Seminar Nasional Menumbuhkembangkan Jiwa Muda untuk Masa Depan
Ā
Belajar bisnis jangan hanya di bangku kuliah, karena dunia nyata lebih luas dari kampus. Beranilah bermimpi untuk menjadi sukses. Salah satunya dengan menjadi pengusaha. Caranya? Rencanakan dengan detail berbentuk tabel mimpi. Juga, jangan takut dengan modal, karena uang bukan segalanya untuk berbisnis. Berbisnis bisa dilakukan dengan bernegosiasi. Saat kondisi terpuruk, jangan pernah terlihat seperti orang yang terpuruk.
Seminar nasional diadakan oleh Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Manajemen, Fakultas Ekonomi Bisnis (FEB), Universitas Ahmad Dahlan (UAD). Acara tersebut diselenggarakan pada Sabtu (09/12/2017) pukul 07.30 WIB di ruang auditorium kampus 1 Jalan Kapas Nomor 9, Semaki, Yogyakarta.
Selain Budiyanto, S.Pi. selaku Sekjen Aspelindo, seminar yang mengangkat tema āMenumbuhkembangkan Jiwa Entrepreneur Muda untuk Masa depan Kreatif dan Inovatif ini juga mendatangkan A. Noor Arife selaku Owner Dagadu Jogja. Kedua pembahas memberi motivasi kepada para peserta seminar untuk tidak putus asa untuk menjalankan bisnis.
āJangan pernah bermimpi untuk menjadi pekerja di bisnis kalian. Kalian harus berpikir menjadi pengusaha yang bisa mempekerjakan orang lain,ā ucap Budiyanto.
Untuk mencapai semua itu, kreativitas untuk menciptakan ide dan berinovasi sangat dibutuhkan. Caranya mewujudkannya dengan kerja keras, berani bermimpi, kerja cerdas, kerja ikhlas, buang rasa malas, kerja harus detail, fakus pengembangan bisnis, dan jangan lupa berbuat baik.
Dalam berbisnis juga diperlukan jaringan pertemanan, realisasikan mimpi, ide, rencana, action, serta oprasional mudah. Maka, bisnis yang tiada menjadi ada. Semuanya dimulai dari tahapan dengan mencoba-coba. Membuat kita beda, kita ada. Dengan cara tidak nyaman, bekerja biasa, cara tidak biasa, dan hasil luar biasa.



Mahasiswa Universitas Ahmad Dahlan (UAD) melakukan penggalangan dana untuk masyarakat Kulon Progo yang tergusur lahan pertaniannya karena pembuatan bandara. Diketahui, masyarakat di sana menggunakan pompa listrik. Namun sejak 27 November 2017, PLN memutus aliran listrik sehingga membuat 38 rumah lumpuh total. Aktivitas jelas terganggu karena air termasuk kebutuhan pokok. Mereka kesulitan untuk memasak, minum, mandi, shalat, dan lain-lain.
Dosen Universitas Ahmad Dahlan (UAD) menggalakan acara bakti sosial (baksos) untuk korban banjir. Setelah melakukan survei kartu keluarga (KK), akhirnya diputuskan daerah yang mendapat baksos adalah Imogiri. Daerah inilah yang dirasa sangat memerlukan bantuan.
