• TERKINI
  • UAD BERDAMPAK
  • PRESTASI
  • FEATURE
  • OPINI
  • MEDIA
  • KIRIM BERITA
  • Menu
News Portal of Universitas Ahmad Dahlan

Posts

Hafiz: Berkali-Kali Gagal, Berkali-Kali Bangkit

10/08/2026/in Feature /by Ard

Hafiz Ahmad Rumalutur wisudawan terbaik Fakultas Hukum sekaligus wisudawan berprestasi Universitas Ahmad Dahlan (UAD) (Foto. Hafiz).jpg

Bagi sebagian orang, kegagalan mungkin menjadi akhir dari sebuah mimpi. Namun, bagi Hafiz Ahmad Rumalutur, kegagalan justru menjadi alasan untuk melangkah lebih jauh.

Lulusan Program Studi Hukum Universitas Ahmad Dahlan (UAD) dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,99 ini dinobatkan sebagai Wisudawan Terbaik Fakultas Hukum sekaligus Wisudawan Berprestasi UAD pada Wisuda Periode IV Tahun 2026. Di balik pencapaian tersebut, tersimpan perjalanan panjang tentang keteguhan hati, kerja keras, dan keyakinan bahwa setiap kegagalan selalu membawa pelajaran baru.

Perasaan bahagia, bangga, dan syukur menjadi hal pertama yang dirasakan Hafiz saat namanya diumumkan sebagai wisudawan berprestasi. “Saya merasa sangat bahagia, bangga, dan bersyukur. Semua proses yang sudah saya lalui akhirnya membuahkan hasil,” ungkapnya.

Selama menempuh pendidikan di Fakultas Hukum UAD, Hafiz dikenal aktif mengikuti berbagai kompetisi hukum tingkat nasional. Deretan prestasi yang berhasil diraihnya menjadi bukti konsistensi dalam mengembangkan kemampuan akademik sekaligus praktik hukum.

Di antaranya adalah Juara II dan Berkas Terbaik Kompetisi Mediasi Nasional Piala Mahkamah Agung Republik Indonesia VI Tahun 2025, Juara III Kompetisi Surat Gugatan Legal Manuscript Contest 2025, Juara I Berkas Penasihat Hukum Terbaik sekaligus Penasihat Hukum Terbaik National Moot Court Competition Anti Human Trafficking Piala Prof. Hilman Hadikusuma 2025, Juara I Kompetisi Mediasi ALSA Lex Weeks Universitas Padjadjaran 2024, Best Mediator ALSA Lex Weeks 2024, Juara I Kompetisi Nasional Moot Court Peradilan Militer Piala Bergilir Ketua Mahkamah Agung RI dan Piala Tetap Kepala Staf Angkatan Darat Tahun 2023, serta Juara II Tarumanagara Law Fair V Kompetisi Mediasi Tingkat Nasional beserta penghargaan Berkas Terbaik. Selain itu, ia juga dipercaya mengemban amanah sebagai Wakil Ketua Komunitas Peradilan Semu “De Verlichter” Fakultas Hukum UAD periode 2024-2025.

Namun, perjalanan menuju berbagai prestasi tersebut tidak selalu berjalan mulus. Ada satu fase dalam hidup yang menjadi titik balik bagi Hafiz. Ia pernah mengikuti seleksi TNI sebanyak empat kali, tetapi seluruhnya berakhir dengan kegagalan.

Alih-alih menyerah, pengalaman tersebut justru mengajarkannya untuk melihat setiap kegagalan dari sudut pandang yang berbeda. “Saya selalu berusaha berpikir positif, baik kepada diri sendiri maupun kepada jalan yang sudah Tuhan berikan. Saya percaya setiap proses memiliki hikmah dan waktu terbaiknya,” ujarnya.

Prinsip itu menjadi pegangan yang membantunya tetap berdiri ketika harapan belum berpihak. Baginya, kegagalan bukanlah tanda untuk berhenti, melainkan proses yang menempa seseorang agar menjadi lebih kuat.

Di balik keteguhannya, Hafiz tidak pernah melupakan sosok-sosok yang selalu mendukung setiap langkahnya. Ia menyebut kedua orang tuanya, Amiruddin Rumalutur dan Sitti Syamsia Rumatumia, sebagai sumber kekuatan terbesar dalam hidupnya. Tak lupa, ia mengenang almarhum sang kakek yang memiliki peran penting dalam membentuk karakter dirinya.

Hafiz bercerita bahwa ia merupakan anak kembar yang sejak berusia satu bulan diasuh oleh kakak dari ayahnya di Desa Kilbat, Kecamatan Tutuk Tolu, Kabupaten Seram Bagian Timur, Provinsi Maluku. Di sanalah ia tumbuh dengan nilai-nilai kehidupan yang mengajarkannya tentang kerja keras, kesederhanaan, dan arti sebuah perjuangan. “Di sanalah saya dididik dan dibentuk hingga akhirnya bisa menjadi wisudawan terbaik Fakultas Hukum sekaligus wisudawan berprestasi,” jelasnya.

Bagi Hafiz, prestasi bukan hanya soal piala, piagam, atau kemenangan. Prestasi adalah kemampuan untuk tetap berdiri tegak setelah berkali-kali jatuh, tetap bersyukur di tengah keterbatasan, dan terus berpikir positif ketika kenyataan tidak sesuai harapan. “Menurut saya, itu adalah cara Tuhan menyeleksi hamba-Nya, dari yang baik menjadi yang terbaik,” tambahnya.

Kini, setelah menyelesaikan studi sarjananya, Hafiz telah menatap langkah berikutnya. Ia bercita-cita melanjutkan pendidikan Magister Hukum di Universitas Indonesia sebagai bagian dari perjalanan panjang untuk terus mengembangkan diri.

Hafiz menyampaikan harapan agar UAD terus menjadi kampus yang memberi manfaat bagi seluruh mahasiswa serta menjadi wadah terbaik untuk melahirkan generasi yang unggul.

Ia juga menitipkan pesan sederhana bagi mahasiswa yang tengah berjuang meraih mimpi. “Stay humble, stay positive. Satu kali jatuh, seribu kali bangkit. Yakinlah Tuhan selalu bersama orang-orang yang mau berjuang,” pesannya.

Bagi Hafiz, hidup tidak diukur dari seberapa sering seseorang menang, melainkan dari seberapa besar manfaat yang mampu diberikan kepada orang lain. Filosofi Jawa urip iku urup menjadi prinsip yang terus ia pegang: hidup harus menyala agar dapat menerangi dan memberi manfaat bagi sesama.

Barangkali, itulah makna sesungguhnya dari sebuah prestasi. Bukan sekadar berdiri di podium kemenangan, melainkan tetap menyalakan harapan, bahkan setelah berkali-kali diterpa kegagalan. (Mawar)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Hafiz-Ahmad-Rumalutur-wisudawan-terbaik-Fakultas-Hukum-sekaligus-wisudawan-berprestasi-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-Foto.-Hafiz.jpg.jpeg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2026-08-10 15:13:402026-08-10 15:13:40Hafiz: Berkali-Kali Gagal, Berkali-Kali Bangkit

Rahasia di Balik Rentetan Prestasi Dhita Pratama Putra, Wisudawan Berprestasi UAD

10/08/2026/in Feature /by Ard

Dhita Pratama Putra wisudawan berprestasi bidang akademik dan nonakademik periode IV tahun 2026 Universitas Ahmad Dahlan (UAD) (Foto. Dhita).jpg

Di balik toga yang dikenakan pada hari wisuda, selalu ada cerita yang tidak tertulis dalam selembar transkrip nilai. Ada langkah-langkah panjang yang ditempuh dalam diam, ada air mata yang tidak sempat disaksikan siapa pun, dan ada mimpi yang terus dijaga agar tidak padam meski berkali-kali diterpa keadaan.

Bagi Dhita Pratama Putra, S.Si., lulusan Program Studi Fisika Fakultas Sains dan Teknologi Terapan Universitas Ahmad Dahlan (UAD), momen dinobatkan sebagai Wisudawan Berprestasi Bidang Akademik dan Nonakademik UAD Periode IV Tahun 2026 bukan sekadar penghargaan atas pencapaian. Gelar itu menjadi penanda bahwa setiap perjuangan, sekecil apa pun, selalu menemukan jalannya untuk dihargai.

Dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,78, Dhita tidak hanya berhasil menyelesaikan studinya dengan baik, tetapi juga menorehkan sekitar 130 prestasi di tingkat provinsi, nasional, hingga internasional. Namun, bagi dirinya, angka bukanlah inti dari perjalanan tersebut.

“Alhamdulillah, saya bangga sekali. Apalagi bisa mendapatkan penghargaan di bidang akademik sekaligus nonakademik. Semua itu bukan sesuatu yang datang begitu saja. Ada banyak usaha, waktu, dan pengorbanan yang harus dijalani,” tuturnya.

Di balik sederet penghargaan itu, tersimpan hari-hari yang dipenuhi kesibukan. Sejak semester dua, Dhita telah bekerja sambil menjalani perkuliahan. Ia juga aktif dalam organisasi, bahkan dipercaya memimpin Himpunan Mahasiswa Fisika dan tergabung dalam Study Club Instrumentasi. Selama menjadi mahasiswa, ia terlibat dalam belasan organisasi dan berbagai kepanitiaan, sembari tetap konsisten mengikuti kompetisi.

Menjaga keseimbangan antara kuliah, pekerjaan, organisasi, penelitian, hingga perlombaan menjadi tantangan yang terus menguji keteguhannya. Namun, ia percaya bahwa mimpi tidak pernah tumbuh dari zona yang nyaman.

Salah satu pencapaian yang paling membekas dalam ingatannya adalah saat meraih Juara II Nasional Pemilihan Mahasiswa Berprestasi (Pilmapres) Tingkat PTMA se-Indonesia. Kompetisi tersebut menurutnya menjadi pengalaman paling menantang karena tidak hanya menilai prestasi akademik, tetapi juga karya unggulan, capaian nonakademik, hingga kemampuan diri secara menyeluruh.

Tak hanya itu, Dhita juga berhasil menjadi Finalis Pilmapres Nasional yang diselenggarakan Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas) pada tahun 2023. Pencapaian tersebut memiliki makna tersendiri karena mengakhiri penantian panjang UAD yang selama tujuh hingga delapan tahun belum berhasil meloloskan wakilnya ke tingkat nasional.

Prestasi internasional pun turut menghiasi perjalanannya melalui ajang Indonesia Inventors Day (IID) 2022 dan World Young Inventors Exhibition (WYIE) 2022 yang mempertemukan inovator dari berbagai negara. Menariknya, penelitian yang ia bawa dalam kompetisi tersebut kemudian berkembang menjadi topik tugas akhirnya.

Meski demikian, motivasi awal Dhita mengikuti kompetisi ternyata sangat sederhana. Ia mengaku, pada mulanya perlombaan menjadi salah satu cara untuk memperoleh penghasilan tambahan untuk membantu meringankan beban keluarga sekaligus membiayai berbagai kebutuhan. Namun seiring waktu, kompetisi berubah menjadi ruang belajar yang mempertemukannya dengan banyak pengalaman, jejaring, dan kesempatan berkembang. “Bukan hanya tentang menang. Dari setiap lomba saya belajar memperbaiki diri. Ada yang gagal, ada yang berhasil, tetapi semuanya membuat saya bertumbuh,” ujarnya.

Lebih jauh, ia ingin membuktikan bahwa latar belakang bukanlah batas bagi seseorang untuk bermimpi. Sebagai sarjana pertama di keluarga, anak pertama, sekaligus cucu pertama, Dhita merasa memiliki tanggung jawab moral untuk membuka jalan bagi adik-adik dan keluarganya. Ia juga ingin menjadi bukti bahwa anak desa mampu bersaing di tingkat nasional maupun internasional.

Namun perjalanan itu tidak selalu berjalan mulus. Di tengah padatnya aktivitas, Dhita pernah berjuang melawan gangguan kesehatan mental yang harus ia hadapi selama beberapa tahun. Ia baru menyelesaikan masa pengobatan pada awal tahun 2026. Masa-masa tersebut menjadi ujian yang jauh lebih berat dibandingkan perlombaan mana pun yang pernah diikutinya.

Alih-alih menyerah, pengalaman itu justru membentuk cara pandangnya terhadap kehidupan. “Saya ingin menunjukkan bahwa seseorang yang lahir dari keluarga broken home juga bisa berprestasi. Anak desa bisa berprestasi. Orang yang pernah mengalami gangguan kesehatan mental juga tetap bisa berkarya dan membanggakan orang-orang di sekitarnya,” ungkapnya.

Bagi Dhita, keberhasilan tidak pernah hadir karena keberuntungan semata. Sejak menjadi mahasiswa baru, ia telah menyusun peta perjalanan yang ingin ditempuh setiap semester. Bahkan, target mengikuti Pilmapres telah ia tuliskan sejak semester pertama setelah melihat informasi kompetisi tersebut.

Ia juga menetapkan target setidaknya mengikuti satu kompetisi setiap bulan. Ketika gagal, ia memilih menjadikan kegagalan sebagai bahan evaluasi, bukan alasan untuk berhenti. Selain itu, ia aktif berdiskusi dengan dosen dan memanfaatkan berbagai fasilitas yang disediakan kampus sebagai bagian dari proses belajarnya.

Menurutnya, prestasi bukan hanya tentang medali atau gelar. “Prestasi adalah bukti dari usaha yang dilakukan secara konsisten. Dulu saya mengira prestasi hanya soal nilai atau penghargaan. Sekarang saya sadar, prestasi juga berarti mampu bertahan, terus belajar, tidak menyerah pada keadaan, dan menjadikan ilmu sebagai jalan untuk memberi manfaat bagi orang lain.”

Pemahaman itu pula yang menjadi bekal setelah menyelesaikan studi sarjananya. Dhita berencana melanjutkan karier profesional sembari menempuh pendidikan Magister Ilmu Komunikasi di Universitas Bakrie melalui jalur beasiswa. Pilihan bidang tersebut lahir dari pengalaman selama kuliah yang membawanya berkecimpung di dunia marketing dan communications.

Baginya, perjalanan akademik tidak selalu harus berjalan lurus sesuai jurusan yang ditempuh. Justru pengalaman selama menjadi mahasiswa membantunya menemukan ruang pengabdian yang paling sesuai dengan dirinya.

Dhita menyampaikan satu pelajaran yang akan selalu ia pegang. “Hidup tidak selalu berjalan sesuai rencana. Keberhasilan bukan ditentukan oleh seberapa cepat kita sampai, tetapi seberapa kuat kita tetap melangkah ketika keadaan tidak berjalan sesuai harapan. Setiap orang memiliki garis waktunya masing-masing.”

Kalimat itu mungkin menjadi ringkasan paling sederhana dari seluruh perjalanan Dhita. Sebab pada akhirnya, prestasi bukan hanya tentang berdiri di atas podium. Prestasi adalah keberanian untuk terus melangkah, bahkan ketika hidup berkali-kali menguji keteguhan hati. (Mawar)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Dhita-Pratama-Putra-wisudawan-berprestasi-bidang-akademik-dan-nonakademik-periode-IV-tahun-2026-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-Foto.-Dhita.jpg.jpeg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2026-08-10 15:06:132026-08-10 15:06:13Rahasia di Balik Rentetan Prestasi Dhita Pratama Putra, Wisudawan Berprestasi UAD

Meneladani Sejarah dan Merawat Optimisme di Tengah Ketidakpastian Bangsa

10/08/2026/in Feature /by Ard

Kajian rutin Ahad Pagi Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD) dengan pembicara Hendra Darmawan, S.Pd., M.A. (Foto. Itoshiko).jpg

Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD) kembali menggelar Kajian Rutin Ahad Pagi pada Ahad, 9 Agustus 2026. Menyambut suasana bulan kemerdekaan, kajian kali ini menghadirkan perwakilan Majelis Tabligh Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) DIY, Hendra Darmawan, S.Pd., M.A., yang mengusung tema reflektif bertajuk “Kemerdekaan dan Optimisme dalam Ketidakpastian”. Di hadapan para jemaah, ia mengurai benang merah antara sejarah perjuangan bangsa, realitas karut-marut tata kelola negara hari ini, dan bagaimana umat Islam harus merawat optimisme.

Membuka kajiannya, Hendra Darmawan mengajak jemaah untuk kembali menengok sejarah perumusan dasar negara di masa-masa awal pembentukan Republik Indonesia. Ia menyoroti pengorbanan besar para pendiri bangsa, salah satunya tokoh Muhammadiyah, Ki Bagus Hadikusumo.

Dalam dinamika sidang BPUPKI, Ki Bagus dengan lapang dada bersedia menurunkan egonya dan berkorban dengan mencoret “tujuh kata” dalam Piagam Jakarta demi menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), khususnya untuk merangkul wilayah Indonesia Timur.

Menurut Hendra, fondasi bernegara ini telah diletakkan dengan sangat apik dan penuh keteladanan oleh para pendahulu bangsa yang memosisikan Pancasila sebagai Darul Ahdi wa Syahadah (negara kesepakatan dan pembuktian).

Namun, Hendra menyayangkan realitas kebangsaan hari ini yang sering kali paradoks dengan nilai-nilai luhur yang diwariskan tersebut. Ia mengutip pandangan ilmuwan yang menyebut Indonesia sebagai unfinished nation atau negara yang belum selesai, lantaran maraknya perilaku penyelenggara negara yang menyimpang.

Fenomena aparat penegak hukum yang justru melanggar hukum, pengelolaan negara yang amburadul, hingga fakta ketimpangan ekonomi di mana kekayaan 50 oligarki setara dengan harta 50 juta rakyat Indonesia, menjadi sorotan tajam. Kondisi ini membuat negara seakan bergeser dari negara hukum menjadi negara kekuasaan, di mana hawa nafsu dan keserakahan elite tak terbendung layaknya ketiadaan rasa takut kepada Tuhan dan kematian.

Menghadapi ironi kemerdekaan tersebut, pemateri menekankan pentingnya memaknai kembali konsep Jihad Akbar seperti yang diajarkan Rasulullah saw. usai Perang Badar, yakni jihad melawan hawa nafsu diri sendiri. Keserakahan manusia yang tidak terkendali dinilai jauh lebih merusak tatanan kehidupan dibandingkan kebuasan makhluk lainnya.

Meski dihadapkan pada ketidakpastian dan kemungkaran sosial, Hendra mengingatkan umat Islam untuk pantang berputus asa. Mengutip pesan Al-Qur’an surah Az-Zumar, ia mengajak jemaah untuk merawat optimisme melalui jalan an-naubah, yakni sebuah proses kembali dan berserah diri secara totalitas kepada Allah Swt. untuk memperbaiki keadaan tanpa mengulangi kesalahan-kesalahan di masa lalu. (Ito)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Kajian-rutin-Ahad-Pagi-Masjid-Islamic-Center-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-dengan-pembicara-Hendra-Darmawan-S.Pd_.-M.A.-Foto.-Itoshiko.jpg.jpeg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2026-08-10 14:57:042026-08-10 14:57:04Meneladani Sejarah dan Merawat Optimisme di Tengah Ketidakpastian Bangsa

Wisudawan Terbaik FSBK Menemukan Makna Inklusivitas di UAD

09/08/2026/in Feature /by Ard

Arivansi Ringu Kodi, wisudawan terbaik FSBK Universitas Ahmad Dahlan (UAD) pada wisuda periode IV Tahun 2026 (Foto. Arivansi).jpg

Tidak semua perjalanan dimulai dengan keyakinan. Ada yang justru berawal dari keraguan, dipenuhi pertanyaan, lalu perlahan menjelma menjadi cerita yang mengubah cara seseorang memandang kehidupan.

Begitulah perjalanan Arivansi Ringu Kodi, lulusan Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Sastra, Budaya, dan Komunikasi (FSBK) Universitas Ahmad Dahlan (UAD), yang berhasil dinobatkan sebagai Wisudawan Terbaik FSBK pada Wisuda Periode IV Tahun 2026.

Di balik capaian akademik yang membanggakan, tersimpan kisah tentang keberanian melangkah ke lingkungan yang sama sekali baru. Berasal dari daerah dengan mayoritas penduduk beragama Kristen, Arivan sempat menyimpan kekhawatiran ketika memutuskan melanjutkan studi di UAD, sebuah perguruan tinggi Muhammadiyah.

Namun, keraguan itu perlahan sirna seiring berjalannya waktu. “Sebagai mahasiswa Kristen yang berkuliah di Universitas Ahmad Dahlan, saya datang dengan banyak pertanyaan dan kekhawatiran. Namun, selama menjalani perkuliahan saya justru menemukan begitu banyak kesempatan untuk berkembang,” ujarnya.

Baginya, penghargaan sebagai wisudawan terbaik bukan sekadar pengakuan atas nilai akademik yang diraih selama kuliah. Lebih dari itu, penghargaan tersebut menjadi simbol perjalanan panjang untuk bertahan, bertumbuh, dan membuktikan bahwa perbedaan tidak pernah menjadi penghalang untuk meraih prestasi.

Selama menempuh pendidikan di UAD, Arivan aktif mengikuti berbagai kompetisi akademik dan nonakademik. Prestasi demi prestasi berhasil ia persembahkan, di antaranya Juara I Pemilihan Mahasiswa Berprestasi (Pilmapres) Fakultas Sastra, Budaya, dan Komunikasi, Finalis Pilmapres Universitas Ahmad Dahlan, Juara I U-DARE 3.0 International Competition, Juara I International Presenter Ahmad Dahlan International Seminar, Juara II Ahmad Dahlan Youth Competition, Juara II National Public Relations Campaign Competition Monalisa, hingga menjadi delegasi UAD pada National University Debating Championship.

Di antara seluruh pencapaian tersebut, kompetisi U-DARE 3.0 International Competition yang diselenggarakan Universitas Syiah Kuala menjadi pengalaman yang paling membekas. Ajang internasional yang diikuti peserta dari lebih dari delapan negara itu tidak hanya memberinya gelar juara, tetapi juga kesempatan menginjakkan kaki di Titik Nol Kilometer Indonesia, Pulau Sabang.

“Bagi saya, momen itu menjadi simbol bahwa mimpi dapat membawa seseorang ke tempat-tempat yang sebelumnya tidak pernah saya bayangkan,” kenangnya.

Meski demikian, Arivan meyakini bahwa pencapaian tersebut tidak lahir semata karena kemampuan pribadi. Ada lingkungan yang memberinya ruang untuk tumbuh tanpa memandang latar belakang agama.

Selama menjadi mahasiswa, ia merasakan bahwa UAD benar-benar menghadirkan makna dari slogan “Semua Bisa Kuliah di UAD.” Kesempatan untuk mengikuti kompetisi, aktif berorganisasi, hingga mewakili fakultas dan universitas diberikan tanpa membedakan identitas keagamaan.

“Saya memperoleh hak, kesempatan, dan ruang pengembangan diri yang sama seperti mahasiswa lainnya. Teman-teman, dosen, dan lingkungan kampus sangat terbuka, suportif, serta menghargai perbedaan,” tuturnya.

Pengalaman tersebut menjadi bukti bahwa keberagaman bukan sekadar konsep yang diperbincangkan, melainkan nilai yang dihidupkan dalam keseharian kampus. Di tengah keberagaman, Arivan justru menemukan ruang yang membuatnya semakin percaya diri untuk berkembang.

Baginya, UAD tidak hanya mengajarkan teori di ruang kelas, tetapi juga membentuk karakter melalui keseimbangan antara kecerdasan intelektual dan integritas moral.

“Seseorang tidak cukup hanya cerdas secara akademik, tetapi juga harus memiliki moral yang baik dalam kehidupan sehari-hari. Nilai itu yang banyak membentuk cara saya berpikir, mengambil keputusan, dan berinteraksi dengan orang lain,” katanya.

Di balik konsistensinya meraih prestasi, Arivan memegang teguh prinsip sederhana, yakni menyelesaikan setiap hal yang telah dimulai dan tidak menyia-nyiakan setiap kesempatan yang datang. Ia percaya bahwa setiap peluang adalah ruang untuk belajar, bertumbuh, dan mengenal potensi diri lebih jauh.

Dalam menjalani berbagai aktivitas akademik, organisasi, penelitian, hingga kompetisi, ia membiasakan diri menentukan prioritas berdasarkan tingkat urgensi dan dampaknya. Baginya, keberhasilan bukan tentang melakukan semuanya sekaligus, melainkan tentang menjalankan setiap tanggung jawab dengan sepenuh hati.

Perjalanan Arivan menjadi bukti bahwa prestasi lahir dari keberanian mengambil kesempatan, sementara kesempatan akan bermakna ketika didukung oleh lingkungan yang memberikan ruang yang setara bagi setiap orang.

Arivan berpesan  kepada calon mahasiswa, khususnya mereka yang berasal dari latar belakang non-Muslim dan masih ragu memilih UAD, “Jangan pernah takut untuk memulai dan mengambil setiap kesempatan yang ada. Saya telah membuktikan sendiri bahwa menjadi bagian dari kelompok minoritas tidak menghalangi seseorang untuk berkembang dan berprestasi. UAD memberikan ruang yang sama bagi setiap mahasiswa untuk tumbuh tanpa memandang latar belakang agama.“

Kisah Arivansi Ringu Kodi menjadi cerminan bahwa sebuah kampus tidak hanya diukur dari kualitas akademiknya, tetapi juga dari kemampuannya menghadirkan ruang belajar yang inklusif, saling menghormati, dan memberi kesempatan yang sama kepada setiap insan untuk berkembang.

Di UAD, keberagaman tidak menjadi sekat. Justru dari perbedaan itulah tumbuh kepercayaan, kolaborasi, dan prestasi. Sebab ketika setiap mahasiswa diberi ruang yang sama untuk bermimpi, siapa pun dapat melangkah lebih jauh, bertumbuh lebih tinggi, dan membuktikan bahwa semua memang bisa kuliah di UAD. (Mawar)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Arivansi-Ringu-Kodi-wisudawan-terbaik-FSBK-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-pada-wisuda-periode-IV-Tahun-2026-Foto.-Arivansi.jpg.jpeg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2026-08-09 09:00:352026-08-10 15:23:56Wisudawan Terbaik FSBK Menemukan Makna Inklusivitas di UAD

Dari Rakyat, Oleh Rakyat, Untuk Rakyat

08/08/2026/in Terkini /by Ard

BEM Fakultas Hukum (FH) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) menggelar Seminar Nasional (Foto. BEM FH UAD).jpg

Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Hukum (FH) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) menggelar Seminar Nasional bertajuk “Dari Rakyat, Oleh Rakyat, Untuk Rakyat: Mengawal RUU Perampasan Aset demi Keadilan Hukum, Integritas Politik, dan Kesejahteraan Ekonomi”. Bertempat di Ruang Audio Visual Muhammadiyah UAD pada Selasa, 4 Agustus 2026, kegiatan ini menghadirkan praktisi pemerintahan serta akademisi, yakni Wakil Walikota Yogyakarta Wawan Hermawan, S.E., M.M. sebagai narasumber pertama dan Dekan FH UAD 2025-2026  Dr. Mufti Khakim, S.H., M.H. sebagai narasumber kedua untuk mengupas urgensi pengesahan Rancangan Undang-Undang (RUU) Perampasan Aset di Indonesia.

Acara dibuka secara resmi dengan sambutan dari Wakil Dekan Bidang Al-Islam Kemuhammadiyahan (AIK), Akademik, Kemahasiswaan, dan Alumni FH UAD, Nurul Satria Abdi, S.H., M.H. Dalam penyampaiannya, Nurul menegaskan bahwa seminar ini merupakan wujud pelaksanaan Catur Dharma Perguruan Tinggi yang berbasis pada nilai-nilai AIK.

“Motivasi utama kejahatan ekonomi adalah harta. Ketika pelaku menikmati hasil tindak pidana tersebut, penegakan hukum harus hadir untuk memutus akses penikmatan aset hasil kejahatan melalui TPPU hingga digagasnya RUU Perampasan Aset,” ujar Nurul.

Pengawalan terhadap RUU yang masih dalam proses pembahasan di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) ini diharapkan dapat menghasilkan rekomendasi atau masukan naskah akademik guna mempercepat pengesahan undang-undang, dengan catatan bahwa aset yang dirampas kelak adalah milik negara, bukan uang rakyat. Rangkaian pembukaan juga disemarakkan dengan penampilan monolog oleh mahasiswi Program Studi Hukum angkatan 2025, Fasyrasessa Almusa, yang membawakan pesan mendalam mengenai integritas, kekuasaan, dan keadilan bernegara.

Pada sesi pertama, Wakil Walikota Yogyakarta, Wawan Hermawan, S.E., M.M., memaparkan materi bertajuk “Implikasi RUU Perampasan Aset terhadap Perekonomian Nasional – Studi Kebijakan Anti Korupsi di Pemkot Yogyakarta”. Wawan menekankan bahwa RUU ini hadir sebagai instrumen penting untuk melengkapi Undang-Undang Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) dan UU TPPU.

Dalam pemaparannya, Wawan menyoroti bahwa pendekatan pemberantasan korupsi di Indonesia selama ini terlalu berorientasi pada pemidanaan badan atau penjara, padahal fokus utama seharusnya diarahkan pada pemulihan kerugian keuangan negara.

“Banyak aset hasil korupsi tidak pernah kembali ke negara karena disembunyikan lintas negara, diatasnamakan pihak lain, atau baru terungkap setelah proses pidana berakhir. Akibatnya, negara sering kali berhasil menghukum pelaku secara fisik, namun belum tentu berhasil mengembalikan kerugian keuangan negara secara optimal,” jelas Wawan.

Ia menjelaskan bahwa kendala ini semakin rumit ketika pelaku meninggal dunia, melarikan diri, atau ketika alat bukti pidana tidak cukup padahal asal-usul aset tidak dapat dipertanggungjawabkan secara sah.

Sesi kedua dilanjutkan oleh Dekan FH UAD periode 2025–2026 yang juga seorang Dosen Hukum Pidana FH UAD, Dr. Mufti Khakim, S.H., M.H., yang membawakan materi bertajuk “Urgensi RUU Perampasan Aset bagi Negara Darurat Korupsi”. Mufti memaparkan data lonjakan kasus korupsi yang dibarengi potensi kerugian negara bernilai fantastis, mulai dari puluhan triliun rupiah pada periode 2021 hingga 2023, bahkan melonjak drastis mencapai ratusan triliun rupiah pada tahun 2024.

“Tingkat pemulihan kerugian negara melalui pidana uang pengganti sejauh ini masih sangat minim dan berada di bawah delapan persen. Pengesahan RUU Perampasan Aset menjadi sangat mendesak demi mematahkan tulang punggung finansial sindikat kejahatan serta memulihkan aset negara,” ungkap Mufti.

Dari tinjauan hukum, Mufti menjelaskan bahwa RUU Perampasan Aset mengimplementasikan konsep unexplained wealth melalui pendekatan in rem dan model civil forfeiture atau gugatan keperdataan. Pendekatan ini berfokus langsung pada objek aset yang diduga berasal dari tindak pidana, bukan pada dimensi orang atau pelakunya. Mekanisme perampasan aset tanpa pemidanaan atau non-conviction based asset forfeiture ini memungkinkan negara melakukan penyitaan secara cepat atau immediate confiscation dan menerapkan prosedur pembalikan beban pembuktian atau reversal of burden of proof, di mana pemilik aset wajib membuktikan bahwa hartanya diperoleh secara sah. Dengan begitu, penyitaan dan perampasan aset tetap dapat dilakukan meskipun tersangka meninggal dunia, melarikan diri, terganggu jiwanya dalam proses pembuktian, atau tidak ditemukannya ahli waris.

Ia juga memaparkan beberapa pasal kunci dalam draf RUU tersebut, seperti Pasal 5 ayat (2) poin a mengenai perampasan aset yang tidak seimbang dengan penghasilan atau sumber penambahan kekayaan, serta Pasal 6 ayat (1) yang merinci bahwa aset yang dapat dirampas bernilai paling sedikit seratus juta rupiah atau terkait ancaman pidana penjara empat tahun atau lebih. Seluruh proses perampasan aset nantinya wajib berjalan melalui empat tahapan sistematis, mulai dari penelusuran aset, pemblokiran oleh penyidik melalui perintah tertulis ke lembaga keuangan dengan batas waktu maksimal 30 hari dan dapat diperpanjang satu kali atas izin pengadilan negeri, penyitaan, hingga diakhiri dengan permohonan serta putusan perampasan resmi di pengadilan. (Anove)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/BEM-Fakultas-Hukum-FH-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-menggelar-Seminar-Nasional-Foto.-BEM-FH-UAD.jpg.jpeg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2026-08-08 09:00:162026-08-10 11:05:14Dari Rakyat, Oleh Rakyat, Untuk Rakyat

Mahasiswa UAD Raih Juara I Lomba Baca Puisi Dahlan Culture Festival 2026

08/08/2026/in Prestasi /by Ard

Mahasiswa Universitas Ahmad Dahlan (UAD) raih juara I lomba baca puisi Dahlan Culture Festival 2026 (Foto. Afra).jpg

Bakat dan ketekunan kembali mengantarkan mahasiswa Universitas Ahmad Dahlan (UAD) meraih prestasi membanggakan. Afra Husnayain Al Gholiyah, mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi angkatan 2024, berhasil meraih Juara I Lomba Baca Puisi dalam ajang Dahlan Culture Festival 2026 yang diselenggarakan pada 18 Juli 2026. Kompetisi tersebut diikuti oleh kader aktif Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) se-Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Keberhasilan tersebut disambut Afra dengan rasa syukur dan kebahagiaan yang mendalam. Baginya, penghargaan tersebut menjadi buah dari proses panjang sekaligus motivasi untuk terus berkarya di dunia seni sastra.

Dalam kompetisi tersebut, Afra membawakan puisi berjudul Sebuah Jaket Berlumur Darah karya penyair Taufiq Ismail. Puisi tersebut mengangkat tema perjuangan dan perlawanan terhadap penindasan, sekaligus menyuarakan semangat untuk membela kebenaran serta melanjutkan perjuangan para pahlawan. “Puisi ini mengajak kita untuk tidak tunduk pada tirani dan terus menjaga semangat perjuangan. Pesan itu yang ingin saya sampaikan kepada penonton melalui pembacaan puisi,” jelasnya.

Meski waktu persiapan terbilang singkat, sekitar satu minggu, Afra mampu memaksimalkan proses latihan berbekal pengalaman membaca puisi yang telah ditekuninya sejak sekolah dasar. Selama masa persiapan, ia lebih banyak melakukan bedah naskah untuk memahami makna setiap bait, melatih intonasi, serta mengatur tempo pernapasan agar pesan puisi dapat tersampaikan secara utuh. “Saya meluangkan waktu setiap hari untuk memahami isi puisi, melatih intonasi, dan mengatur napas supaya penjiwaan saat tampil bisa maksimal,” tuturnya.

Menurut Afra, tantangan terbesar yang dihadapi bukan terletak pada teknik membaca, melainkan mengendalikan emosi. Ia mengaku selalu larut dalam makna puisi yang dibawakan hingga kerap meneteskan air mata saat tampil.

“Saya sudah terbiasa sangat menghayati puisi yang saya baca, bahkan sering menangis. Tantangannya adalah mengontrol emosi agar suara tidak terlalu bergetar dan artikulasi tetap jelas. Saya mengatasinya dengan mengatur jeda napas di beberapa bait transisi sehingga emosi tetap tersampaikan tanpa mengganggu teknik vokal,” ungkapnya.

Bagi Afra, kekuatan utama yang mengantarkannya meraih Juara I adalah totalitas dalam menghidupkan setiap bait puisi. Kejujuran rasa yang ia tampilkan membuat penampilannya terasa lebih hidup dan mampu menyentuh hati dewan juri maupun penonton. “Saya merasa kekuatan utamanya ada pada penghayatan. Ketika benar-benar melebur dengan kepedihan dan semangat perjuangan dalam puisi tersebut, air mata mengalir secara alami. Mungkin kejujuran rasa itulah yang membuat penampilan saya lebih hidup,” katanya.

Prestasi tersebut semakin mengukuhkan komitmen Afra untuk terus mengembangkan kemampuan di bidang seni sastra. Ia berpesan, “Untuk teman-teman mahasiswa UAD, jangan pernah ragu mengekspresikan diri melalui seni. Seni adalah tentang rasa, jadi sampaikanlah dengan hati. Teruslah berlatih, berani tampil, dan jadikan setiap panggung sebagai tempat belajar serta mencari pengalaman,” pesannya. (Mawar)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Mahasiswa-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-raih-juara-I-lomba-baca-puisi-Dahlan-Culture-Festival-2026-Foto.-Afra.jpg.jpeg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2026-08-08 08:00:092026-08-10 11:04:45Mahasiswa UAD Raih Juara I Lomba Baca Puisi Dahlan Culture Festival 2026

Di Balik Gelar Wisudawan Berprestasi, Ada Proses yang Tidak Mudah

07/08/2026/in Feature /by Ard

Adi Satria, wisudawan berprestasi bidang akademik periode IV tahun 20252026 dari Prodi Teknologi Pangan Universitas Ahmad Dahlan (UAD) (Foto. Adi).jpg

Bagi sebagian orang, wisuda menjadi penutup perjalanan di bangku kuliah. Namun bagi Adi Satria, momen itu justru menjadi ruang untuk menoleh sejenak ke belakang, mengingat setiap proses yang telah dilalui, setiap kegagalan yang pernah ditemui, hingga setiap kesempatan yang perlahan membentuk dirinya menjadi pribadi yang lebih baik. Di penghujung masa studinya sebagai mahasiswa Program Studi Teknologi Pangan, Fakultas Teknologi Industri, Universitas Ahmad Dahlan (UAD), ia dinobatkan sebagai salah satu Wisudawan Berprestasi Bidang Akademik Periode IV Tahun 2025/2026.

Penghargaan tersebut bukanlah sesuatu yang pernah ia bayangkan sebelumnya. Ketika namanya diumumkan, rasa syukur menjadi hal pertama yang memenuhi benaknya.

“Saya merasa sangat bersyukur dan tidak menyangka bisa memperoleh penghargaan ini. Bagi saya, pencapaian ini bukan hanya hasil kerja keras pribadi, tetapi juga buah dari doa, dukungan, dan kepercayaan banyak pihak, mulai dari orang tua, dosen, teman-teman, hingga lingkungan yang selalu mendorong saya untuk berkembang,” ungkap Adi.

Selama menempuh pendidikan di UAD, Adi dikenal aktif mengikuti berbagai kompetisi ilmiah. Berbagai prestasi berhasil ia torehkan, mulai dari Juara 1 Essay Ahmad Dahlan International Seminar #3, Juara 2 International Essay Competition CIUVEB, Juara 3 International Essay Competition AILEC Bidang Kesehatan, Juara 1 LETIN 4 Bidang Pangan, pendanaan Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Riset Eksakta Tahun 2024, hingga sejumlah penghargaan lain di bidang karya tulis ilmiah dan business plan.

Meski perjalanan itu terlihat penuh prestasi, Adi mengakui bahwa ada banyak tantangan yang harus dihadapi. Membagi waktu antara kuliah, kompetisi, organisasi, hingga berbagai aktivitas akademik lainnya menjadi ujian yang terus berulang. Tidak jarang ia merasa kewalahan ketika berbagai tanggung jawab datang bersamaan.

Namun, dari situ ia belajar bahwa keberhasilan tidak selalu lahir dari kemampuan yang paling besar, melainkan dari kemampuan untuk tetap bertahan dalam proses. Ia mulai menyusun prioritas, mengelola waktu dengan lebih baik, dan tidak ragu berdiskusi dengan dosen maupun teman ketika menemui kesulitan.

Motivasi terbesar yang membuatnya terus melangkah adalah keyakinan bahwa masa kuliah merupakan ruang terbaik untuk bertumbuh.

“Saya percaya bahwa masa perkuliahan bukan hanya tentang memperoleh gelar, tetapi juga tentang membangun kapasitas diri. Saya ingin membuktikan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti berusaha. Setiap prestasi yang saya raih menjadi pengingat bahwa kerja keras dan konsistensi akan selalu memberikan hasil,” tuturnya.

Di balik semua pencapaiannya, Adi menyebut orang tua sebagai sosok yang paling berpengaruh dalam perjalanan hidupnya. Dukungan, doa, dan pengorbanan mereka menjadi alasan untuk terus melangkah, bahkan ketika proses terasa berat. Ia juga mengapresiasi para dosen Program Studi Teknologi Pangan UAD yang telah memberikan bimbingan, kepercayaan, dan kesempatan untuk terus berkembang.

Selepas lulus, Adi berencana melanjutkan langkahnya di dunia industri pangan sebagai ruang untuk mengaplikasikan ilmu yang telah dipelajari selama di bangku kuliah. Ia juga bercita-cita melanjutkan pendidikan ke jenjang magister agar dapat terus berkontribusi dalam riset dan inovasi pangan yang bermanfaat bagi masyarakat.

Bagi Adi, prestasi bukanlah tentang seberapa banyak piala yang berhasil dikumpulkan atau penghargaan yang berhasil diraih. Prestasi adalah tentang bagaimana setiap proses mampu membentuk karakter dan memberi manfaat bagi orang lain.

“Pelajaran hidup paling berharga yang saya dapatkan selama kuliah adalah bahwa proses jauh lebih penting daripada hasil. Tidak semua usaha akan langsung menghasilkan keberhasilan, tetapi setiap pengalaman selalu memberikan pembelajaran. Saya belajar untuk tidak takut gagal, karena sering kali kegagalan justru menjadi jalan menuju kesempatan dan pencapaian yang lebih besar,” Ujarnya.

Perjalanan Adi mungkin telah sampai pada satu garis akhir sebagai mahasiswa. Namun, gelar Wisudawan Berprestasi bukanlah penutup cerita. Ia justru menjadi awal dari perjalanan baru, sebuah perjalanan yang akan terus menuntunnya untuk belajar, berkarya, dan menghadirkan manfaat. Sebab pada akhirnya, yang paling dikenang bukanlah seberapa tinggi seseorang berdiri di atas panggung prestasi, melainkan seberapa banyak kebaikan yang ia tinggalkan dalam setiap langkahnya. (Mawar)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Adi-Satria-wisudawan-berprestasi-bidang-akademik-periode-IV-tahun-20252026-dari-Prodi-Teknologi-Pangan-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-Foto.-Adi.jpg.jpeg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2026-08-07 09:00:062026-08-10 11:03:56Di Balik Gelar Wisudawan Berprestasi, Ada Proses yang Tidak Mudah

UAD Terjunkan 2.496 Mahasiswa KKN-PLP Periode 2026/2027

07/08/2026/in Terkini /by Ard

 

Universitas Ahmad Dahlan (UAD) terjunkan 2.496 mahasiswa KKN-PLP periode 2026-2027 (Foto. Humas UAD).jpg

Universitas Ahmad Dahlan (UAD) melaksanakan Upacara Pelepasan Mahasiswa Pengenalan Lapangan Persekolahan (PLP) dan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Periode 2026/2027 di Lapangan Kampus Utama UAD pada Jumat, 7 Agustus 2026. Pelaksanaan pelepasan gabungan ini menjadi kali kedua UAD menyatukan pelepasan program PLP dan KKN secara bersamaan dalam satu upacara resmi.

Sekretaris Tim Task Force KKN UAD, Jefree Fahana, S.T., M.Kom., menjelaskan bahwa terdapat tiga tujuan utama dari kolaborasi pelepasan ini. Pertama, untuk membangun branding dan citra positif UAD di masyarakat dengan menampilkan jumlah mahasiswa yang besar secara bersamaan. Kedua, skema ini memberikan efisiensi melalui rekognisi KKN bagi mahasiswa PLP.

“Di dalam pelaksanaan PLP ini, sebagian mahasiswa direkognisi di KKN. Mereka melaksanakan PLP di pagi harinya, lalu sore harinya melaksanakan KKN dengan sasaran sivitas sekolah. Pelaksanaan dua kegiatan sekaligus dalam satu waktu ini ibarat sekali dayung dua tiga pulau terlampaui,” ujar Jefree.

Selain itu, Jefree menegaskan bahwa tujuan ketiga dari kolaborasi ini adalah sebagai program percepatan bagi mahasiswa. Meskipun secara pembagian waktu pelaksanaan berbeda, mahasiswa yang mengikuti skema ini dapat langsung memperoleh 8 Satuan Kredit Semester (SKS) sekaligus, yaitu 4 SKS dari KKN dan 4 SKS dari PLP.

Pada periode 2026/2027 ini, UAD mencatat sebanyak 235 mahasiswa mengikuti KKN Alternatif di wilayah Yogyakarta, serta 1.441 mahasiswa terdaftar dalam KKN Reguler dan Rekognisi. Untuk KKN Reguler, sebaran lokasi meliputi kawasan Kebumen, Sentolo, Temon, Nglipar, Gedangsari, Turi, hingga Tirtoadi. Selain wilayah tersebut, UAD menerjunkan mahasiswa dalam berbagai program KKN tematik dan kemitraan berskala nasional hingga internasional, seperti KKN ADi di Muna Barat, KKN Anak Bangsa di Mbeliling Nusa Tenggara Timur, KKN Mas di Malang, KKN Internasional di Thailand, KKN Ekspedisi Dahlan Muda di Mentawai, serta KKN Tematik Sekolah di Kulon Progo dan Gunungkidul.

Salah satu inovasi baru yang diluncurkan pada semester ini adalah program KKN Tematik Sekolah. Berbeda dengan PLP, KKN Tematik Sekolah merupakan murni KKN yang menyasar penguatan sekolah dan mahasiswa tidak diperbolehkan mengajar, melainkan fokus pada penguatan perpustakaan, ekstrakurikuler, robotik, dan program pendukung lainnya.

“Ini memang piloting dalam rangka memberikan layanan kepada sekolah-sekolah yang memberikan sumbangsih besar kepada UAD untuk distribusi siswanya. Tentu ini kami piloting dan kami evaluasi efektivitas programnya, sementara untuk pelaksanaan KKN-nya terus kami bangun untuk memperbaiki,” jelas Jefree.

Ia menambahkan, harapannya penamaan atau branding UAD di sekolah-sekolah tersebut dapat terus terpatri dalam ingatan masyarakat melalui media seperti stiker, sehingga UAD menjadi top of mind.

Sementara itu, pada jalur KKN Rekognisi, UAD mengintegrasikan berbagai program seperti Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Dosen Direktorat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (DPPM), Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPKO), Program Meramu, serta PKM Racana Tepat Jogja. Khusus PKM Racana Tepat Jogja, program ini digagas berdasarkan amanah Wali Kota Yogyakarta untuk menyelesaikan kondisi yang ada di Yogyakarta melalui pedoman pengembangan berbasis lokal di masing-masing kelurahan atau kampung, seperti penguatan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), wisata kuliner, dan sebagainya, tergantung kondisi kampung tersebut.

Jefree menegaskan bahwa Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UAD berharap penerjunan KKN kali ini benar-benar memberikan dampak nyata.

“Harapan kami dari LPPM, KKN kali ini benar-benar berdampak. Berdampak baik bagi UAD untuk memperluas jangkauan pengabdiannya sehingga berdampak pada penambahan mahasiswa, maupun berdampak langsung pada masyarakat dalam peningkatan literasi, peningkatan ekonomi melalui pendampingan UMKM, sosial masyarakat, hingga dakwah Persyarikatan Muhammadiyah,” pungkasnya. (Anove)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-terjunkan-1.676-mahasiswa-KKN-PLP-periode-20262027-Foto.-Humas-UAD.jpg.jpeg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2026-08-07 08:00:042026-08-11 10:39:20UAD Terjunkan 2.496 Mahasiswa KKN-PLP Periode 2026/2027

Tim PKM RE UAD Kembangkan Nanoterapi Berbasis Minyak Atsiri Nilam untuk PPOK

06/08/2026/in MBKM, Terkini /by Ard

Tim PKM RE Universitas Ahmad Dahlan (UAD) kembangkan nanoterapi berbasis minyak atsiri nilam untuk PPOK (Foto. Tim PKM RE UAD)

Paparan asap rokok masih menjadi faktor risiko utama berbagai penyakit pernapasan, termasuk Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK). Kandungan radikal bebas dan senyawa toksik dalam asap rokok memicu stres oksidatif yang berkelanjutan sehingga menyebabkan inflamasi kronis, kerusakan jaringan alveolus, serta penurunan fungsi paru-paru. Hingga saat ini, terapi yang tersedia umumnya berfokus pada pengendalian gejala dan peradangan, namun penggunaan obat sintetik dalam jangka panjang masih berpotensi menimbulkan efek samping sehingga mendorong perlunya pengembangan terapi alternatif yang lebih aman dan efektif.

Indonesia sebagai salah satu negara penghasil tanaman nilam terbesar di dunia memiliki potensi besar dalam pengembangan obat berbasis bahan alam. Minyak atsiri daun nilam (Pogostemon cablin) diketahui mengandung senyawa aktif patchouli alcohol, yaitu komponen utama yang memiliki aktivitas antiinflamasi, antioksidan, dan imunomodulator. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa senyawa tersebut berpotensi membantu menekan respons peradangan akibat paparan radikal bebas serta melindungi jaringan paru dari kerusakan oksidatif.

Melihat besarnya potensi tersebut, tim PKM RE Universitas Ahmad Dahlan (UAD) mengembangkan penelitian mengenai pemanfaatan minyak atsiri daun nilam sebagai bahan aktif dalam formulasi inhalasi nanomucoadhesive untuk terapi PPOK. Penelitian dilaksanakan pada Mei–Agustus 2026 di Laboratorium Struktur Fisiologi dan Tumbuhan, Laboratorium Struktur dan Fisiologi Hewan, Laboratorium Teknologi Farmasi, serta Laboratorium Biologi Farmasi UAD, Yogyakarta.

Tim peneliti terdiri atas M. Faiz Hasan (Program Studi Biologi), Muhammad Rifqi Rahadi, Jenny Reinita, dan Diva Iedhari Nisa (Program Studi Farmasi), serta Khayru Diaz Ravikhasyah Untoro (Program Studi Biologi) dengan dosen pendamping Haris Setiawan, S.Pd., M.Sc.

Inovasi yang dikembangkan mengombinasikan minyak atsiri daun nilam dengan teknologi nanopartikel sehingga senyawa patchouli alcohol dapat dihantarkan secara langsung menuju jaringan paru-paru yang mengalami inflamasi. Pendekatan ini diharapkan mampu meningkatkan stabilitas minyak atsiri yang mudah menguap, memperbaiki penyerapan zat aktif pada organ target, serta meningkatkan efektivitas terapi dengan dosis yang lebih rendah.

Melalui pemanfaatan kekayaan hayati Indonesia yang dipadukan dengan teknologi farmasi modern, penelitian ini diharapkan dapat membuka peluang lahirnya terapi inhalasi herbal yang lebih efektif, aman, dan inovatif dalam penanganan penyakit akibat paparan asap rokok.

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Tim-PKM-RE-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-kembangkan-nanoterapi-berbasis-minyak-atsiri-nilam-untuk-PPOK-Foto.-Tim-PKM-RE-UAD.jpg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2026-08-06 10:37:182026-08-10 10:40:48Tim PKM RE UAD Kembangkan Nanoterapi Berbasis Minyak Atsiri Nilam untuk PPOK

Perjalanan Arivansi Mengubah Kegagalan Menjadi Ruang Bertumbuh

06/08/2026/in Feature /by Ard

Arivansi Ringu Kodi wisudawan terbaik FSBK Universitas Ahmad Dahlan (UAD) (Foto. Arivansi)

Rencana awal tidak selalu berjalan selaras dengan kenyataan. Kegagalan di masa lalu tidak menyurutkan langkah Arivansi Ringu Kodi untuk mengukir prestasi di perguruan tinggi. Bagi Arivan, alumnus Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Sastra, Budaya, dan Komunikasi (FSBK) angkatan 2022 Universitas Ahmad Dahlan (UAD), peraih predikat Wisudawan Terbaik FSBK UAD, perjalanan menuju bangku perkuliahan diawali dengan rentetan rasa kecewa. Sebelum melangkahkan kaki di UAD, ia harus menerima kenyataan pahit, yakni ditolak di lebih dari delapan Perguruan Tinggi Negeri (PTN) di Indonesia. Kehilangan kesempatan berkuliah di perguruan tinggi impian sempat mendatangkan rasa kecewa dan keraguan saat ia harus memulai masa studi di tempat yang awalnya tidak masuk dalam rencana.

Namun, seiring berjalannya waktu, sudut pandang Arivan mulai bergeser. Ia menyadari bahwa penolakan beruntun bukanlah akhir dari segalanya, melainkan sebuah titik balik. Daripada terus menyesali apa yang tidak berhasil didapatkan, ia memilih untuk bangkit dan memaksimalkan setiap peluang yang ada di depan mata.

“Saya berkata kepada diri sendiri bahwa saya sudah memulai perjalanan ini, sehingga saya harus memberikan yang terbaik,” ucapnya. “saya memiliki prinsip, “Finish what you have started”. Ketika saya memutuskan untuk memulai sesuatu, saya harus bertanggung jawab menyelesaikannya. Saya juga selalu mengingatkan diri sendiri, “Take all the opportunities that come to you”. Saya percaya setiap kesempatan adalah ruang untuk belajar, bertumbuh, dan mengembangkan diri. Kesempatan tidak selalu datang dua kali, sehingga saya berusaha untuk tidak pernah menyia-nyiakannya.” Imbuhnya.

Selama menjalani masa kuliah, Arivansi menjadikan lirik lagu “Mirrorball” karya Taylor Swift, “All I do is try, try, try,” sebagai motivasinya untuk terus berusaha. Baginya, kalimat sederhana itu secara tepat menggambarkan proses hampir empat tahun di perguruan tinggi. Tidak semua ajang kompetisi berhasil ia menangkan dan tidak semua usaha berjalan mulus sesuai harapan. Namun, keberanian untuk terus mencoba, belajar, dan memperbaiki diri secara konsisten menjadi kunci yang membentuk proses perkuliahannya.

Selama menempuh studi di UAD, berbagai tantangan hadir menguji ketahanannya. Salah satu proses adaptasi yang paling membekas adalah statusnya sebagai seorang mahasiswa beragama Kristen yang menempuh pendidikan di perguruan tinggi berbasis Islam Muhammadiyah. Pada awal masa perkuliahan, rasa canggung sempat muncul karena ia terbiasa berada di lingkungan yang mayoritas beragama Kristen. Kendati demikian, kekhawatiran tersebut sirna seiring berjalannya waktu. Arivansi justru menemukan ekosistem kampus yang sangat terbuka dan inklusif. Teman-temannya yang beragama Islam menerima dan merangkul kedatangannya dengan sangat baik, sehingga proses adaptasi sosial berjalan dengan lancar.

Sebagai pemeluk agama Kristen yang taat, Arivansi mengandalkan iman dan keyakinannya kepada Tuhan dalam menjalani setiap tahapan studi. Salah satu ayat Kitab Suci yang senantiasa menjadi pegangan hidupnya adalah Amsal 3:5 yang berbunyi,“Percayalah kepada Tuhan dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri.” Ayat ini menjadi pengingat baginya bahwa pertolongan Tuhan lah yang membuatnya tetap bertahan dan kuat melangkah hingga garis akhir.

Tantangan lainnya datang dari pengelolaan waktu. Di tengah padatnya jadwal perkuliahan, ia harus membagi energi untuk aktif di organisasi, mengikuti berbagai kompetisi, serta menyelesaikan berbagai tanggung jawab lainnya. Ketika rasa lelah atau burnout melanda di tengah tekanan yang bertubi-tubi, Arivansi memilih untuk tidak memaksakan diri. Mengambil jeda dan beristirahat sejenak menjadi caranya untuk memulihkan pikiran, sehingga ia bisa kembali bekerja dengan fokus yang lebih baik.

Komitmen untuk menyelesaikan apa yang telah dimulai akhirnya membuahkan hasil yang konkret. Mahasiswa FSBK ini tidak hanya berhasil menyabet predikat Wisudawan Terbaik Program Studi Ilmu Komunikasi UAD, tetapi juga dinobatkan sebagai Juara I Pemilihan Mahasiswa Berprestasi (Pilmapres) FSBK, serta menjadi Finalis Pilmapres di tingkat Universitas.

Di ranah kompetisi, jejak perjalanannya terentang luas. Arivansi berhasil meraih Juara I U-DARE 3.0 International Competition yang diselenggarakan oleh Universitas Syiah Kuala, Juara I International Presenter Ahmad Dahlan International Seminar, Juara II Ahmad Dahlan Youth Camp Competition, Juara II National Public Relations Campaign Competition Monalesa, serta terpilih menjadi delegasi UAD pada ajang National University Debating Championship (NUDC). Di samping itu, ia juga aktif berorganisasi sebagai Staf Khusus Kementerian Agama BEM UAD dan pengurus Divisi Public Relations Debating Community UAD.

Rangkaian prestasi ini tidak lepas dari perkuliahan di UAD yang dinilainya sangat kondusif. Kampus menyediakan ruang yang memadai bagi mahasiswa untuk mengasah potensi akademik maupun nonakademik. Peran para dosen, khususnya di Program Studi Ilmu Komunikasi, dirasakannya sangat besar. Dosen tidak hanya berperan mengajar di dalam kelas, tetapi juga memberikan arahan, motivasi, serta kepercayaan penuh bagi mahasiswa untuk mengeksplorasi kemampuan diri.

Pencapaian gelar Wisudawan Terbaik mendatangkan perasaan bahagia, bangga, sekaligus terharu bagi Arivansi. Baginya, capaian ini menjadi bukti bahwa perjuangan, kerja keras, dan pengorbanan selama masa studi tidak berlalu dalam sia-sia. Meski demikian, Arivansi menegaskan bahwa penghargaan tersebut bukan semata-mata milik pribadinya. Predikat wisudawan terbaik dimaknai sebagai bentuk rasa syukur atas hadirnya orang-orang yang senantiasa memberikan dukungan–orang tua, keluarga, dosen, sahabat, serta kawan-kawan yang membersamainya sepanjang proses studi.

“Jangan menunggu sampai merasa benar-benar siap, karena sering kali kita justru bertumbuh di dalam prosesnya. Gunakan masa kuliah bukan hanya untuk mengejar nilai, tetapi juga membangun karakter, memperluas pengalaman, dan mengembangkan kemampuan diri melalui organisasi maupun kompetisi,” pesannya.

Ia juga menekankan pentingnya untuk tidak membandingkan perjalanan pribadi dengan pencapaian orang lain. Fokus utama yang perlu dijaga adalah menjadi pribadi yang lebih baik dari hari kemarin, dengan keyakinan bahwa setiap usaha yang dilakukan secara sungguh-sungguh tidak akan pernah sia-sia. (Anove)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Arivansi-Ringu-Kodi-wisudawan-terbaik-FSBK-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-Foto.-Arivansi.jpg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2026-08-06 10:25:412026-08-06 10:25:41Perjalanan Arivansi Mengubah Kegagalan Menjadi Ruang Bertumbuh
Page 5 of 621«‹34567›»

TERKINI

  • Program Doktor Ilmu Farmasi UAD Tambah Lulusan Baru26/08/2026
  • Prodi Perbankan Syariah FAI UAD Gelar Sosialisasi dan Pembekalan Magang26/08/2026
  • Dosen Farmasi UAD Edukasi DAGUSIBU Obat dan Kosmetik di Pulau Jeju, Korea Selatan26/08/2026
  • Dosen Farmasi UAD Berdayakan Guru Thailand Selatan melalui Inovasi Herbal Wedang Uwuh26/08/2026
  • 15 Mahasiswa KKN AB XIII UAD Bantu Pemulihan Pascagempa di Manggarai Barat24/08/2026

PRESTASI

  • Buat Inovasi Pendidikan dan Literasi, Mahasiswa UAD Raih Tiga Prestasi Nasional20/08/2026
  • Mahasiswa UAD Raih Gold dan Silver Medal pada Essay National Competition 202619/08/2026
  • Mahasiswa UAD Raih Juara II Lomba Poster Edukatif Kesehatan Mental18/08/2026
  • Mahasiswa UAD Raih Juara I Lomba Baca Puisi Dahlan Culture Festival 202608/08/2026
  • Mahasiswa UAD Raih Juara 3 Cakrawala National Essay Competition31/07/2026

FEATURE

  • Dhita Pratama Beberkan Pentingnya Marketing Communication untuk Perkuat Karier20/08/2026
  • Hafiz Ahmad Rumalutur, Wisudawan FH UAD Dengan Segudang Prestasi Nasional19/08/2026
  • Di Balik Deretan Prestasi, Ada Perjalanan yang Tidak Sederhana19/08/2026
  • Kemerdekaan Bukan Sekadar Perayaan: Belajar Delayed Gratification dari Semangat Para Pejuang19/08/2026
  • Mengenal Suster Felika, Biarawati yang Menempuh Studi di UAD18/08/2026

TENTANG | KRU | KONTAK | REKAPITULASI

Scroll to top