Bukan Sekadar Juara, Muhammad Ziya Ul Albab Ingin Ilmunya Memberi Manfaat

Muhammad Ziya Ul Albab, salah satu wisudawan berprestasi Universitas Ahmad Dahlan (UAD) pada Wisuda Agustus (Foto. Muhammad)
Bagi Muhammad Ziya Ul Albab, sebuah penghargaan tidak selalu menghadirkan perasaan bahagia. Ketika namanya dinobatkan sebagai salah satu wisudawan berprestasi Universitas Ahmad Dahlan (UAD) pada Wisuda Agustus 2026 dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,98, ada dua perasaan yang hadir bersamaan: syukur dan kekhawatiran.
Syukur karena perjalanan panjangnya sebagai mahasiswa Program Studi Ilmu Hadis UAD akhirnya membuahkan pencapaian. Khawatir karena di balik puluhan prestasi yang telah diraih, ada satu pertanyaan yang terus ia bawa: apakah semua ilmu dan pencapaian itu benar-benar akan memberikan manfaat bagi orang lain? “Saya takut dengan sekian banyak prestasi, justru tidak memberikan manfaat bagi orang lain. Jangan sampai hanya besar di nama, besar di penghargaan, dan sering menjuarai lomba, tetapi nihil dalam kebermanfaatan bagi publik,” ujar Ziya.
Kekhawatiran itu menjadi menarik jika melihat perjalanan Ziya. Ia bukan berasal dari keluarga berada. Datang dari Riau, ia merantau ke Yogyakarta untuk menempuh pendidikan tinggi pada 2022. Jalan yang ditempuhnya tidak selalu mudah. Bahkan, sejak awal kuliah hingga prosesi wisuda, ia harus menjalani sebagian besar perjalanan tersebut seorang diri.
Abi dan Umi belum dapat hadir dalam acara wisudanya. Namun, Ziya memilih melihat pencapaiannya sebagai hadiah yang dapat ia bawa pulang untuk keduanya. Baginya, menjadi wisudawan berprestasi bukan hanya tentang dirinya, melainkan juga tentang bagaimana membuat kedua orang tuanya tersenyum. “Seorang anak dari kampung yang latar belakang ekonomi keluarganya bukan menengah ke atas, tetapi Allah memberikan rezeki sehingga bisa kuliah dan bahkan mendapatkan penghargaan tersebut. Jadi, saya sangat bersyukur karena bisa menyenangkan hati Abi dan Umi di rumah,” tuturnya.
Selama menempuh pendidikan di UAD, Ziya berhasil mengukir lebih dari 25 prestasi, mulai dari tingkat regional hingga internasional. Namun, ia tidak menganggap pencapaian tersebut datang begitu saja. Salah satu pengalaman yang paling berkesan baginya adalah ketika dipercaya mewakili UAD dalam lomba pidato yang diselenggarakan oleh Radio Republik Indonesia (RRI) Yogyakarta. Kesempatan itu bermula ketika RRI mengirimkan undangan kepada UAD. Setelah melalui proses internal, Ziya mendapat kepercayaan untuk menjadi delegasi.
Perjalanannya kemudian berlanjut ke tingkat nasional di Kendari. Ia berhasil meraih juara III. Bagi Ziya, pencapaian tersebut memiliki makna tersendiri. Ia yang berasal dari Riau dan bukan asli Yogyakarta dapat membawa nama UAD dan Yogyakarta ke panggung nasional. “Rasanya luar biasa. Saya bukan orang Jogja, saya orang Riau, orang Melayu, tetapi tiba-tiba membawa nama Jogja dan UAD ke tingkat nasional,” katanya.
Cerita lain datang dari Brunei Darussalam. Kesempatan tersebut bahkan bermula dari sesuatu yang sederhana. Ketika pulang ke Dumai pada Ramadan, Ziya memutuskan membuat paspor karena memiliki uang lebih. Saat itu, ia tidak memiliki rencana pasti untuk bepergian ke luar negeri. Ia hanya berpikir, siapa tahu suatu saat paspor tersebut akan berguna.
Benar saja. Beberapa waktu kemudian, ketika kembali ke UAD, Ketua Program Studi Ilmu Hadis menghubunginya. UAD memperoleh undangan dari Universiti Islam Sultan Sharif Ali (UNISSA) Brunei untuk mengirimkan delegasi dalam sebuah perlombaan. Ziya pun mengambil kesempatan tersebut. Ia mempersiapkan materi dan proposal secara mandiri. Dari Yogyakarta, ia berangkat seorang diri menuju Jakarta sebelum melanjutkan perjalanan ke Brunei.
Hasil perlombaan memang belum membawanya menjadi juara pertama, kedua, atau ketiga. Namun, ia berhasil masuk 10 besar. Lebih dari sekadar hasil kompetisi, pengalaman tersebut membuka pandangan Ziya terhadap dunia yang lebih luas. Bertemu orang-orang baru dan melihat lingkungan akademik di negara lain membuatnya mulai memiliki mimpi baru. Ia bahkan berharap dapat kembali ke Brunei untuk menempuh pendidikan magister.
“Pengalamannya luar biasa. Bertemu orang baru, melihat tempat baru, dan jadi ingin S2 ke Brunei rasanya. Doakan semoga bisa mendapatkan beasiswa ke sana, insyaallah,” ujarnya.
Bagi Ziya, mengikuti perlombaan bukan semata-mata tentang mengejar piala. Ia menemukan alasan yang lebih mendasar dari hadis Nabi Muhammad saw., “Ihrish ‘ala ma yanfa’uka,” yang bermakna bersemangatlah terhadap hal-hal yang bermanfaat bagimu.
Kompetisi, menurutnya, menjadi ruang untuk menguji kemampuan, mempelajari hal baru, sekaligus mengevaluasi diri. Karena itu, menang dan kalah merupakan bagian yang sama pentingnya dalam proses tersebut. Ia pernah mengalami masa ketika kemenangan terasa begitu jauh. Pada semester tujuh, Ziya mengikuti 13 perlombaan, tetapi hanya dua yang berhasil dimenanginya. Kondisi tersebut bahkan sempat membuat beasiswanya hampir dicabut. Alih-alih berhenti, ia menjadikan kegagalan sebagai bahan evaluasi. Baginya, ketika menang, seseorang perlu bersyukur. Ketika kalah, seseorang perlu bersabar dan kembali mencoba.
Ia juga memiliki pandangan tersendiri terhadap rasa tidak percaya diri. Menurutnya, rasa insecure tidak selamanya harus dipandang negatif. Jika diarahkan dengan tepat, perasaan tersebut dapat menjadi bahan bakar untuk belajar. Ketika melihat orang lain lebih hebat, misalnya, ia memilih bertanya kepada diri sendiri apa yang dapat dipelajari daripada terus merasa rendah diri. “Kompetisi yang sesungguhnya adalah berlomba dengan diri kita sendiri di masa lalu agar menjadi pribadi yang lebih baik setiap harinya,” ucapnya.
Untuk menjaga konsistensi, Ziya membangun kebiasaan sederhana. Ia berusaha memulai persiapan jauh sebelum tenggat waktu, mencatat rencana di atas kertas, serta membagi target menjadi langkah-langkah kecil. Ia menghindari kebiasaan mengerjakan segala sesuatu secara mendadak. Prinsip SMART juga ia gunakan untuk menentukan target agar tujuan yang dibuat lebih terukur dan realistis. Di atas semuanya, ia berusaha menjaga sikap ikhlas, bersyukur, dan sabar.
Di balik berbagai pencapaian tersebut, Ziya justru memiliki kekhawatiran yang cukup dalam. Ia tidak ingin prestasi membuat dirinya terlena. Baginya, kesuksesan bukan hanya tentang seberapa banyak penghargaan yang berhasil dikumpulkan. Kesuksesan adalah ketika seseorang mampu melakukan yang terbaik, terus belajar, dan memberikan manfaat kepada orang lain. Ia juga mengaitkan kesuksesan dengan konsep social interest dari Alfred Adler, yakni kepedulian, empati, dan keinginan untuk berkontribusi kepada lingkungan serta masyarakat.
Ziya merasa senang ketika berhasil mendapatkan penghargaan. Namun, ia akan merasa kurang jika hadiah dan pencapaian tersebut hanya dinikmati sendiri. Karena itu, ia berusaha menyisihkan sebagian rezekinya untuk membantu orang-orang di sekitarnya. Lebih dari itu, ada satu ukuran kesuksesan yang menurutnya jauh lebih penting: kedekatan dengan Allah. Ia khawatir seseorang justru mendapatkan banyak keberhasilan, tetapi semakin jauh dari Allah. Dalam pandangannya, keadaan tersebut jauh lebih berbahaya daripada sekadar mengalami kegagalan.
“Saya sangat khawatir jika kita terkena istidraj, ketika kita sukses dan memiliki banyak prestasi, tetapi justru semakin jauh dari Allah, malas beribadah atau mengaji. Itu yang sebenarnya sangat berbahaya,” katanya.
Selama belajar di UAD, Ziya tidak hanya menemukan pengalaman berkompetisi. Ia juga menemukan cara baru dalam memandang ilmu yang dipelajarinya. Baginya, hadis tidak semata-mata teks normatif yang berhenti pada hafalan dan kajian teoretis. Hadis harus dipahami secara aplikatif dan dapat diintegrasikan dengan berbagai bidang ilmu.
Semakin dalam mempelajari hadis, semakin ia memahami bahwa ilmu tersebut pada akhirnya mengantarkan seseorang untuk mengenal sosok Nabi Muhammad saw. Salah satu nilai yang paling ia pegang adalah kelembutan. “Nabi Muhammad adalah pribadi yang lemah lembut. Jadi, jika kita tidak lemah lembut, sebenarnya siapa yang sedang kita teladani?” tuturnya.
Pemahaman tersebut pula yang ingin ia bawa dalam perjalanan setelah lulus. Ziya berencana mendaftarkan diri dalam program beasiswa S2, dengan Brunei dan Malaysia sebagai dua negara yang menjadi pertimbangannya. Dalam jangka panjang, ia bercita-cita menjadi dosen Ilmu Hadis. Tidak hanya di Indonesia, Ziya bahkan bermimpi dapat mengajar di perguruan tinggi luar negeri.
Sebagai bagian dari keluarga besar UAD, Ziya juga menyimpan harapan untuk almamaternya. Ia berharap UAD dapat terus memberikan maslahat seluas-luasnya bagi masyarakat, khususnya mereka yang membutuhkan. Ia juga berharap UAD dapat memperluas akses dan skema beasiswa bagi mahasiswa. Menurutnya, kesempatan memperoleh pendidikan merupakan sesuatu yang sangat berarti, terutama bagi mahasiswa dengan keterbatasan ekonomi.
Selain itu, ia berharap nilai-nilai keislaman di lingkungan kampus semakin diperkuat. Sebagai perguruan tinggi Muhammadiyah yang membawa identitas Islam, menurutnya, nuansa tersebut perlu terus dihidupkan dalam kehidupan akademik. “Semoga Allah jadikan UAD bisa memberikan maslahat seluas-luasnya untuk masyarakat, untuk yang membutuhkan, dan semoga kita tidak terlena dengan gemerlapnya kemajuan kita,” ujarnya.
Perjalanan Ziya di UAD pada akhirnya bukan hanya tentang angka 3,98, lebih dari 25 prestasi, atau deretan penghargaan yang berhasil diraih. Ada proses panjang tentang merantau, belajar mandiri, menghadapi kegagalan, dan terus mencoba. Ada pula satu hal yang ingin ia pastikan setelah semua pencapaian itu: ilmu yang diperoleh tidak berhenti menjadi kebanggaan pribadi. Sebab, bagi Ziya, menjadi juara hanyalah satu bagian dari perjalanan. Bagian yang lebih penting adalah memastikan bahwa apa yang telah dipelajari dapat tumbuh menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain. (Mawar)
