Meneladani Keteguhan dan Keluhuran Akhlak Rasulullah di Tengah Pemboikotan

Ust. Hendra Darmawan, S.Pd., M.A dalam Kajian Ahad Pagi di Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD) (Foto. Septia)
Keteladanan Rasulullah saw. dalam menghadapi tekanan dakwah menjadi pokok bahasan Kajian Rutin Ahad Pagi Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD) bertema “Bersama Rosulullah–Ma’al Musthofa”. Kajian pada Minggu, 4 Oktober 2026, di Masjid Islamic Center Kampus IV UAD itu disiarkan langsung melalui kanal YouTube Takmir Masjid Ahmad Dahlan UAD.
Anggota Majelis Tabligh Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Daerah Istimewa Yogyakarta, Ustaz Hendra Darmawan, S.Pd., M.A., membuka materi dengan hadis bahwa seseorang akan dibangkitkan bersama orang yang dicintainya dan bahwa cara beragama seseorang bergantung pada temannya. Menurut Hendra, jemaah perlu memilih lingkar pertemanan yang menggugah semangat keislaman.
Cinta kepada Rasulullah, lanjut Hendra, tumbuh melalui pengenalan. “Kecintaan itu akan tumbuh dengan pengetahuan,” tuturnya. Ia memaparkan tiga sifat Rasulullah, yaitu asja’ an-nas (paling pemberani), ajwad an-nas (paling dermawan), dan akram an-nas (paling baik), serta ajaran untuk menyambung silaturahim dengan yang memutusnya, memberi kepada yang kikir, dan memaafkan yang menzalimi.
Ia kemudian mengisahkan pemboikotan terhadap Rasulullah dan pengikutnya. Setelah Hamzah dan Umar bin Khattab masuk Islam, para pemimpin kafir Quraisy menyepakati piagam yang melarang transaksi ekonomi dengan mereka, lalu menggantungnya di Ka’bah. Keluarga Rasulullah mengalami kelaparan hingga lima anggota keluarga akhirnya berani menggugat piagam tersebut.
Hendra mengaitkan peristiwa itu dengan Surah Al-Qamar ayat 2 dan Surah Al-Fath tentang hamiyatal jahiliyah (penolakan terhadap kebenaran), yang disusul turunnya ketenangan dari Allah Swt. kepada Rasulullah dan kaum mukminin. Ia juga menyebut tawaran harta, kekuasaan, dan wanita yang diajukan agar Rasulullah meninggalkan dakwah.
Dalam sesi tanya jawab, seorang jemaah menanyakan peringkat Rasulullah sebagai tokoh paling berpengaruh dalam buku Michael Hart. Hendra menjelaskan bahwa dalam 22 tahun 2 bulan 22 hari, atau dibulatkan 23 tahun, Rasulullah tidak sekadar mengubah, tetapi melakukan transformasi (transformation) masyarakat yang jauh dari peradaban menuju masyarakat beradab.
Sebagai pesan utama, Hendra mengajak jemaah mempertahankan hidayatut taufik, yakni petunjuk Allah berupa agama Islam, dengan sekuat tenaga. “Apa yang kita perjuangkan hari ini belum seberapa dengan apa yang Rasul dan para sahabat alami,” tegasnya. (Septia)
