Strategi Media Relations di Era Media Sosial

Dr. Fajar Junaedi, S.Sos., M.Si., (Foto. Humas UAD)
Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Humas Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ’Aisyiyah (PTMA) 2025 memasuki Sesi V pada Sabtu, 6 Desember 2025, dengan fokus pembahasan mengenai media relations di era media sosial. Sesi ini menghadirkan Dr. Fajar Junaedi, S.Sos., M.Si., sebagai narasumber dan dimoderatori oleh Muhammad Hidayatullah, S.M., M.I.Kom., dari Universitas Muhammadiyah Buton.
Dalam pemaparannya, Dr. Fajar menjelaskan bahwa ekosistem media saat ini bergerak pada PESO: paid media, earned media, shared media, dan owned media. “Kita sekarang berada di ekosistem media yang ditandai dengan paid media, shared media, owned media, dan earned media. Kalau paid itu urusannya teman-teman admisi atau promosi. Sementara owned media adalah media yang kita miliki, seperti website, media sosial, dan newsletter,” terangnya.
Ia menekankan bahwa sivitas akademika, khususnya dosen dan tenaga kependidikan, sesungguhnya merupakan influencer mikro kampus yang berpotensi memperluas jangkauan informasi. “Bayangkan jika biro SDM membuat paket insentif untuk dosen dan tendik yang rajin share, like, dan comment pada unggahan kampus. Dampaknya akan luar biasa,” ujarnya.
Dr. Fajar juga menunjukkan pentingnya analisis pemberitaan menggunakan perangkat digital. Ia mengenalkan Voyant Tools sebagai aplikasi yang dapat menganalisis teks berita, komentar, hingga tren kosakata yang muncul. “Ada aplikasi yang bisa dipakai untuk menganalisis bukan hanya berita, tetapi juga komentar-komentar, yaitu Voyant Tools dan ChatGPT. Tidak semua dari kita pakar media, maka teknologi harus dimanfaatkan,” jelasnya.
Menurutnya, Voyant Tools dapat membantu humas membuat laporan berbasis data kepada pimpinan melalui infografis yang informatif. Analisis tersebut juga dapat digunakan untuk menilai media mana yang memuat rilis secara utuh atau menambah konten positif. Namun ia mengingatkan kelemahan aplikasi tersebut, “Voyant tidak bisa menangkap aktor atau gambar. Ia hanya membaca teks.”
Selain itu, ia menegaskan bahwa komentar warganet perlu dianalisis secara khusus, bukan hanya fokus pada insight di media sosial. “Untuk mengetahui komentar, kita hanya butuh aplikasi export comment dan mengunduhnya dalam bentuk excel. Selama ini kita hanya fokus pada insight, padahal komentar itu juga penting,” tuturnya.
Dalam sesi tersebut, Dr. Fajar menggarisbawahi bahwa media relations tidak hanya berkutat pada hubungan dengan media massa, melainkan juga dengan social media influencer (SMI). Ia menguraikan beberapa poin penting: membangun hubungan kerja yang positif dengan media melalui penyediaan informasi yang akurat dan tepat waktu; kolaborasi dengan influencer, memahami gaya penyajian konten mereka agar kerja sama berjalan efektif; pendekatan komunikasi strategis, yaitu bersikap proaktif dalam mengelola isu dan menempatkan informasi dalam perspektif yang menguntungkan; media mapping, yakni mengelompokkan media berdasarkan relevansi isu dan kebutuhan publikasi; relasi personal, seperti mencatat hari ulang tahun media, menjaga komunikasi reguler, dan menjauhi praktik yang tidak etis.
Lebih jauh, ia menekankan bahwa siaran pers harus disusun sebagai berita yang memiliki news value, bukan sekadar pernyataan. Humas perlu menggelar rapat isu mingguan agar tetap selaras dengan tren pemberitaan. Untuk isu strategis, konferensi pers atau media briefing sangat diperlukan dengan persiapan teknis yang matang, seperti press kit, daftar undangan media, alur acara, dan ruang tanya jawab.
Menutup sesi, Dr. Fajar menegaskan bahwa media monitoring wajib dilakukan sebagai dasar evaluasi. Pemantauan mencakup pemberitaan (positif, negatif, netral), volume pemberitaan, efektivitas pesan, hingga media mana yang paling banyak mengangkat isu kampus. “Semua hasil monitoring itu adalah dasar kita untuk memperbaiki strategi. Tanpa data, kita hanya menebak-nebak,” tegasnya. (Lus)
