Transformasi Diri Menuju Insan yang Bertakwa

Khutbah Jumat Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD) oleh Dr. M. Ikhwan Ahada, M.A. (Foto. Lusi)
Dalam khutbah Jumat 6 Maret 2025 di Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Dr. M. Ikhwan Ahada, M.A. selaku Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) DIY, menyampaikan pentingnya menjadikan Ramadan sebagai momentum transformasi diri menuju insan yang bertakwa.
Ia mengawali khutbah dengan mengimbau para jamaah untuk senantiasa memperbarui ketakwaan kepada Allah Swt. Mengutip kitab Minhaju Sawi, ia menyampaikan bahwa takwa sebagaimana yang dijelaskan oleh Ali bin Abi Thalib ra. memiliki beberapa komponen utama. Pertama, menanamkan rasa takut kepada Allah Swt. Kedua, selalu beramal sesuai petunjuk Allah dan Rasul-Nya dalam Al-Qur’an dan sunnah. Ketiga, menjauhi larangan-larangan Allah dan Rasul-Nya. Keempat, memiliki visi hidup yang tidak hanya terfokus pada dunia yang fana, tetapi juga kehidupan akhirat. Kelima, rida terhadap segala ketetapan Allah Swt.
Dalam Bustanul Waidzin disebutkan bahwa Ramadan dinamakan sebagai bulan yang membakar kesalahan dan dosa, sehingga umat Islam dianjurkan untuk banyak memohon ampunan. Ramadan juga dikenal dengan berbagai sebutan, antara lain syahru siyam, karena di dalamnya diwajibkan berpuasa; syahru qiyam, karena malam-malamnya dihidupkan dengan salat tarawih; syahru tarbiyah, karena mengajarkan disiplin, empati, dan kejujuran; syahru juud, karena umat Islam menyambut dan menjalani Ramadan dengan penuh kesungguhan; syahru maghfirah, sebagai bulan penuh ampunan; syahru sadaqah, karena menjadi momen terbaik untuk bersedekah. Selain itu juga syahru barakah, karena dipenuhi keberkahan; syahru qur’an, karena di bulan ini Al-Qur’an diturunkan. Berbagai keutamaan tersebut menjadikan Ramadan sebagai sayyidus syuhur atau tuannya bulan-bulan lainnya.
Selain dimensi spiritual, puasa juga memberikan manfaat kesehatan. Ilmuwan Jepang meneliti bahwa proses detoksifikasi dalam tubuh terjadi secara alami saat seseorang berpuasa. Enam jam setelah sahur, energi dari makanan mulai habis, dan tubuh mulai melakukan autophagy, yaitu proses mendaur ulang sel-sel yang rusak menjadi energi baru. Lima jam berikutnya, hasil dari proses ini didistribusikan ke sel-sel yang membutuhkan, sehingga tubuh menjadi lebih sehat.
Allah Swt. menegaskan dalam Surah Al-Anfal ayat 29 bahwa puasa dapat menjadi sarana transformasi diri menuju ketakwaan. Ibnu Katsir menjelaskan bahwa orang yang bertakwa akan diberi kemampuan distingtif oleh Allah Swt., yaitu memiliki bashirah (cahaya dalam hati) untuk membedakan antara yang bermanfaat dan sia-sia; menyadari potensi diri dan mengarahkannya ke jalan kebaikan; merencanakan perubahan diri agar kehidupan di masa mendatang lebih baik; dan mampu memproyeksikan masa depan dengan persiapan yang matang di masa kini.
Sebagai penutup, Dr. M. Ikhwan Ahada mengajak jamaah untuk menjadikan Ramadan sebagai kesempatan memperbaiki diri dan meningkatkan kualitas keimanan agar menjadi insan yang bertakwa. “Mudah-mudahan puasa tahun ini Allah antarkan kita semua menjadi orang-orang mutakin,” tutupnya. (Lus)