• TERKINI
  • UAD BERDAMPAK
  • PRESTASI
  • FEATURE
  • OPINI
  • MEDIA
  • KIRIM BERITA
  • Menu
News Portal of Universitas Ahmad Dahlan

Posts

Dari Titik yang Tertinggal, Fikrotus Shofiyah Menemukan Jalannya

13/08/2026/in Feature /by Ard

Fikrotus Shofiyah, salah satu wisudawan terbaik Universitas Ahmad Dahlan (UAD) pada Wisuda Periode IV Tahun 2026 (Foto. Fikrotus)

Ada perjalanan yang dimulai dari garis yang berbeda. Ada pula mimpi yang tumbuh di tengah keraguan. Bagi Fikrotus Shofiyah, perjalanan itu bukan sekadar tentang menyelesaikan masa studi, melainkan tentang membuktikan bahwa keterbatasan tidak pernah menjadi alasan untuk berhenti melangkah.

Lulusan Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,88 ini mengaku tidak pernah membayangkan dirinya akan menjadi salah satu lulusan terbaik. “Tidak pernah terbayang menjadi salah satu bagian dari wisudawan terbaik. Saya sangat bersyukur. Rasanya Tuhan memberikan bonus dari perjalanan singkat saya selama menempuh pendidikan,” tuturnya.

Di balik rasa syukur tersebut, tersimpan perjalanan yang dibangun melalui keberanian untuk terus belajar dan berkembang.

Selama menjadi mahasiswa, Fikrotus berhasil meraih Juara II Lomba Penulisan Cerpen Pekan Seni Mahasiswa Daerah (Peksimida), lolos pendanaan Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPKO) dari Kemendikbudristek, lolos pendanaan Program Kreativitas Mahasiswa (PKM), serta meraih Harapan II Lomba Desain Poster tingkat Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah (PTMA).

Namun, pengalaman yang paling membekas baginya adalah ketika berhasil menjadi semifinalis kompetisi kepenulisan tingkat internasional. “Bagi saya, yang paling berharga bukan hanya hasilnya, tetapi prosesnya. Dari sana saya belajar bahwa ternyata saya bisa, selama saya mau terus berkembang,” jelasnya.

Semangat itu lahir dari perjalanan hidup yang tidak selalu berjalan mulus. Fikrotus berasal dari lembaga pendidikan berbasis tahfiz dengan ijazah kesetaraan Paket C. Saat hendak melanjutkan pendidikan, ia pernah dihadapkan pada kenyataan bahwa ijazah tersebut tidak dapat digunakan untuk mendaftar beasiswa tahfiz di sejumlah perguruan tinggi.

Saat itu, ia merasa kecewa. Namun, rasa kecewa tersebut perlahan berubah menjadi tekad. “Saya ingin membuktikan bahwa meskipun berasal dari pendidikan dengan ijazah Paket C, saya tetap bisa kuliah dan menjadi mahasiswa yang aktif di berbagai bidang,” ucapnya.

Tekad itu membawanya melangkah ke Universitas Ahmad Dahlan. Namun, perjuangan yang sesungguhnya justru dimulai setelah menjadi mahasiswa.

Tahun pertama menjadi fase yang paling berat. Latar belakang pendidikan yang lebih berfokus pada tahfiz membuatnya harus bekerja lebih keras untuk mengejar materi perkuliahan. Banyak konsep dasar yang belum pernah ia pelajari sebelumnya. Ia juga harus membiasakan diri dengan penggunaan bahasa asing yang menjadi bagian penting dalam proses pembelajaran di program studinya.

Sementara teman-temannya telah memiliki bekal dari sekolah umum, Fikrotus memilih mengejar ketertinggalannya sedikit demi sedikit. Ia percaya bahwa setiap halaman yang tertinggal masih bisa dikejar selama tidak berhenti membaca perjalanan.

Perjuangan itu tidak hanya hadir di ruang kelas. Di luar perkuliahan, ia juga harus menghadapi keterbatasan ekonomi.

Dengan keyakinan bahwa pendidikan adalah jalan yang harus diperjuangkan, ia tetap melanjutkan kuliah meski tanpa beasiswa. Ada masa ketika ia kesulitan membayar Uang Kuliah Tunggal (UKT), mengajukan dispensasi pembayaran agar tetap dapat mengikuti perkuliahan, bahkan hampir tidak bisa mengikuti ujian. Ia masih mengingat perjalanan menuju kampus dengan mengayuh sepeda ontel milik asrama di bawah hujan demi mengurus administrasi dispensasi. Ia juga pernah mencoba membangun usaha untuk membantu biaya kuliah, meskipun pilihan itu akhirnya tidak berjalan sesuai harapan.

Namun, setiap kegagalan tidak pernah ia anggap sebagai akhir perjalanan. “Saya belajar mengambil hikmah dari setiap keadaan. Dari situ saya mulai membuat target-target yang nyata untuk diri sendiri. Saya ingin membuktikan bahwa ternyata saya bisa,” tandasnya.

Keyakinan tersebut terus dijaga berkat doa dan dukungan dari orang-orang terdekat, yaitu orang tuanya, Chusnul Mubin dan Anariatin, sebagai sumber kekuatan terbesar yang selalu membuatnya mampu bangkit setiap kali ingin menyerah.

Ia juga menyampaikan terima kasih kepada keluarga besar yang terus memberikan semangat, serta Dekan Fakultas, Sayuti, yang banyak memberikan arahan, nasihat, dan pengalaman berharga selama masa perkuliahan.

Dalam menjalani berbagai aktivitas, Fikrotus selalu membuka diri terhadap pengalaman baru. Ia senang mencoba berbagai kesempatan untuk mengenal potensi dirinya, tetapi tetap menjadikan akademik sebagai prioritas utama. “Saya memilih mempersempit waktu bermain untuk hal-hal yang lebih bermanfaat dan bisa membantu saya berkembang,” tambahnya.

Fikrotus bercita-cita melanjutkan pendidikan magister melalui beasiswa di negara maju. Mimpinya tidak berhenti pada gelar akademik. Ia ingin berkontribusi menciptakan lingkungan pendidikan yang sehat dengan menanamkan adab dan pembentukan karakter sejak usia dini. Baginya, setiap ilmu baru merupakan bekal untuk mewujudkan cita-cita tersebut.

Selanjutnya, ia berharap kampus terus menjadi ruang yang memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk berkembang dan menghadirkan manfaat bagi masyarakat. Sementara kepada generasi berikutnya, ia berpesan agar tidak pernah berhenti berbuat baik di mana pun berada.

Pelajaran hidup yang paling berharga yang ia bawa dari perjalanan ini adalah tentang kerja keras. Menurutnya, sejauh apa pun seseorang merasa tertinggal, selalu ada kesempatan untuk mengejarnya selama memiliki keyakinan dan kemauan untuk terus berusaha. “Rasa minder dan tidak percaya diri hanya akan menghalangi kita mencapai tujuan. Saya percaya, selama mau bekerja keras, tidak ada perjalanan yang benar-benar terlambat,” tutupnya.

Perjalanan Fikrotus Shofiyah menjadi pengingat bahwa setiap orang memulai dari titik yang berbeda. Namun, bukan dari mana seseorang memulai yang menentukan akhirnya, melainkan keberanian untuk terus melangkah, meski jalan yang ditempuh tidak selalu mudah. (Mawar)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Fikrotus-Shofiyah-salah-satu-wisudawan-terbaik-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-pada-Wisuda-Periode-IV-Tahun-2026-Foto.-Fikrotus.jpg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2026-08-13 09:05:442026-08-13 09:05:44Dari Titik yang Tertinggal, Fikrotus Shofiyah Menemukan Jalannya

Tim REGENOCA UAD Manfaatkan Bahan Alami untuk Membuat Obat Luka Bakar

13/08/2026/in MBKM, Terkini /by Ard

Tim PKM RE Universitas Ahmad Dahlan (UAD) manfaatkan bahan alami untuk membuat obat luka bakar (Foto. Tim PKM RE UAD)

Di balik kekayaan hayati Indonesia, tersimpan beragam bahan alam yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi inovasi kesehatan. Ikan gabus (Channa striata) dan lidah buaya (Aloe vera) menjadi dua bahan yang menarik perhatian mahasiswa Universitas Ahmad Dahlan (UAD) untuk dikembangkan sebagai bagian dari inovasi dalam mendukung proses regenerasi kulit pada kasus luka bakar.

Albumin yang terdapat pada ikan gabus dikenal memiliki peran dalam proses pembentukan dan perbaikan jaringan. Sementara itu, Aloe vera memiliki berbagai senyawa bioaktif dengan aktivitas antiinflamasi dan antioksidan serta kemampuan membantu menjaga kelembapan kulit. Potensi dari kedua bahan alam tersebut kemudian dipadukan dalam satu inovasi nanogel yang dikembangkan oleh mahasiswa UAD.

Melalui penelitian berjudul “Inovasi Nanogel Kombinasi Albumin Channa striata dengan Ekstrak Aloe vera untuk Menstimulasi Regenerasi Sel Dermal Kasus Luka Bakar Secara In Vivo,” Tim REGENOCA berupaya menghadirkan pendekatan baru dalam pemanfaatan bahan alam Indonesia. Kombinasi tersebut diharapkan dapat memberikan potensi sinergis dalam mendukung proses regenerasi sel dermal pada jaringan kulit yang mengalami luka bakar.

Inovasi ini dikembangkan oleh Tim REGENOCA, yang terdiri atas Yurika Shifa Tuzzahra, Nurmala Ayu Azzahra, Shasqik Alfida Danin Djati Wicaksana, dan Berliana Putri Rahmadani dari Fakultas Farmasi, serta Nanda Putri Kinasih dari Program Studi Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi Terapan UAD. Penelitian ini berada di bawah bimbingan Haris Setiawan, S.Pd., M.Sc., dosen Fakultas Sains dan Teknologi Terapan UAD. Penelitian ini dilaksanakan pada Mei hingga Agustus 2026.

Bukan hanya sekadar memadukan dua bahan alam, penelitian ini menjadi upaya untuk mengangkat potensi sumber daya hayati Indonesia ke dalam pengembangan sediaan farmasi berbasis teknologi modern. Integrasi albumin Channa striata dan ekstrak Aloe vera dalam bentuk nanogel diharapkan dapat membuka peluang pengembangan inovasi baru dalam mendukung proses penyembuhan dan regenerasi jaringan kulit.

Melalui kolaborasi lintas disiplin antara Fakultas Farmasi dan Fakultas Sains dan Teknologi Terapan, Tim REGENOCA berharap inovasi ini dapat menjadi salah satu langkah menuju pemanfaatan bahan alam Indonesia yang lebih optimal di bidang kesehatan. Penelitian ini juga diharapkan dapat mendorong lahirnya inovasi farmasi yang tidak hanya memanfaatkan kekayaan hayati lokal, tetapi juga dikemas menggunakan pendekatan teknologi modern. (Mei)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Tim-PKM-RE-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-manfaatkan-bahan-alami-untuk-membuat-obat-luka-bakar-Foto.-Tim-PKM-RE-UAD.jpg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2026-08-13 08:58:562026-08-20 14:31:18Tim REGENOCA UAD Manfaatkan Bahan Alami untuk Membuat Obat Luka Bakar

Menjadi Versi Terbaik Melalui Ketekunan

13/08/2026/in Feature /by Ard

Leli Fatmawati, salah satu wisudawan terbaik Universitas Ahmad Dahlan (UAD) pada Wisuda Periode IV Tahun 2026 (Foto. Leli)

Bagi Leli Fatmawati, setiap pencapaian tidak pernah datang secara instan. Di balik predikat sebagai Wisudawan Terbaik, tersimpan perjalanan panjang yang dipenuhi ketekunan, disiplin, dan rasa syukur atas setiap kesempatan yang diberikan.

Lulusan Program Studi Pendidikan Biologi dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,99 ini mengaku tidak pernah membayangkan akan menjadi salah satu wisudawan terbaik pada Wisuda Periode IV Tahun 2026.

Selama menempuh pendidikan, Leli aktif mengembangkan diri melalui berbagai kegiatan akademik maupun kompetisi. Selain berhasil mempertahankan prestasi akademik dengan IPK yang hampir sempurna, ia juga memperoleh pendanaan Program Kreativitas Mahasiswa bidang Riset Eksakta (PKM-RE), meraih Juara I Artikel Terbaik Kategori Pendidikan UAD 2025, Juara I Presenter Terbaik Seminar Internasional Hasil PLP I dan PLP II Tahun 2026, serta Juara I Lomba Microteaching Program Studi Pendidikan Biologi Tahun 2026. Berbagai capaian tersebut menjadi bagian dari perjalanan belajarnya selama di bangku kuliah.

Menurut Leli, keberhasilan tersebut berawal dari kesadaran bahwa dirinya merupakan penerima beasiswa. Amanah itulah yang terus mendorongnya untuk memberikan usaha terbaik dalam setiap kesempatan.

“Sebagai penerima beasiswa, saya merasa memiliki tanggung jawab yang besar. Karena itu, saya berusaha memaksimalkan kemampuan yang saya miliki agar dapat terus berprestasi dan memberikan hasil terbaik,” tuturnya.

Di balik berbagai prestasi yang diraih, tantangan terbesar yang harus dihadapinya adalah mengelola waktu, tenaga, dan pikiran di tengah padatnya aktivitas. Perkuliahan, organisasi, penelitian, dan berbagai kompetisi sering kali berjalan bersamaan sehingga menuntutnya untuk mampu menentukan prioritas.

Leli memilih menjalani setiap proses dengan tenang tanpa terburu-buru. Baginya, menyusun skala prioritas dan menjaga komunikasi yang baik menjadi kunci agar setiap tanggung jawab dapat diselesaikan secara maksimal.

“Saya belajar bahwa semua bisa dijalani jika dilakukan dengan tenang, mengetahui mana yang harus diprioritaskan, dan tetap menjaga komunikasi yang baik dengan orang-orang di sekitar,” jelasnya.

Kebiasaan sederhana juga menjadi bagian penting dalam perjalanan prestasinya. Sejak awal, Leli selalu menetapkan target-target yang ingin dicapai sebagai arah dalam setiap langkah yang diambil. Bagi Leli, target bukan sekadar daftar keinginan, melainkan pengingat agar dirinya tetap konsisten bertumbuh dan tidak kehilangan arah di tengah berbagai aktivitas.

Keberhasilan yang diraihnya juga tidak lepas dari doa dan dukungan orang-orang terdekat. Ia menyampaikan rasa terima kasih kepada kedua orang tuanya, Suyatno dan Sani, kakak, keluarga besar, teman-teman, serta para dosen Program Studi Pendidikan Biologi yang terus memberikan semangat dan bimbingan selama masa perkuliahan. “Semua doa, dukungan, dan motivasi dari mereka menjadi kekuatan bagi saya untuk terus berjuang hingga sampai di titik ini,” tambahnya.

Leli bercita-cita kembali melanjutkan pendidikan ke jenjang magister melalui program beasiswa agar dapat terus mengembangkan kompetensi dan memberikan kontribusi yang lebih luas di bidang pendidikan.

Bagi Leli, prestasi bukan hanya tentang penghargaan yang berhasil diraih. Ia memaknai prestasi sebagai bentuk penghargaan atas setiap usaha yang telah dilakukan dengan sungguh-sungguh, sedangkan kesuksesan adalah kemampuan untuk mencapai versi terbaik dari diri sendiri, baik sesuai dengan rencana yang disusun maupun jalan yang telah ditetapkan Tuhan.

Ia juga berharap almamaternya terus berkembang menjadi perguruan tinggi yang melahirkan lulusan unggul, berintegritas, dan berlandaskan nilai-nilai keislaman serta kemuhammadiyahan. (Mawar)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Leli-Fatmawati-salah-satu-wisudawan-terbaik-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-pada-Wisuda-Periode-IV-Tahun-2026-Foto.-Leli.jpg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2026-08-13 08:52:022026-08-13 08:52:02Menjadi Versi Terbaik Melalui Ketekunan

UAD dan Universiti Malaysia Pahang Jalankan Student Mobility Program

12/08/2026/in Terkini /by Ard

Universitas Ahmad Dahlan (UAD) dan Universiti Malaysia Pahang jalankan student mobility program (Foto. Septia)

Fakultas Teknologi Industri (FTI) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) menerima kunjungan delegasi mahasiswa dan dosen dari Universiti Malaysia Pahang Al-Sultan Abdullah (UMPSA) dalam rangka pembukaan Student Mobility Program. Program ini dirancang untuk memberikan pengalaman akademis, pengenalan budaya, serta peningkatan wawasan teknologi bagi para peserta selama berkegiatan di Yogyakarta.

Dalam sambutannya, Wakil Dekan II FTI UAD, Ir. Ika Dyah Kumalasari, S.Si., M.Sc., Ph.D., menyampaikan ucapan selamat datang kepada seluruh delegasi. Ia berharap seluruh rangkaian kegiatan, mulai dari kuliah umum, kunjungan industri, hingga pengenalan budaya Jawa di Yogyakarta, dapat memberikan manfaat luas serta pengalaman yang berkesan.

“Semoga program ini memberikan manfaat dan semua peserta, baik pembimbing maupun perwakilan dari UMPSA, bisa enjoy selama berada di sini. Pihak FTI UAD siap mendampingi apabila terdapat kendala atau hal yang dibutuhkan selama kegiatan berlangsung,” tuturnya.

Harapan serupa juga disampaikan oleh perwakilan dosen Universiti Malaysia, Ts. Dr. Abdullah Fairuzullah Bin Ahmad. Ia menyampaikan rasa terima kasih atas penyambutan yang hangat dari pihak universitas maupun mahasiswa pendamping. Beliau berharap program ini dapat semakin mempererat tali silaturahmi serta menjalin kerja sama yang lebih baik antara UAD dan UMPSA di masa depan, sekaligus menjadi wadah bagi para mahasiswa untuk mendapatkan banyak pengalaman baru.

Sementara itu, perwakilan mahasiswa dari Faculty of Computing UMPSA, Akmal Najmudin Bin Zakaria mengutarakan rasa bangga dan apresiasinya atas penyambutan yang luar biasa dari sivitas akademika UAD. Menurutnya, program ini bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan kesempatan berharga untuk menimba ilmu dan memperluas wawasan.

“Program ini menjadi kesempatan emas bagi kami untuk menyerap berbagai pengetahuan teknologi, mengenal budaya lokal, serta melihat secara langsung bagaimana rekan-rekan mahasiswa di UAD belajar dan berkarya,” ungkap Akmal.

Melalui Student Mobility Program ini, kedua perguruan tinggi berharap hubungan kerja sama antarabangsa dapat terus berlanjut dan memberikan dampak positif bagi pengembangan akademik serta kemahasiswaan. (Septia)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-dan-Universiti-Malaysia-Pahang-jalankan-student-mobility-program-Foto.-Septia.jpg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2026-08-12 10:09:382026-08-12 10:09:38UAD dan Universiti Malaysia Pahang Jalankan Student Mobility Program

Membangun Masa Depan dari Setiap Pengalaman

12/08/2026/in Feature /by Ard

Rifan Dwitya Suratman wisudawan berprestasi Universitas Ahmad Dahlan (UAD) pada wisuda periode IV tahun 2026 (Foto. Rifan)

Bagi sebagian orang, masa kuliah adalah tempat menimba ilmu. Namun, bagi Rifan Dwitya Suratman, masa kuliah juga menjadi ruang untuk membangun pengalaman, menempa karakter, dan menciptakan kisah yang kelak layak dikenang.

Lulusan Program Studi Psikologi Universitas Ahmad Dahlan (UAD) dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,76 ini berhasil dinobatkan sebagai Wisudawan Berprestasi UAD pada Wisuda Periode IV Tahun 2026. Penghargaan tersebut menjadi penutup manis dari perjalanan panjang yang dipenuhi tantangan, kerja keras, dan berbagai pengalaman berharga.

Selama menjadi mahasiswa, Rifan aktif mengikuti berbagai program pengembangan mahasiswa yang berfokus pada riset dan pengabdian kepada masyarakat. Berkat konsistensinya, ia berhasil lolos pendanaan Program Kreativitas Mahasiswa bidang Riset Sosial Humaniora (PKM-RSH), lolos pendanaan Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa), serta mengantarkan timnya meraih Juara II Abdidaya PPK Ormawa, salah satu ajang penghargaan nasional bagi program pengabdian mahasiswa.

Meski prestasi tersebut menjadi pencapaian yang membanggakan, bagi Rifan penghargaan bukanlah tujuan utama. Ia justru memiliki motivasi yang sederhana, tetapi bermakna. “Motivasi terbesar saya adalah menciptakan kenangan yang nantinya bisa saya ceritakan dan membentuk diri saya menjadi pribadi yang lebih baik di masa depan,” tuturnya.

Prinsip tersebut membuatnya tidak sekadar mengejar hasil, tetapi juga menikmati setiap proses yang dijalani. Setiap organisasi, penelitian, maupun kegiatan pengabdian menjadi pengalaman yang memperkaya cara pandangnya terhadap kehidupan.

Di balik berbagai pencapaian itu, Rifan mengakui bahwa tantangan terbesar selama kuliah adalah mengelola waktu. Padatnya aktivitas akademik, organisasi, hingga berbagai program kemahasiswaan menuntutnya untuk mampu menentukan prioritas dengan bijak.

“Terkadang ada beberapa hal yang kurang mendapat perhatian, baik di bidang akademik maupun nonakademik. Karena itu, saya belajar mengatur prioritas agar setiap kegiatan tetap bisa berjalan dengan baik,” jelasnya.

Untuk menjaga konsistensi, Rifan memiliki kebiasaan yang selalu ia terapkan sebelum mengambil sebuah keputusan. Ia akan menentukan skala prioritas sekaligus menganalisis dampak dari setiap kegiatan yang akan dijalani.

“Saya selalu melihat seperti apa hasil akhirnya. Ketika sudah memiliki gambaran tujuan, meskipun masih sederhana, itu menjadi motivasi untuk menyelesaikan prosesnya,” tandasnya.

Baginya, langkah tersebut membuat setiap usaha terasa lebih terarah dan tidak dilakukan secara sia-sia.

Dalam perjalanan meraih prestasi, Rifan menyadari bahwa keberhasilannya tidak mungkin diraih seorang diri. Ia menyampaikan rasa syukur kepada Tuhan, kedua orang tuanya, Agus Suratman dan Yeri Mulyanah, serta teman-teman seperjuangan yang selalu memberikan dukungan selama proses perkuliahan. “Keberhasilan ini adalah hasil dari doa, dukungan, dan perjuangan banyak orang,” tambahnya.

Selepas menyelesaikan pendidikan sarjana, Rifan berharap dapat memperoleh pekerjaan yang sesuai dengan bidang dan harapannya. Baginya, dunia kerja akan menjadi ruang baru untuk terus belajar sekaligus memberikan kontribusi yang lebih luas.

Menurut Rifan, kesuksesan tidak semata-mata diukur dari jabatan atau penghargaan yang dimiliki seseorang. “Kesuksesan yang sesungguhnya adalah ketika kita mampu memberikan dampak positif bagi orang lain,” tandasnya.

Ia berharap seluruh sivitas akademika terus tumbuh menjadi pribadi-pribadi unggul di bidangnya masing-masing dan mampu menunjukkan kualitas lulusan UAD melalui karya serta kontribusi nyata.

Rifan menyadari bahwa pelajaran paling berharga yang diperoleh selama kuliah bukan hanya berasal dari ruang kelas. Ia belajar bahwa kehidupan kampus merupakan fase penting dalam membentuk jati diri seseorang. Karena itu, ia mengajak mahasiswa untuk memanfaatkan masa kuliah sebaik mungkin, tidak hanya dengan belajar secara serius, tetapi juga menikmati setiap proses bersama teman-teman yang memberikan energi positif.

“Masa kuliah sangat berpengaruh terhadap pembentukan jati diri. Jadi, jangan hanya sibuk belajar. Nikmati juga setiap proses, bangun pertemanan yang baik, dan ciptakan kenangan yang kelak akan menjadi bagian berharga dalam hidup.”

Bagi Rifan, prestasi memang menjadi pencapaian yang membanggakan. Namun, lebih dari itu, masa kuliah adalah tentang bagaimana seseorang bertumbuh, membangun karakter, dan meninggalkan jejak yang bermanfaat bagi orang lain. Karena pada akhirnya, kenangan terbaik bukan hanya tentang apa yang berhasil diraih, tetapi juga tentang siapa diri kita setelah melalui seluruh proses tersebut. (Mawar)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Rifan-Dwitya-Suratman-wisudawan-berprestasi-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-pada-wisuda-periode-IV-tahun-2026-Foto.-Rifan.jpg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2026-08-12 10:02:582026-08-12 10:02:58Membangun Masa Depan dari Setiap Pengalaman

Di Balik Prestasi, Ada Proses yang Tak Pernah Berhenti

12/08/2026/in Feature /by Ard

Komisah, wisudawan berprestasi Universitas Ahmad Dahlan (UAD) pada wisuda periode IV tahun 2026 (Foto. Komisah)

Setiap prestasi selalu memiliki cerita. Ada waktu yang dikorbankan, ada kegagalan yang dijadikan pelajaran, dan ada tekad yang terus dijaga agar tidak padam. Bagi Komisah, seluruh proses itulah yang mengantarkannya dinobatkan sebagai Wisudawan Berprestasi Universitas Ahmad Dahlan (UAD) pada Wisuda Periode IV Tahun 2026.

Lulusan Program Studi Kesehatan Masyarakat dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,80 ini mengaku penghargaan tersebut menjadi momen yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. “Saya merasa sangat senang, terharu, dan bangga terhadap diri saya sendiri. Perjalanan selama kuliah tidak selalu mudah. Ada banyak tantangan, pengorbanan, dan proses yang harus saya lalui,” ungkapnya.

Bagi Komisah, predikat Wisudawan Berprestasi bukan sekadar bentuk apresiasi atas pencapaian yang telah diraih, melainkan amanah untuk terus berkembang dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.

Selama menempuh pendidikan di UAD, Komisah aktif mengikuti berbagai kompetisi, organisasi, kepanitiaan, serta kegiatan akademik maupun nonakademik. Konsistensinya mengembangkan diri membawanya meraih berbagai prestasi di tingkat nasional hingga internasional.

Beberapa di antaranya adalah Juara 1 Business Plan Temu Ilmiah Mahasiswa Prestasi Nasional yang sekaligus memperoleh penghargaan Best Presentation dan Gold Medal, Juara 1 Lomba Karya Tulis Ilmiah Gagasan Tertulis Pekan Ilmiah Mahasiswa Kesehatan Masyarakat PTM, Gold Medal pada Temu Ilmiah Mahasiswa Prestasi Nasional kategori Lomba Karya Tulis Ilmiah, Gold Medal pada Virtual Innovation Competition, serta International Invention and Creativity Special Award. Selain itu, Komisah juga berhasil meraih berbagai penghargaan lainnya di bidang karya tulis ilmiah, business plan, esai, inovasi, hingga media kreatif.

Semangat untuk terus berprestasi lahir dari keinginan sederhana, yakni memanfaatkan setiap kesempatan yang diberikan sebaik mungkin. Baginya, prestasi bukan hanya tentang menjadi juara, tetapi tentang proses bertumbuh menjadi pribadi yang lebih baik setiap hari.

Ia juga ingin membanggakan kedua orang tua, almamater, sekaligus menginspirasi mahasiswa lain agar tidak takut mencoba hal-hal baru.

Perjalanan tersebut tentu tidak selalu berjalan mulus. Tantangan terbesar yang harus dihadapi Komisah adalah mengatur skala prioritas di tengah padatnya aktivitas perkuliahan, organisasi, serta berbagai perlombaan yang diikuti secara bersamaan.

“Saya belajar membuat perencanaan yang baik, mengatur waktu secara disiplin, dan memahami mana yang harus diprioritaskan terlebih dahulu. Saya juga sadar bahwa tidak semua kesempatan harus diambil sekaligus,” tambahnya.

Di balik keberhasilannya, Komisah tidak pernah melupakan sosok-sosok yang selalu memberikan dukungan. Ia menyebut kedua orang tuanya, Bapak Ana dan Ibu Imi, sebagai sumber kekuatan terbesar yang senantiasa menghadirkan doa, semangat, dan kepercayaan dalam setiap langkahnya.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada dosen pembimbing yang selalu sabar mendampingi selama proses mengikuti berbagai kompetisi. Tidak hanya itu, teman seperjuangannya, Putri Septiana dan Haqmadi Widya Ihsanto, menjadi rekan diskusi sekaligus partner yang saling menguatkan hingga berbagai prestasi berhasil diraih bersama.

Bagi Komisah, menjaga prestasi tidak membutuhkan cara yang rumit. Ia memilih untuk selalu membuka diri terhadap pengalaman baru dan tidak takut mencoba berbagai kesempatan yang datang. “Saya percaya setiap kesempatan adalah ruang untuk belajar dan berkembang. Kegagalan bukan sesuatu yang harus ditakuti, tetapi menjadi bahan evaluasi agar bisa memberikan hasil yang lebih baik pada kesempatan berikutnya,” tandasnya.

Selepas menyelesaikan studi sarjana, Komisah telah menyiapkan langkah berikutnya. Ia bercita-cita melanjutkan pendidikan Magister melalui program beasiswa LPDP agar dapat meningkatkan kompetensi sekaligus memperluas kontribusinya bagi masyarakat.

Baginya, makna kesuksesan tidak pernah diukur dari banyaknya piala atau penghargaan yang dimiliki.“Kesuksesan adalah ketika kita mampu memberikan manfaat bagi orang lain. Prestasi hanyalah hasil dari sebuah proses, sedangkan kesuksesan yang sesungguhnya adalah ketika kita terus berkembang, tetap rendah hati, dan menggunakan ilmu yang dimiliki untuk memberikan dampak positif,” jelasnya.

Komisah berharap Universitas Ahmad Dahlan terus menjadi kampus yang melahirkan lulusan unggul, berprestasi, dan berkarakter, sekaligus membuka lebih banyak ruang bagi mahasiswa untuk mengembangkan potensinya.

Sebab pada akhirnya, setiap prestasi bukanlah garis akhir dari sebuah perjalanan. Prestasi adalah pengingat bahwa seseorang selalu memiliki ruang untuk belajar, bertumbuh, dan memberikan manfaat yang lebih besar bagi sesama. (Mawar)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Komisah-wisudawan-berprestasi-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-pada-wisuda-periode-IV-tahun-2026-Foto.-Komisah.jpg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2026-08-12 09:56:202026-08-12 09:56:20Di Balik Prestasi, Ada Proses yang Tak Pernah Berhenti

Mahasiswa Farmasi UAD Perluas Wawasan Global melalui Summer Program di Taiwan

12/08/2026/in Terkini /by Ard

Muhammad Ihsan mahasiswa Universitas Ahmad Dahlan (UAD) mengikuti program akademik internasional 2026 di NYCU Taiwan (Foto. Ihsan)

Mahasiswa Fakultas Farmasi Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Muhammad Ihsan, berhasil menyelesaikan program akademik internasional 2026 Summer Program I & II: Traditional Chinese Medicine (TCM) di National Yang Ming Chiao Tung University (NYCU), Taiwan. Program tersebut diselenggarakan oleh School of Chinese Medicine dan Institute of Traditional Medicine, NYCU, pada 29 Juni-10 Juli 2026.

Program yang berlangsung selama dua pekan tersebut mempertemukan mahasiswa dari berbagai negara untuk mempelajari pengobatan tradisional Tiongkok sekaligus memahami keterkaitannya dengan perkembangan sains biomedis modern berbasis bukti (evidence-based medicine) dan teknologi kecerdasan buatan.

Selama mengikuti program, Muhammad Ihsan memperoleh pengalaman akademik yang memadukan keilmuan farmasi bahan alam dengan pendekatan sains biomedis modern.

Ihsan menjelaskan, “Materi yang dipelajari mencakup teori dasar TCM, sistem dua belas meridian, akupunktur, moksibusi, obat herbal, diagnosis nadi, hingga terapi tradisional seperti bekam dan Tuina,” jelasnya.

Tidak hanya mengikuti pembelajaran di ruang kelas, peserta juga mendapatkan kesempatan untuk mengunjungi sejumlah institusi dan fasilitas yang berkaitan dengan pengembangan pengobatan tradisional. Salah satunya adalah National Research Institute of Chinese Medicine (NRICM), yang memberikan wawasan mengenai penelitian obat tradisional dan bahan alam. Peserta juga mengunjungi Keda Pharmaceutical Co. di Taoyuan untuk melihat secara langsung proses pengembangan dan manufaktur produk farmasi.

Ihsan menambahkan,”Pengalaman lainnya diperoleh melalui kunjungan ke Departemen Pengobatan Tradisional Taipei Veterans General Hospital. Dalam kunjungan tersebut, peserta mengamati penerapan pengobatan tradisional dalam pelayanan kesehatan serta integrasinya dengan pengobatan konvensional di lingkungan rumah sakit,” tandasnya.

Pada pekan pertama, kegiatan diawali dengan Opening Ceremony dan perkuliahan mengenai History and Classics of TCM oleh Prof. Yi-Tsau Huang. Peserta kemudian mempelajari Tai Chi Quan berbasis bukti, teori meridian, serta praktik dasar akupunktur. Pembelajaran dilanjutkan dengan materi mengenai karakteristik obat herbal berdasarkan Four Qi, Five Flavors, dan Twelve Meridians.

Peserta juga mempelajari teori Body Constitution dan praktik Pulse Diagnosis, serta mengikuti praktik terapi bekam dan identifikasi obat herbal. Pekan pertama ditutup dengan presentasi kelompok tahap awal dan Farewell Lunch.

Memasuki pekan kedua, pembelajaran semakin diarahkan pada penerapan dan eksplorasi ilmiah. Peserta mempelajari bukti ilmiah akupunktur, melakukan pengamatan klinis dan praktik akupunktur, serta mengikuti latihan Qigong Baduanjin. Selain itu, peserta mempelajari teknik terapi manual Tuina, diagnosis ilmiah dalam TCM, serta penerapan nutrisi dan pola makan dalam pengobatan tradisional.

Pada sesi berikutnya, peserta mendalami konsep Integrative Medicine: East-West Research, penelitian dan pengembangan polisakarida herbal, serta riset formulasi herbal NRICM-101 untuk COVID-19. Seluruh rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan Final Group Presentation, penyerahan sertifikat, dan Closing Ceremony pada 10 Juli 2026.

Keikutsertaan Muhammad Ihsan dalam program tersebut menjadi pengalaman penting dalam memperluas wawasan akademik dan jejaring internasional. Melalui pembelajaran lintas disiplin dan interaksi dengan peserta dari berbagai negara, ia memperoleh pemahaman yang lebih luas mengenai pengembangan obat berbahan alam serta penerapan pengobatan tradisional yang didukung oleh bukti ilmiah.

Pengalaman tersebut diharapkan dapat menjadi bekal bagi mahasiswa Farmasi UAD untuk terus mengembangkan pengetahuan dan kompetensi di bidang kefarmasian, khususnya dalam riset bahan alam dan pengembangan obat tradisional berbasis bukti. Selain memperkaya pengalaman akademik, program ini juga membuka wawasan mengenai pentingnya integrasi antara kearifan pengobatan tradisional dan perkembangan sains modern dalam menjawab kebutuhan kesehatan di masa mendatang. (Mawar)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Muhammad-Ihsan-mahasiswa-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-mengikuti-program-akademik-internasional-2026-di-NYCU-Taiwan-Foto.-Ihsan.jpg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2026-08-12 08:53:272026-08-12 08:53:27Mahasiswa Farmasi UAD Perluas Wawasan Global melalui Summer Program di Taiwan

Tak Sekadar Merantau, Diah Ayu Praharani Menorehkan Prestasi di UAD

12/08/2026/in Feature /by Ard

Diah Ayu Praharani, wisudawan terbaik FKIP Universitas Ahmad Dahlan (UAD) pada wisuda periode IV tahun 2026 (Foto. Diah)

Perjalanan meraih prestasi sering kali tidak dimulai dari rasa percaya diri, melainkan dari keberanian menghadapi keraguan. Itulah yang dialami Diah Ayu Praharani, lulusan Program Studi Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini (PG PAUD) Universitas Ahmad Dahlan (UAD), yang berhasil dinobatkan sebagai Wisudawan Terbaik Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) pada Wisuda Periode IV Tahun 2026.

Di balik Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,99 yang berhasil diraihnya, tersimpan kisah seorang mahasiswa perantau dari Sulawesi yang pernah mempertanyakan kemampuannya sendiri ketika pertama kali menginjakkan kaki di Yogyakarta.

“Jujur, awalnya saya tidak percaya. Apalagi mengingat saya berasal dari Sulawesi. Di awal kuliah saya sempat merasa insecure. Saya bertanya-tanya, mampu tidak ya bersaing dengan teman-teman yang berasal dari kota dan memiliki akses pendidikan yang lebih maju?” kenangnya.

Keraguan itu perlahan berubah menjadi keyakinan. Bukan karena jalan yang dilalui selalu mudah, melainkan karena ia memilih terus bertahan dan belajar di setiap kesempatan. Saat namanya diumumkan sebagai Wisudawan Terbaik FKIP, Diah mengaku masih sulit mempercayainya.

Selama menjadi mahasiswa, Diah aktif mengikuti berbagai kompetisi, khususnya di bidang kepenulisan. Ia berpartisipasi dalam lomba karya tulis ilmiah, penulisan artikel, pembuatan media pembelajaran, desain poster, hingga Program Kreativitas Mahasiswa (PKM). Baginya, setiap penghargaan memiliki cerita yang berbeda dan sama berharganya.

“Semua prestasi berkesan karena selalu ada perjuangan di baliknya. Terutama kompetisi yang dikerjakan secara tim, seperti karya tulis ilmiah, pembuatan media pembelajaran, dan PKM. Di sana saya belajar bekerja sama, saling mendukung, dan menyelesaikan tantangan bersama,” tuturnya.

Bagi Diah, motivasi terbesar untuk terus berprestasi bukanlah sekadar mengejar penghargaan. Ia ingin membalas kepercayaan yang telah diberikan oleh banyak orang yang mendukung perjalanan pendidikannya.

“Saya ingin berterima kasih kepada orang tua yang sudah menaruh harapan, kepada orang-orang yang membantu saya bisa sampai ke Yogyakarta, juga kepada UAD dan pemerintah yang telah memberikan kesempatan untuk berkuliah melalui program KIP-Kuliah. Prestasi yang saya raih adalah bentuk penghargaan atas usaha dan kepercayaan mereka,” ucapnya.

Namun, tantangan terbesar yang ia hadapi justru datang dari dalam dirinya sendiri. Diah mengaku termasuk pribadi yang sering berpikir berlebihan dan kerap membandingkan pencapaiannya dengan orang lain. Melihat keberhasilan teman-temannya terkadang membuatnya bertanya mengapa ia belum mampu mencapai hal yang sama.

Alih-alih larut dalam perasaan tersebut, ia memilih melakukan refleksi diri. “Saya lebih sering bermuhasabah. Saya belajar bahwa setiap orang memiliki proses yang berbeda. Apa yang terlihat sebagai keberhasilan hari ini mungkin lahir dari perjuangan panjang yang tidak pernah kita lihat,” tuturnya.

Cara pandang itulah yang membuatnya perlahan mampu menghargai prosesnya sendiri tanpa terus membandingkan langkah dengan orang lain.

Dalam perjalanan akademiknya, Diah juga tidak pernah berjalan sendirian. Ia menyebut kedua orang tuanya, Kodirun dan Suparti, sebagai sosok yang selalu memberikan doa, semangat, dan dukungan tanpa henti. Selain keluarga, ia juga mengapresiasi dosen pembimbing akademik yang selalu membuka ruang diskusi, bahkan di tengah kesibukan.

“Beliau selalu mendukung saya, baik untuk menyelesaikan tugas akhir berupa publikasi di jurnal SINTA 2 maupun ketika mempersiapkan berbagai perlombaan. Saya bisa berkonsultasi pagi, siang, bahkan malam. Dukungan dari dosen-dosen PG PAUD dan UAD juga menjadi bagian penting dalam perjalanan saya,” jelasnya.

Untuk menjaga prestasi akademik, Diah berusaha menyukai setiap mata kuliah dan menghargai setiap dosen yang mengajar. Menurutnya, rasa suka akan mempermudah proses belajar dan memahami materi.

Ia juga aktif berdiskusi dengan teman-teman serta mengikuti berbagai perkembangan terbaru mengenai dunia anak usia dini. Sementara dalam bidang nonakademik, ia terus mengasah kemampuan menulis dan tidak ragu meminta masukan dari dosen sebelum mengirimkan karya ke berbagai kompetisi. Baginya, kritik dan saran adalah bagian dari proses untuk menghasilkan karya yang lebih baik.

Selepas lulus, Diah telah menyiapkan langkah berikutnya. Ia berencana kembali ke kampung halamannya di Sulawesi untuk mengabdi sebagai pendidik di salah satu taman kanak-kanak di Kabupaten Banggai.

Dengan bekal ilmu yang diperoleh selama menempuh pendidikan di UAD, ia berharap dapat memberikan kontribusi nyata bagi perkembangan pendidikan anak usia dini di daerah asalnya. “Harapan saya sederhana, semoga ilmu yang saya pelajari bisa bermanfaat untuk memajukan pendidikan anak usia dini di Sulawesi,” tambahnya.

Bagi Diah, makna kesuksesan bukan hanya tentang pencapaian pribadi. Kesuksesan adalah ketika orang-orang yang dicintai ikut merasakan kebahagiaan dan manfaat dari setiap usaha yang dilakukan.

Ia pun berharap UAD terus menghadirkan lebih banyak ruang bagi mahasiswa untuk mengembangkan potensi diri melalui berbagai kegiatan dan kompetisi.

Di akhir perjalanannya sebagai mahasiswa, Diah menyadari bahwa pelajaran paling berharga yang ia peroleh bukan hanya ilmu di ruang kuliah, tetapi juga tentang rasa syukur dan penghargaan terhadap setiap proses kehidupan.

Ia percaya tidak ada usaha yang benar-benar sia-sia. Setiap tantangan, hambatan, dan kegagalan selalu membawa pelajaran yang pada akhirnya membentuk seseorang menjadi pribadi yang lebih kuat dan tangguh. (Mawar)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Diah-Ayu-Praharani-wisudawan-terbaik-FKIP-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-pada-wisuda-periode-IV-tahun-2026-Foto.-Diah.jpg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2026-08-12 08:45:592026-08-12 08:45:59Tak Sekadar Merantau, Diah Ayu Praharani Menorehkan Prestasi di UAD

Tim PKM RE UAD Buat Nanogel dari Ikan Gabus dan Aloe vera untuk Luka Bakar

12/08/2026/in MBKM, Terkini /by Ard

Tim PKM RE Universitas Ahmad Dahlan (UAD) buat nanogel ikan gabus dan Aloe vera untuk luka bakar (Foto. Tim PKM RE UAD)

Luka bakar tidak hanya menimbulkan kerusakan pada permukaan kulit, tetapi juga dapat menjadi tantangan panjang dalam proses pemulihan jaringan. Kerusakan kulit akibat luka bakar dapat meningkatkan risiko infeksi hingga memicu terbentuknya jaringan parut yang berdampak pada kualitas hidup penderitanya. Proses regenerasi jaringan yang membutuhkan waktu inilah yang mendorong perlunya inovasi untuk mendukung penyembuhan luka bakar secara optimal.

Menjawab tantangan tersebut, Tim Program Kreativitas Mahasiswa Riset Eksakta (PKM RE) REGENOCA Universitas Ahmad Dahlan (UAD) menghadirkan inovasi berbasis bahan alam melalui pengembangan nanogel untuk obat luka bakar dengan penelitian berjudul “Inovasi Nanogel Kombinasi Albumin Channa striata dengan Ekstrak Aloe vera untuk Menstimulasi Regenerasi Sel Dermal Kasus Luka Bakar Secara In Vivo.” Penelitian ini menjadi upaya tim dalam memadukan potensi sumber daya hayati Indonesia dengan teknologi sediaan farmasi.

Inovasi ini memanfaatkan albumin dari ikan gabus (Channa striata) dan ekstrak lidah buaya (Aloe vera) yang dikembangkan dalam bentuk nanogel. Kombinasi tersebut ditujukan untuk mengevaluasi potensinya dalam menstimulasi regenerasi sel dermal pada kasus luka bakar melalui pengujian in vivo. Pendekatan ini diharapkan dapat membuka peluang pemanfaatan bahan alam dalam pengembangan inovasi untuk mendukung proses regenerasi jaringan kulit.

Pengembangan nanogel menjadi salah satu bagian penting dari inovasi yang dilakukan Tim REGENOCA. Teknologi tersebut menjadi pendekatan dalam mengemas kombinasi bahan alam ke dalam suatu sediaan farmasi modern. Dengan demikian, penelitian ini mempertemukan dua potensi, yaitu kekayaan hayati Indonesia dan perkembangan teknologi farmasi.

Penelitian ini dilaksanakan pada Mei hingga Agustus 2026. Tim terdiri atas Yurika Shifa Tuzzahra sebagai ketua, bersama Nurmala Ayu Azzahra, Shasqik Alfida Danin Djati Wicaksana, dan Berliana Putri Rahmadani dari Fakultas Farmasi, serta Nanda Putri Kinasih dari Program Studi Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi Terapan. Penelitian ini berada di bawah bimbingan Haris Setiawan, S.Pd., M.Sc., dosen Program Studi Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi Terapan UAD.

Melalui kolaborasi lintas disiplin tersebut, Tim REGENOCA berupaya menghadirkan inovasi yang tidak hanya mengangkat potensi bahan alam Indonesia, tetapi juga mengembangkannya melalui pendekatan teknologi modern. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi langkah awal dalam pengembangan inovasi farmasi berbasis bahan alam yang mendukung penelitian lebih lanjut mengenai regenerasi jaringan pada kasus luka bakar. (Mei)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Tim-PKM-RE-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-buat-nanogel-ikan-gabus-dan-Aloe-vera-untuk-luka-bakar-Foto.-Tim-PKM-RE-UAD.jpg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2026-08-12 08:32:582026-08-12 08:33:17Tim PKM RE UAD Buat Nanogel dari Ikan Gabus dan Aloe vera untuk Luka Bakar

Prodi Informatika UAD Selenggarakan Gelar Karya MPTI 2026

11/08/2026/in Terkini /by Ard

Gelar Karya MPTI Program Studi Informatika Fakultas Teknologi Industri Universitas Ahmad Dahlan (UAD) (Foto. Septi)

Program Studi Informatika Fakultas Teknologi Industri Universitas Ahmad Dahlan (FTI UAD) menyelenggarakan Gelar Karya dan Pameran Mata Kuliah Proyek Teknologi Informatika (MPTI) 2026 pada Senin, 20 Juli 2026 di Hall Gedung Utama Kampus 4 UAD. Acara ini menampilkan inovasi nyata karya mahasiswa, pameran skripsi, mini workshop, dan lomba game.

Kegiatan yang berlangsung di Jl. Ringroad Selatan, Bantul, DIY ini menghadirkan beragam rangkaian acara menarik. Di antaranya adalah pameran hasil proyek teknologi informatika (MPTI) oleh mahasiswa, pameran tugas akhir atau skripsi mahasiswa Informatika, mini workshop, serta kompetisi e-sport Lomba PES E-Football 2026.

Gelar karya ini merupakan puncak dari mata kuliah MPTI, sebuah mata kuliah wajib yang dirancang untuk membekali mahasiswa dengan pengalaman praktis dalam mengelola proyek teknologi. Dalam pengerjaannya, mahasiswa dituntut untuk menyelesaikan proyek nyata yang diutamakan berasal dari mitra atau klien perusahaan.

Bambang Robi’in, S.T., M.T., selaku koordinator mata kuliah MPTI, menjelaskan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk menjembatani teori yang dipelajari di kelas dengan kebutuhan industri yang sesungguhnya.

“Kegiatan ini adalah bentuk nyata dari komitmen kami dalam menyiapkan lulusan yang siap kerja. Mahasiswa tidak hanya belajar teknis pemrograman, tetapi juga belajar bagaimana mengelola proyek, berkomunikasi dengan klien, dan memberikan solusi teknologi yang aplikatif bagi mitra perusahaan,” ujarnya.(Septia)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Gelar-Karya-MPTI-Program-Studi-Informatika-Fakultas-Teknologi-Industri-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-Foto.-Septi.jpg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2026-08-11 10:42:152026-08-11 10:42:15Prodi Informatika UAD Selenggarakan Gelar Karya MPTI 2026
Page 5 of 544«‹34567›»

TERKINI

  • Perluas Jangkauan Pitutur Waras, PPKO IMM FKM UAD Sasar Empat Padukuhan di Caturharjo31/08/2026
  • Robotic UAD Meriahkan Kegiatan HUT RI di Dengan Platform Streaming31/08/2026
  • KKN ADI UAD Mengabdi di Muna Barat, Sulawesi Tenggara31/08/2026
  • Rektor UAD: Penting Menjaga Keikhlasan dan Keseimbangan Hidup31/08/2026
  • LazisMu UAD Salurkan Beasiswa Sang Surya bagi Mahasiswa Berprestasi31/08/2026

PRESTASI

  • Buat Inovasi Pendidikan dan Literasi, Mahasiswa UAD Raih Tiga Prestasi Nasional20/08/2026
  • Mahasiswa UAD Raih Gold dan Silver Medal pada Essay National Competition 202619/08/2026
  • Mahasiswa UAD Raih Juara II Lomba Poster Edukatif Kesehatan Mental18/08/2026
  • Mahasiswa UAD Raih Juara I Lomba Baca Puisi Dahlan Culture Festival 202608/08/2026
  • Mahasiswa UAD Raih Juara 3 Cakrawala National Essay Competition31/07/2026

FEATURE

  • Resep Istikamah Ibadah dan Menjaga Kesehatan Kerja28/08/2026
  • Bukan Sekadar Juara, Muhammad Ziya Ul Albab Ingin Ilmunya Memberi Manfaat27/08/2026
  • Dhita Pratama Beberkan Pentingnya Marketing Communication untuk Perkuat Karier20/08/2026
  • Hafiz Ahmad Rumalutur, Wisudawan FH UAD Dengan Segudang Prestasi Nasional19/08/2026
  • Di Balik Deretan Prestasi, Ada Perjalanan yang Tidak Sederhana19/08/2026

TENTANG | KRU | KONTAK | REKAPITULASI

Scroll to top