Tak Sekadar Merantau, Diah Ayu Praharani Menorehkan Prestasi di UAD

Diah Ayu Praharani, wisudawan terbaik FKIP Universitas Ahmad Dahlan (UAD) pada wisuda periode IV tahun 2026 (Foto. Diah)
Perjalanan meraih prestasi sering kali tidak dimulai dari rasa percaya diri, melainkan dari keberanian menghadapi keraguan. Itulah yang dialami Diah Ayu Praharani, lulusan Program Studi Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini (PG PAUD) Universitas Ahmad Dahlan (UAD), yang berhasil dinobatkan sebagai Wisudawan Terbaik Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) pada Wisuda Periode IV Tahun 2026.
Di balik Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,99 yang berhasil diraihnya, tersimpan kisah seorang mahasiswa perantau dari Sulawesi yang pernah mempertanyakan kemampuannya sendiri ketika pertama kali menginjakkan kaki di Yogyakarta.
“Jujur, awalnya saya tidak percaya. Apalagi mengingat saya berasal dari Sulawesi. Di awal kuliah saya sempat merasa insecure. Saya bertanya-tanya, mampu tidak ya bersaing dengan teman-teman yang berasal dari kota dan memiliki akses pendidikan yang lebih maju?” kenangnya.
Keraguan itu perlahan berubah menjadi keyakinan. Bukan karena jalan yang dilalui selalu mudah, melainkan karena ia memilih terus bertahan dan belajar di setiap kesempatan. Saat namanya diumumkan sebagai Wisudawan Terbaik FKIP, Diah mengaku masih sulit mempercayainya.
Selama menjadi mahasiswa, Diah aktif mengikuti berbagai kompetisi, khususnya di bidang kepenulisan. Ia berpartisipasi dalam lomba karya tulis ilmiah, penulisan artikel, pembuatan media pembelajaran, desain poster, hingga Program Kreativitas Mahasiswa (PKM). Baginya, setiap penghargaan memiliki cerita yang berbeda dan sama berharganya.
“Semua prestasi berkesan karena selalu ada perjuangan di baliknya. Terutama kompetisi yang dikerjakan secara tim, seperti karya tulis ilmiah, pembuatan media pembelajaran, dan PKM. Di sana saya belajar bekerja sama, saling mendukung, dan menyelesaikan tantangan bersama,” tuturnya.
Bagi Diah, motivasi terbesar untuk terus berprestasi bukanlah sekadar mengejar penghargaan. Ia ingin membalas kepercayaan yang telah diberikan oleh banyak orang yang mendukung perjalanan pendidikannya.
“Saya ingin berterima kasih kepada orang tua yang sudah menaruh harapan, kepada orang-orang yang membantu saya bisa sampai ke Yogyakarta, juga kepada UAD dan pemerintah yang telah memberikan kesempatan untuk berkuliah melalui program KIP-Kuliah. Prestasi yang saya raih adalah bentuk penghargaan atas usaha dan kepercayaan mereka,” ucapnya.
Namun, tantangan terbesar yang ia hadapi justru datang dari dalam dirinya sendiri. Diah mengaku termasuk pribadi yang sering berpikir berlebihan dan kerap membandingkan pencapaiannya dengan orang lain. Melihat keberhasilan teman-temannya terkadang membuatnya bertanya mengapa ia belum mampu mencapai hal yang sama.
Alih-alih larut dalam perasaan tersebut, ia memilih melakukan refleksi diri. “Saya lebih sering bermuhasabah. Saya belajar bahwa setiap orang memiliki proses yang berbeda. Apa yang terlihat sebagai keberhasilan hari ini mungkin lahir dari perjuangan panjang yang tidak pernah kita lihat,” tuturnya.
Cara pandang itulah yang membuatnya perlahan mampu menghargai prosesnya sendiri tanpa terus membandingkan langkah dengan orang lain.
Dalam perjalanan akademiknya, Diah juga tidak pernah berjalan sendirian. Ia menyebut kedua orang tuanya, Kodirun dan Suparti, sebagai sosok yang selalu memberikan doa, semangat, dan dukungan tanpa henti. Selain keluarga, ia juga mengapresiasi dosen pembimbing akademik yang selalu membuka ruang diskusi, bahkan di tengah kesibukan.
“Beliau selalu mendukung saya, baik untuk menyelesaikan tugas akhir berupa publikasi di jurnal SINTA 2 maupun ketika mempersiapkan berbagai perlombaan. Saya bisa berkonsultasi pagi, siang, bahkan malam. Dukungan dari dosen-dosen PG PAUD dan UAD juga menjadi bagian penting dalam perjalanan saya,” jelasnya.
Untuk menjaga prestasi akademik, Diah berusaha menyukai setiap mata kuliah dan menghargai setiap dosen yang mengajar. Menurutnya, rasa suka akan mempermudah proses belajar dan memahami materi.
Ia juga aktif berdiskusi dengan teman-teman serta mengikuti berbagai perkembangan terbaru mengenai dunia anak usia dini. Sementara dalam bidang nonakademik, ia terus mengasah kemampuan menulis dan tidak ragu meminta masukan dari dosen sebelum mengirimkan karya ke berbagai kompetisi. Baginya, kritik dan saran adalah bagian dari proses untuk menghasilkan karya yang lebih baik.
Selepas lulus, Diah telah menyiapkan langkah berikutnya. Ia berencana kembali ke kampung halamannya di Sulawesi untuk mengabdi sebagai pendidik di salah satu taman kanak-kanak di Kabupaten Banggai.
Dengan bekal ilmu yang diperoleh selama menempuh pendidikan di UAD, ia berharap dapat memberikan kontribusi nyata bagi perkembangan pendidikan anak usia dini di daerah asalnya. “Harapan saya sederhana, semoga ilmu yang saya pelajari bisa bermanfaat untuk memajukan pendidikan anak usia dini di Sulawesi,” tambahnya.
Bagi Diah, makna kesuksesan bukan hanya tentang pencapaian pribadi. Kesuksesan adalah ketika orang-orang yang dicintai ikut merasakan kebahagiaan dan manfaat dari setiap usaha yang dilakukan.
Ia pun berharap UAD terus menghadirkan lebih banyak ruang bagi mahasiswa untuk mengembangkan potensi diri melalui berbagai kegiatan dan kompetisi.
Di akhir perjalanannya sebagai mahasiswa, Diah menyadari bahwa pelajaran paling berharga yang ia peroleh bukan hanya ilmu di ruang kuliah, tetapi juga tentang rasa syukur dan penghargaan terhadap setiap proses kehidupan.
Ia percaya tidak ada usaha yang benar-benar sia-sia. Setiap tantangan, hambatan, dan kegagalan selalu membawa pelajaran yang pada akhirnya membentuk seseorang menjadi pribadi yang lebih kuat dan tangguh. (Mawar)
