Mahasiswa Psikologi UAD Raih Juara I Kumite -67 kg di Kejuaraan Karate Internasional

Muhammad Sofyan Adhi Nugroho, mahasiswa S-1 Psikologi Universitas Ahmad Dahlan (UAD) (Foto. Muhammad Sofyan)
Muhammad Sofyan Adhi Nugroho, mahasiswa S-1 Psikologi Universitas Ahmad Dahlan (UAD) asal Karawang, Jawa Barat, berhasil membawa pulang Juara I kategori Beginner Senior Kumite Male -67 kg dalam ajang Senkaido Open International Karate Championship Piala Kemenpora RI 2025. Kejuaraan ini berlangsung di Jakarta pada 17–19 Oktober 2025.
Saat ditemui, Sofyan bercerita bahwa ketertarikannya pada karate berawal dari pengalaman masa kecil yang cukup membekas. Ketika duduk di kelas 3 Sekolah Dasar (SD), ia melihat temannya yang tidak bersalah menjadi korban bullying. Momen itu membuatnya meminta kepada orang tuanya untuk diikutkan bela diri. Dari banyak pilihan, ia memilih karate karena melihat bahwa bela diri ini bukan hanya soal kemampuan fisik, tetapi juga seni menguasai diri.
Sofyan juga mengaku bahwa motivasi terbesarnya berasal dari kedua orang tuanya. Baginya, mereka adalah alasan utama untuk terus berkembang, mencoba hal baru, dan memaksimalkan kemampuan diri, baik soft skill maupun hard skill, di dalam maupun di luar perkuliahan.
Menariknya, perjalanan Sofyan menuju kompetisi ini terbilang sangat cepat. Ia baru bergabung dengan UKM Karate UAD pada 5 Oktober 2025 dan hanya beberapa hari kemudian langsung terseleksi oleh senpai-nya untuk ikut bertanding di event berskala internasional tersebut. Dengan waktu persiapan yang sangat terbatas, Sofyan memaksimalkan setiap hari dengan latihan minimal dua jam, mulai dari teori hingga praktik, tentunya diiringi doa agar Allah Swt. melancarkan langkahnya.
Meskipun begitu, perjalanannya tidak sepenuhnya mulus. Sofyan masih berjuang dengan cedera anterior cruciate ligaments (ACL) sejak dua tahun yang lalu di kaki kirinya. “Setiap selesai latihan pasti kram dan nyeri,” ceritanya. Namun, dengan kompres dan obat pereda nyeri, kondisinya bisa kembali stabil.
Ia juga harus meninggalkan perkuliahan selama empat hari sehingga manajemen waktu menjadi tantangan tersendiri. Sofyan mengantisipasinya dengan menyusun skala prioritas: menyelesaikan semua tugas kuliah sebelum latihan, lalu mengulang materi dan mempersiapkan bahan untuk kelas berikutnya setelah selesai berlatih.
Meski penuh tantangan, kemenangan ini terasa sangat berharga bagi Sofyan, apalagi setelah dua tahun vakum dari dunia karate. Rasa syukur dan bahagia memenuhi dirinya saat namanya diumumkan sebagai juara. Sofyan tidak lupa menyampaikan bahwa dukungan dari orang-orang terdekat, mulai dari orang tua, dosen pembimbing, teman kelas, hingga teman seangkatan, sangat membantunya menghadapi proses yang berat ini.
Sofyan membagikan pesan untuk mahasiswa lain yang ingin berprestasi. Menurutnya, hal pertama yang perlu dilakukan adalah mengenali nilai diri. “Anggap dirimu seperti emas. Di mana pun berada, tetap berharga,” ujarnya. Ia juga mendorong mahasiswa untuk berani mengambil risiko dan mencari pengalaman positif sebanyak mungkin.
“Kalau gagal, selalu ada keberhasilan yang akan datang. Yang penting terus dilakukan dan sungguh-sungguh.” Ia menutup pesannya dengan mengingatkan untuk selalu berpikir positif karena Allah memberikan sesuai dengan prasangka hamba-Nya.
Prestasi Sofyan bukan hanya membanggakan, tetapi juga menjadi pengingat bahwa kesempatan besar bisa datang kapan saja, bahkan dalam persiapan yang singkat, selama seseorang mau berusaha dan tidak berhenti percaya. (Anove)
