Mahasiswa UAD Raih Juara I Writing Contest FOMUNY 2026

Mahasiswa Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Raih Juara I Writing Contest FOMUNY 2026 (Foto. Tim)
Sebuah gagasan yang lahir dari keresahan terhadap persoalan surplus pangan dan sampah makanan membawa tiga mahasiswa Universitas Ahmad Dahlan (UAD) meraih Juara I dalam Writing Contest FOMUNY 2026. Kompetisi esai tingkat nasional tersebut diselenggarakan oleh Family of Mahasiswa (FOMUNY) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) pada 12-13 September 2026 di Universitas Negeri Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Prestasi tersebut diraih oleh tim yang terdiri atas Mohd Haisyam sebagai ketua, bersama Shofiana Nur Zahrowati dan Dio Lutvi Andre sebagai anggota. Ketiganya merupakan mahasiswa UAD. Bagi tim, capaian ini terasa semakin istimewa karena menjadi kali kedua mereka meraih Juara I dalam ajang yang sama. Pada kompetisi tahun 2025, mereka juga berhasil meraih Juara I pada kategori Poster Output Esai.
Haisyam menjelaskan, “Alhamdulillah, kami sangat bersyukur dan senang karena berhasil meraih Juara I untuk kedua kalinya. Pencapaian tahun ini terasa sangat spesial karena kami berhasil mempertahankan gelar tersebut di tingkat nasional,” ungkapnya.
Bagi mereka, kemenangan tersebut tidak semata-mata menjadi capaian dalam sebuah kompetisi. Prestasi itu menjadi refleksi dari proses belajar, kerja sama, dan konsistensi yang terus dibangun. Di balik gagasan yang dipresentasikan, terdapat proses panjang untuk membaca persoalan, menyusun argumentasi, hingga menerjemahkan ide menjadi solusi yang dapat dipahami.
Tahun ini, tim mengangkat tema transformasi pola konsumsi dan produksi berkelanjutan melalui inovasi, edukasi, dan kolaborasi generasi muda. Secara khusus, mereka menyoroti pemanfaatan teknologi dan sistem digital untuk mengatasi persoalan surplus pangan dan sampah makanan.
Menariknya, ketiga mahasiswa tersebut memiliki latar belakang keilmuan yang berbeda. Perbedaan perspektif tersebut justru menjadi kekuatan dalam menyusun gagasan. Mereka berupaya melihat persoalan dari berbagai sisi, mulai dari lingkungan, sosial, teknologi, hingga kesehatan, kemudian mencari titik temu untuk menghasilkan solusi yang aplikatif.
Dari proses tersebut, lahirlah MAMBO, sebuah platform ekosistem digital yang dirancang untuk mengintersepsi surplus pangan dari restoran, hotel, dan ritel sebelum menjadi sampah. MAMBO mengintegrasikan sistem prediksi surplus pangan, kontrol kualitas melalui pendekatan HACCP-lite, redistribusi pangan, serta kalkulator emisi metana berbasis Life Cycle Assessment (LCA).
Untuk mematangkan gagasan tersebut, tim melakukan persiapan selama kurang lebih dua minggu sebelum perlombaan. Persiapan tidak hanya berfokus pada penyusunan esai, tetapi juga mencakup materi presentasi dan desain poster. Mereka berulang kali melakukan latihan presentasi untuk menyelaraskan cara penyampaian setiap anggota.
Setelah poster diselesaikan, tim juga melakukan publikasi melalui media sosial sebagai bagian dari upaya meningkatkan engagement berupa tanda suka dan komentar pada karya yang dilombakan. Berbagai tahapan tersebut dilakukan di tengah agenda lain yang cukup berdekatan sehingga manajemen waktu menjadi salah satu tantangan terbesar.
Haisyam menambahkan, “Kami harus benar-benar membagi waktu antara penyelesaian materi, latihan presentasi, penyempurnaan desain poster, dan persiapan keberangkatan. Dari situ kami belajar bahwa dalam kompetisi bukan hanya kualitas ide yang penting, tetapi juga bagaimana tim mampu mengatur waktu, membagi tugas, dan menjaga komunikasi,” tambahnya.
Kompetisi juga menjadi ruang bagi ketiganya untuk belajar di luar gagasan yang mereka bawa. Bagi tim, pengalaman tersebut menjadi bagian penting dari perjalanan kompetisi. Sebab, kemenangan bukan satu-satunya hal yang mereka bawa pulang. Ada pengalaman, jejaring, perspektif baru, dan pembelajaran yang menjadi bekal untuk langkah berikutnya.
Mereka berharap prestasi ini dapat menjadi batu loncatan untuk terus mengembangkan diri melalui berbagai kompetisi dan proyek inovasi. Mereka juga menargetkan agar gagasan MAMBO tidak berhenti sebagai karya perlombaan, tetapi dapat terus dimatangkan hingga memiliki potensi untuk diterapkan dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat serta lingkungan.
“Target kami bukan hanya mengumpulkan prestasi, tetapi juga mengembangkan gagasan yang kami buat agar semakin matang dan aplikatif. Kami ingin menghasilkan inovasi yang tidak berhenti sebagai karya lomba, tetapi memiliki potensi untuk memberikan dampak nyata bagi masyarakat dan lingkungan,” tandas Haisyam.
Melalui prestasi tersebut, ketiga mahasiswa UAD membuktikan bahwa sebuah kemenangan dapat berawal dari keberanian mengangkat persoalan di sekitar menjadi sebuah gagasan. Dari esai, poster, dan presentasi, mereka tidak hanya mengejar gelar juara, tetapi juga berupaya menghadirkan solusi yang dapat terus tumbuh melampaui ruang kompetisi. (Mawar)
