UAD Tuan Rumah Good Talk Off Air Yogyakarta, Kupas Arah Sistem Pendidikan Indonesia

Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Tuan Rumah Good Talk Off Air Yogyakarta GNFI (Foto. Humas UAD)
Universitas Ahmad Dahlan (UAD) dipercaya menjadi tuan rumah penyelenggaraan agenda bincang dan jejaring Good Talk Off Air yang diinisiasi oleh Good News From Indonesia (GNFI) pada Kamis, 24 September 2026. Kegiatan tersebut dilaksanakan di Ruang Audio Visual Gedung Museum Muhammadiyah Lantai 4 Kampus IV UAD, forum diskusi yang biasanya rutin digelar di Jakarta ini hadir di Yogyakarta dengan mengangkat tema “Mau Dibawa ke Mana Sistem Pendidikan Kita?”.
Kegiatan diawali dengan opening performance menarik dari Kak Egi Prayoga, seorang pendidik sekaligus storyteller yang membagikan dinamika pengalaman dan potret nyata dunia pendidikan dari kacamata guru honorer. Rangkaian acara kemudian resmi dibuka dengan sambutan Produser Eksekutif GNFI, Febriansyah Tri P., yang dilanjutkan dengan sambutan pihak tuan rumah oleh Wakil Rektor Bidang Akademik UAD, Prof. Ir. Sunardi, S.T., M.T., Ph.D.
Mewakili Rektor UAD, Wakil Rektor Bidang Akademik UAD, Prof. Ir. Sunardi, S.T., M.T., Ph.D., menyampaikan rasa syukur sekaligus kebanggaannya atas dipilihnya UAD sebagai episentrum diskusi arah pendidikan ini. Dalam sambutannya, ia menitikberatkan tiga hal fundamental bahwa pendidikan merupakan hak konstitusional setiap warga negara, jalan utama mengubah nasib, serta pilar mencerdaskan kehidupan berbangsa.
Hadir sebagai salah satu narasumber utama, Dewan Pembina Sanggar Anak Alam (SALAM) Yogyakarta, Sri Wahyaningsih, B.Sc., menyoroti pentingnya emansipasi dan kemerdekaan belajar yang sesungguhnya. Ia mengkritisi kurikulum formal yang dinilai kian kaku akibat birokrasi dan cenderung menyeragamkan potensi anak.
“Setiap anak lahir sebagai individu yang unik dan berhak menemukan potensinya sendiri. Mengapa semuanya harus diseragamkan lewat kurikulum dan mata pelajaran yang sama?” tutur Sri Wahyaningsih.
Melalui model PKBM di SALAM, ia menerapkan pendekatan daur belajar berbasis riset kontekstual dan sistem trisentra—yang menyatukan peran orang tua, sekolah, dan masyarakat. Baginya, pendidikan bukanlah sekadar menghafal buku teks atau mengejar angka, melainkan proses memanusiakan manusia. Hal ini terbukti dari anak-anak didiknya yang sejak dini aktif menulis riset, menerbitkan novel mandiri, hingga menarik perhatian puluhan periset dunia.
Kajian ini kian lengkap dengan pandangan Sekretaris Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Dr. Muhammad Sayuti, M.Pd., M.Ed., yang menekankan pentingnya menumbuhkan budaya mutu serta kemampuan learning to learn di era modern. Melalui forum bincang santai ini, para peserta diajak merefleksikan kembali hakikat dasar pendidikan agar tak terjebak dalam formalitas semata. (Ito)
