Membangun Masa Depan dari Setiap Pengalaman

Rifan Dwitya Suratman wisudawan berprestasi Universitas Ahmad Dahlan (UAD) pada wisuda periode IV tahun 2026 (Foto. Rifan)
Bagi sebagian orang, masa kuliah adalah tempat menimba ilmu. Namun, bagi Rifan Dwitya Suratman, masa kuliah juga menjadi ruang untuk membangun pengalaman, menempa karakter, dan menciptakan kisah yang kelak layak dikenang.
Lulusan Program Studi Psikologi Universitas Ahmad Dahlan (UAD) dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,76 ini berhasil dinobatkan sebagai Wisudawan Berprestasi UAD pada Wisuda Periode IV Tahun 2026. Penghargaan tersebut menjadi penutup manis dari perjalanan panjang yang dipenuhi tantangan, kerja keras, dan berbagai pengalaman berharga.
Selama menjadi mahasiswa, Rifan aktif mengikuti berbagai program pengembangan mahasiswa yang berfokus pada riset dan pengabdian kepada masyarakat. Berkat konsistensinya, ia berhasil lolos pendanaan Program Kreativitas Mahasiswa bidang Riset Sosial Humaniora (PKM-RSH), lolos pendanaan Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa), serta mengantarkan timnya meraih Juara II Abdidaya PPK Ormawa, salah satu ajang penghargaan nasional bagi program pengabdian mahasiswa.
Meski prestasi tersebut menjadi pencapaian yang membanggakan, bagi Rifan penghargaan bukanlah tujuan utama. Ia justru memiliki motivasi yang sederhana, tetapi bermakna. “Motivasi terbesar saya adalah menciptakan kenangan yang nantinya bisa saya ceritakan dan membentuk diri saya menjadi pribadi yang lebih baik di masa depan,” tuturnya.
Prinsip tersebut membuatnya tidak sekadar mengejar hasil, tetapi juga menikmati setiap proses yang dijalani. Setiap organisasi, penelitian, maupun kegiatan pengabdian menjadi pengalaman yang memperkaya cara pandangnya terhadap kehidupan.
Di balik berbagai pencapaian itu, Rifan mengakui bahwa tantangan terbesar selama kuliah adalah mengelola waktu. Padatnya aktivitas akademik, organisasi, hingga berbagai program kemahasiswaan menuntutnya untuk mampu menentukan prioritas dengan bijak.
“Terkadang ada beberapa hal yang kurang mendapat perhatian, baik di bidang akademik maupun nonakademik. Karena itu, saya belajar mengatur prioritas agar setiap kegiatan tetap bisa berjalan dengan baik,” jelasnya.
Untuk menjaga konsistensi, Rifan memiliki kebiasaan yang selalu ia terapkan sebelum mengambil sebuah keputusan. Ia akan menentukan skala prioritas sekaligus menganalisis dampak dari setiap kegiatan yang akan dijalani.
“Saya selalu melihat seperti apa hasil akhirnya. Ketika sudah memiliki gambaran tujuan, meskipun masih sederhana, itu menjadi motivasi untuk menyelesaikan prosesnya,” tandasnya.
Baginya, langkah tersebut membuat setiap usaha terasa lebih terarah dan tidak dilakukan secara sia-sia.
Dalam perjalanan meraih prestasi, Rifan menyadari bahwa keberhasilannya tidak mungkin diraih seorang diri. Ia menyampaikan rasa syukur kepada Tuhan, kedua orang tuanya, Agus Suratman dan Yeri Mulyanah, serta teman-teman seperjuangan yang selalu memberikan dukungan selama proses perkuliahan. “Keberhasilan ini adalah hasil dari doa, dukungan, dan perjuangan banyak orang,” tambahnya.
Selepas menyelesaikan pendidikan sarjana, Rifan berharap dapat memperoleh pekerjaan yang sesuai dengan bidang dan harapannya. Baginya, dunia kerja akan menjadi ruang baru untuk terus belajar sekaligus memberikan kontribusi yang lebih luas.
Menurut Rifan, kesuksesan tidak semata-mata diukur dari jabatan atau penghargaan yang dimiliki seseorang. “Kesuksesan yang sesungguhnya adalah ketika kita mampu memberikan dampak positif bagi orang lain,” tandasnya.
Ia berharap seluruh sivitas akademika terus tumbuh menjadi pribadi-pribadi unggul di bidangnya masing-masing dan mampu menunjukkan kualitas lulusan UAD melalui karya serta kontribusi nyata.
Rifan menyadari bahwa pelajaran paling berharga yang diperoleh selama kuliah bukan hanya berasal dari ruang kelas. Ia belajar bahwa kehidupan kampus merupakan fase penting dalam membentuk jati diri seseorang. Karena itu, ia mengajak mahasiswa untuk memanfaatkan masa kuliah sebaik mungkin, tidak hanya dengan belajar secara serius, tetapi juga menikmati setiap proses bersama teman-teman yang memberikan energi positif.
“Masa kuliah sangat berpengaruh terhadap pembentukan jati diri. Jadi, jangan hanya sibuk belajar. Nikmati juga setiap proses, bangun pertemanan yang baik, dan ciptakan kenangan yang kelak akan menjadi bagian berharga dalam hidup.”
Bagi Rifan, prestasi memang menjadi pencapaian yang membanggakan. Namun, lebih dari itu, masa kuliah adalah tentang bagaimana seseorang bertumbuh, membangun karakter, dan meninggalkan jejak yang bermanfaat bagi orang lain. Karena pada akhirnya, kenangan terbaik bukan hanya tentang apa yang berhasil diraih, tetapi juga tentang siapa diri kita setelah melalui seluruh proses tersebut. (Mawar)
