa-dosa hamba-Nya. “Allah menguji manusia dengan berbagai bentuk cobaan, dan jika manusia bersabar, ujian itu menjadi sarana penyucian dosa. Bahkan, jika Allah mencabut nyawa seorang hamba dalam keadaan bersabar, maka ia akan kembali kepada Allah dalam keadaan bersih,” jelasnya.

Oleh karena itu, manusia hendaknya senantiasa bermuhasabah, memohon kesabaran, ketabahan, dan keteguhan iman untuk selalu menerima kebenaran. Seorang hamba hendaknya mempersiapkan diri untuk kembali kepada Allah dalam keadaan terbaik. Hari Jumat yang penuh kemuliaan ini diharapkan menjadi pengingat bagi setiap muslim untuk menjalani kehidupan dengan lebih baik demi meraih rida-Nya.

Hal ini disampaikan pada Khutbah Jumat 17 Januari 2025 di Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD) dengan khatib Ust. Akhmad Arif Rif’an, S.H.I., M.S.I., selaku Majelis Tablig Pimpinan Pusat Muhammadiyah. (Lus)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Khutbah-Jumat-pada-17-Januari-2025-di-Masjid-Islamic-Center-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-oleh-Ust.-Akhmad-Arif-Rifan-S.H.I.-M.S.I.jpg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2025-01-18 12:26:382025-01-18 12:52:04Hikmah Keistimewaan Hari Jumat

Menatap Masa Depan dengan Iman dan Optimisme

16/01/2025/in Feature /by Ard

Penyampaian Materi Kajian Ahad Pagi Masjid Islamic Center UAD oleh Akhmad Arif Rif’an, S.H.I., M.S.I. (Dok. Lusi)

Kajian Rutin Ahad Pagi kembali diadakan di Aula Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD) pada 5 Januari 2025. Kajian ini menghadirkan pemateri Akhmad Arif Rif’an, S.H.I., M.S.I., dengan membawakan tema “Menatap Masa Depan dengan Iman dan Optimisme”.

Dalam kajian tersebut, ia menekankan bahwa momentum pergantian tahun merupakan ajang muhasabah, memperbaiki diri, dan mempersiapkan sisa amanah usia dengan iman yang kokoh.

Makna dan Nilai Iman
Para ulama menjelaskan bahwa iman memiliki tiga aspek penting: membenarkan dengan hati, mengucapkan dengan lisan, dan membuktikan dengan amal perbuatan. Kemudian dikutip di dalam hadis, “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah berkata yang baik atau diam”, dan hadis kedua “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya”.

Selain itu, iman juga mencakup keyakinan kepada Allah sebagai Rabb yang menciptakan, memberi rezeki, dan mematikan. Hal ini ditegaskan dalam Surah An-Nas: “Katakanlah: Aku berlindung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia, Raja manusia, sembahan manusia.”

Keutamaan Iman
Dalam kajian ini, jamaah diajak memahami bahwa iman lebih berharga daripada emas sepenuh bumi. Surah Ali Imran ayat 91 mengingatkan, “Sesungguhnya orang-orang yang kufur dan mati sebagai orang-orang kafir tidak akan diterima (tebusan) dari seseorang di antara mereka sekalipun (berupa) emas sepenuh bumi, sekiranya dia hendak menebus diri dengannya. Mereka itulah orang-orang yang mendapat azab yang pedih dan tidak ada penolong bagi mereka.”

Pemateri juga menegaskan, iman yang benar akan membawa keberkahan dari langit dan ketenangan jiwa. Namun, iman yang lemah kerap tergoda oleh maksiat. Oleh karena itu, belajar dan introspeksi menjadi kunci dalam menjaga keimanan.

Persiapan Menuju Masa Depan Akhirat
Dikutip dalam Surah Al-Hasyr ayat 18: “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Takwa yang dimaksud dalam surah ini adalah salat, sedekah, dan menjaga kebersihan hati. Hal ini tentu menjadi wasilah bekal utama menuju akhirat.

Selain itu, seorang hamba juga dianjurkan untuk menjaga hubungan baik sesama manusia. Rasulullah saw. bersabda, “Tidak beriman seseorang apabila tetangganya tidak merasa aman dari keburukannya.”

Optimisme dan Kebersihan Hati
Seorang hamba yang taat, menatap masa depan dengan iman, optimisme, dan hati yang bersih. Karena pada dasarnya, Allah tidak melihat bentuk jasad seseorang, melainkan hati dan amal perbuatannya. “Perjalanan menuju husnulkhatimah adalah perjuangan membersihkan hati,” tutup Arif.

Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi umat untuk terus meningkatkan keimanan dan ketakwaan, serta mengisi hari-hari dengan amal terbaik. (Lus)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Penyampaian-Materi-Kajian-Ahad-Pagi-Masjid-Islamic-Center-UAD-oleh-Akhmad-Arif-Rifan-S.H.I.-M.S.I.-Dok.-Lusi.jpg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2025-01-16 10:50:442025-01-16 10:50:44Menatap Masa Depan dengan Iman dan Optimisme

PK IMM FAI UAD Gelar Upgrading untuk Tingkatkan Ukhuwah serta Kapabilitas Internal

15/01/2025/in Terkini /by Ard

Upgrading Internal PK IMM FAI UAD (Dok. IMM FAI)

Pasca satu minggu pelantikan, Pengurus Komisariat (PK) Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Periode 2025/2026 melaksanakan kegiatan Upgrading Internal pada 9‒10 Januari 2025 di Homestay Omah Putih Ngemplak, Sleman. Kegiatan ini merupakan upaya strategis dari Bidang Organisasi untuk meningkatkan kapasitas keilmuan internal, baik dalam aspek keagamaan, keorganisasian, kemasyarakatan, maupun keimanan.

Upgrading Internal ini menjadi momentum penting dalam masa transisi bagi anggota PK IMM FAI UAD. Tujuan utamanya adalah memberikan arahan yang jelas mengenai arah gerak komisariat serta mempererat ukhuwah antar anggota, terutama mengingat adanya perubahan dalam struktur organisasi dan kedatangan anggota baru yang belum banyak mengenal dinamika PK IMM.

Acara dimulai pada pukul 13.00 WIB, dengan keberangkatan peserta dari Kampus IV UAD menuju lokasi yang memakan waktu perjalanan sekitar 1 jam. Setibanya di lokasi, para peserta mempersiapkan diri untuk melaksanakan kegiatan yang telah dijadwalkan. Pada pukul 16.00 WIB, Ketua Umum PK IMM FAI UAD membuka acara dengan mengarahkan peserta untuk mengikuti kegiatan dengan penuh ceria dan saksama. “Semoga kegiatan ini dapat memberikan manfaat dan menghasilkan perencanaan yang lebih baik untuk komisariat ke depannya,” ujar Ketua Umum.

Kegiatan dilanjutkan dengan pemaparan materi oleh Fakhri Ilham Syarifudin, S.Ag. selaku Ketua Umum PC IMM Djazman Al Kindi. Dalam kesempatan ini, ia memberikan wawasan mengenai tujuan dan arah gerak organisasi IMM, serta strategi pengembangan yang harus dijalankan oleh komisariat, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.

Sesi berikutnya adalah forum group discussion (FGD) yaitu peserta diajak mendiskusikan evaluasi dari berbagai bidang yang ada pada periode sebelumnya. Diskusi ini bertujuan untuk merumuskan proyeksi dan perbaikan melalui program kerja dan agenda yang akan dihadirkan pada periode yang akan datang.

Kegiatan berlangsung hingga malam dilanjutkan dengan senam dan fun games pada keesokan harinya, yang bertujuan untuk mempererat tali persaudaraan antaranggota baru dan lama. “Keakraban yang terjalin dalam kegiatan ini sangat penting untuk membangun kekompakan dalam menjalankan program-program organisasi,” ungkap Rasyid, salah satu peserta.

Upgrading Internal ditutup dengan foto bersama. Selain itu, Kepala Bidang Organisasi menyampaikan harapannya, “Apa yang telah kita lakukan selama dua hari satu malam ini harus menjadi bekal yang bermanfaat dan tidak hanya berlalu begitu saja. Semoga hasil diskusi dan pembelajaran ini akan semakin matang melalui musyawarah kerja di periode mendatang,” tuturnya.

Kegiatan ini menjadi awal yang baik bagi PK IMM FAI UAD dalam membangun fondasi yang kuat dan mempererat ukhuwah antaranggota untuk menjalani organisasi selama satu periode ke depan. (Imm/Lus)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Upgrading-Internal-PK-IMM-FAI-UAD-Dok.-IMM-FAI.jpg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2025-01-15 11:57:112025-01-15 11:57:11PK IMM FAI UAD Gelar Upgrading untuk Tingkatkan Ukhuwah serta Kapabilitas Internal

Keindahan dan Evolusi Dunia Sastra Arab: Dari Pra-Islam ke Modern

14/01/2025/in Feature /by Ard

Ilustrasi oleh Husnul Khotimah (Dok. Husnul)

Sastra Arab adalah salah satu warisan budaya dunia yang kaya dengan sejarah yang sangat panjang dan mencerminkan evolusi sosial budaya intelektual masyarakat Arab dari zaman pra-Islam hingga era modern. Sastra bukan hanya bentuk ekspresi artistik, tetapi juga cermin dari perkembangan sejarah filosofi, dan cara hidup masyarakat Arab yang terus berubah. Perjalanan panjang ini terbagi dalam dua periode besar yang mendasar, yaitu sastra Arab pada pra-Islam dan pasca-Islam, serta transformasi yang lebih modern yang kita saksikan dalam sastra Arab kontemporer. Keindahan dan kompleksitas sastra Arab terletak pada kemampuan untuk tetap relevan sepanjang zaman, merespons tantangan zaman sambil mempertahankan karya tradisional yang mendalam.

Sastra Arab pada Masa Pra-Islam

Pada masa pra-Islam, sastra Arab berkembang dalam bentuk tradisi lisan. Masyarakat Arab pada masa itu tidak memiliki sistem tulisan yang tersebar luas, sehingga syair atau puisi menjadi medium utama untuk mengekspresikan pemikiran, perasaan, dan pandangan hidup mereka. Era ini sering disebut sebagai masa jahiliah, yang diterjemahkan sebagai “masa kebodohan” meskipun istilah ini lebih merujuk pada waktu sebelum datangnya pencerahan spiritual Islam, bukan ketidaktahuan budaya secara keseluruhan. Pada periode ini, sastra Arab berkembang pesat dalam bentuk puisi lisan yang sangat terstruktur dan kompleks.

Ciri-Ciri Sastra Pra-Islam

  1. Dominasi puisi

Puisi pada masa ini sangat dominan dalam kehidupan masyarakat Arab. Qasidah sebuah bentuk puisi yang terstruktur dengan ketat adalah jenis puisi yang paling populer. Qasidah sering terdiri atas tiga bagian utama, yaitu nasib (pengantar emosional), rahil (perjalanan atau perjuangan), dan madh (pujian atau kritik terhadap individu atau suku lain). Struktur ini memberikan dasar bagi banyak karya sastra Arab yang dihasilkan selama masa pra-Islam. Puisi pada zaman ini berfungsi untuk menyertakan aspek moral yang penting bagi kehidupan sosial mereka.

  1. Tema-tema sastra pra-Islam
  • Keberanian dan perang
  • Cinta dan romantika
  • Hubungan dengan alam
  • Kebanggaan kesukuan
  1. Tradisi lisan

Sastra pada masa pra-Islam disampaikan secara lisan, karena tidak ada sistem tulisan yang lazim. Penyair pada masa itu diakui sebagai penjaga sejarah dan tradisi dengan kemampuan luar biasa dalam menghafal dan menyampaikan puisi secara akurat dan mendalam. Tradisi lisan ini memastikan bahwa sastra Arab tetap hidup dan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Penyair Terkenal Pra-Islam

  1. Imru’ Al-Qais

Imru’ dikenal sebagai “raja penyair”, ia termasuk salah satu penyair paling terkenal pada masa pra-Islam. Puisi yang disampaikannya kerap kali penuh dengan kesedihan dan keindahan yang berkisar pada tema cinta dan kehilangan.

  1. Antarah Ibn Shaddad

Ia adalah seorang penyair yang terkenal dengan puisi keberanian dan cinta tragisnya yang menggambarkan kehidupan seorang pejuang yang juga seorang kekasih.

Sastra Arab pada Masa Pasca-Islam

Kehadiran Islam pada abad ke-7 M membawa perubahan besar dalam dunia sastra Arab, Al-Qur’an dengan bahasa yang sangat kaya dan penuh makna menjadi sumber inspirasi utama bagi para penulis dan penyair. Islam memperkenalkan konsep-konsep baru dalam sastra, menggabungkan elemen spiritual, moral, intelektual ke dalam karya sastra. Hadirnya Islam membuat sastra Arab melangkah ke era baru yang lebih luas dalam mengintegrasikan ajaran agama dengan seni.

Perkembangan Baru dalam Sastra Pasca-Islam

  1. Pengaruh Al-Qur’an

Gaya bahasa Al-Qur’an yang ritmis dan penuh metafora memberi pengaruh besar terhadap sastra Arab setelahnya. Para penulis dan penyair terdorong untuk menghasilkan karya-karya yang tidak hanya indah secara estetis, tetapi juga indah dengan kedalaman spiritual. Gaya bahasa tersebut melahirkan bentuk-bentuk sastra baru, terutama dalam prosa.

  1. Prosa sebagai genre baru

Prosa mulai berkembang pesat, terutama dalam bentuk tafsir (penafsiran Al-Qur’an), khitabah (pidato), dan maqamat (cerita pendek berirama). Karya-karya ini sering kali mencampurkan elemen sastra dengan pengetahuan ilmiah, dan menjadi sumber pengetahuan yang berharga bagi umat Islam.

  1. Tema-tema karya sastra pasca-Islam
  • Keagamaan
  • Kisah para Nabi
  • Moralitas dan etika
  • Kemanusiaan

Tokoh-Tokoh Sastra Pasca-Islam

  1. Al-Jahiz

Ia adalah seorang penulis dan ilmuwan terkenal yang menulis karya-karya filsafat, sastra, dan ilmu pengetahuan dengan gaya yang penuh humor dan observasi mendalam tentang kehidupan manusia.

  1. Al-Mutanabbi

Salah satu penyair terbesar dalam sejarah sastra Arab, karyanya sering kali berfokus pada tema kebanggaan diri, kebebasan, dan pencarian makna hidup.

Sastra Arab Modern

Pada abad ke-19 dan ke-20, sastra Arab mengalami kebangkitan besar yang dikenal sebagai nahda atau kebangkitan sastra. Periode ini ditandai oleh interaksi dengan budaya Barat, perubahan sosial akibat kolonialisme, dan munculnya kesadaran nasionalisme. Sastra Arab modern mulai menjauh dari dominasi puisi tradisional dan mengeksplorasi genre-genre baru seperti novel, cerpen, esai, dan drama. Transformasi ini mencerminkan perubahan besar dalam struktur sosial dan politik masyarakat Arab pada masa itu.

Ciri-Ciri Sastra Arab Modern

  1. Diversifikasi genre

Sastra modern tidak lagi berfokus pada puisi, tetapi juga mulai mencakup genre baru seperti novel, cerpen, drama, dan esai. Penulis mulai mengeksplorasi berbagai bentuk tulisan untuk mengekspresikan ide dan perasaan mereka.

  1. Eksperimen bahasa

Penulis modern sering kali menggabungkan bahasa Arab standar dengan dialek lokal mereka. Hal ini membuat karya sastra menjadi lebih relevan dan dapat diakses oleh pembaca sehari-hari, menciptakan hubungan yang lebih erat antara karya sastra dan kehidupan nyata.

  1. Tema-tema karya sastra Arab modern
  • Perjuangan melawan kolonialisme
  • Kebebasan dan identitas
  • Ketimpangan sosial
  • Hak-hak perempuan

Tokoh-Tokoh Penting dalam Sastra Modern

  1. Naguib Mahfouz

Naguib adalah penulis Mesir yang memenangkan Hadiah Nobel Sastra pada tahun 1988, yang dikenal dengan trilogi Kairo yang menggambarkan kehidupan sosial-politik Mesir.

  1. Taha Hussein

Ia dikenal sebagai “Bapak Sastra Arab Modern”, Taha Hussein memainkan peran besar dalam mempromosikan pendidikan dan kebebasan berpikir melalui karya-karyanya.

  1. Nawal El Saadawi

Seorang penulis feminis yang terkenal karena keberaniannya mengangkat isu-isu tentang peran perempuan dan hak-hak mereka dalam masyarakat Arab.

Pengaruh Teknologi pada Sastra Modern

Era digital membawa perubahan besar dalam dunia sastra Arab. Platform daring memberikan kesempatan bagi penulis muda untuk mempublikasikan karya mereka dengan cepat dan menjangkau audiens yang lebih luas. Selain itu, tema-tema modern seperti kecemasan teknologi dan aliensi digital juga mulai muncul dalam karya-karya sastra Arab kontemporer.

Keindahan Sastra Arab: Dari Masa ke Masa

Keindahan sastra Arab terletak pada fleksibilitas dan kemampuannya untuk beradaptasi dengan perubahan zaman tanpa kehilangan jati diri. Meskipun bentuk dan tema sastra terus berubah dari waktu ke waktu, sastra Arab tetap menjadi medium yang menyuarakan perjuangan, harapan, dan identitas kolektif masyarakat Arab. Melalui akar yang kuat dalam tradisi dan inovasi yang terus berkembang, dunia sastra Arab tetap menjadi salah satu pilar budaya global yang menginspirasi.

(Husnul Khotimah, Mahasiswa BSA FAI UAD)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Ilustrasi-oleh-Husnul-Khotimah-Dok.-Husnul.jpg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2025-01-14 10:16:472025-01-14 10:16:47Keindahan dan Evolusi Dunia Sastra Arab: Dari Pra-Islam ke Modern

Pengaruh Politik Identitas dalam Konflik Dunia Arab: Studi Kasus Palestina dan Suriah

14/01/2025/in Feature /by Ard

Muhammad Ibni Tuahena, Mahasiswa BSA UAD (Dok Iben)

Politik identitas telah menjadi faktor dominan dalam konflik di berbagai belahan dunia, termasuk di Timur Tengah. Politik identitas merujuk pada upaya menggunakan unsur etnis, agama, atau budaya sebagai alat untuk memperoleh kekuasaan politik. Di dunia Arab, konflik di Palestina dan Suriah menjadi contoh nyata bagaimana politik identitas memainkan peran sentral dalam memperumit konflik yang sudah berlangsung lama. Kedua konflik ini menunjukkan bahwa politik identitas tidak hanya memperburuk ketegangan, tetapi juga mempersulit upaya penyelesaian konflik.

Dalam opini ini, akan dibahas bagaimana politik identitas memengaruhi konflik di Palestina dan Suriah, dengan menyoroti peran agama, etnis, dan sektarianisme. Selain itu, opini ini akan mengutip beberapa sumber buku dan artikel akademik untuk memperkuat analisis.

Politik Identitas dalam Konflik Palestina

Konflik antara Israel dan Palestina adalah salah satu konflik paling kompleks di dunia yang telah berlangsung selama beberapa dekade. Meskipun akar konflik ini adalah masalah tanah dan kolonialisme, politik identitas memainkan peran besar dalam mempertahankan dan memperpanjang konflik.

Menurut Edward Said dalam bukunya The Question of Palestine (1979), politik identitas memainkan peran sentral dalam cara kedua pihak mendefinisikan konflik. Israel menggunakan identitas Yahudi sebagai legitimasi untuk mengklaim tanah Palestina, sementara Palestina memperjuangkan identitas Arab dan muslim mereka dalam menuntut hak atas tanah tersebut.

“The Zionist movement was fundamentally about the creation of a Jewish state, and this inherently involved the displacement and erasure of Palestinian identity.” – Edward Said

Politik identitas di Palestina juga terlihat dalam cara negara-negara Arab mendukung perjuangan Palestina. Banyak negara Arab menggunakan isu Palestina sebagai simbol solidaritas Islam dan Arab untuk memperkuat posisi politik mereka di kawasan. Namun, dukungan ini sering kali bersifat retorik tanpa langkah konkret, karena negara-negara Arab memiliki kepentingan politik domestik yang berbeda.

Selain itu, politik identitas di Palestina diperkuat oleh perbedaan sektarian antara kelompok Fatah dan Hamas. Fatah, yang lebih sekuler, menguasai wilayah Tepi Barat, sementara Hamas, yang berhaluan Islamis, menguasai Gaza. Perpecahan ini menciptakan konflik internal di Palestina yang memperumit upaya mencapai perdamaian dengan Israel.

Politik Identitas dalam Konflik Suriah

Konflik di Suriah adalah salah satu contoh paling jelas bagaimana politik identitas dapat memicu dan memperpanjang perang saudara. Konflik ini bermula dari protes damai yang menyerukan reformasi politik pada tahun 2011, tetapi dengan cepat berubah menjadi perang saudara yang melibatkan berbagai kelompok dengan identitas agama dan etnis yang berbeda.

Pemerintah Suriah di bawah Bashar al-Assad adalah rezim yang didominasi oleh minoritas Alawit, sebuah sekte dalam Islam Syiah. Sebagian besar penduduk Suriah adalah Sunni, yang merasa terpinggirkan oleh rezim Alawit. Politik identitas memainkan peran penting dalam memobilisasi kelompok-kelompok perlawanan yang sebagian besar terdiri dari kaum Sunni.

Menurut Joshua Landis, seorang pakar Suriah, dalam artikelnya “The Syrian Civil War and Sectarianism” (2018), konflik Suriah tidak bisa dipahami tanpa memperhitungkan politik identitas sektarian.

“The Syrian conflict is not just a political struggle, but a deeply rooted sectarian conflict that has been fueled by identity politics and historical grievances.” – Joshua Landis

Selain itu, konflik di Suriah semakin diperumit oleh intervensi negara-negara asing yang juga membawa agenda politik identitas. Iran, sebagai negara mayoritas Syiah, mendukung rezim Assad, sementara negara-negara seperti Arab Saudi dan Turki mendukung kelompok-kelompok oposisi Sunni. Politik identitas juga digunakan oleh kelompok-kelompok ekstremis seperti Islamic State of Iraq and Suriah (ISIS), yang memanfaatkan sektarianisme untuk merekrut anggota dan memperluas pengaruh mereka.

Perbandingan Palestina dan Suriah

Meskipun konflik di Palestina dan Suriah memiliki perbedaan dalam konteks sejarah dan politik, keduanya menunjukkan bagaimana politik identitas dapat memperburuk konflik. Di Palestina, politik identitas terutama berpusat pada nasionalisme dan agama, sementara di Suriah, sektarianisme memainkan peran yang lebih besar.

Dalam buku Conflict and Identity in the Middle East karya Shibley Telhami (2001), disebutkan bahwa politik identitas di Timur Tengah sering kali digunakan oleh para pemimpin politik untuk mengonsolidasikan kekuasaan mereka di tengah masyarakat yang terfragmentasi.

“Identity politics in the Middle East is not just a reflection of cultural differences, but a tool used by leaders to maintain power and control in divided societies.” – Shibley Telhami

Dampak Politik Identitas terhadap Upaya Perdamaian

Politik identitas mempersulit upaya perdamaian di kedua konflik tersebut. Di Palestina, perbedaan ideologi antara Fatah dan Hamas membuat sulit untuk mencapai kesepakatan bersama dalam negosiasi dengan Israel. Sementara itu, di Suriah, sektarianisme yang mendalam membuat sulit untuk menciptakan pemerintahan yang inklusif dan stabil.

Upaya perdamaian di Timur Tengah sering kali gagal karena tidak memperhitungkan faktor politik identitas ini. Menurut Avi Shlaim dalam bukunya The Iron Wall: Israel and the Arab World (2000), solusi politik yang tidak memperhitungkan identitas dan hak-hak masyarakat setempat cenderung tidak berhasil.

“Peace initiatives that ignore the identity and aspirations of the local population are doomed to fail.” – Avi Shlaim

Politik identitas memainkan peran besar dalam memperumit konflik di dunia Arab, terutama di Palestina dan Suriah. Identitas agama, etnis, dan sektarian telah digunakan oleh berbagai pihak untuk memobilisasi dukungan dan memperkuat posisi politik mereka. Namun, politik identitas juga mempersulit upaya perdamaian, karena menciptakan perpecahan dan ketidakpercayaan di antara kelompok-kelompok yang terlibat dalam konflik.

Untuk mencapai perdamaian yang berkelanjutan, penting untuk mengakui dan memahami pengaruh politik identitas dalam konflik ini. Solusi politik harus mencakup upaya untuk menciptakan inklusi dan rekonsiliasi di antara kelompok-kelompok yang terfragmentasi, dengan menghormati identitas dan aspirasi mereka. Seperti yang dikatakan oleh Shibley Telhami, “Perdamaian hanya dapat dicapai ketika identitas semua pihak diakui dan dihormati.” (Ibni/Dilla)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Muhammad-Ibni-Tuahena-Mahasiswa-BSA-UAD-Dok-Iben.jpg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2025-01-14 09:59:522025-01-14 09:59:52Pengaruh Politik Identitas dalam Konflik Dunia Arab: Studi Kasus Palestina dan Suriah

Media dan Narasi dalam Konflik Israel dan Palestina

12/01/2025/in Feature /by Ard

Ilustrasi Konflik Israel dan Palestina (Dok. Hani)

Konflik Israel-Palestina yang telah berlangsung selama beberapa dekade telah menjadi sorotan utama di media internasional. Namun, selain melaporkan fakta, media juga memegang peran besar dalam membentuk opini publik tentang siapa yang benar dan siapa yang salah. Media sering kali bukan hanya mencerminkan kenyataan, tetapi juga mengemas narasi yang dapat memperburuk ketegangan, menciptakan polarisasi, dan mengarah pada pendapat yang mendukung salah satu pihak.

Dalam konflik ini, media mainstream sering kali menggunakan pilihan bahasa dan gambar yang dapat memperkuat bias tertentu. Istilah seperti “teroris” dan “pejuang kebebasan” atau “kependudukan” dan “pemukiman” dapat menggambarkan kelompok atau situasi yang sama, tetapi dari sudut pandang yang sangat berbeda. Sehingga, audiens mungkin mendapatkan informasi yang tidak sepenuhnya akurat atau berimbang, memperburuk stereotip yang ada dan semakin memperuncing perpecahan antara kedua belah pihak.

Akan tetapi, di tengah tantangan ini, media juga memiliki potensi besar untuk memainkan peran konstruktif dalam mengubah narasi yang ada. Salah satunya adalah dengan mengusung jurnalisme perdamaian, sebuah pendekatan yang berfokus pada penyajian pemberitaan yang tidak hanya mengutamakan konflik dan kekerasan, tetapi juga menyoroti upaya rekonsiliasi, solusi damai, dan kisah-kisah kemanusiaan dari kedua belah pihak. Ini memberi ruang bagi suara-suara moderat yang dapat membuka dialog dan menjembatani pemahaman.

Media sosial juga memainkan peran penting dalam penyebaran informasi. Namun, dalam era digital ini, misinformasi dan propaganda sering kali tersebar luas, semakin memperburuk pemahaman masyarakat terhadap konflik tersebut. Oleh karena itu, media sosial perlu diarahkan untuk mempromosikan narasi perdamaian dengan menyebarkan informasi faktual dan kisah-kisah positif yang dapat menginspirasi solidaritas global serta mendukung inisiatif perdamaian.

Untuk mencapai tersebut, peran organisasi masyarakat sipil dan dukungan internasional menjadi sangat penting. Pelatihan bagi jurnalis lokal, terutama dalam jurnalisme perdamaian, dapat membantu mereka menggali cerita yang lebih berimbang dan autentik, yang sering kali terabaikan oleh media mainstream. Selain itu, pemerintah dan institusi global harus melindungi kebebasan pers, memberikan perlindungan bagi jurnalis yang bekerja di wilayah konflik, dan memastikan bahwa mereka dapat melaporkan fakta dengan akurat serta tanpa ancaman.

Dengan semakin banyaknya inisiatif perdamaian yang diperkenalkan melalui media, harapan untuk menciptakan perubahan yang berarti di wilayah yang telah lama dilanda kekerasan ini bukanlah sesuatu yang mustahil. Media dapat bertransformasi dari menjadi penggerak konflik menjadi agen perdamaian, asalkan jurnalis dan pembuat kebijakan berkomitmen untuk mengutamakan nilai-nilai kemanusiaan, keadilan, dan kedamaian dalam pemberitaan mereka.

Pada akhirnya, media memiliki tanggung jawab moral untuk memberikan suara kepada mereka yang terdampak langsung oleh konflik—baik itu warga Israel maupun Palestina. Melalui narasi yang lebih berimbang dan lebih memperhatikan kemanusiaan, media dapat membantu menciptakan pemahaman yang lebih baik, mengurangi polarisasi, dan membuka jalan menuju perdamaian yang lebih nyata. (Hani)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Template-News-UAD-PUTIH-5.jpg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2025-01-12 09:06:042025-01-12 09:06:04Media dan Narasi dalam Konflik Israel dan Palestina

Masrahiyatul Jaudah Suguhkan Kisah Mengharukan Bunga Kecil Andalusia di AWfest #7

10/01/2025/in Terkini /by Ard

Penampilan Teater Masdah di AWFest #7 HMPS BSA UAD (Dok. Fia & Caca)

Masrahiyatul Jaudah (Masdah), yakni Teater Bahasa dan Sastra Arab (BSA) Universitas Ahmad Dahlan (UAD), mempersembahkan sebuah penampilan bertajuk Bunga Kecil Andalusia pada Rabu, 8 Januari 2025 bertempat di Amphitarium Gedung Utama Kampus IV UAD. Penampilan tersebut merupakan rangkaian acara dalam Arabic World Festival (AWFest) #7 yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) BSA UAD.

Pertunjukan ini mengisahkan kehidupan seorang gadis ceria asal Granada yang dijuluki “bunga kecil” karena sifatnya yang lembut dan penuh semangat, seperti bunga kecil yang mekar di taman indah Alhambra. Kisahnya menggambarkan perjuangan hidup penuh warna, antara kebahagiaan dan kesedihan yang dialami gadis itu bersama sang ibu. Penonton diajak menyelami bagaimana gadis tersebut menghadapi berbagai tantangan hidup dengan keberanian dan ketegaran.

Pertunjukan Bunga Kecil Andalusia diproduseri oleh Putri Anna dan disutradarai oleh Yahya Hakim, dengan tim produksi Masdah 2024. Asisten produser Naufal Hibatullah bersama asisten sutradara Farhan, Aisy Safina dan Nabila Ghifarina, turut berperan penting dalam kelancaran produksi teater ini. Penanggung jawab umum AWFest, Naula Husna, juga memberikan dukungannya.

Dalam wawancara, produser dan sutradara mengungkapkan tantangan besar yang mereka hadapi, termasuk pergantian anggota tim yang mengharuskan naskah dirombak berkali-kali. “Tantangan Masdah tahun ini sebenarnya banyak, tapi bingung mendeskripsikannya. Bahkan ada beberapa anggota yang keluar sehingga harus merombak naskah berkali-kali,” ujar Putri.

Persiapan produksi dimulai sejak Juli 2024 dengan penyusunan naskah, diikuti oleh pengumpulan aktor pada Oktober, dan pengumpulan kru pada Desember. Setelah proses panjang, tim berhasil menyelesaikan produksi untuk ditampilkan pada Januari 2025.

Pertunjukan ini mendapat apresiasi luar biasa dari penonton. Nu’man, salah satu penonton, mengatakan, “Bagus banget lho, Teater Masdah semakin berkembang! Alur ceritanya banyak dan penuh makna, ratingnya dari 1‒10, aku kasih 9/10. Semoga ke depannya Masdah semakin berkembang,” tuturnya.

Gheny juga memberikan tanggapan positif, “Seru banget! Dari tiga penampilan Masdah yang aku tonton, menurutku pertunjukan ini yang paling seru. Nilai tambahnya karena adanya penerjemah bahasa Indonesia di tengah peran, jadi kami tahu isi alur ceritanya. Pemerannya juga mantap banget, semuanya benar-benar totalitas.”

Akan tetapi, ada juga masukan dari penonton lain seperti Delvina, yang menyebutkan bahwa kualitas suara dan pencahayaan masih perlu diperbaiki. “Ceritanya menarik, ada lucunya, romantisnya, dan ada sedih-sedihnya juga. Aku kasih rating 8,5/10 karena tadi suaranya kurang jelas, terus pencahayaannya kurang terang ke aktornya jadi kurang kelihatan jelas juga,” ujarnya.

Pertunjukan Bunga Kecil Andalusia bukan hanya menghibur, tetapi juga menjadi bukti nyata dedikasi dan kerja keras Masrahiyatul Jaudah dalam menghadirkan karya seni yang inspiratif. Dukungan penuh dari HMPS BSA UAD dan berbagai pihak terkait, memberikan harapan besar bahwa Masdah akan terus berkembang dan menjadi wadah eksplorasi seni dan budaya Arab di masa depan. (Fia)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Penampilan-Teater-Masdah-di-AWFest-7-HMPS-BSA-UAD-Dok.-Fia-Caca.jpg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2025-01-10 12:18:042025-01-10 12:18:04Masrahiyatul Jaudah Suguhkan Kisah Mengharukan Bunga Kecil Andalusia di AWfest #7

Penutupan AWFest 2025: Semangat Baru untuk Bahasa dan Budaya Arab

10/01/2025/in Terkini /by Ard

Suasana Penutupan AWFest #7 di Amphitarium Universitas Ahmad Dahlan (UAD) (Dok. FAI UAD)

Rangkaian kegiatan Arabic World Festival (AWFest) #7 resmi berakhir dengan acara closing ceremony pada 8 Januari 2025 di Amphitarium Lantai 9, Kampus IV Universitas Ahmad Dahlan (UAD). Acara yang berlangsung meriah ini dihadiri oleh peserta, panitia, Ketua Program Studi (Kaprodi) Bahasa dan Sastra Arab (BSA) UAD Fitria Yunianti, S.S., M.Hum., Sekretaris Program Studi (Sekprodi) BSA Dr. A. Syahid Robbani, S.Pd., M.Pd., serta Wakil Dekan I Fakultas Agama Islam (FAI) Ferawati, S.S., S.Psi., M.Hum.

Ketua pelaksana AWFest, Naula Husna, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas dedikasi semua pihak yang telah mendukung terlaksananya acara ini. “Semoga teman-teman semua mendapatkan hasil terbaik dari kompetisi ini, dan saya ucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang terlibat, terutama Kaprodi dan jajarannya,” ujarnya dengan penuh rasa syukur.

Dalam sambutannya, Ferawati memberikan penekanan pada pentingnya bahasa Arab sebagai bagian dari budaya, agama, dan komunikasi lintas bangsa. “Acara ini adalah kesempatan emas untuk memperkuat bahasa Arab. Mudah-mudahan melalui AWFest, pemahaman kita terhadap bahasa Arab semakin meningkat. Kami juga berharap AWFest tahun depan mampu menjangkau skala internasional dengan melibatkan negara-negara tetangga hingga Timur Tengah,” harap Ferawati, yang sekaligus menutup secara resmi AWFest 2025.

Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya silaturahmi yang telah terjalin selama acara. “Kami berharap hubungan baik ini tetap berlanjut meskipun kegiatan telah selesai. Program Studi Bahasa dan Sastra Arab FAI UAD juga terbuka untuk kolaborasi di berbagai kegiatan lainnya,” tambahnya.

Dengan ditutupnya AWFest #7, semoga dapat menumbuhkan semangat baru untuk terus mengembangkan potensi, khususnya dalam mempelajari dan melestarikan bahasa serta budaya Arab. (Fia)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Suasana-Penutupan-AWFest-7-di-Amphitarium-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-Dok.-FAI-UAD.jpg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2025-01-10 12:02:512025-01-10 12:02:51Penutupan AWFest 2025: Semangat Baru untuk Bahasa dan Budaya Arab
Page 12 of 20«‹1011121314›»

TERKINI

  • UAD Tuan Rumah Pembekalan Kontingen HW DIY Menuju LBP V Nasional Kwarpus HW15/06/2026
  • Strategi Membangun Personal Branding Mahasiswa untuk Persiapan Karier15/06/2026
  • PK IMM FKM UAD Sukses Gelar Darul Arqam Dasar 202615/06/2026
  • UAD Tuan Rumah Gowes Aptisi Wilayah V 202613/06/2026
  • Doctoral Talk FEB UAD Soroti Strategi UMKM Hijau dan Reformasi Tata Kelola Perbankan Syariah12/06/2026

PRESTASI

  • Mahasiswa UAD Juara III Solo Vocal Pop pada Euphoria Art Competition 2026 Tingkat Nasional15/06/2026
  • Mahasiswa Kedokteran UAD Raih Juara II Solo Vocal Pop pada Diksivyta Art Festival 202612/06/2026
  • Mahasiswa UAD Raih Juara Nasional lewat Penelitian Fenomena Toxic Relationship di TikTok12/06/2026
  • Kajian Pemulihan Ekonomi Pascabencana Antarkan Mahasiswa UAD Raih Prestasi Nasional11/06/2026
  • Inovasi Kuliner Sehat Mahasiswa UAD Sabet Penghargaan di Kompetisi Nasional11/06/2026

FEATURE

  • Menghindari Penyesalan Abadi11/06/2026
  • Menggali Makna Kesetiaan dan Pengorbanan01/06/2026
  • Sabil Isan Permana: Kalah Harus Bangkit Lagi30/05/2026
  • Peran Alumni UAD sebagai Problem Solver Publik29/05/2026
  • Fikih Kurban Menurut Muhammadiyah: Dari Nilai Tauhid hingga Aturan Praktis28/05/2026

TENTANG | KRU | KONTAK | REKAPITULASI

Scroll to top