Wujudkan Kampus Ekologis, Komitmen Nyata UAD Menjaga Alam

Prof. Dr. Ir. Zahrul Mufrodi, S.T., M.T., IPM., ASEAN Eng., narasumber Pengajian Ramadan PWM DIY di Universitas Ahmad Dahlan (UAD) (Foto. Humas UAD)
Krisis lingkungan yang kian nyata mendorong Perguruan Tinggi Muhammadiyah untuk mengambil peran aktif sebagai pusat keunggulan (center of excellence) dalam memberikan solusi ekologis. Hal ini ditegaskan oleh Kepala Biro Sarana dan Prasarana Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Prof. Dr. Ir. Zahrul Mufrodi, S.T., M.T., IPM., ASEAN Eng., saat menjadi narasumber pada rangkaian Pengajian Ramadan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) pada Ahad, 1 Maret 2026 di Amphitarium Kampus IV Universitas Ahmad Dahlan (UAD).
Dalam materi bertajuk “Etika Islam & Edu-Ekologi dalam Menjaga Keseimbangan Alam”, Prof. Zahrul menjabarkan lima prinsip utama etika Islam terkait lingkungan. Prinsip tersebut meliputi kewajiban melindungi alam, menghargai alam sebagai subjek, tanggung jawab moral, solidaritas antarmakhluk, hingga penerapan gaya hidup sederhana. Terlebih, DIY saat ini menghadapi masalah pengelolaan sampah yang serius, di mana penyumbang 38% dari total sampah plastik di wilayah ini adalah dari kalangan mahasiswa. Oleh karena itu, ia menekankan bahwa kampus tidak boleh menjadi bagian dari masalah lingkungan tersebut.
Sebagai wujud komitmen nyata, UAD telah membangun sistem pengelolaan lingkungan terpadu yang membuahkan hasil positif. Tercatat, angka residu sampah kampus berhasil ditekan secara drastis dari 72% (98.786 kg) pada tahun 2024 menjadi 29% (52.066 kg) pada 2025. Sampah organik diolah menjadi kompos bermerek “PupukMu 100% Produk Kompos Organik”, sementara sampah plastik residu dikonversi menjadi bahan bakar minyak (bio-oil) menggunakan teknologi pirolisis. Di sektor pengelolaan air, UAD mengoptimalkan pemanenan air hujan (rainwater harvesting) berkapasitas 2.500 meter kubik di Kampus IV, serta mengolah air limbah melalui Sewage Treatment Plant (STP) untuk kebutuhan penyiraman tanaman dan flushing toilet.
Komitmen ekologis UAD juga menyentuh aspek efisiensi energi dan desain arsitektur. Kampus menargetkan penghematan listrik hingga 15% melalui penerapan lima hari kerja, penggunaan AC Inverter, transisi ke lampu LED, hingga pemanfaatan panel surya sebagai energi terbarukan. Secara fisik, gedung-gedung UAD dirancang dengan struktur sirip eksterior untuk mengoptimalkan sirkulasi udara dan cahaya alami agar ruangan tidak pengap tanpa harus bergantung penuh pada pendingin ruangan. Lingkungan belajar pun dibuat asri melalui kehadiran hutan kampus, vertical garden, serta program konservasi tanaman langka.
Berbagai infrastruktur tersebut didukung dengan penguatan budaya peduli lingkungan, seperti larangan penggunaan plastik sekali pakai, kewajiban membawa botol minum (tumbler), hingga edukasi terpadu yang menjadikan UAD sebagai rujukan pembelajaran lingkungan bagi berbagai instansi di Bantul.
Menutup pemaparannya, Prof. Zahrul menegaskan bahwa menjaga lingkungan adalah bagian integral dari dakwah peradaban Muhammadiyah. Etika Islam tidak boleh berhenti pada ibadah ritual semata, melainkan harus terwujud dalam cara mengelola sumber daya, yang pada akhirnya melahirkan kesadaran ekologis berbasis iman. (Ito)
