Antara Iman dan Cinta: Belajar Adab Berdakwah dari Kisah Nabi Ibrahim

Ustaz Yusuf Hanafiah, S.Pd.I., M.Pd. penceramah kajian Ahad Pagi di Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD) (Foto. Ito)
Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD) kembali menggelar Kajian Rutin Ahad Pagi pada 17 Mei 2026. Kajian kali ini menghadirkan Ustaz Yusuf Hanafiah, S.Pd.I., M.Pd., anggota Majelis Tabligh Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) DIY sekaligus Dosen Pendidikan Agama Islam UAD, yang mengusung tema “Antara Iman & Cinta: Hikmah Kisah Nabi Ibrahim a.s. dan Ayahnya”. Dalam tausiahnya, Ustaz Yusuf mengajak jemaah untuk menggali pelajaran berharga dari interaksi dakwah Nabi Ibrahim kepada ayahandanya, Azar, yang merupakan seorang pembuat sekaligus penyembah berhala.
Ustaz Yusuf memaparkan bahwa Nabi Ibrahim hidup di tengah tantangan dakwah yang sangat berat karena paganisme atau penyembahan berhala telah menjadi tradisi turun-temurun di masyarakat saat itu. Meski menghadapi kaum dan ayahnya sendiri yang menyekutukan Allah Swt., Nabi Ibrahim tetap menunjukkan keberanian untuk menyampaikan kebenaran ajaran tauhid. Keberanian tersebut selalu diiringi dengan sikap lemah lembut dan adab yang tinggi, tecermin dari panggilan “Ya Abati” yang diulanginya di dalam Al-Qur’an. Panggilan ini merupakan bentuk penghormatan dengan sehormat-hormatnya serta wujud cinta yang mendalam kepada sang ayah, meskipun mereka berbeda keyakinan.
Selain mengedepankan adab, metode dakwah Nabi Ibrahim juga sarat akan pendekatan rasionalitas dan pemikiran kritis. Ustaz Yusuf mengisahkan kecerdasan logis Nabi Ibrahim saat menghancurkan patung-patung kecil dan mengalungkan kapak pada patung terbesar guna menyadarkan kaumnya bahwa berhala tidak memiliki kekuatan apa pun untuk membela diri. Hal ini memberikan penekanan bahwa iman dan dakwah harus dilandasi oleh ilmu dan rasionalitas yang kuat, bukan sekadar asal bunyi atau mengikuti tradisi secara membabi buta tanpa sumber kebenaran yang jelas.
Di akhir kajian, ia menyoroti risiko dan penolakan keras yang diterima Nabi Ibrahim hingga diancam akan dirajam dan diusir dalam waktu yang lama oleh ayahnya sendiri. Namun, penolakan dan perlakuan menyakitkan tersebut dibalas dengan kesabaran dan doa memohon keselamatan serta ampunan bagi sang ayah. Dari kisah ini, umat Islam diajarkan tentang batasan ketaatan kepada orang tua; di mana anak wajib terus menyayangi, menghormati, dan mendoakan orang tuanya, namun ketaatan tersebut secara mutlak gugur apabila orang tua memerintahkan untuk berbuat syirik atau kemaksiatan kepada Allah Swt. (Ito)
